My Evil Lady

My Evil Lady
Pembalasan Dendam


__ADS_3

Kalau ada hal positif tentang Rami itu hanya satu, dia benar-benar menepati janjinya. Dan jika ada pekerjaan yang disukai olehnya, sudah pasti salah satunya yaitu membuat hariku seperti di neraka. Senyum manis yang mulai bersemi di hati pagi tadi tidak dapat bertahan lama, layu dan mengering di tengah hantaman tugas tidak masuk akal dan memalukan dari sang bos.


Dengan dalih ingin menghilangkan kesan hangover-nya untuk persiapan rapat akbar nanti, Rami tanpa belas kasih membuat kami-lebih tepatnya aku-harus bekerja keras. Sebagai pembalasan karena tak membiarkan absen di rapat itu meski ia sudah mengeluh sakit kepala.


Bolak-balik ke apartemennya untuk mengambil pakaian yang-menurutnya lebih pantas- beserta alat make up. Aku sudah minta tolong kurir untuk melakukannya, tapi dia menolak. Dia tidak ingin apartemen pewaris perusahaan multinasional sepertinya harus diacak-acak oleh orang lain. Menyuruhku membeli kopi lagi dengan nama lebih dari 6 kata yang sulit untuk ku ingat. Belum lagi menyiapkan data yang akan dia pakai dalam rapat.


Waktu break siang sudah seperti privilege bagiku. Aku hampir tidak sempat untuk makan siang dengan layak apalagi untuk sekedar membalas pesan dari teman jika bukan urusan pekerjaan. Tak jarang aku harus mengisi perutku kilat dengan roti atau sandwich atau bahkan harus puas hanya dengan minuman energi. Aku rindu makan nasi dengan tenang di kantin kantor. Rami seakan tak membiarkanku untuk menghela napas barang sejenak. Ada saja perintahnya saat aku sudah bersiap untuk memesan makanan seperti sekarang. Tugas yang membuatku refleks membelalakkan mata saat membacanya layar ponsel. She must be kidding me.


Dua cewek petugas kasir minimarket itu saling berbisik dan berusaha menyembunyikan senyum di balik punggung masing-masing saat melihat barang-barang yang ada di keranjang belanjaanku.


Aku memalingkan wajah ke arah lain, tak berani menatap dua pasang mata yang sesekali menatapku dengan semburat pink menghiasi wajah mereka. Aku berusaha tenang, bersikap seakan-akan semuanya berjalan normal meski sebenarnya aku tahu apa yang membuat mereka menertawakanku.


"Yang pake sayap ya, Mas?” ulang salah satu petugas kasir saat ia memindai barcode barang belanjaanku. Sepertinya ia sengaja melakukannya untuk menarik perhatianku kepada mereka.


"Eh...eh...itu...iya yang pakai sayap," jawabku kikuk-mau tak mau aku harus melakukannya-memunculkan kembali senyuman di wajah ayu mereka.


Sial


Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Rami sengaja menyuruhku untuk membeli pembalut di minimarket. Apalagi yang ia minta adalah pembalut dalam ukuran besar. Cukup mencolok tanpa ada cela untuk menyembunyikannya. Aku sudah minta tolong Indah untuk melakukannya, tapi Rami berhasil mencegah dengan memberikan tugas dadakan yang tidak dapat ia tolak.


"Anda sayang istri banget ya..," komentar salah satu diantara mereka. Aku tak pernah mempermasalahkan keramahan petugas minimarket sebagai bentuk pelayanan kepada pelanggan, tapi kali ini aku sangat ingin mereka mengabaikanku saja.


"Tidak...bukan begitu," aku berusaha menyanggah, tapi tak bisa menemukan alasan yang pas. Komentar mereka jelas membuatku kelabakan.


"Masnya tak perlu malu. Banyak juga bapak-bapak yang melakukannya, tapi ya itu rata-rata mereka melakukannya karena…,” goda yang lain. Meski tak melanjutkan perkataannya, aku tahu apa yang hendak ia katakan.


"Aku bukannya takut padanya," potongku tiba-tiba berusaha untuk memperbaiki kesalahpahaman mereka. Aku tak bisa membiarkan ini berlanjut. "Lagi pula itu juga bukan untuk istriku. Itu sebenarnya untuk atasanku," lanjutku lagi yang malah membuat ekspresi wajah mereka membeku. Aku menangkupkan tangan ke wajah. Aku melakukan blunder besar. Aku bisa membayangkan betapa merahnya wajahku sekarang.


"Masnya pasti dekat banget dengan atasannya?" tanyanya ragu-ragu salah satu dari mereka yang membuatku semakin sewot. Tak ada niatan lagi untuk menjawab pertanyaan mereka, tidak setelah semua kata yang keluar dari mulutku makin membuat mereka salah paham.


