
Aletta masih diam di tempatnya, ya untuk apalagi kalo bukan menunggu si jendral.
"Ck lama banget sih pak jendral" aletta berdecak, sudah hampir satu jam dia duduk di bawah sinar matahari yang menyengat kulitnya.
Karna jendral sedang ada urusan dengan raja, jadi aletta tidak boleh ikut dengannya padahal hari ini dia sudah janji akan menjalankan misi bersamanya.
"Ahh panas banget" aletta mengibas-ngibaskan tangannya, keringat yang menetes dari lehernya menambah rasa tidak sabarnya.
"Hey?" jendral memanggil aletta yang sedang mendongakkan kepalanya, sinar matahari pun tertutup oleh jendral yang berdiri di atasnya itu.
"Ck akhirnya sampe juga, lama banget sih" lagi-lagi aletta kesal, jendral pun tersenyum.
"Kan aku sudah bilang jika aku akan lama, kenapa kamu tetap menungguku" jendral menarik aletta untuk berdiri.
"Ya kan lo udah janji katanya mau ngerjain misi bareng-bareng" aletta merengut,
"Iya memang tapi lebih baik kau menunggu di dalam saja" jendral memberi minum yang sedang di pegangnya.
"Hmm" aletta hanya bergumam karna dia sedang minum,
"Ya udah ayok" aletta memberikan kembali minumannya.
"Kau yakin akan memakai baju ini?" kata jendral sambil melihat penampilan aletta dari atas sampai bawah,
"Yakin lah" jawab aletta yakin.
"Hah nanti kau akan tertangkap" jendral menyentil dahi aletta,
"Aishhh sakit woy" aletta merengut kesal.
"Hari ini panas banget lah masa iya gue harus pake baju yang kaya maling lagi" aletta terduduk kembali dan mengibas-ngibaskan tangannya lagi.
"Ya sudah kalau kau tidak mau" jendral berlalu sambil mengedikan bahunya,
"Eh eh iya iya gue mau" aletta langsung berdiri dan mengejar jendral, jendral pun tersenyum puas.
"Hah nasib dah" aletta menggerutu, padahal dia yang sejak tadi tidak sabaran.
"Ya sudah cepatlah kau berganti baju" jendral mendorong pelan bahu aletta untuk masuk ke kamarnya berganti baju.
"Iya iya" aletta mendengus dan masuk ke kamarnya, tentu tidak lupa untuk menutup pintu.
"Jangan lupa penutup wajahmu" jendral berteriak dari balik pintu.
"Iya ih pak" aletta balik berteriak dengan kesal, jendral hanya tertawa kecil.
__ADS_1
"Dia mirip denganmu ling" jendral membatin dalam hatinya, mengingat seseorang yang amat penting untuknya.
"Udah pak" aletta keluar dari kamarnya saat dia sudah benar-benar siap dengan pakaiannya,
"Baiklah ayo" jendral mengajaknya keluar.
"Emang tujuan awal kita mau di mana sih?" aletta bertanya pada jendral karna jendral yang mengusulkan tempat pertamanya,
"Perpustakaan kerajaan" jendral berkata itu sambil tersenyum.
"Hah tempat yang sama sekali gak pengin gue kunjungin" aletta mendengus, bahkan saat dia masih di sekolah pun bisa di itung dengan jari jumlah dia masuk ke perpustakaan sekolah.
"Kau sangat berbanding terbalik dengan putri louisa" jendral melihat ke arah aletta,
"Pasti dong beda" kata aletta bangga, padahal itu kan sesuatu yang tidak perlu dibanggakan. Ada-ada saja.
"Trus kita ke sana nya pake apa?" aletta bertanya pada jendral yang berjalan mendahuluinya,
"Pakai kuda" jendral mengelus kuda yang ada di hadapannya itu, kuda yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi dan kuda yang selalu dia pakai ketika berperang.
"Asikk, untunglah gak jalan" aletta ikut mengelus kuda yang sedang di pegang jendral,
"Ya sudah ayo naik" jendral langsung mengangkat badan aletta untuk duduk di kuda.
"Berasa kaya melayang dah, emang gue enteng banget apa?" aletta bertanya pada jendral karna menurutnya jendral sama sekali tidak merasa berat ketika mengangkatnya.
