
Aku menghampiri Indah-salah seorang staf manajer keuangan-yang baru keluar dari ruangan Rami sambil membawa laporan keuangan kuartal perusahaan. Mata bulatnya terbelalak saat melihatku menghalangi jalannya kembali ke meja.
"Indah, boleh aku pinjam laporannya?" pintaku sopan sambil mengulurkan tangan, menunggu ia menyerahkan laporan yang ia dekap di depan dada.
Indah memiringkan kepala tidak paham niatanku. Ia tak mengerti kenapa aku meminta dokumen itu lagi. "Dokumennya sudah di-approve sama bu Rami, kak," infonya yang membuatku harus mendapatkan dokumen itu sebelum pihak keuangan mempublishnya ke publik.
"Iya, tapi ada beberapa hal yang perlu dianalisa ulang. Aku janji akan segera menyelesaikannya malam ini." Aku berusaha meyakinkan, tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari cewek berambut pendek sebahu itu. Meski keraguan terpahat jelas di wajah bulatnya, dia menyerahkan dokumen itu.
“Asal kakak bisa segera mengembalikannya. Aku harus mem-publish laporannya besok,” syaratnya sebelum benar-benar melepaskan dokumen itu dari tangannya.
Aku mengangguk mantap, penuh keyakinan. “Tentu saja. Aku akan segera mengembalikannya saat kamu datang besok pagi,” janjiku yang berarti aku harus begadang malam ini, melewatkan pertandingan bola tim favorit untuk menyelesaikannya.
Aku membawa kembali dokumen di tangan ke ruangan Rima setelah tak lupa mengucapkan terimakasih dan menjanjikan untuk mentraktir segelas kopi favorit Indah. Harga yang harus aku keluarkan untuk membawa dokumen penting dari departemen keuangan. Reputasiku yang selama lima tahun menjadi PA pak Narta-yang berarti menjadi orang kepercayaannya-cukup berguna untuk meyakinkan karyawan lain agar ikut percaya kepadaku.
Tak perlu bagiku untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan Rami. Percuma saja karena kemungkinan besar ia juga tidak akan memperhatikan. Dan dugaanku, dia terlalu asyik untuk menonton video di youtube daripada bekerja hingga tak menyadari sosok ku yang sudah berdiri di depannya. Rami baru mengangkat kepala dari layar laptop saat aku meletakkan keras-keras dokumen itu di meja kerjanya.
"Jangan asal menandatangani sesuatu tanpa bicara padaku terlebih dahulu, Direktur,” pintaku yang lebih terdengar seperti sebuah perintah. Aku berusaha menahan agar tidak membuat nada bicaraku meninggi, tapi tidak cukup berhasil. Nada setengah oktaf lebih tinggi ku sepenuhnya menarik perhatiannya.
Rami menutup layar laptop dengan tenang. Ketenangan yang malah membuat bulu kudukku berdiri. Ketenangan yang terlihat jelas dibuat-buat seakan dia menunggu saat yang tepat sebelum menerkamku. Ia menyamankan diri bersandar pada punggung kursi. Tangannya terlipat di depan dada, menatapku dengan tatapan merendahkan yang akhir-akhir ini sering ku terima. "Kamu menyuruhku bekerja dan aku sudah melakukannya. Bukankah tugasku hanya menandatangani beberapa dokumen? Aku sudah melakukannya. Apalagi yang kau permasalahkan sekarang?" tanyanya santai, seperti tak ada beban sama sekali. Aku tak mengerti mengapa ia menyepelekan tugas dan tanggung jawabnya saat ada ribuan orang beserta keluarganya yang menggantungkan hidup pada perusahaan.
"Tak sekedar menandatangani, tapi Anda harus memeriksanya terlebih dahulu. Dengan menandatanganinya berarti anda ikut bertanggung jawab tentang apa saja yang tercantum di laporan itu." Aku tak mampu lagi menahan nada bicaraku. Bicara dengannya tak pernah gagal menaikkan tekanan darahku.
"Berani-beraninya seorang PA meragukan kemampuan atasannya. Apa PA sekarang semakin kurang ajar hingga merasa berhak untuk memerintahkan atasannya melakukan ini itu, heh?" cela Rami, masih mempertahankan ekspresi tenangnya. Pertanyaannya begitu menohok, membuat napasku tertahan sesaat.
