My Evil Lady

My Evil Lady
Hari Pertama


__ADS_3

Apapun kondisinya, bos tak pernah salah.


Tak jauh beda dengan terran yang bernama wanita. Makhluk Tuhan yang satu ini konon selalu benar, tak pernah salah. Tak peduli sevalid apapun data yang tersaji atau se-ilmiah apapun penjelasanmu, hasil akhirnya tetap sama. Apa yang mereka yakini itu yang paling benar.


Saat takdir mempertemukanmu dengan seorang bos yang kebetulan juga seorang wanita, bisa dibayangkan keseruan hidup seperti apa yang menunggumu. Suatu berkah yang entah harus disyukuri atau malah ditangisi.


Terlahir sebagai anak laki-laki satu-satunya dari orang tua tunggal di garis ekonomi menengah, aku bukanlah orang yang punya keinginan ambisius. Yang aku inginkan sangat sederhana, hanya ingin bisa memberikan kehidupan yang mapan kepada ibuku, satu-satunya keluarga yang ku miliki. Tak perlu harta berlimpah atau menjadi terkenal dan dikenal oleh banyak orang. Aku hanya ingin punya kehidupan nyaman seperti orang lain pada umumnya. Menyelesaikan sekolah dengan lancar, mendapatkan pekerjaan yang layak, punya pacar, menikah, membeli rumah, dan membesarkan anak-anakku dengan bahagia. Bukan jenis impian yang terlalu muluk untuk bisa digapai, bukan?


Dua puluh delapan tahun aku menjalani hidup, sejauh ini aku sudah cukup puas. Semua berjalan sesuai rencana. Aku berhasil menyelesaikan sekolah dan mendapatkan gelar sarjana tepat waktu, yang berarti tak ada biaya yang membengkak. Tak perlu menunggu lama hingga aku mendapat pekerjaan sebagai seorang personal assistent presiden direktur. Bukan jabatan yang menjanjikan gaji tinggi, tapi cukuplah untuk biaya angsuran kredit mobil dan rumah.


Sayang, kehidupan tak selalu berjalan seperti apa yang kita harapkan. Kehidupanku yang tenang dan damai sepertinya harus berakhir saat aku harus menjadi PA direktur keuangan baru. Direktur keuangan yang-jelas bukan kebetulan- tak lain adalah satu-satunya cucu dari presiden direktur, sang putri mahkota yang akan mewarisi kerajaan bisnis Watson & co.


Aku sudah bisa merasakan firasat buruk saat kali pertama aku bertemu dengannya. Seorang gadis muda-sebaya atau mungkin dua, tiga tahun di bawahku-duduk dengan santai di sofa empuk dalam kantor pak Narta-kakeknya-dengan kaki disilang, memamerkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Tangannya sibuk memilin-milin rambut berombak panjang yang tergerai liar, tapi tetap tertata rapi sementara tangan yang lain asyik memainkan ponsel. Ia tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari layar ponsel saat pak Narta memperkenalkanku sebagai PA-nya. Jelas bukan suatu tindakan yang menunjukkan kesopanan. Tipikal konglomerat generasi ketiga yang mungkin besar akan menghancurkan nama besar perusahaan. Pewaris yang manja dan hanya tahu cara bersenang-senang dengan uang keluarganya.


Tubuhnya terbalut gaun terusan pendek berwarna tosca cerah lengkap dengan sepatu heels setinggi tujuh sentimeter, membingkai apik tubuh yang langsing. Gadis itu sangat cantik, membuat siapa saja yang menatapnya bisa jatuh hati dengan muda. Cantik, tapi sayang tidak bisa menempatkan diri dan memperhatikan pembawaannya. Penampilannya tidak tampak seperti seorang professional muda yang siap terjun ke dunia bisnis, dan itu jelas menyadarkanku agar tidak berharap banyak padanya.


Dia sama sekali tidak sesuai ekspektasi ku. Aku dengar dari pak Narta kalau cucunya ini pernah menempuh pendidikan Business Management di salah satu universitas di Jerman. Jadi, aku pikir dia adalah seorang yang ya bisa dibilang kompeten dan siap terjun di duia kerja.


Aku menggelengkan kepala, berusaha mengusir prasangka negatif yang tertuju pada gadis itu hanya karena ia tidak sesuai dengan ekspektasi. Aku tak boleh memandang rendah dirinya saat aku belum benar-benar mengenal dan mengetahui kemampuannya.

