My Evil Lady

My Evil Lady
Shopping Time


__ADS_3

"Kamu menipuku." Rami memakiku saat aku menggiringnya masuk ke sebuah butik pakaian formal terkenal di salah satu mall. Ia berkacak pinggang, berusaha menghalangi jalanku yang sedari sibuk memilihkan pakaian untuknya. Aku tidak terlalu menanggapi amarahnya. Hanya tersenyum kecil pada pramuniaga butik, meminta tanpa kata agar mereka memaklumi tingkah tantrum bosnya ini.


Matanya menyipit, menajam, menyorotkan tatapan benci yang bisa melubangi kepalaku. Aku berusaha menahan tawa. Aku sungguh menikmati momen saat melihat bosku kesal. Aku merasa sekarang kami seri. Dia tak pernah membuat segalanya mudah untukku, jadi tak salah kalau aku juga sedikit membalas, fair enough.


"Kau bilang kalau aku bisa belanja, tapi apa sekarang?" protesnya lagi saat ia berada tepat di depanku. Ia menatap mataku lekat-lekat, menuntut perhatian sepenuhnya.


Aku mengerutkan kening, berlagak tidak mengerti apa yang dia maksud. "Bukankah kita sedang melakukannya?" elakku sambil menyerahkan beberapa rok dan blouse formal untuk ia coba. Dengan kesal ia melemparkan pakaian yang aku serahkan tadi ke atas sofa empuk mahal yang disediakan di dalam butik. Fasilitas premium untuk pelanggan premium.


"Masih berani kamu sebut ini belanja?" Dia menghela napas berat sambil mengalihkan pandangan ke langit-langit butik. Rami berusaha menahan emosinya agar tidak meluap disini. "Aku bahkan tidak bisa bebas memilih barang yang aku suka." Dia mencoba menjelaskan dengan intonasi suara yang sengaja dipelankan.


Aku yang akhirnya bisa duduk santai di salah satu sofa nyaman itu hanya tersenyum kalem melihatnya berjalan mondar-mandir, masih berkacak pinggang. Ia merajuk pada orang yang salah. Aku takkan merubah tujuan meski ia memelas sambil mencium kakiku sekalipun. "Saya sudah bilang kalau kartu kredit itu hanya bisa dipakai untuk keperluan kantor. Dan lagi pula Anda juga tidak punya pakaian yang layak untuk dikenakan di kantor. Jadi, lebih bijak kalau Anda tetap memilih dan membeli beberapa stel pakaian-pakaian cantik itu,” jelasku santai sambil menunjuk pada tumpukan pakaian yang dilempar Rami dengan lirikan mata.


Pupil mata Rami yang coklat membesar. Semua darah mengalir ke atas kepala, membuat wajah cantiknya berubah merah padam. "Kau, beraninya menceramahiku. Kamu hanya..."


"Saya tahu kalau saya hanya seorang PA," potongku masih berusaha mempertahankan ketenangan diri. Berlagak tak terpengaruh meski ia memprovokasi dengan menggunakan status. "Saya hanya seorang karyawan, tapi untuk saat ini saya yang memegang kartu sakti Anda. Jadi, terserah Anda mau mengikuti saran saya dan kita bisa segera pulang atau tetap keras kepala, memilih lebih lama terjebak dengan saya sampai Anda punya sesuatu yang pantas untuk dikenakan besok?" Seringai kecil kembali muncul di sudut bibir saat aku memamerkan kartu kredit yang berkilau di tangan. Aku tidak ingat aku bermimpi apa kemarin malam, yang jelas hari ini bisa jadi salah satu hari keberuntunganku. Jarang-jarang aku bisa satu langkah di atas bosku. Rami makin kesal, ia mengambil kembali pakaian yang tadi dilemparnya dan berjalan ke kamar pas dengan langkah kaki menghentak lantai.


Ia keluar masuk kamar pas untuk bercermin dengan beberapa macam pakaian formal yang sudah melekat di tubuh. Tidak susah mencari pakaian yang cocok di tubuhnya karena ia memiliki bentuk tubuh yang proporsional. Hampir semua baju yang dia bawa selalu tampak cantik saat ia kenakan. Beragam warna juga berpadu apik dengan kulitnya yang putih cenderung ke kuning langsat. Dari yang berwarna netral mulai dari coklat, hitam, abu, yang berwarna pastel atau bahkan yang berwarna berani seperti merah, biru langit, dan merah muda cerah, tetap cantik meski dia memakainya dengan wajah cemberut dan bibir terkatup rapat sekalipun.


