
Aku menunduk semakin dalam saat pak Narta tidak hentinya menghujaniku dengan tatapan tajam. Tentu saja ia murka, saat aku dengan gampangnya meloloskan Rami keluar kantor saat ada meeting penting dengan jajaran direksi perusahaan. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari dan berhasil membawanya kembali ke kantor, tapi tetap saja aku tidak bisa menghindari amarah sang presdir. Sudah hampir lima tahun aku bekerja sebagai PA beliau, baru kali ini aku menerima amarahnya yang luar biasa. Aku malu, malu karena tidak bisa bekerja sesuai dengan ekspektasinya. Malu karena mengecewakannya.
"Mengapa kamu biarkan dia pergi keluyuran tidak jelas saat kita ada meeting penting?" amuk pak Narta dari balik kursi kerja coklat berpunggung tinggi, sementara Rami duduk santai di sofa depan meja kakeknya, menyandarkan punggung sambil meniup kuku-kukunya yang sama sekali tidak kotor. Sosoknya tenggelam, dikelilingi tas-tas belanjaan. "Kamu sering sekali kehilangan dia, bahkan tidak tahu kemana dan apa yang ia lakukan."
"Maafkan saya Pak, ini semua kesalahan saya karena kurang fokus." Aku mengakui kalau semua itu adalah kesalahanku tanpa sedikitpun berani menatap mata pak Narta. Bisa jadi memang Rami yang berniat pergi, tapi kalau saja aku tahu, aku pasti akan mencegahnya. Bahkan jika harus mengurungnya di dalam kantor sekalipun, akan aku lakukan.
Dalam riuh amarah sang presdir dan rasa ketakutan yang menjalari punggung, aku bisa mendengar decak meremehkan dari mulut Rami. Sepertinya ia ikut menikmati bagaimana aku dimarahi abis-abisan oleh kakeknya meski ia terlihat asyik bermain ponsel. Aku tahu dia meremehkanku, dan itu makin memberiku alasan untuk semakin sebal padanya. Aku kena marah pak Narta tidak lain karena ulah dan ketidak kompetenannya.
"Dika, ada apa denganmu?" tanya presdir menghela napas akhirnya, mulai melembut. Beliau melepaskan kacamata baca, melipatnya di atas meja. Ia merilekskan punggung dengan menyandarkannya pada sandaran kursi yang empuk. Beliau memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya untuk meringankan sakit kepala yang kami ciptakan. "Kamu sudah bekerja untukku lebih dari lima tahun dan tidak pernah mengecewakan aku sebesar ini," ujarnya pak Narta, makin menghantam dadaku dengan rasa bersalah. Aku memang tak sepantasnya mengecewakan beliau sebesar ini setelah semua yang ia lakukan untukku. Berkat kebaikan dan kesempatan yang diberikan oleh beliau, aku bisa diterima dan bekerja di perusahaan skala multinasional meski hanya lulusan dari universitas lokal. "Aku berharap kamu bisa membimbing Rami untuk bisa bersikap lebih dewasa dan profesional, tidak malah membiarkannya bertingkah sesuka hati hanya karena dia cucuku."
"Maafkan saya pak. Saya sungguh menyesal. Saya akan berusaha lebih keras lagi." Tidak banyak kata yang bisa aku keluarkan untuk menanggapi presdir. Jawaban diplomatis saat ini jauh lebih aman karena bagaimanapun baik pak Narta maupun Rami keduanya adalah atasanku. Dua orang atasan yang tidak sejalan pemikiran dan keinginannya, menghimpitku di tengah.
Presdir mengangguk lemah sambil menghela napas berat. "Aku tahu Dika. Berusahalah lebih keras. Dan kamu Rami," beliau mengalihkan pandangan ke cucu semata wayangnya itu, "Bekerjalah dengan lebih serius. Jangan hanya main ponsel saja. Kalau seperti ini terus mana bisa aku menyerahkan perusahaan ini padamu," tegurnya yang bersambut dengan suara hentakan keras saat Rami menaruh ponsel kasar di atas meja.
Rami bangkit dari duduknya. Raut wajahnya yang semula cuek, sekarang mengeras dan kaku. Kedua alis yang lebat bertaut, pandangan matanya tajam dengan bibir terkatup rapat. "Kakek tak perlu melakukannya. Dari awal aku tak pernah meminta kakek untuk memberikan perusahaan ini padaku. Aku juga tidak berniat sama sekali berhubungan dengan perusahaan ini,” tantang Rami membuat tensi ruangan yang mulai reda, kembali meninggi.
"Jangan munafik," sangkal pak Narta tidak kalah sengit. "Tidak ingin berhubungan dengan perusahaan? Kamu pikir dari mana uang yang kamu gunakan untuk foya-foya itu, huh?" serang presdir sambil menunjuk ke arah tumpukan tas belanja Rami teronggok. Dalam hati aku setuju dengan perkataan pak Narta.