Saat mereka selesai memasukkan barang belanjaanku ke dalam kantong plastik, aku segera mengambilnya tanpa basa-basi dan meninggalkan uang di kasir tanpa menunggu mereka sadar dari keterkejutan. Aku ikhlaskan saja uang kembaliannya asal bisa segera kabur dari hadapan mereka sebelum kedua gadis itu benar-benar merekam wajah merahku dalam memori otak mereka dan menjadikan aku bahan pergunjingan untuk beberapa hari ke depan. Untuk sementara aku juga takkan mendatangi toko itu. Aku harus mencari minimarket lain, padahal minimarket ini yang paling dekat dengan kantor.


Rami brengsek.


Kalau dia berniat membalas dendamnya padaku, selamat dia sudah berhasil. Dia sudah berhasil mencabik-cabik harga diriku sebagai seorang laki-laki dan membuangnya di pinggir jalan seakan itu sampah.

__ADS_1


***


Setelah bekerja keras seharian, akhirnya aku punya kesempatan mengistirahatkan tubuh yang lelah di bangku taman depan gedung perusahaan. Bangku ini teduh dalam bayang-bayang sebuah pohon Asoka yang rindang. Di bagian depan, pancuran kecil menyemburkan air dalam pot lebar yang berada di tengah-tengah taman. Aku sengaja keluar dari gedung terlebih dahulu, untuk memberi Rami waktu beramah-tamah dengan para pemimpin cabang lain sebelum mengantarnya pulang. Mereka jelas tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengambil hati calon pewaris tunggal Watson & Co. Aku bisa membayangkan pujian berlebihan yang membanjiri obrolan mereka, lengkap dengan tawa dan senyum yang kaku dan canggung.


Angin sore di musim panas, membawa sensasi kesejukan di kulit. Berbeda dengan angin di musim penghujan yang lembab dan panas. Duduk sendirian dengan pikiran yang melayang tak tentu arah, dibuai oleh semilir angin membuatku ingin memejamkan mata. Hampir saja aku tertidur jika tidak ada seseorang yang datang menghampiri dari arah belakang. Wangi kopi yang kuat, mengembalikan fokus, membuatku menyadari kehadirannya.


Aku mengangkat kepala dan seketika itu juga senyum lebar menghiasi wajah suramku. Sosok gagah seorang laki-laki paruh baya berdiri tegap di depanku dengan dua gelas kopi di tangan. Ia menyodorkan salah satu gelas ke arahku. Senyum ramah yang begitu ku kenal terhias di wajahnya. Dia masih sama seperti kali terakhir aku melihatnya. Penampilannya sederhana dalam balutan kemeja kotak-kotak berwarna cream dengan celana coklat berbahan kain. Sepatunya selalu menarik perhatian. Bukan jenis sepatu resmi, melainkan sepasang sepatu olahraga berwarna putih yang selalu ia pakai. Rambutnya mulai memutih dan kerutan-kerutan halus juga mulai menghiasi wajah sama sekali tak menghilangkan ketampanannya masa mudanya.


Dia memiringkan kepala ke arah tangan kanannya, mengisyaratkan agar aku segera menerima tawaran kopinya. Buru-buru aku mengambil kopi yang ia sodorkan dengan suka hati, sambil menggeser tempat duduk, memberinya ruang di sebelahku.


"Terimakasih," ucapku riang. Senyum lebar terkembang saat aku menghirup aroma harum kopi di tangan, tidak sabar untuk segera menyesap kopi hitam yang masih mengepulkan uap hangat.


Laki-laki yang duduk di sampingku itu menaikkan sudut bibirnya. "Tak perlu berterima kasih. Hanya kopi biasa dari mesin pembuat kopi di pantry," jawabnya merendah sambil ikut menyesap kopi miliknya.


"Saya tahu, tapi saya selalu suka kopi buatan Anda. Perpaduannya pas di lidah," puji ku, tak peduli meski terdengar berlebihan. "Saya pernah mencoba seperti yang Anda ajarkan, tapi tetap saja rasanya tidak sama." Aku kembali menyesap sambil menikmati suasana sore yang nyaman. Semua begitu sempurna. Sinar matahari yang hangat dan temaram. Angin yang sesekali menghembuskan kesejukan. Ketenangan yang menentramkan karena belum banyak orang yang keluar kantor, dan secangkir kopi hitam yang hangat dan nikmat. "Anda tidak ikut mengobrol dengan direktur?” tanyaku sedikit penasaran mengapa beliau ada disini tidak bersama para penanggung jawab yang lain.