__ADS_1


"Dika, tolong bantu Rami agar mengerti tugas dan wewenangnya," pinta sosok lelaki tua penuh wibawa itu seraya menghampiri dan menepuk lembut bahu kiriku. Meski sudah mendekati umur tujuh puluhan, tapi postur tubuh pak Narta yang terjaga dan bugar, mampu membuatnya bergerak dengan lincah. Bisa ku lihat senyum ramah merekah di wajah yang mulai dipenuhi kerutan, saksi dari kerja kerasnya membangun perusahaan.


"Baik pak," jawabku mantap sebelum beralih kepada Rami. "Mari kita saling membantu dan bekerja sama dengan baik," sambutku seramah mungkin sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan. Sebuah uluran tangan yang bahkan dilihat pun tidak. Kecanggungan yang memunculkan perasaan kikuk.


"Tak perlu bersikap sok ramah. Kita mungkin tak akan bekerja sama untuk waktu yang lama," komentarnya ringan tanpa menatap mataku. Gadis itu masih tak melepaskan perhatian sedikitpun dari layar ponsel. Aku tertawa miring, berusaha bersikap senormal mungkin, walau kenyataannya aku merasa sedikit kesal. Ternyata, aku tidak layak mendapat sedikit perhatian darinya.


"Rami, jaga sikapmu! Kenapa kamu bicara seperti itu?" tegur pak Narta, sedikit menaikkan nada bicaranya. Wajah tuanya memerah, entah karena marah atau malu dengan kelakuan sang cucu.


Rami yang sepertinya gampang tersulut amarah, meletakkan ponsel keras-keras di atas meja, akhirnya memusatkan perhatian sepenuhnya kepada sang kakek. "Aku sudah bilang dari awal kalau aku tidak mau bekerja di perusahaan ini. Kakek saja yang dengan seenaknya memaksaku untuk pulang." Rami tidak kalah ketus, tak peduli meski sedang berbicara dengan kakeknya sendiri, membuat percekcokan antara cucu dan kakek itu tidak terelakkan lagi. Amarahnya meluap, seakan ia sudah menunggu momen ini untuk bisa melampiaskannya. Dan, sialnya aku terjebak dalam pertengkaran keluarga yang sungguh tidak mengenakkan ini.


Tanpa berani memotong dan mengusik ‘pembicaraan’ mereka, aku mengambil beberapa langkah mundur. Berdiri dalam bayang-bayang, berusaha untuk keluar dari jangkauan pandangan mereka. Terlibat atau-lebih parah lagi-menjadi pelampiasan mereka adalah hal terakhir yang aku harapkan. Aku hanya bisa menutup mata dan menarik napas perlahan sambil tetap siaga jika sewaktu-waktu mereka memanggil namaku. Begini kah rasanya punya seorang cucu perempuan?


Bukan hanya ekspektasi ku padanya yang buyar, rasa optimis yang sekuat tenaga ku tanamkan dalam benak hilang sudah tersapu angin. Ternyata dia hanyalah seorang gadis-kebetulan cucu seorang pengusaha kaya-yang manja, egois, pemberontak, dan sepertinya juga suka menghambur-hamburkan uang.


***


Aku berlarian tanpa tujuan di dalam sebuah pusat perbelanjaan berlantai lima tengah hari di jam kerja. Aku memandang jauh, menyapu ke segala arah berusaha menemukan sosok semampai Rami-bosku-yang tengah menghilang dari ruang kantornya saat aku mulai membawakan dokumen-dokumen yang harus diperiksa. Ini baru hari ketiganya bekerja di perusahaan dan ia sudah berulah. Tentu saja ia bisa melakukannya, jika sang pemilik perusahaan yang juga kakeknya tidak bisa mengintimidasi.


Suasana mall cukup lenggang mengingat sekarang masih jam sibuk kantor, tapi aku tetap kesulitan menemukannya. Aku yakin dia berada di mall ini karena gps mobil Ford F150 Raptor-nya menunjukkan kalau dia sedang berada di sini. Peluh yang mengucur tak membuatku berhenti mencari, aku harus segera menemukannya. Tulang-tulang kakiku mulai tidak kuat lagi mennyanggah tubuh karena terus berlarian di dalam mall. Aku baru merasakan akibat buruk karena kemalasanku untuk berolahraga. Meski tubuhku menjerit kelelahan, aku tetap berkeliling sambil terus mencoba menghubungi ponselnya yang tentu saja tidak ia jawab.