"Dari awal aku tak pernah meminta ini semua." Wajah Rami merah padam, tangannya terkepal erat, berusaha menahan amarah yang bisa meledak kapan saja. Selalu seperti itu, pertengkaran selalu tak bisa dihindarkan dalam pembicaraan mereka, meski itu kakeknya sendiri
Aku yang hanya bisa melihat pertengkaran antara kakek dan cucu itu, memilih untuk berdiam diri, mendengarkan dengan menahan napas agar mereka tidak menyadari keberadaanku. Bukan porsiku untuk melerai mereka. Aku hanya orang asing, karyawan biasa yang kebetulan terjebak dalam posisi tidak menguntungkan. Terjebak dalam pertengkaran masalah pribadi dua orang yang keduanya adalah atasanku.
"Baik, kalau begitu tidak masalah kalau aku mengambil kartu kredit dan mobilmu," ancam pak Narta, seperti menyiramkan bensin dalam kobaran api.
"Lakukan saja sesuka Kakek." Rami melengos pergi dari ruangan sang kakek, meninggalkan laki-laki tua itu menghela napas berat. Ia berjalan sambil menghentakkan kaki, menggetarkan lantai sebagai bentuk kemarahan meski ia tetap tak melupakan tas belanjanya. Pak Narta memijit pelipisnya yang makin berdenyut melihat tingkah cucu kesayangannya. Untuk sementara ia harus puas hanya dengan kemenangan semunya.
__ADS_1
***
Rami melempar tas belanjaan ke atas sofa maroon yang mengisi ruang kantornya. Ia berjalan mondar-mandir di depan meja kerja. Ia menggigit bibir bagian bawah seraya memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan berikutnya. Bertengkar dengan sang kakek selalu membuatnya merasa gelisah dan membuat moodnya buruk, tapi kali ini lebih parah. Ia merasa sangat kesal karena harus menyerahkan kartu kredit dan mobil kesayangannya. Boleh saja ia bilang ia membenci perusahaan ini, tapi sepertinya ia sungguh menyukai uang yang dihasilkan perusahaan kakeknya ini. Uang yang tanpa batas bisa memuaskan nafsu belanjanya. Sebuah kegiatan yang bisa sedikit mengalihkan otaknya, memikirkan hidupnya yang menyedihkan. Pengharum ruangan yang beraroma pohon pinus-aroma kesukaannya-bahkan tak sanggup menyegarkan pikiran, memperbaiki moodnya.
"Maaf Direktur, saya harus mengambil kartu kredit dan kunci mobil Anda." Ragu-ragu aku menyodorkan tangan, menunggu Rami menyerahkan barang yang aku pinta. Butuh beberapa saat baginya sebelum ia-dengan berat hati-menyerahkan yang aku pinta. Rami tahu ia tak punya pilihan lain, ia harus menuruti semua perintah kakeknya. Mata bulatnya menatapku tajam, menatapku seakan aku musuh besarnya. Aku menjerit dalam hati.
Sungguh aku tidak ingin memusuhimu, tapi aku hanyalah seorang karyawan disini. Aku tak punya pilihan lain selain mengikuti perintah dari yang punya otoritas lebih tinggi.
"Bagaimana aku membiayai hidupku?" tanyanya sambil terus memegang kartu yang sudah berada di atas telapak tanganku. Aku berusaha menarik, tapi dia belum rela melepaskannya.
Aku menyunggingkan seulas senyum lelah, "Tenang saja. Anda masih akan mendapat uang gaji dari pekerjaan yang Anda lakukan. Gaji Anda akan dibayarkan bulanan seperti karyawan lain."
Dia melepaskan tangannya dan tertawa sinis, mencemooh jawabanku. "Kamu sedang menghinaku, ya? Mana cukup kalau hanya dari gaji seorang...ehm direktur." Rami melipat tangan di depan dada, menunggu responku. Aku tahu aku harus memikirkan langkahku dengan hati-hati. Aku tahu dia sedang kesal, dan dia menungguku salah langkah agar bisa menjadi sasaran pelampiasannya.
Senyum mencemoohnya berubah menjadi gelak tawa menghina, gelak tawa yang membuatku salah tingkah. Aku rasa tidak ada yang salah dengan ucapanku. "Dan, bagaimana kalau tetap tidak cukup?"
"Anda tidak akan mendapatkan dana tambahan. Jadi, Anda harus mencari cara lain untuk mendapatkan uang. Mungkin dengan menjual koleksi tas atau sepatu Anda," saranku yang langsung mendapat delikkan tajam darinya. Tawa kejamnya hilang terganti dengan tatapan intens yang terasa mencekik tenggorokan, membuatku kesulitan menelan ludah. Sekarang aku tahu kalau aku mengucapkan sesuatu yang salah.