Aku kagum saat melihatnya mencoba baju-baju itu. Semua kelihatan cantik saat ia kenakan bahkan untuk blouse dan rok dengan potongan sederhana sekalipun tetap tampak cantik dan elegan. Aku penasaran apa cewek ini terlilit tali pusar saat di dalam kandungan.


Bukan hanya aku yang berpikir begitu, pramuniaga yang melayani nya pun juga merasa kalau dia cocok memakai apa saja yang dia kenakan. "Anda tampak cantik dengan pakaian apa saja yang Anda coba, Nona," puji salah seorang pramuniaga saat Rami keluar dengan sebuah setelan blouse berwarna merah muda. Rami menyibakkan rambut ke belakang telinga, memamerkan leher jenjangnya dengan penuh kebanggaan. Tentu saja ia senang mendengar pujian dari pramuniaga itu.


"Itu karena bahan dan model pakaiannya yang berkualitas." Aku menyela pujian si pramuniaga tanpa mengangkat kepala dari layar ponsel. Komentar yang otomatis membuat Rami kembali menghentakkan kaki dan masuk ke kamar pas. Aku terkekeh melihat tingkahnya. Dia begitu kekanak-kanakan. Marah hanya karena aku menyangkal pujian orang padanya, tak mengakui kecantikannya. Tapi, aku merasa kalau aku juga kekanak-kanakan. Aku juga tidak mau mengakui kalau dia memang cantik dan malah terus-terusan menggodanya.


Saat menunggunya berganti pakaian, mataku menangkap sebuah sepatu wedges cantik berwarna merah maroon yang terpampang apik di etalase depan butik bersama dengan sepatu-sepatu lainnya. Warna maroonnya yang tegas membuatnya tampak begitu mencolok diantara warna-warna lain, seperti Rami.


Aku mengambil sepatu itu dan mengukurnya asal dengan jariku. Menimbang-nimbang berat sepatu itu, mengira apakah pas di kaki Rami, apa sepatu ini nyaman digunakan.


"Berapa ukuran sepatu Anda?" Aku berjalan ke arah Rami sambil membawa sepasang sepatu maroon itu saat dia sudah berganti pakaian.


"Tiga puluh delapan, kenapa?" jawabnya ketus, sambil melempar tubuh lelah ke atas sofa.


Aku berlutut dengan satu kaki di depannya, melepas sepatu platform cantik yang ia kenakan. Cantik, tapi terlihat melelahkan. Refleks ia menarik kakinya, terkejut dengan apa yang tiba-tiba ku lakukan, tapi aku menahannya. "Coba sepatu ini. Kasihan kaki Anda kalau setiap hari harus memakai sepatu hak tinggi,” pintaku saat memandang wajah terkejutnya dari tempatku berlutut. Aku tak tahu sejak kapan nada suaraku melembut. Aku memasangkan hati-hati sepatu itu di kedua kakinya.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri," ujarnya pelan sambil membungkukan badan, berusaha meraih tali pengait sepatu.


Aku mengangkat kepala, bersiap untuk membantah seperti yang sudah-sudah, tapi terhenti saat wajahnya berada begitu dekat dengan wajahku, terlalu dekat hingga aku bisa melihat tali lalat kecil di sudut mata kirinya. Terlalu dekat hingga aku bisa dengan mudah mencium bibir merahnya yang mungil. Pandangan kami bertemu, dan untuk sesaat aku merasa waktu terhenti. Aku merasa hanya ada kami berdua di ruangan butik. Dia terdiam begitu juga aku. Saat waktu terhenti, saat itu otakku memikirkan sesuatu yang tak pantas, saat aku mengakui betapa cantik dan mempesonanya gadis di depanku.


"Anda tidak boleh suka sama saya. Saya sudah punya seorang kekasih yang juga cantik dan lembut, tentunya." Aku menyadarkannya, lebih tepatnya menyadarkan diri sendiri dari pikiran aneh yang sempat berkelebat di otak. Aku harus melakukannya agar aku menyadari posisiku. Dia atasanku dan juga punya seseorang yang ia kencani.


Rami melengos, memalingkan muka, mengalihkan perhatian ke arah lain dan membiarkanku memakaikan sepatu ke kakinya. Seutas tawa mencemooh tak lupa ia lemparkan padaku. "Kamu yakin tidak ada yang salah dengan otakmu?"


