
Aletta dan jendral zhi masih berada di dekat sungai persembahan, mereka berbincang tentang putri yang dulu.
"Jendral, kira-kira kalo sekarang gue masuk ke sana bakal balik ke badan gue yang asli gak ya?" aletta bertanya pada jendral.
"Setidaknya kamu masih punya akal sehat kan" jendral mencibir aletta,
"Ish" aletta manyun, hanya di tanggapi tawa oleh jendral.
"Ternyata jendral pinter cibir juga nih" aletta membatin dalam hatinya,
"Hah gue tiba-tiba jadi inget kejadian waktu itu" aletta duduk di atas rumput, di susul jendral yang duduk di sampingnya.
"Kejadian apa?" tanya jendral ke aletta,
"Waktu itu gue masih di tubuh asli gue" aletta menggantung kalimatnya, tampak dia menatap sungai tanpa berkedip.
"Gue jalan-jalan sama temen-temen gue ke suatu tempat" aletta masih bercerita, jendral hanya diam mendengarkan.
"Pas pulang gue mampir dulu ke sungai, karna keliatan bagus banget" aletta senyum masih melihat ke arah sungai,
"Ntah itu gue mimpi apa gimana, gue ketemu sama orang cantik di sana pake baju yang kaya gini, baju-baju aneh kaya putri-putri kerajaan" aletta mengernyit mengingat kejadian yang pernah ia alami.
"Trus kalo gak salah dia bilang gue suruh tolongin putrinya" aletta menoleh ke arah jendral yang masih diam mendengarkan.
"Menurut jendral, dia siapa ya?" tanya aletta ke jendral,
"Ya aku pun tidak tahu" jendral menggeleng, jelas saja jendral tidak tau.
"Dia udah ibu-ibu gitu tapi dia masih keliatan cantik, di kepalanya kaya pake tusuk rambut bagus" aletta masih melanjutkan ceritanya.
"Hmm" jendral hanya bergumam sambil berpikir sebenarnya siapa yang aletta ceritakan,
"Katanya ya itu gue suruh nolongin putri yang namanya louisa fae caravin" aletta melanjutkan ceritanya.
"Itu nama putri" jendral terkejut dan melihat cepat ke arah aletta,
"Gue pas inget juga rasanya kaya gak asing, pas jendral sebutin nama putri" aletta balik melihat ke arah jendral.
"Kalau memang orang itu bilang untuk menolong putrinya, bisa jadi orang itu adalah ibunda putri" jendral terdiam lagi mengingat wajah ibu putri.
"Yang mulia ratu juga memakai tusuk rambut berwarna merah dan emas yang dibuat khusus oleh baginda raja" jendral mengingat-ngingat kembali.
"Nah iya itu warna merah sama emas, bener tuh" aletta bersorak senang,
"Trus ibu putri emang dimana?" tanya aletta pada jendral.
__ADS_1
"Beliau sudah tidak ada" jendral menunduk,
"Oh maaf gue gak tau" aletta merasa tidak enak, pasti bagi jendral itu juga sesuatu yang membuatnya sedih.
"Tidak apa-apa" jendral menggeleng sambil tersenyum,
"Lalu? apa lagi yang kamu ingat?" tanya jendral lagi.
"Gue gak terlalu inget, intinya kalo gak salah gue suruh nemuin buku apa lah gitu. Katanya itu emang buku yang pengin di kasihin ke putri, tapi dia belum sempet ngasih" aletta menopang dagu sambil mengingat-ngingat.
"Buku?" jendral mengulang kata yang di ucapkan aletta, aletta mengangguk.
"Iya buku, gue gak tau persisnya buku apa sih. Tapi katanya di dalem buku itu ada hal penting yang harus putri tau" aletta kembali melanjutkan ceritanya.
"Buku ya?" jendral mengangguk-ngangguk paham,
"Hmm hmm" aletta ikut mengangguk sambil melihat ke arah sungai yang memantulkan cahaya senja.
