
Hari sudah mulai sore, jendral pun mengetuk pintu kamar aletta.
'tok tok tok'
"Putri?" jendral memanggil aletta dari luar kamarnya, tapi tidak ada jawaban dari dalam,
"Putri?" jendral memanggil lagi sambil mengetuk pintu, tapi masih tidak ada jawaban.
Akhirnya jendral membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar,
"Pantas saja dia tidak dengar" jendral tersenyum dan mendekati aletta yang sedang tertidur.
"Putri bangun" jendral memanggil aletta,
"Ughh" aletta pun bangun dan memegang kepalanya yang pusing,
"Hah theo kemana?" aletta langsung berteriak dan mencari theo saat dia benar-benar sudah bangun.
"Apa maksudmu?" jendral yang bingung pun memegang tubuh aletta yang mondar mandir mencari theo,
"Hah? g-gue cuman mimpi?" aletta yang ada di tubuh putri pun baru menyadari dirinya tidaklah kembali ke tubuh aslinya.
"Ternyata iya cuman mimpi" ia pun kembali duduk dengan muka bersedih,
"Kau mimpi apa?" jendral duduk di depannya.
"Gue mimpi kalo gue balik ke tubuh gue, walaupun itu cuman sebentar tapi bener-bener gue ngerasa nyata, bahkan gue di tampol pun kerasa sakit" aletta memegang pipinya yang ditampol oleh via.
"Hah ada-ada saja kau, jadi apa kau mau pergi ke sungai itu?" jendral bertanya pada aletta yang masih diam di tempat duduknya, mungkin dia sedang memikirkan mimpi yang tadi.
"Oh ya gue mau" aletta langsung bangun dan bersiap hendak mengganti bajunya,
"H-hey" jendral langsung memegang baju aletta yang akan dibuka.
"Oh maaf, gue lupa masih ada lo" aletta nyengir tanpa dosa, jendral pun langsung keluar.
"Hah yang benar saja orang itu" jendral menghela napas dan mengusap wajahnya.
"Hampir saja aku melihat tubuhnya" jendral mengusap wajahnya yang terasa panas,
"Oi pak jendral" aletta mengagetkan jendral yang masih diam menutup wajahnya.
"Ya, kamu ini" jendral mundur karna terkejut, aletta yang melihat itu hanya tertawa.
__ADS_1
"Pak jendral nih kenapa? kok mukanya merah?" aletta menggoda jendral.
"Tidak apa-apa, ayo berangkat" jendral langsung keluar meninggalkan aletta yang masih cekikikan, karna dia tau apa yang dipikirkan jendral.
Mereka pun berangkat dengan menaiki kuda, tapi mereka hanya berdua.
"Wah enak juga ya jalan-jalan sore gini" aletta bergumam sendiri sambil menikmati angin yang menerpa wajahnya yang tertutup.
"Kamu bilang apa?" jendral tidak mendengar apa yang di katakan aletta,
"Gak, pak jendral pernah jalan-jalan sama putri gak?" aletta bertanya pada jendral.
"Jalan-jalan? hm belum pernah" jendral menjawab pertanyaan aletta dengan jujur.
"Katanya suka, kenapa gak pernah ngajak jalan-jalan?" aletta mendengus mendengar jawaban dari jendral.
"Apa kalau kita menyukai wanita, harus mengajaknya berjalan-jalan?" jendral yang emang payah urusan hati pun bertanya pada aletta.
"Ya gak juga sih, tapi kan bagusnya gitu loh bapak ntar nembak putri terus sering-sering ngajak dia jalan-jalan" aletta memberi nasihat pada jendral.
"Maksudnya? nembak? apa itu? apa aku harus menembak dengan panah?" jendral mengulang kata yang dia tidak pahami.
"Hih lo pengin dia mati apa gimana dah" aletta bergumam dengan suara pelan, agar jendral tidak mendengarnya.
"B-buset nih orang emang cakep dah, tapi sayang gue udah punya theo" aletta menguatkan hatinya agar tidak goyah.
"Ya maksud gue tuh, bapak ngasih tau lah perasaan bapak yang sebenarnya ke putri loh, trus biasanya kan cewek suka di ajak jalan-jalan" aletta memberi tau apa maksudnya.
