My Evil Lady

My Evil Lady
Hangover


__ADS_3

Tahukah kamu mengapa minuman keras itu dilarang?


Aku tahu jawabannya sekarang.


Minuman keras bisa merubah mu menjadi bukan seperti dirimu sendiri. Dirimu yang anggun, dirimu yang cantik, dirimu yang pintar, dirimu yang berkelas, tidak akan ada lagi saat berada dalam pengaruh alkohol.


Perjuanganku membawa tubuh berat Rami yang mabuk untuk pulang tidak berakhir begitu saja. Setelah susah payah membawanya keluar dari bar, aku masih harus membopong naik ke apartemennya di lantai 15. Ok memang ada elevator, tapi tetap saya aku harus menggendong di punggungku dari area parkir menuju elevator dan berlanjut menuju ruang apartemennya. Perjuangan yang luar biasa membawa beban seberat 48 kg di atas punggung yang tidak pernah dipakai untuk mengangkat karung beras sebelumnya.


Bisa dibilang Rami memiliki kebiasaan mabuk yang 'bersih', tidak sampai mengeluarkan isi perutnya kemana-mana atau mengoceh kayak orang gila. Aku sudah berkeringat dingin saat ia bergerak, takut ia akan mengotori mobilku. Sepanjang perjalanan dia hanya tertidur, iya tertidur pulas, meski tetap saja merepotkan.


Aku melemparkan tubuh Rami yang berat ke atas sofa di ruang tamu, seketika saat aku berhasil masuk ke dalam apartemennya. Aku menegakkan punggung yang hampir putus karena menggendongnya, menghapus peluh yang membasahi kemeja. Penampilanku tak pernah selamat saat bersamanya. Dia membuatku bekerja ekstra keras, baik secara fisik maupun mental.


Aku membiarkan Rami terkapar di sofa, sementara aku sibuk menyiapkan kamarnya. Aku hampir kena serangan jantung saat kembali dari kamar dan mendapati dirinya yang telah menghilang. Aku panik, mencari ke segala penjuru hingga ke kolong meja sekalipun aku periksa sebelum aku menemukannya. Konyol memang, tapi kita tak pernah tahu hal aneh apa yang bisa dilakukan oleh orang mabuk.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya aku menemukannya. Dia berjalan dengan mata masih terpejam, sambil sesekali menabrak kursi dan laci. Ia membawa gelas sepertinya ingin minum yang anehnya tidak berjalan ke arah lemari pendingin, tapi ke wastafel dapur. Aku memiringkan kepala, memperhatikan apa yang akan dia lakukan sebelum akhirnya Rami memutar kran air bak cuci piring.


"Hei jangan minum langsung dari situ. Ini bukan Jerman," teriakku sambil mengambil gelas yang sudah menempel di bibirnya. Ia hampir menelan air mentah. Aku segera mengganti gelas di tangan dengan botol minum dari dalam kulkas dan menggiringnya masuk ke dalam kamar.


Dia melempar tubuhnya asal ke atas kasur yang empuk. Aku membenarkan posisi tubuhnya, meletakkan hati-hati kepala Rami pada sebuah bantal empuk. Ku lepas sepasang sepatu yang masih menempel di kakinya dan mulai menyampirkan selimut menutupi tubuh Rami.


Saat semua dirasa sudah aman, aku bersiap untuk pergi hingga ada sesuatu yang menahan. Jariku terkait dengan jari-jarinya. Aku terhenyak, dan untuk sesaat aku merasa ada desiran aneh mengalir di pembuluh darahku. Sensasi aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Rasa mengganggu yang anehnya tidak menyebalkan.


Aku berlutut di samping tempat tidur, mengamati wajah tidurnya yang damai, menelusuri tiap jengkal garis wajahnya. Mata, hidung, bibir tercipta sempurna. Bahkan bulu mata sekalipun tak mengkhianatinya. Tuhan seperti punya sisi lembut untuk Rami hingga ia menciptakannya begitu indah.


Rami memang cantik, tapi melihatnya seperti ini merupakan suatu pengalaman yang baru. Ia seperti seorang malaikat. Aku suka wajah tidurnya. Napas yang bergerak naik turun dengan teratur. Ekspresi yang jujur dan damai tanpa berusaha bersikap tangguh dan mengintimidasi. Aku suka wajah tidurnya karena dia jauh tidak merepotkan saat terlelap. Aku terkekeh saat mengingat bagaimana menyebalkannya ia saat sadar.


***

__ADS_1


Hari ini hari yang sama seperti kemarin, pagi yang sama, rutinitas yang sama, aku bahkan sarapan dengan menu yang sama, tapi hari ini terasa berbeda. Semua terlihat begitu indah pagi ini. Bunga-bunga yang tumbuh di halaman kantor, daun-daun pepohonan yang menari terbawa angin, matahari bersinar cerah, burung bersemangat untuk berkicau. Baru sekarang aku menyadari keindahan semua detail kecil yang selama ini aku lewatkan. Aku terlalu sibuk memikirkan kesibukanku hingga melewatkan hal-hal kecil yang bisa membahagiakan.


