
Sebenarnya mama Dhira ingin ke pemakaman Desy.
Disana ia ingin menceritakan anak mereka. Ya semacam mau curhat gituloh...
Sesampai di pemakaman. Ia pun menabur kan bunga dan mendoakan nya.
Lalu ia menceritakan tentang Bryan padanya.
“Desy.. apa kau tau??anak kita sangat cerdas. Sekarang ia menimba ilmu di Paris.
Dulu kau yang meninggal ku. Sekarang dia meninggalkan ku juga. Tapi tidak apa-apa karena ini demi kebaikan nya disana”
“Oh ya kau jangan lupa mendo’akan anak kita dari sana.
Aku sangat mencintaimu sahabatku. Oh ya aku kesini memang tidak memberi tau ke pada Dewi.
__ADS_1
Karena aku habis mengantarkan Bryan. Aku pamit pulang dulu ya”
***
Di rumah Bryan.
“Dhafa...kamu tau mama akan pergi ke mana?”
“Mana aku tau!! Mama saja tidak memberi tau ku”.
“Aku takut mama Kenapa napa.”
“Kenapa aku”
“Huffg... Aku lelah ingin beristirahat. Dan jangan ganggu aku!!!”
__ADS_1
“Siapa juga yang mau mengganggu mu. Dasar menyebalkan”
“Kau yang menyebalkan, nenek Lampir”
“kau genderuwo cungkring”
“ bye... Nenek lampir”
“Emangnya aku seperti seorang nenek kah. Kau saja yang buta. Dasar cungkring”
Setelah mereka lelah berdebat.
Dhafa pun nyenyak dalam tidurnya akan tetapi ia berbeda dengan nya. Dhifa pun merasa bosan. Saat menghidupkan televisi.
Tidak ada satu pun Channel TV yang bisa ia lihat. Dan ia pun langsung pergi ke kamar dhafa ia berniat untuk mengganggu nya.
__ADS_1
Tapi tidak mungkin. Bagaimana kalau Dhafa memarahinya?? Sungguh menakutkan.
“Apa yang akan aku lakukan. Sungguh membosankan jika hidup seorang diri. Kakak aku sangat merindukan mu” batin Dhifa.