__ADS_1


Aku melepas setelan jasku, menyampirkannya di tangan untuk sedikit mengurangi rasa gerah karena keringat yang terus mengucur. Aku bahkan tidak peduli seberapa kacau penampilanku yang kusut penuh dengan peluh. Aku bahkan tidak peduli meski orang-orang menganggapku gila, berlarian dan mengumpat tidak jelas. Aku tidak peduli. Apapun pendapat mereka sama sekali tidak berpengaruh pada keamanan karierku. Aku harus bekerja ekstra keras. Aku harus bisa mengendalikan keadaan saat bekerja dengan seorang atasan yang tak ada niatan sedikitpun untuk bekerja.


Setelah beberapa lama berlarian mencari hingga nyaris putus asa, akhirnya aku menemukannya. Aku menemukannya setelah menjelajah dan bertanya pada banyak petugas keamanan atau petugas kebersihan mall yang tersebar di tiap lantai. Aku berhenti sesaat untuk mengambil napas. Aku lega telah berhasil menemukannya.


Cewek itu berjalan santai tanpa dosa sambil mengamati deretan baju, tas dan sepatu yang terpajang di etalase toko. Meski tas belanjaannya sudah memenuhi kanan dan kiri tangan, tapi Rami seperti belum ingin kembali. Ia belum puas belanja.


"Mengapa Anda tidak menjawab telepon saya?" tuntutku saat berhasil mensejajarinya. Dia bahkan tidak mau repot-repot untuk menghentikan jalan, menungguku meski tahu aku bersusah payah mengejarnya.


"Kenapa aku harus melakukannya?" jawabnya acuh tak merasa kasihan sedikitpun pada peluh yang membasahi tubuhku. Ia masih asyik mengamati etalase sebuah toko, tak sedikitpun merepotkan diri untuk memandangku.


"Ada meeting yang harus Anda hadiri hari ini. Pak Narta juga marah besar saat mengetahui Anda tidak ada di kantor," jelasku tersengal-sengal sambil tetap mengekor padanya saat ia memasuki sebuah toko yang memajang tas wanita.


"Aku tidak peduli," jawabnya singkat dan kejam sambil memasang kacamata hitam untuk membingkai matanya, benar-benar mengabaikanku.


"Tapi Direktur, Anda akan kena masalah kalau tidak segera sampai di kantor. Kita hanya punya waktu kurang dari satu jam," tambahku saat menyempatkan diri melihat jam yang melingkar di tangan. Sekalipun belum pernah aku berlarian, membujuk seseorang hanya untuk menghadiri meeting.


Rami menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku dari balik kacamata hitamnya. Meski terlindung dalam bingkai kacamatanya yang gelap, aku bisa merasakan tatapan mata yang menusuk, membuatku harus memalingkan wajah. "Itu bahkan lebih baik. Aku tidak peduli meski aku dipecat sekalipun. Aku malah lebih senang." Senyum tipis merekah di bibirnya yang mungil, bersemi merah sebelum ia berbalik dan melanjutkan belanjanya.


Aku menghela napas panjang, frustasi menanggapi sifat pemberontaknya. Dia boleh saja tidak peduli dengan nasibnya sendiri, tapi aku peduli. Ia bisa saja dipecat dari perusahaan, tapi ia tetap cucu pak Narta, sementara aku? Aku hanyalah karyawan biasa yang bisa dibuang kapan saja dari perusahaan tanpa ada yang bisa menghalangi. Pak Narta pasti akan murka kalau aku tidak berhasil membawanya dan ini tidak baik bagi sumber penghasilanku.

__ADS_1


Aku menutup mata, memantapkan hati, mengumpulkan keberanian. Aku harus menentukan pilihan. Pilihan dengan resiko lebih kecil dan lebih bisa ku terima. Resiko mendapat murka dari pak Narta atau menjadi musuh bebuyutan cewek itu. Kusisihkan lengan kemeja. Aku memotong jalur dan mengangkat tubuhnya ke atas pundakku tiba-tiba. "Maaf direktur, tapi saya masih peduli dengan pekerjaan saya," kataku sambil membopong di satu pundak dan segera membawanya kembali ke mobil. Tak sedikitpun aku berniat melonggarkan pegangan meski tubuhku terus dihujani dengan pukulan dari kedua tangannya yang penuh dengan tas belanjaan. Aku hanya berharap tubuhku tidak penuh memar saat nanti pulang ke rumah.


***


__ADS_2