Dengan sangat perlahan dan berirama dia berjalan mendekatiku, kedua tangannya masih terlipat rapi di depan dada. Begitu persisten hingga aku harus berjalan mundur untuk tetap menjaga jarak dengannya. Sikap kikukku, tidak menghentikan langkah mantap perlahannya. Sepertinya Rami begitu menikmati momen ini, momen untuk mengintimidasiku. Dia terus mendekat hingga aku tidak bisa menghindar lagi. Tidak ada ruang untuk menghindar, terjepit antara dinding kantor dan Rami yang terus merangsek maju.
Dia berada terlalu dekat hingga aku bahkan bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa wajah. Dia terlalu dekat hingga aku bisa mencium aroma bunga dari rambutnya. Mata coklat yang tajam itu mencoba mengintimidasi, seakan ia sanggup mengoyakku hanya dengan tatapannya.
"Jangan pernah satu kalipun kau menyentuh barang-barangku karena saat itu terjadi aku sendiri yang akan memecatmu tak peduli sebagus apa kinerjamu di mata kakek," ancamnya membuatku kesulitan menelan ludah. Sebuah ancaman yang aku tahu bukan sekedar ancaman kosong belaka.
Dia berbalik, saat puas melihatku berhasil terintimidasi dan berjalan dengan riang kembali ke balik mejanya hanya untuk bermain gadget. Tak ku sia-siakan kesempatan itu untuk segera keluar dari ruangannya. Jantungku berdetak cepat saat berhasil terlepas dari tekanan yang menyesakkan dada. Gadis keras kepala dengan harta berlimpah, jelas bukan kombinasi yang bagus.
__ADS_1
"Oh..ya satu lagi," ucapnya, menghentikan langkah di ambang pintu. Ucapan yang juga sesaat sempat menghentikan detak jantungku. "Hati-hati dengan mobil kesayanganku. Awas jangan sampai kau menggoresnya," ancamnya yang hanya aku jawab dengan jawaban mengiyakan singkat sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan.
Aku menghela napas berat. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuh. Menjadi PA memang bukan perkara mudah dan aku masih harus terus belajar. Tapi, menjadi PA dari seorang penerus manja dan tidak kompeten benar-benar menguji kesabaran.
****
Rami's note
Aku tak pernah ingin pulang. Aku tidak ingin bertemu dengan kakek apalagi berurusan dengan apapun yang berkaitan dengan perusahaan.
Aku ingin bebas. Bebas mengejar mimpiku. Bebas dari banyak pasang mata yang mengamati seperti apa penerus Watson & co. Pasang mata yang juga bersiap kapan saja menyerang untuk mengambil alih perusahaan. Aku ingin bebas, tapi aku tak bisa.
Kebebasan bukanlah sesuatu yang bisa kurengkuh dengan mudah. Tidak, meski aku punya uang lebih. Uang-yang sedari kecil menemani kisah hidupku-tak mampu untuk membeli kebebasanku sekarang.
Aku terpaksa pulang ke Indonesia karena perintah kakek. Karena terpaksa juga aku bekerja dalam jajaran direksi perusahaan. Pekerjaan yang sama sekali tidak menarik minatku. Keterpaksaan yang hanya memberiku satu alasan lagi untuk semakin membenci kakek, satu-satunya anggota keluarga yang aku punya.
Tidak cukup mengengkangku dengan bekerja di perusahaan, kakek memberikan rantai tambahan.
Seorang PA. PA yang akan mengawasi dan mengatur semua jadwalku. PA yang bahkan dengan lancangnya mengatur keuanganku. PA yang berusaha merubah ku untuk menjadi penerus seperti yang diharapkan kakek.
Aku tak tahu namanya. Aku bahkan tak mau repot-repot untuk mencari tahu. Dia hanyalah orang biasa dengan tubuh yang biasa, tidak kurus tapi juga tidak gemuk-meski sedikit lebih tinggi daripada cowok kebanyakan- dan meski wajahnya sedikit di atas rata-rata dengan rambut hitam dan bulu mata yang panjang. Sama seperti karyawan lain yang akan melakukan apapun demi uang, demi untuk mempertahankan pekerjaannya. Dia tidak ada ubahnya dengan seekor anjing penjaga yang akan melakukan apapun yang diperintahkan.
Tidak ada yang salah memang, karena kita semua butuh uang untuk bertahan hidup. Semua itu menjadi salah saat dia berada di antara aku dan kakek, orang yang paling aku benci di dunia ini. Prinsipku sederhana, saat dia bersekutu dengan musuhku saat itu juga dia menjadi musuh.
***
__ADS_1