
Theo menginjakkan kakinya di halaman rumah barunya, ya dia baru saja pulang dari sekolah. Tentu saja dari sekolah barunya, ia pun memasuki rumah itu. Rumah yang sudah ayahnya siapkan di hari saat dia memutuskan untuk pindah.
"Aku pulang" kata theo saat dia memasuki rumah itu, suasana hening pun menjalar di seluruh ruangan. Tapi masih ada satu tempat yang berkebalikan dari ruangan lainnya.
"Bi" Theo memanggil bibi nya, bibi yang sedari dulu mengabdi pada keluarganya itu kini ikut dengannya.
"Eh iya den? kok bibi gak tau masuknya den" kata bibi theo sambil tersenyum padanya.
"Bibi lagi sibuk sih, makanannya banyak amat bi?" theo bertanya pada bibi nya, karna disitu sudah banyak tersedia aneka macam makanan di atas meja makan.
"Iya den, Tuan katanya kan mau kesini" jawab bibi theo.
"Papah? ngapain papah kesini?" tanya theo lagi, karna ayahnya tidak menghubunginnya dulu,
"Kurang tau den bibi juga" jawab bibi nya lagi, theo pun makin penasaran.
"Ya udah theo ke kamar dulu ya bi" theo pun berbalik dan menuju kamarnya.
Setelah membersihkan diri, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ntah sudah yang keberapa kalinya dia menghela napas.
"Kabar aletta gimana ya?" kata theo sambil mengingat wajah aletta.
"Semoga dia baik-baik aja" theo masih bergumam sendiri sambil sesekali tersenyum mengingat tingkah laku aletta yang suka mengganggunya.
"Hah aletta-aletta dasar lo ya" theo tertawa kecil saat mengingat lagi kejadian dulu.
Dia membuka layar ponselnya dan terpampanglah wajah aletta yang penuh dengan tepung dan telur, ekspresi senyum lebarnya pun terlihat di sana.
"Gue kangen lo ta" theo masih memandangi layar ponselnya itu.
"Maaf selama ini gue selalu nyakitin lo... bahkan gue gak berani buat nemuin lo langsung, gue emang pengecut ta" theo menyembunyikan wajahnya di balik bantal, perasaan tak karuan yang dia rasakan semakin menjadi.
"Bahkan lo gak sekalipun hubungin gue, apa sekarang lo udah sama juna?" theo membalikkan wajah ke samping dan kembali menatap layar ponselnya.
"Gue gak mau ta lo sama dia" kata theo saat dia mengingat perkataan juna tempo hari.
"Mungkin iya gue bakal jilat ludah gue sendiri, gue gak bisa ta. Gak bisa buat lepasin lo buat siapapun" mata theo memanas, sekali kedip saja air mata itu akan turun. Tapi buru-buru dia hapus.
__ADS_1
"Paan sih alay banget gue" theo mengusap wajahnya dengan keras, dia masih tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan itu. Dia membenci aletta tapi juga ingin aletta tetap berada di sampingnya.
"Mamah.., theo bingung mah" theo memegang kepalanya yang pusing, ia pun memutuskan untuk tidur.
Theo pun bangun saat mendengar suara pintu kamarnya di ketuk,
"Ya bi kenapa?" jawab theo masih setengah sadar,
"Ini papah" theo terkejut saat mendengar suara ayah nya itu.
Dia pun buru-buru bangun dan membuka pintu kamarnya,
"Kenapa pah?" tanya theo saat dia sudah berdiri tepat dihadapan ayahnya.
"Kamu cepet mandi terus pake baju yang rapih" kata ayahnya dan berlalu meninggalkan theo.
"Hah? buat apa? trus papah juga kenapa kok ekpresinya gitu" tanya theo pada dirinya sendiri, dia pun kembali masuk ke kamarnya dan melakukan apa yang ayahnya suruh.
Setelah selesai dia pun keluar dari kamarnya dan menemui ayahnya,
"Pah? mau ada tamu?" tanya theo pada papahnya,
"Siapa pah?" theo bertanya kembali, karna memang dia kepo siapa yang akan bertamu.