"Saya tidak akan meragukan kemampuan Anda kalau Anda sungguh-sungguh melakukannya. Dalam kasus ini, saya tahu kalau Anda hanya asal approve saja biar bisa segera bermain."
__ADS_1
"Siapa yang bermain?” potongnya cepat. “Aku sedang bekerja." Rami tidak terima saat aku mengatainya. Wajahnya mengeras, tatapan matanya tajam. Ekspresi tenang yang sedari ia pasang di wajah cantiknya menguap seketika menjadi merah padam.
"Bekerja?" ulangku memastikan kalau telingaku tidak salah mendengar. "Jangan membuat saya tertawa, pakaian Anda saja tidak menunjukkan selayaknya orang yang bekerja." Aku mengarahkan pandangan sekilas pada pakaian yang dia kenakan hari ini. Kalau cuma gaun terusan aku masih bisa tolerir, tapi ini sudah keterlaluan.
Rami mengikuti arah pandanganku sebelum meneliti outfit yang ia kenakan hari ini mulai dari ujung kaki sampai atas kepala. Sebuah mini skirt berwarna biru navy dengan kemeja flannel satu ukuran lebih besar dan sebuah platform berwarna senada yang menghiasi kaki mulusnya.
"Tidak ada yang salah dengan pakaianku," ujarnya seraya berlenggak-lenggok, merasa puas dengan tampilan bayangan yang tampak dari lemari kaca di salah satu sudut ruangan.
"Ada," sela ku cepat. "Pakaian Anda terlalu terbuka untuk dipakai ke kantor. Tidak mungkin Anda bertemu klien dan meeting dengan penampilan seperti ini. Para staf yang lain juga jadi tidak fokus saat Anda lewat di depan mereka,” jelasku panjang lebar meski tak berani menatap langsung padanya. Menghindari tatapan penuh kepuasan diri di matanya, tapi malah terpaku kaki jenjangnya yang mulus dan ramping. Aku memalingkan wajah, menyembunyikan semburat merah yang muncul tanpa bisa kukendalikan. Seberapa kesalnya aku pada Rami, tetap saja aku seorang cowok dan Rami terlalu cantik untuk diacuhkan.
Banyak karyawan cewek yang punya paras cantik di perusahaan, tapi tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya. Perpaduan apik antara kekayaan yang tanpa batas dan gen orang tua yang juga terkenal karena penampilan mereka, membuat level kecantikannya jauh di atas rata-rata. Kecantikan yang sempurna andai saja temperamennya tidak mengerikan.
Rami tertawa lepas mendengar penuturanku. Aku heran kenapa dia malah tertawa, sementara aku sudah gemas setengah mati. Sekarang aku bukan hanya harus mengoreksi pekerjaannya, tapi juga harus mengoreksi penampilannya.
"Jadi menurutmu para karyawan terutama staf laki-laki tidak bisa fokus bekerja saat melihatku? Menurutmu pakaianku tidak pantas untuk dipakai ke kantor begitu?" Rami berjalan perlahan dengan penuh kepercayaan diri, merangsek maju selangkah demi selangkah ke arahku. "Menurutmu para karyawan tidak bisa konsentrasi bekerja setelah melihat pakaianku yang terlalu seksi? Apa menurut PA yang penuh tanggung jawab ini aku terlihat seksi?" tanyanya saat ia berada begitu dekat di depanku. Keningnya tepat berada di depan bibirku. Aku bisa melihat menembus bola mata coklatnya yang berbinar. Terlalu dekat dan hening hingga aku bisa mendengar detak jantungku yang entah sejak kapan tiba-tiba meliar.
Iya, dia terlihat begitu cantik dan sempurna di mataku. Begitu cantik dan berbahaya hingga mampu memporak porandakan duniaku seandainya aku lengah sedikit saja.
Dia bergeming dari posisinya yang hampir menempel di tubuhku. Terlalu dekat hingga aku takut dia bisa mendengar detak jantungku yang bergemuruh. Terlalu dekat hingga aku bisa dengan mudah mengecup bibir penuh dan lembutnya itu hanya dengan menundukkan kepala. Pandangannya melembut, tapi secara bersamaan menuntut. Menuntut jawaban untuk pertanyaan terakhirnya yang seduktif. Pertanyaan yang apapun jawabannya hanya akan menyerang balik padaku, baik itu jawaban jujur maupun bohong.