Aku begitu menikmati pagi ini. Begitu bersemangat, hingga melupakan kesulitan-kesulitan yang mungkin akan aku alami saat berada di kantor nanti. Aku bahkan sudah tak merasa kesal saat mengingat pertengkaranku kemarin dengan Rami. Ku sempatkan diri untuk membeli secangkir kopi yang nikmat. Kopi yang jarang aku beli karena-menurutku-harganya sedikit tidak masuk akal untuk secangkir kopi. Tapi hari ini pengecualian. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk diriku sendiri. Aku berhak untuk menyenangkan diriku sendiri, bukan.


Ku sapa semua orang yang ku temui di sepanjang jalan. Tatapan heran mengikuti langkahku karena itu bukan sesuatu yang umum ku lakukan, meski begitu beberapa dari mereka ada yang membalas sapaanku dengan senyuman. Senyuman, hal kecil yang sepele, tapi ampuh untuk mencerahkan hati siapa saja yang menerimanya.


"Kak Dika lagi senang hari ini?" komentar Indah saat mencegatku sebelum masuk ruangan Rami. Dia mengerutkan kening saat melihatku tersenyum ceria sepanjang jalan. "Apa ada hal bagus kemarin?" tanyanya lagi yang langsung aku sanggah. Ia memicingkan mata, menatap wajahku lekat-lekat. Raut kekhawatiran masih tersisa di wajah yang tertutup make up tipisnya.


"Tidak, tidak terjadi apa-apa kemarin malam," jawabku buru-buru. Aku menggelengkan kepala cepat berusaha menepis semua kecurigaan Indah. "Aku hanya menjemput direktur dan mengantarnya pulang, cuma itu saja."


Mulut Indah membentuk huruf O tanpa suara. "Tapi ngomong-ngomong bagaimana Kakak tahu dimana direktur berada?" tanyanya sambil memicingkan mata, seolah ia bisa mengorek rahasiaku jika melakukannya.


Aku terkekeh sambil menunjukkan ponselku. "Aku sudah mengaktifkan gps di ponsel direktur termasuk juga di mobilnya, jadi aku bisa tahu dimana direktur berada." Pertanyaan Indah membuatku merasa jenius padahal itu bukan sesuatu yang spektakuler. Sejak Rami dilarang membawa mobilnya sendiri, aku kesulitan jika hanya mengandalkan GPS di mobil, jadi sekalian saja aku aktifkan juga di ponsel Rami, tentu tanpa sepengetahuannya. Bisa ku bayangkan bakal semurka apa ia jika tahu aku menyentuh ponselnya, meski hanya sekali. Dia pasti akan langsung mencekikku.


"Syukurlah kalau begitu." Indah menghela napas lega dan aku bisa memaklumi. Bahunya merileks tidak setegang tadi. "Kakak, jangan memintaku untuk menggantikan tugas kakak lagi. Aku kapok," keluhnya, memasang wajah cemberut sambil berkacak pinggang di depanku. Keluhan yang entah kenapa membuatku tertawa geli. "Gara-gara kemarin, aku hampir menangis dan panik seperti orang gila malam-malam di kantor. Aku tidak bisa tidur semalaman. Ini lihat mata pandaku." Tunjuknya pada area bawah matanya yang menurutku baik-baik saja.


"Maaf ya Indah, aku sudah merepotkanmu. Aku usahakan agar tidak menyusahkanmu lagi. Sebagai ucapan terimakasih, aku sudah membelikan kopi favoritmu lengkap dengan donat coklat." Aku menyodorkan cup kopi dan kotak donat di depan matanya. Sebuah sogokan yang otomatis merubah wajah cemberutnya menjadi cerah kembali. Aku terkekeh saat ia dengan cepat menyambar sogokanku.


"Kali ini Kakak aku maafkan, tapi untuk berikutnya aku nggak mau kalau cuma secangkir kopi dan donat," jawabnya sok jaim, membuatku semakin tertawa geli. "Oh ya...satu hal lagi. Tolong mintakan approve dari direktur ya Kak?" pintanya sambil memandangku dengan tatapan memelas. Aku heran dengan makhluk yang bernama cewek. Sedetik yang lalu ia begitu jaim, eh detik berikutnya mereka dengan gampangnya berganti ekspresi dengan tampang memelas dan mata berkaca-kaca. "Aku takut, sepertinya direktur tidak se-happy Kakak," jelasnya sambil mendorong sebuah business file ke arahku. Aku tidak punya kesempatan untuk menolak karena Indah sudah bergegas kembali ke mejanya.


Perlahan aku membuka pintu ruangan Rami, dan langsung saja aku tahu kenapa Indah tak berani masuk. Rami meletakkan kepalanya di atas meja kayunya yang lebar. Rami yang biasa sudah cukup mengintimidasi dan sekarang ditambah dengan Rami yang hangover tentu itu sudah cukup membuat nyali mereka menciut. Hal terakhir yang ingin mereka lakukan hari ini yaitu mengusik Rami.


Dahinya menghadap ke bawah, menempel pada kaca yang melapisi permukaan meja. Ia biarkan rambut panjangnya yang sedikit berombak tersebar, menutupi meja. Kedua tangannya juga terlentang di atas meja. Dia benar-benar kacau.