"Jangan panggil aku bapak, kau bisa memanggilku zhi saja" jendral memang sudah berapa kali mengingatkan aletta, tapi emang dasar pikun.
"Oh ya sorry dah jendral zhi, paham kan apa maksud gue?" aletta menengok ke arah jendral,
"Ya aku mengerti, tapi bagaimana jika putri tidak menyukaiku?" jendral melihat ke arah samping, tempat di mana ia dan putri pertama kali bertemu.
Aletta terdiam memikirkan tentang putri yang tubuhnya dia tempati,
"Menurut gue dia juga suka ke jendral" kata aletta yang masih melihat-lihat sekitar.
"Darimana kamu tau?" jendral tidak begitu mempercayai apa yang dikatakan aletta,
"Karna gue yang menempati tubuh ini, dan juga gue perempuan pasti tau apa yang dia rasain" aletta tersenyum melihat jendral.
"Tapi bagaimana bisa?" jendral masih belum terlalu mempercayai apa yang aletta katakan,
__ADS_1
"Walaupun memang jiwa kami ketuker, tapi terkadang kami bisa ngerasain emosi di tubuh asli kami" aletta menunduk kembali mengingat rasa sesak yang sering dia rasakan akhir-akhir ini.
"Apa putri juga akan merasakan begitu?" jendral bertanya pada aletta,
"Mungkin dia bakal ngerasain juga" aletta mengangguk.
"Hah jika memang seperti itu, aku ingin kalian bisa kembali ke tubuh kalian masing-masing" kata jendral pada aletta.
"Ya semoga aja" aletta mengangguk dan berharap bisa kembali ke tubuhnya yang asli, untuk memastikan apa yang dia rasakan bukanlah kenyataan.
Tidak berapa lama mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju,
"Ini sungainya?" aletta bertanya pada jendral, jendral pun mengangguk.
"Uhhh bau banget" aletta menutup hidungnya, bau menyengat yang menguar dari sungai itu sangat mengganggu indra penciumannya.
"Ya memang seperti itu" jendral memberhentikan kuda nya dan turun, aletta pun diangkat olehnya untuk turun.
"Lebar banget dah sungai nya" aletta melihat dari ujung sampai ujung yang bisa dia lihat,
"Terus dimana tempat putri jatoh?" aletta menengok ke arah jendral yang diam melihat sungai di depannya.
"Aku tidak begitu tau di mana jatuhnya, karna bukan aku yang menangkap putri. Tapi aku menemukan dia di sekitar sana" jendral menunjuk arah di mana dia menemukan putri di dasar sungai.
"Ya ampun kasian banget sih" aletta yang mendengar itu kembali merasa sedih,
"Pasti jendral bener-bener sakit hati pas tau cewek yang dia sukai malah dijodohin, ditambah lagi cewek itu malah bunuh diri" aletta membatin dalam hati.
"Apa theo sedih pas kemarin tau gue kecelakaan gini? gimana ya reaksi dia?" aletta berpikir tentang dirinya yang asli, sekilas dia mengingat kecelakaan yang menimpanya.
"Bentar kok gue ngerasa..." aletta menggantungkan kalimatnya, melihat dengan serius sungai yang ada di hadapannya itu.
"Ini sungai yang pernah gue datengin sama temen-temen kan waktu itu?" aletta melihat dengan jelas sungai yang ada di depannya itu, bahkan dia sampai mengucek matanya.
"Loh iya ini sungai nya bener, sama juga ada jembatannya" aletta berteriak girang,
"Apa maksudmu?" jendral bertanya pada aletta yang sedang berbicara sendiri.
"Gue pernah liat sungai ini, gue inget ini sungai" kata aletta yang masih tersenyum senang,
"Dimana?" jendral bertanya pada aletta.
"Gue gak inget sih dimana, waktu itu gue cuman lewatin doang terus berhenti bentar buat liat-liat" aletta memegang dagunya mengingat-ngingat sungai yang pernah dia datangi itu.
__ADS_1
"Tapi rasanya gue pernah ketemu..." aletta kembali menggantungkan kalimatnya, saat teringat seseorang yang pernah dia temui di tempat itu.