My Wonderful Life

My Wonderful Life
MWL-10


__ADS_3

Mereka bercanda ria hingga larut malam. Saat itu tidak ada yang ingin beranjak ke kamar masing-masing.


Sedangkan Papa sudah sangat mengantuk. Ia pun membujuk sang istri agar tidur bersama. Namun hasilnya nihil.


“Ma... Yuk tidur! Papa sudah mengantuk nih”


“Ih papa. Mama masih kangen sama Bryan.”


“Ayolah Ma..”


“Tapi Pa... Mama ingin bicara sesuatu yang penting dengan Bryan, Pa”


“Kan bisa besok . Ma”


Andrian pun menatap wajah Bryan. Agar Dewi mau untuk di ajak tidur. Dengan isyarat mata berkedip. Bryan pun tau maksud sang papa.


“Mama tidur lah saja. Besok kita bisa lanjut bicara nya Ma”


“Ya udah deh... Pasti ini gara-gara papa” kata mama memanyunkan bibirnya.


“Good Night mom. Have a Nice dream” kata Bryan.


Dhifa tersenyum melihat tingkah laku kedua orang tua nya. Saat itu sangat bahagia . Dhafa pun sudah tertidur di ranjang kamar. Bryan pun menatap wajah sang adik.


“Kenapa kau belum tidur. Tidurlah ini sudah malam, Dhifa”


“Tapi Kak—


“Kalau kau tidak ingin tidur maka Kakak akan kembali ke London” ancaman Bryan pada Dhifa.


“Jangan pergi Kak. Dhifa akan tidur sekarang”


“Bye... Kak... Have a Nice dream” Sambung Dhifa.


Bryan pun masuk ke dalam kamarnya. Ia pun mengambil handphone nya. Saat di layar handphone ia merasakan bahwa ada yg berbeda dengan iPhone nya.


“Kenapa iPhone-Nya tidak ada password. Apa gue salah ambil kaliknya” Bathin Bryan dan mengingat kejadian itu.


Bryan pun mengotak-atik yang ada di dalam iPhone tersebut. Banyak sekali pesan yang belum terbaca. Bryan pun membuka salah satu pesan tersebut.

__ADS_1


Saat membaca ternyata pemilik handphone ini model dari Adam’s Company yaitu perusahaannya. Ia pun membuka galeri di dalamnya terdapat banyak foto-foto nya dan teman-teman nya.


Ia pun menyimpan handphone tersebut di dalam laci meja.


***


Di pagi hari Bryan telah siap untuk pergi ke kantor nya. Ia pun menelepon sang paman Bimo untuk mengadakan Pertemuan secara mendadak. Bukan hanya karyawan di kantor melainkan para sutradara, artis-artis serta model.


Perusahaan Adam’s Company berjalan bukan hanya di satu bidang. Oleh karena itu Adam’s Company memiliki cabang-cabang produksi.


Saat itu Shafa masih tidur. Ia tidak mendapatkan informasi soal pertemuan dengan CEO baru di perusahaan itu . Sehingga Shafa terburu-buru dan tidak makan saat pergi ke Adam’s Company.


Sesampai Shafa di sana ia pun langsung masuk ke aula perusahaan. Dan ternyata pertemuan nya telah selesai. Sehingga Shafa harus bertemu langsung dengan CEO itu di ruangan nya.


“Shafa... lebih baik kau pergi ke ruangannya.” Kata Pak Bimo.


“Baik Pak. Saya permisi dulu” jawab Shafa dan pergi dari aula tersebut.


Ia pun masuk ke dalam lift dan menekan angka dua belas.


Lift pun terbuka, saat di depan pintu ruangan tersebut. Shafa sangat gugup dan mengetuk pintu ruangan.


Bryan pun menyuruh nya untuk masuk ke dalam. Saat di dalam Shafa tak berani untuk menatap CEO baru itu.


“Masuk!” perintah Bryan dari dalam ruangan.


Shafa mendengar perintah dari CEO baru nya.


Ia pun masuk ke dalam ruangan yang dilakukan oleh Shafa hanya meminta maaf.


“Maaf Tuan. Saya telat untuk datang pada pertemuan tadi” kata Shafa.


“Lalu, apa ada urusan penting”


“Maaf Tuan , tadi pak Bimo menyuruh saya untuk ke ruangan , Tuan”


“Jika kau ingin bicara tataplah orang yang anda ajak bicara”


“ Maaf Tuan” kata Shafa dan menatap wajah sang CEO.

__ADS_1


Ia amat terkejut bahwa CEO baru nya adalah orang yang ia tabrak di bandara.


“Kau ini tidak memiliki kata selain kata maaf.. Maaf!?”


“Sepertinya Aku tidak asing dengan wajahnya. Sepertinya aku mengenalinya” gumam Shafa . Ia pun berfikir bahwa laki-laki ini adalah yang ia tabrak di bandara “ Oh iya tuan ini yang aku tabrak di bandara itu” lamunanku.


“Heyy Nona apa kau dengar apa yang ku cakap” tanya Bryan. Dan seketika Shafa sadar dari lamunannya.


“ Eh.. maaf Tuan, Apa tuan yang di Bandara kemarin”


“Maksudmu!?!?”


“Kemarin itu gw menabrak Tuan, dan handphone kita seperti tertukar, Tuan”


“Seperti nya tidak.”


“Oh ya sebagai hukumannya kau harus menjadi sekretaris gw.” Sambung Bryan.


“Tapi tuan. Sayakan hanya seorang Model”


“Oh model... Terus gak bisa jadi sekretaris gitu!!!”


“Oh okey... jika kau tidak ingin menjadi sekretaris. Maka Lo harus ganti rugi semua uang perusahaan untuk kau pergi ke New York”


Sesungguhnya Shafa bisa membayar dan meminta uang kepada Daddy. Tapi Shafa ingin hidup mandiri dan tidak ingin tergantung lagi dengan kedua orang tua nya.


Shafa pun menyetujui permintaan atasannya itu.


“Baiklah. Gw mau”


Lalu Shafa pun keluar dari ruangannya namun Bryan menghentikan langkahnya.


“Hey.. Nona. Kau mau kemana?”


“keluar”


“Tidak boleh, kau mulai bekerja hari ini. Dan meja mu disana” kata Bryan menunjukkan sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.


“Uhfg... Baik lah Tuan”

__ADS_1


Shafa pun duduk di sofa di ruang tersebut. Ia jenuh jika hanya duduk saja. Handphone saja ia belum sempat beli. Ia tidak menemukan apa yang untuk ia mainkan.


__ADS_2