"Nona Rami? Aku sudah menyapanya tadi," jawabnya sambil mengangkat muka sesaat dari kopi di tangan. "Aku tidak bisa menghabiskan waktunya sementara para pemimpin cabang lain juga pasti ingin mengobrol dengannya," lanjutnya sambil tertawa kecil. Sosoknya yang bijak selalu bisa memukauku, membuatku semakin mengaguminya.


"Bagaimana kabar pabrik?" Aku mengalihkan pembicaraan ke topik yang paling disenanginya.


Aku bingung harus bereaksi seperti apa mendengar jawaban beliau, haruskah merasa lega atau malah sedih. Masa kejayaan pabrik mainan memang tergerus dengan semakin banyaknya anak-anak yang lebih memilih bermain gadget. Bukan sesuatu yang memberikan dampak positif, tapi alasan kepraktisan membuat para orang tua memilihnya.


"Semua akan membaik, jika kita tidak pernah menyerah," komentarku penuh dengan retorika. Meniupkan angin harapan semu. Harapan yang aku sendiri tidak yakin masih ada atau tidak.


Laki-laki itu mengangguk setuju. "Aku tidak boleh menyerah sekarang, tidak setelah tiga puluh tahun mencurahkan kerja kerasku untuk pabrik itu. Pabrik yang sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Tidak boleh menyerah karena banyak keluarga yang bergantung pada pabrik kecil itu."


Aku memang tidak yakin semua akan membaik, tapi melihat kepercayaan dan kebulatan tekad lelaki itu membuatku ikut merasa optimis. Aku hanya berdoa semoga semua usaha dan harapan itu tidak mengkhianatinya.


Aku mengangguk setuju, kagum dengan semangat beliau meski usianya kini sudah tidak muda lagi. Aku sungguh tahu bagaimana cintanya beliau pada pabrik mainan itu hingga membuat presdir masih mengijinkannya beroperasi meski tidak memberikan banyak kontribusi pada laba perusahaan.


"Kamu sendiri, bagaimana kerjaanmu? Semua lancar?" tanyanya, beralih memandangku yang terkejut mendapat pertanyaan itu. "Aku perhatikan kamu sekarang sedikit kurusan," ujarnya sambil memicingkan mata, mengintip dari celah atas kacamatanya yang sedikit melorot.


Aku tertawa kecil, menggaruk ujung hidungku yang tidak gatal. Aku sama sekali tidak berniat untuk membantah. "Apa terlihat jelas seperti itu?"


"Apa direktur baru itu memperlakukanmu dengan buruk?" Beliau berbalik tanya yang kembali membuatku tertawa. Tawa yang baginya cukup sebagai jawaban. Beliau menghela napas berat. "Wanita itu memang sulit. Banyak sekali maunya dan tidak jarang permintaannya itu terlalu tidak masuk akal. Aku yang sudah menikah dengan istriku dua puluh tahun lebih, sampai hari ini tidak benar-benar tahu apa yang dia inginkan,” nasihatnya yang terdengar lebih ditujukan pada diri beliau sendiri. Kami berdua sama-sama menghela napas berat dan kembali menyesap kopi di tangan.

__ADS_1


"Kenapa Anda bertahan kalau gitu?" tanyaku penasaran sambil mengamati hati-hati ekspresi wajahnya. Aku tidak ingin pertanyaanku menyinggung perasaannya.


"Ya...karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya. Hidupku bakal sepi tanpa ocehannya," jawabnya mantap sambil menatap dengan mata yang tersenyum. Tak ada kerutan kening, atau apapun. Hanya gelak tawa yang kembali menghiasi wajahnya.


"Kamu ada disitu?" Kedatangan Rami seketika menghentikan obrolan kecil kami. Perhatian kami sepenuhnya tertuju pada sosok cantik yang semakin mendekat.


"Kamu sudah dicari oleh direkturmu," ujar lekaki itu mengikuti arah datangnya suara. Terlihat Rami berjalan mendekat lengkap dengan tas tangan menggantung di salah satu lengannya, bersiap untuk pergi. Dia sudah berganti pakaian dengan sepotong dress mini berwarna hitam tanpa lengan selutut dengan potongan rendah. Tidak biasanya ia berganti pakaian saat pulang kerja. "Ngomong-ngomong cucu presdir cantik juga," bisiknya pelan sambil memukul pelan dadaku. Ia melemparkan senyum jahil yang membuat mukaku memerah. Seharusnya aku tak terpengaruh candaannya.