"Anda sedang menggoda saya?" Aku memecah keheningan yang intens. Berusaha bersikap sebiasa mungkin, seolah aku tak terpengaruh godaannya. "Kalau memang benar, Anda tidak akan berhasil. Aku sudah punya kekasih yang juga cantik...," karangku agar bisa keluar dari jeratannya.
Tawa kembali menyembur dari bibirnya, mengoyak suasana hening yang menghimpit dada. Saking kerasnya dia tertawa sampai ia harus memegangi perut yang kaku. Aku hanya mengerutkan dahi melihat tawanya yang berlebihan. Aku tidak yakin apa yang tengah ia tertawakan.
Jangan bilang Anda bisa membaca pikiranku dan tahu kalau aku berbohong.
__ADS_1
"Aku tak percaya kau berpikir begitu," komentarnya sambil menghela tetes air mata yang menerobos sudut-sudut mata.
Untunglah kebohonganku tidak ketahuan
Sama seperti Rami, jujur aku sendiri juga tidak percaya kata-kata itu yang keluar dari mulutku, padahal bisa saja aku menjawab tidak. Aku menggigit bibirku, ingin sekali aku menarik kata-kataku.
"Bukan hanya kurang ajar, ternyata kamu juga terlalu membanggakan diri," lanjutnya setelah berhasil mengendalikan tawa. "Jangan pernah bermimpi untuk jatuh hati padaku karena aku sudah punya cowok yang ya...jauh lebih tampan, tapi berhubung kamu juga sudah punya pacar ya anggap saja itu lebih melegakan. Jangan berpikir untuk memiliki hubungan yang lebih dari sekedar bos dengan PA-nya."
Aku tertawa garing mendengar kemungkinan yang terlalu imajinatif itu. Aku sudah gila kalau benar-benar tertarik dengannya. "Hentikan perkataan Anda yang absurd itu. Anda harus bekerja ekstra keras untuk menarik perhatian saya," komentarku menyudahi bayangan tidak masuk akalnya sembari merapikan jasku yang sama sekali tidak berantakan. Rami hanya manggut-manggut seolah mengiyakan saja apapun yang menjadi pembelaanku. "Sekarang ayo cepat kita pergi?" Aku mengalihkan arah pembicaraan, berusaha mengenyahkan kecanggungan yang menyelimuti.
"Kemana?" tanyanya menaikkan sebelah alisnya yang lebat. Rami tak ingat kalau hari ini ada jadwal pertemuan dengan klien.
"Kita harus belanja. Akan ada pertemuan dengan direktur perusahaan Jaya untuk perpanjangan kontrak. Anda tidak mungkin menemui beliau dengan pakaian seperti ini."
Mata Rami berbinar saat dia mendengar tentang belanja. Maklum dia harus menghentikan sementara hobby-nya yang satu ini jika ingin bertahan hidup hanya dengan mengandalkan gaji bulanan saja. Dia bisa saja memasang puppy eyes di depan pacarnya, tapi ia tak mau. Bukan gayanya untuk meminta sesuatu dari orang lain, tak terkecuali pacar sendiri.
"Tunggu, kamu bilang aku tidak punya budget untuk belanja?" Rami memicingkan mata berusaha mengorek siasat licik apa lagi yang sedang kurencanakan.
Aku tersenyum bangga sambil menunjukkan kartu kredit unlimited yang tempo hari aku sita darinya. "Pak Narta bilang saya bebas memakainya asal untuk kepentingan perusahaan."
Mata Rami berbinar saat melihat kartu unlimited, kartu yang bisa menjamin dan memuaskan hobi belanjanya. "Oke, bagiku apapun alasannya aku tidak peduli yang penting aku bisa pergi belanja," komentarnya ceria. Tanpa perlu diulang dua kali Rami segera mengambil tasnya dan berjalan dengan antusias keluar dari ruangan. "Jangan lama-lama. Aku tunggu di bawah," perintahnya tanpa perlu menoleh ke belakang.
Aku menggelengkan kepala, tidak percaya dengan kelakuannya. Aku berpikir apa aku pernah melakukan suatu kejahatan besar di masa lalu hingga harus menerima karma seburuk ini. Sejak menjadi PA direktur baru ini, aku jadi mulai akrab dengan pil kecil yang bernama aspirin.
***
__ADS_1