Aku mengacuhkan hinaannya dan segera bangkit setelah selesai memasangkan sepatu itu. Aku tersenyum lebar, puas dengan hasil pilihanku sementara Rami sibuk mengaca dengan sepatu barunya. Sudah kuduga sepatu itu memang cocok di kakinya. Sepasang sepatu dan sepasang kaki yang cantik terpadu sempurna.


"Tolong hitung semua pakaian yang tadi ia coba." Aku menyerahkan kartu sakti itu kepada salah satu pramuniaga yang dengan sopan menyanggupi. "Oh ya...jangan lupa hitung juga sepatunya." Aku mengingatkannya.


Aku menyukai sepatu itu dan sepertinya Rami juga menyukainya. Buktinya, ia tidak mau repot-repot untuk melepas dan memakai kembali sepatu hak tinggi yang ia kenakan tadi. Ia memilih untuk pulang dengan memakai sepatu wedges maroon itu. Sepatu cantik yang tetap bisa membuatnya nyaman.


"Ayo kita kembali," ajakku setelah pramuniaga menyelesaikan pembayaran dan telah mengatur barang belanjaan kita. "Aku sudah menghubungi pak Sigit untuk menjemput dan sekalian mengantarkan Anda kembali ke apartemen," Infoku sambil menggiringnya keluar dari butik. Kedua tanganku penuh dengan tas belanjaan. Ternyata kami membeli cukup banyak baju.


"Apa? Kamu tidak mengantarku? Jadi, aku tidak bisa pulang dengan bayiku?" tanyanya yang seperti tidak suka dengan rencanaku.


Aku memicingkan mata, tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Bayi? Bayi apa? Sejak kapan dia punya bayi? "Anda punya bayi?" tanyaku tak mengerti arah pembicaraannya.


"Oh mobil Anda." Aku baru mengerti apa yang ia maksud, tapi tetap saja terasa konyol menyebut mobil selayaknya anak sendiri, meski itu mobil kesayangan sekalipun. "Tenang saja. Saya akan membawanya kembali ke kantor dengan selamat. Saya bahkan akan menyelimutinya biar bayi Anda tidak kedinginan." Aku meyakinkannya, ikut memainkan permainannya.


"Nggak usah lebay," komentarnya sinis sebelum melengos pergi, membuatku menggeretakkan gigi. Ingin sekali aku menjambak rambut sedikit berombaknya yang tergerai menutupi punggung. Siapa juga yang memulainya. Dia bahkan lebih norak menyebut mobilnya bayi.


"Tapi ngapain kamu memanggil pak Sigit. Kamu mau kemana?" tanyanya tanpa repot-repot membalikkan badan. Dia tahu aku pasti mengekorinya.


"Saya harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pemeriksaan ulang laporan keuangan kita,” jelasku singkat.


Mulutnya membentuk kata "Oh". "Kamu sendiri yang suka menyusahkan diri," katanya lagi sambil memasang kacamata hitam untuk membingkai matanya. "Kamu cukup membiarkannya dan bisa segera pulang," sarannya sambil lalu. Saran yang aku yakin jika ku ambil dia akan semakin menghinaku.


"Saya tak perlu melakukannya kalau dari awal Anda melakukannya dengan sungguh-sungguh." Aku menjaga intonasi suaraku agar tidak terdengar offensive meski hatiku gatal ingin meneriakinya.


Rami membalikkan badan tiba-tiba dan mendelikkan mata di balik kacamata hitamnya padaku. Kacamatanya gelap, tapi aku masih bisa merasa tatapan mata yang tajam dan menusuk.

__ADS_1


Aku berhenti mendadak, menjaga jarak amanku dengannya. Aku takut dia akan melemparkan apa saja yang bisa diraihnya ke arahku saat ia mulai marah. Tapi sepertinya perkiraanku kali ini salah. Dia melanjutkan jalannya, tidak berminat menanggapi ocehanku lagi. Kami berjalan dalam diam, aku juga tidak ingin membuka obrolan yang bisa berakhir dengan pertengkaran diantara kami.


"Kak Dika..," suara yang begitu ku kenal terdengar menyapa, refleks menghentikan langkah kakiku dan Rami. Aku menoleh ke arah si pemilik suara yang sangat ku kenal.


Indah, gadis manis berkulit putih dengan rambut panjang dikuncir kuda, melihatku dengan tatapan mata keheranan. Mata coklatnya bergantian mengamatiku dan Rami yang juga ikut berhenti. Memang bukan hal yang wajar jika dia mendapatiku sedang berjalan-jalan di mall saat hari masih siang bersama dengan seorang cewek. Saat aku harusnya masih berkutat dengan kerjaan di kantor.