"Uuuuu lo pernah ngangkat badan putri? waw buat apa?" kata aletta menggoda jendral,
"Hah tentu saja, saat tuan putri tenggelam aku yang mengangkatnya, saat dia latihan berkuda pun aku yang mengangkatnya" kata jendral jujur.
"Ululu so sweet" kata aletta sambil tersenyum melihat jendral,
"Apa?" tentu jendral sama sekali tidak tau apa yang aletta katakan.
"Gak deh, dah ayo cepetan naik" aletta menepuk pelana yang ada di belakangnya, jendral pun naik dan langsung memegang tali kekang kuda nya.
"Pegangan" jendral memperingati aletta untuk memegang tali yang ada di depannya,
"Kenapa?" aletta bertanya karna biasanya dia tidak perlu berpegangan, jangan di tiru ya guys. Harus pegangan kalo belum mahir.
"Bukankah kau ingin cepat sampai" kata jendral, aletta pun mengangguk dan menuruti perintah jendral.
Jendral pun mengibas tali kekangnya, kuda nya pun melaju dengan cepat.
"Gila gila lo jangan ngajak gue mati dong" aletta memejamkan matanya karna kuda yang dia tunggangi melaju dengan cepat,
__ADS_1
"Kau ini, tidak perlu merasa takut karna ini aman" jendral berkata itu sambil tertawa kecil.
Aletta pun perlahan membuka matanya, tapi yang dilihatnya adalah pohon-pohon yang memburam karna terlalu cepat kuda nya berlari. Dia pun kembali memejamkan matanya.
"Dahlah gue merem aja" aletta memegang tali dengan erat, dan menyenderkan badannya pada jendral.
"Ya sudah" jendral hanya mengiyakan.
Tidak lama jendral pun sampai di tempat tujuannya, tentu dia sangat mudah memasuki area kerajaan mengingat statusnya yang seorang jendral tertinggi di kerajaannya.
"Sudah sampai" jendral berkata pada aletta ketika kuda nya sudah benar-benar berhenti,
"Hah untunglah" aletta menghela napas lega, dia pun membuka matanya.
Tampak sebuah bangunan besar berdiri di hadapannya, dia pun menganga melihat bangunan itu. Bangunan yang sepertinya berlapis emas, tampak menyilaukan matanya terkena sinar matahari.
"Waww buset deh gede banget" aletta masih menganga, dia tidak sadar jendral sudah turun dari kudanya.
Jendral hanya diam melihat aletta yang masih menganga, dia pun mengangkat tubuh aletta.
"Eh eh gue mau jatoh" aletta kaget karna tiba-tiba badannya melayang,
"Kamu tidak jatuh" jendral tertawa kecil melihat aletta yang kaget.
"Huh" aletta berdiri melihat bangunan yang di sebut sebagai perpustakaan kerajaan,
"Ayo masuk" aletta menarik lengan jendral, dia sangat tidak sabar.
"Iya" jendral mengangguk dan mengikuti aletta yang masih menarik-nariknya,
"Jangan lupa untuk jaga bicaramu, tolong berbicara seperti bahasa di sini" jendral selalu mengingatkan aletta ketika dia keluar dari area istana jendral.
"Baik bos" aletta hormat pada jendral, jendral pun mengangguk.
"Ya sudah ayo" jendral berjalan mendahului aletta, aletta pun mengikutinya.
Mereka memasuki ruangan itu setelah ijin pada penjaga perpustakaan, tentu saja dia tetap berbohong berkata bahwa aletta adalah keponakannya.
"Wah gila gila banyak banget bukunya" tanpa sadar aletta mengeluarkan perkataan yang hanya dia pikirkan, jendral pun melirik tajam ke arah aletta.
"M-maksudku tempat ini sangatlah indah" aletta menunduk takut karna tatapan tajam jendral,
"Hm memang" jendral mengangguk-ngangguk.
"Jadi ayo cepat kita cari buku yang kau mimpikan itu" kata jendral sambil berbisik pada aletta, aletta pun mengangguk semangat.
__ADS_1
"Ayo" jawab aletta antusias.