"Padahal ini sungai bagus banget, tapi sayang sungai ini malah di jadiin sungai persembahan" aletta melihat sekitar sungai itu,
"Ya memang seperti itu" jendral ikut melihat sekitar.
"Jendral?" aletta memanggil jendral, yang dipanggil hanya menoleh.
"Maksudmu?" jendral mengernyit heran pada pertanyaan aletta,
"Lo suka gue gak?" aletta kembali mengulang pertanyaannya.
"Aku menyukaimu?" jendral kembali mengulang pertanyaan aletta, karna dia masih merasa heran.
"Ya, jendral suka ke gue gak?" aletta mendengus karna terus-terusan mengulang pertanyaannya.
"Tidak" jawab jendral singkat, padat dan jelas.
"Hahaha dasar ih" aletta tertawa sambil memukul-mukul lengan jendral, tapi jendral hanya diam melihat aletta dengan aneh.
"Coba kalo lo tinggal di tempat gue, kalo lo jawab gitu udah deh pasti cewek itu langsung nangis" aletta masih tertawa,
"Apa maksudmu?" tanya jendral yang kurang paham perkataan aletta.
"Kagak dah, baguslah kalo lo gak suka ke gue" aletta senyum melihat jendral,
"Karna gue juga pasti gak bisa bales perasaan lo" aletta tersenyum bangga pada dirinya.
"Hey sepertinya kau terlalu percaya diri ya" jendral tersenyum kecil pada aletta,
__ADS_1
"Lagipula kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri" jendral menepuk kepala aletta dengan lembut.
"Baguslah, jendral juga udah gue anggap kaya abang gue sendiri" aletta senyum,
"Walaupun aslinya gue gak punya abang" aletta tertawa.
"Abang?" jendral bertanya arti dari kata yang aletta ucapkan,
"Kakak laki-laki maksud gue" aletta memberi tau artinya.
"Ah" jendral mengangguk mengerti, aletta pun ikut mengangguk.
"Tapi kenapa lo gak suka ke gue? padahal kan gue ada di tubuh putri, sedangkan lo kan emang suka ke putri" tanya aletta penasaran.
"Ya benar kata kamu, karna aku memang hanya menyukai putri" jendral melihat ke arah depan, di mana senja yang semakin menggelap itu terlihat.
"Hmm" aletta tidak mengerti maksud jendral, jadi dia hanya bergumam.
"Karna aku memang hanya menyukai putri" jendral mengulang lagi perkataannya.
"Kamu tau kan maksudku" jendral melihat ke arah aletta,
"Yah sedikit" aletta masih memikirkan tentang perkataan jendral.
"Apa maksudnya karna gue bukan asli putri, jadi walaupun gue ada di tubuh putri jadinya dia gak suka ke gue?" aletta membatin dalam hatinya.
"Ya bisa jadi seperti itu" jendral tiba-tiba menjawab aletta, aletta terkejut.
"Oh gue sambil ngomong ya" aletta menutup mulutnya.
"Karna aku rasanya hanya terikat dengan tuan putri louisa yang asli" jendral berdiri dan mengulurkan tangan pada aletta.
"Ayo, sudah semakin gelap" jendral mengajak aletta untuk pulang, aletta pun mengangguk dan menggenggam tangan jendral.
"Ini lo genggam tangan gue gak deg-degan gitu? apa berdebar apa ngerasa apa gitu?" aletta kembali bertanya pada jendral, tapi jendral hanya menggeleng.
"Dasar batu" aletta mencibir jendral yang hanya di balas senyum oleh jendral,
"Ya udah ayok" mereka pun menaiki kuda yang sama untuk kembali pulang.
Sepanjang perjalanan aletta banyak diam,
"Apa theo ngerasain yang kaya jendral juga gak ya? apa dia cuman terikat sama gue?" aletta memikirkan tentang theo.
"Andai aja theo emang takdir gue, tapi kayanya nggak deh. Yang ada kalo gue pegang dia malah nyingkirin tangan gue, sama sekali gak pernah nunjukin kalo dia suka ke gue" aletta masih memikirkan theo, sesekali dia mengusap matanya yang berair.
__ADS_1