Aku mengernyitkan dahi saat melihatnya begitu menyeramkan. Dia hampir tidak bergerak sama sekali seperti orang mati. "Anda baik-baik saja, Direktur?" tanyaku ragu-ragu sambil menaruh kopi favoritnya di atas meja. Membawakan kopi favoritnya sudah menjadi salah satu tugas wajib setiap pagi sebagai seorang PA-nya. Tak lupa juga aku meletakkan dokumen titipan indah di depannya.


Rami menggelengkan kepala lemah tanpa repot-repot untuk mengangkatnya. "Kepalaku masih pusing?"

__ADS_1


"Perlu saya belikan obat?" tawarku, tumben berbaik hati padanya.


Sekali lagi Rami menggelengkan kepala. "Aku sudah membawa ini." Dia menunjukkan sebotol penuh air yang berisi irisan lemon dan madu yang berada di sampingnya.


"Syukurlah kalau begitu. Anda ada rapat umum dengan para penanggung jawab pabrik hari ini." Aku membacakan jadwalnya yang langsung dijawab dengan erangan keras.


"Kenapa kamu begitu kejam? Tak bisakah kita undur rapatnya atau biarkan aku absen kali ini." Rami mengangkat kepala tiba-tiba membuatku terkesiap. Wajahnya pucat dengan mata yang sedikit merah dan berair, hampir membuatku tak mengenali sosoknya yang biasa tampil sempurna.


Aku memasukkan ponselku. "Andai saya bisa. Rapat ini juga untuk memperkenalkan Anda sebagai direktur keuangan yang baru kepada seluruh penanggung jawab pabrik. Lagipula saya tidak menyuruh Anda untuk pergi minum di awal minggu. Acara saya juga rusak gara-gara Anda," elakku yang tanpa kusadari terdengar menyalahkannya meski suaraku perlahan menghilang.


Rami memanyunkan bibir. "Siapa suruh kencan di awal minggu," balasnya sambil kembali meletakkan kepala di atas meja. Kali ini ia melipat kedua tangan di atas meja, menjadikan alas kepala. Ia sepertinya masih malas meladeniku.


"Itu bukan kencan," elakku cepat yang hanya dibalas oleh kibasan tangan, seolah berkata kalau ia sama sekali tidak peduli. "Anda masih marah pada saya?" Aku berusaha sehati-hati mungkin saat mengungkit topik yang sensitif itu. Topik yang berhasil bikin aku dan bosku bertengkar hebat kemarin. Aku tidak percaya kalau sampai sekarang aku belum mendapat panggilan dari pihak HRD, panggilan untuk pemutusan kontrak kerja.


Rami mengangkat kepalanya lagi. "Kamu pikir aku akan memaafkannya begitu saja? PA kurang ajar yang bahkan berani mengatai bosnya sendiri?" ujarnya sambil menyipitkan mata sembabnya, berusaha menembus otakku. Ia melipat tangan di depan dada kali ini menyandarkan tubuh ke punggung kursi coklatnya yang empuk. Tatapannya yang tajam, tak melepaskan sedikitpun gerak-gerikku, membuatku salah tingkah di depannya.


Aku berdegem seolah ada yang menganjal di tenggorokan. "Saya tahu saya salah, saya tidak akan keberatan kalau Anda memecat saya." Aku sudah memikirkan ini semalaman.


Aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima konsekuensi terburuk dari sikapku yang lepas kendali kemarin. Semenyebalkannya Rami, dia tetap atasanku. Dia yang berkuasa untuk menggajiku.


Pertama memang akan berat dan sulit, tapi aku masih punya tabungan untuk membiayai kebutuhan hidup dan cicilan utang sampai aku mendapat pekerjaan baru. Aku masih punya kepercayaan diri untuk bisa diterima di perusahaan lain meski aku tak yakin akan mendapatkan gaji sebesar di perusahaan ini.


Rami makin menyipitkan matanya, semakin menelisik ke dalam bola mataku. Berusaha untuk membaca siasat busuk apalagi yang coba ku rencanakan. Mata elangnya menatapku lama, membuatku semakin tidak nyaman.


"Kenapa aku harus memecatmu?" ujarnya santai tanpa melepaskan tatapan tajamnya dariku. Senyum sedikit berkembang di bibirku sebelum ia melanjutkan kata-katanya. "Aku begitu membencimu sampai-sampai memecat saja tidak akan cukup. Aku akan tetap membuatmu bekerja untukku dan akan benar-benar membuat hidupmu begitu tersiksa," ancamnya, membuatku harus menurunkan garis bibir-yang sempat terangkat-dan susah payah menelan ludah. Mata dan bibirnya tersenyum puas dengan ancaman yang ia lontarkan. Sepertinya dipecat bisa menjadi hukuman yang lebih bisa ditanggung.


Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan padaku. Dia sudah membuatku berlarian, berteriak, bertindak seperti orang gila, dan itu semua belum cukup? Tentu tidak bagi Rami.

__ADS_1


***


__ADS_2