
Hari ini adalah hari terakhir seorang theo alvaro ada di sini,
"Kamu yakin mau pindah aja?" ayah theo bertanya pada putranya.
"Ya pah, keputusan theo udah bulat mau pindah aja" theo mengangguk yakin akan keputusannya.
"Ya udah kalo gitu, nanti papah yang urus" ayah theo tersenyum pada theo.
"Makasih pah"theo tersenyum balik,
"Mungkin dengan cara ini hidupmu akan lebih baik leta" theo membatin dalam hatinya, berharap keputusannya yang terbaik.
"Kenapa kamu mau pindah?" ayah theo akhirnya bertanya,
"Gak papa pah" theo menggeleng, dia tidak ingin memberi tau alasan yang sebenarnya.
"Ya udah kalo gitu, kamu udah pamit ke temen-temenmu?" ayah theo bertanya lagi,
"Gak pah, besok-besok aja bilangnya lewat chat" bukan tanpa alasan, ia hanya tidak ingin jika tekad bulat yang sudah dia siapkan akan gagal.
"Kenapa gak ketemu aja? sekalian kamu pamit ke leta, pasti nanti dia nyariin kamu"kata ayah theo mengingatkan. Tapi theo hanya menggeleng, ayah theo pun mengangguk.
"Hhh sebenarnya kamu kenapa theo?" ayah theo membatin dalam hatinya, memikirkan anak semata wayangnya itu. Bagaimana bisa seorang theo yang dulunya ceria, bisa menjadi theo yang berhati dingin seperti ini.
__ADS_1
"Ya udah kamu tidur sana udah malem" suruh ayah theo, theo pun mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.
"Malem pah" theo berjalan meninggalkan ayahnya yang masih duduk melihatnya,
"Malem kembali putraku" jawab ayah theo pelan.
"Apa aku telah gagal menjadi ayah yang baik?" ayah theo bergumam pelan,
"Hah" ayah theo menghela napas.
Sesampainya di kamar theo tidak langsung tidur, bagaimana dia bisa tidur sedangkan aletta terus saja mengganggu pikirannya.
"Tolong lo jauh-jauh dari pikiran gue" theo menutup kepalanya dengan bantal,
"Gue harus bisa relain lo, gue harus bisa tahan buat jauhin lo" theo masih memikirkan aletta.
Setelah itu ia pun tertidur, di lain waktu aletta yang masih ada di tubuh putri louisa terus menangis tanpa sebab.
"Gue kenapa? theo sebenernya kenapa? gue pengin pulang gue pengin ketemu theo" aletta menangis, berharap doanya secepatnya di kabulkan.
"Gue bakal lakuin apa aja, asal gue bisa balik ke tubuh gue lagi" dia masih menangis, jendral yang melihatnya pun hanya terdiam.
"Pak jendral tolongin gue" aletta memohon pada jendral zhi yang masih diam, dia juga tidak tau harus berbuat apa.
__ADS_1
"Maaf aku pun tidak tahu harus berbuat apa, tidak mungkin aku kembali memasukanmu ke sungai persembahan" jendral zhi menggeleng.
"Ayo coba, siapa tau gue bisa balik lagi dan lo bisa ketemu putri lagi" aletta menarik-narik lengan jendral zhi.
"Tidak mungkin aku mau, bisa saja kalian gagal kembali ke tubuh kalian atau lebih parah jika kalian tidak bisa kembali hidup" jendral menunduk, membayangkannya saja dia tidak mau.
"Tapi gue pengin pulang" aletta menangis memohon,
"Aku tidak tahu harus bagaimana, berdoalah kau" jendral zhi mengelus kepala aletta.
Bagi theo perpisahan mungkin adalah jalan yang terbaik untuknya, dia dapat melupakan aletta dan tidak membuatnya sakit hati terus menerus dengan perlakuannya.
Tapi tidak bagi aletta, perpisahan adalah hal yang sangat dia takutkan. Apalagi jika berpisah dengan seseorang yang amat sangat berharga untuknya.
"Kamu beneran mau pindah aja? masih bisa kok di batalin" keesokan harinya ayah theo kembali bertanya pada anaknya, memastikan keputusan anaknya.
"Iya pah, aku jadi pindah" theo tersenyum pada ayahnya, memastikan jika jawabannya serius.
"Ya udah papah urus dulu ya, kamu mau ikut?" kata ayah theo bertanya.
"Gak pah, aku di rumah aja sekalian siap-siap" theo menggeleng, ayahnya pun mengangguk dan berlalu keluar.
"Selamat tinggal aletta, semoga lo bisa lupain gue. Maaf mungkin sampe kapan pun gue gak bisa lupain lo, dan sampe kapan pun gue gak bisa nemuin lo" theo tersenyum sambil memandangi wajah aletta yang ada di ponselnya, foto yang dia dapatkan dengan cara memfoto diam-diam.
__ADS_1
"Haha lo muka nya lawak banget sih" theo tertawa melihat foto wanitanya itu, di sana jelas terpampang wajah aletta yang penuh dengan tepung dan telur karna ulah dari teman-temannya saat dia berulang tahun yang ke 17.
"Gue pinjem foto lo ya buat gue bawa" theo kembali memasukan ponselnya ke dalam jaket yang sudah dia pakai, ia sebenarnya ingin melihat aletta walau hanya sedetik saja. Tapi dia takut niatnya akan gagal karna dia tidak ingin pergi jauh dari aletta.