"Nanti juga kamu tau" jawab papah theo tanpa melihat ke arah theo.
Theo pun mengangguk lagi dan tidak berniat untuk kembali bertanya, dia ikut memainkan ponselnya. Tapi kegiatannya berhenti saat seseorang mengetuk pintu rumahnya itu.
"Biar papah yang buka" ayah theo berdiri duluan sebelum anaknya itu berdiri, theo pun mengangguk. Ayah theo berjalan menuju pintu yang di ketuk.
"Rama" panggil ayah theo saat pintu itu sudah terbuka dan menampilkan seseorang yang sudah berdiri disana.
"Apa kabar bram?" ayah aletta memeluk tubuh ayah theo sambil tertawa,
"Baik-baik, aku lihat kau juga baik ya. Bagaimana yang lain? aletta mana?" jawab ayah theo dan bertanya balik tentang kondisi keluarga aletta.
"Ya kami juga baik, aletta lagi gak enak badan" jawab ayah aletta, ayah theo pun mempersilahkan tamu nya untuk masuk dan mengajaknya untuk duduk bersama di ruang yang sudah mereka siapkan.
__ADS_1
"Theo?" panggil ayah aletta saat melihat theo yang sedang diam melihat ke arah luar,
"Eh om rama?" theo terkejut dan berdiri untuk bersalaman dengan ayah aletta.
"Gimana kabarnya theo?" tanya ayah aletta,
"Baik om" jawab theo sambil tersenyum, mereka pun duduk bersama di kursi yang sudah di siapkan.
Dan berbincang tentang kondisi keluarga masing-masing ataupun tentang pekerjaan mereka.
"Jadi ada perlu apa nih kalian kesini" tanya ayah theo sambil melihat bergantian ke arah ayah aletta dan ibu aletta.
"Jadi gini bram, sebelumnya kami mau minta maaf karna udah jodohin anak aku yang sifatnya itu ya terkesan terlalu aktif..." kata ayah aletta menggantungkan kalimatnya.
"Ya ya tidak apa-apa rama" jawab ayah theo sambil tertawa kecil,
"Jadi kami mau batalin perjodohan aletta dengan theo" kata ayah aletta dengan tegas dan sukses membuat ayah theo dan theo terkejut.
"Apa? tapi kenapa?" tanya ayah theo yang masih terkejut dan bingung,
"Kami tau theo tidak pernah menyukai putri kami, dan kami juga tau kalo perlakuan putri kami itu terlalu berlebihan sudah memaksakan theo untuk menyukainya" kata ayah aletta dengan sedih.
"Jadi dengan segala pertimbangan dari kami, kami pun memutuskan untuk membatalkan pertunangan antara aletta dan theo" kata ayah aletta menjelaskan.
"Maafkan kami juga rama, atas perlakuan theo selama ini ke aletta" kata ayah theo dengan ekpresi kecewanya.
Mereka pun kembali melanjutkan perbincangan mereka dengan theo yang hanya diam membisu, di hantui pikiran bersalah dan rasa sesal yang menjalar di hatinya.
"Kami pamit pulang dulu ya dan maaf untuk pembatalan pertunangannya, kami harap bisa tetap menjalin silaturahmi seperti biasa" kata ayah aletta saat berpamitan.
"Iya aku juga rama, tentu.. tentu kita tetap harus menjalin silaturahmi ini" jawab ayah theo dan tersenyum.
Theo pun ikut berdiri mengantar orang tua aletta keluar, tetapi dia hanya diam karna pikirannya tidak ada di sini. Theo pun berlari menuju kamarnya saat orang tua aletta sudah pergi meninggalkan rumahnya.
Theo memasuki kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, rasa hancur, sesak dan menyesal bercampur menjadi satu.
"Gue minta maaf ta, kali ini gue bakal bener-bener lepasin lo" theo bergumam pelan dengan air mata yang sudah turun membasahi pipinya.
__ADS_1
"Good bye, aletta luvenia" kata theo menyebut nama mantan tunangannya itu untuk yang terkahir kali.