Aku mengerti apa maksud candaannya. "Jangan menggodaku, Pak. Anda tahu sendiri kalau aku hanya pegawainya?" balasku munafik. Iya munafik. Aku berlagak tidak tertarik dengan Rami yang cantik. Aku hanya berusaha untuk lebih tahu diri. Aku tidak boleh terlalu serakah menginginkan sesuatu yang bukan milikku, sesuatu yang terlalu jauh dari jangkauan tanganku. Aku harus puas dengan apa yang aku miliki saat ini. Jangan sampai karena menginginkan sesuatu yang tak mungkin, membuatku kehilangan hal-hal indah dan membahagiakan yang ku miliki sekarang.


"Direktur, perkenalkan ini pak Yodhia. Penanggungjawab pabrik mainan." Aku bangkit dari tempat duduk, memperkenalkan teman bicaraku saat Rami menghampiri kami. "Beliau sudah mengabdi pada perusahaan hampir tiga puluh tahun," tambahku yang membuat Rami mengalihkan pandangan pada temanku. Mata tajamnya mengamati dengan seksama, mencoba membaca seperti apa orang di depannya itu.


Pak Yodia mengulurkan tangan yang disambut asal olehnya. Tidak apa-apa, setidaknya Rami masih mau membalas. Aku sudah takut ia akan mengabaikan uluran tangan pak Yodhia seperti yang sering ia lakukan sebelumnya. "Kita sempat berbincang tadi sebentar," ujarnya berusaha menyegarkan ingatan Rami.


"Ah...benarkah? Maaf, saya sama sekali tak mengingatnya." Rami meminta maaf meski tak terlihat sama sekali rasa bersalah di wajahnya.


"Banyak wajah baru yang baru direktur temui hari ini. Jadi, wajar kalau tidak bisa mengingatnya satu persatu," komentar pak Yodhia bijak. Sepertinya ia tidak tersinggung dengan ketidaksopanan Rami.


Rami hanya mengangguk, menyetujui pendapat pak Yodhia. "Tiga puluh tahun, lumayan lama. Anda sungguh loyal pada perusahaan," komentar Rami, kembali memusatkan perhatian pada sosok baru di depannya. "Apa Anda tidak merasa telah menyia-nyiakan waktu muda Anda hanya untuk perusahaan?" tanyanya, membuat raut wajah pak Yodhia kebingungan. Aku menggigit bagian dalam mulutku mendengar pertanyaan Rami. Meski berkata kasar sudah jadi hal yang lumrah bagi Rami, tapi aku sama sekali tak mengharapkan mendengar hal itu sekarang. Aku takut ucapannya menyinggung hati pak Yodhia.


"Eh...pak Yodhia ini sangat menyukai anak-anak dan membuat mainan yang bisa membahagiakan mereka adalah passionnya," selaku cepat, membantu menjawab pertanyaan Rami.


Rami mengangguk seolah mengerti. "Jadi, bisa dibilang Anda menjalani apa yang Anda sukai. Semoga passion Anda cukup besar untuk membuat pabrik itu bertahan di tengah gempuran modernisasi," ucapnya yang lagi-lagi tanpa filter, membuatku semakin berkeringat dingin. Aku tak mengerti maksud perkataannya. Rami sebenarnya ingin memberi ucapan selamat atau malah mau mengancamnya.


"Iya saya akan bekerja lebih keras karena itu memang passion saya, hidup saya." Senyum kecil terhias saat beliau mengucapkannya. Senyum yang tak mampu membuatku merasa lega. Senyum yang tak ku ketahui artinya. Apa memang tidak apa-apa, atau pak Yodhia hanya berusaha menahan diri saja. Aku yakin pak Yodhia tidak sebodoh itu untuk dapat mengerti maksud Rami yang sebenarnya.


"Kami harus pergi sekarang?" Rami melirik jam tangan bertali hitam yang melingkar kontras di kulit putihnya. Menyadarkanku untuk segera menyudahi percakapan dengan pak Yodhia meski aku masih ingin mengobrol lebih lama lagi dengan beliau.


"Maafkan saya Pak, saya harus undur diri." Aku merasa tidak sopan harus meninggalkan pak Yodhia, tapi aku juga tidak mungkin meminta Rami menunggu. Bisa mencak-mencak itu cewek.


"Oh...ya silahkan." Pak Yodhia kembali tersenyum. "Aku juga harus segera kembali. Kamu tahu sendiri bagaimana cerewetnya istriku kalau aku pulang terlambat," katanya berusaha meringankan sedikit rasa bersalah di hati sebelum akhirnya beliau berlalu, kembali ke dalam gedung perusahaan.


Aku memandang punggung gagah dan lebarnya saat berjalan membelakangi kami. Sosok gagah yang semakin lama semakin menghilang, membaur dalam hilir mudik karyawan yang keluar masuk gedung. Menghilang dalam bayang-bayang gedung menjulang kala malam menjelang.


***

__ADS_1


__ADS_2