"Oh...Mita," aku segera menghampirinya. "Halo.." Aku menyapa teman-temannya juga, yang dijawab dengan senyuman kikuk oleh mereka. Mita, gadis manis yang sudah ku kenal sejak kecil. Kebetulan rumah kami berdekatan, jadi bisa dibilang kalau kami tumbuh besar bersama. Aku baru ingat kalau teman masa kecilku ini ada rencana pergi nonton dengan teman-temannya sebagai ganti diriku yang terlalu sibuk akhir-akhir ini.


"Kenapa Kakak disini? Dan siapa dia?" tanyanya sambil mengarahkan pandangan ke arah Rami. Indah dan teman-temannya, tak melepaskan pandangan dari sosok Rami yang memukau.


"Oh...jangan berpikir aneh-aneh. Aku sedang menemani bosku belanja untuk kebutuhan meeting besok." Aku menunjukkan paper bag yang memenuhi kedua lengan.


"Oh jadi dia atasan Kakak," ulangnya mulai bisa menghilangkan ekspresi keterkejutannya. Mita tipe cewek yang tak pernah berprasangka buruk, salah satu hal yang aku suka darinya selain karena sifatnya yang lembut dan pengertian. Mita menuju ke arah Rami yang mulai memasang tampang tidak ramah sambil berulang kali mengecek jam di pergelangan tangannya. "Halo..saya Mita, temannya kak Dika," Mita menyodorkan tangan, dengan senyuman manis terhias di wajah cantiknya ia mengajak Rami berkenalan.


Rami melihat sekilas tangan yang terulur ke arahnya tanpa berniat sama sekali untuk membalas. "Oh...hai," balasnya singkat, menggantung tangan Mita di udara. Mita menarik kembali uluran tangannya canggung tanpa menghilangkan senyuman manis di wajah. "Aku tunggu di bawah," ujar Rami padaku sebelum melanjutkan jalannya. Sepertinya ia malas terlibat dalam pembicaraan dan merepotkan diri untuk berbasa-basi pada Mita dan teman-temannya. Aku mungkin mulai terbiasa dengan sikap tidak ramahnya, tapi itu bisa jadi hal yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Sifat dinginnya membuat ia mendapat tatapan mata ofensif dan bisik-bisik tidak sedap di balik punggung.


Aku menghela napas berat. Memang begitulah atasanku. Disaat yang lain begitu peduli dengan penilaian orang lain pada dirinya, bersikap dan berkata sesuai yang orang inginkan meski harus melawan dan menyakiti kehendak hati, tapi itu tidak berlaku bagi Rami. Rami tahu apa yang dia inginkan dan ia lebih memilih itu bahkan meski harus menyakiti yang lain.


"Jadi itu atasan Kakak yang baru?" tanya Mita saat kembali memusatkan perhatian padaku. "Cantik dan berkelas sekali," tatapan matanya mengikuti kemana Rami berjalan.


Aku menghela napas berat. "Andai saja kamu tahu kelakuannya di kantor, kamu mungkin nggak akan bisa berpikir seperti itu lagi." Tanganku mulai pegal, membawa banyak tas belanjanya.


Mita tersenyum mendengar komentarku tentang Rami. "Jujur, aku senang Kakak berpikir begitu. Aku nggak perlu takut Kakak akan suka padanya," ujarnya, membuatku ternganga sesaat sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.


Aku heran bagaimana ia mendapat pemikiran seperti itu. Imajinasinya kadang tidak terkendali. Aku suka pada cewek manja dan egois itu? Aku pasti begitu frustasi kalau sampai itu terjadi.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Aku menyentil lemah keningnya dengan satu jari. "Aku harus kembali ke kantor. Maaf aku nggak bisa menemanimu nonton kali ini. Lain kali aku akan mentraktirmu makan," pamitku meninggal Mita yang langsung memberikan seutas senyum manisnya. Senyum yang begitu ku kenal. Senyum yang entah kenapa kali ini terasa sedikit muram.


Tapi mengapa dia takut aku bakal suka sama Rami?


Pertanyaan itu menerobos otakku tiba-tiba. Aku menghentikan langkah, menoleh ke belakang, memandang punggung kecilnya yang semakin menjauh.


Sebenarnya apa yang ia pikirkan tentangku?

__ADS_1


***


__ADS_2