
Di pagi hari nya
Shafa bersiap siap diri untuk pergi ke kantor.
Setibanya di kantor. Ia pun langsung pergi ke ruangan Tuan Bryan.
“Maaf Tuan, ada yang saya bisa bantu” Kata Shafa
“ Bisakah kau jika ingin masuk . Ketuk pintu terlebih dahulu!!”
“Maaf Tuan...”
“Kenapa kau masuk kantor??”
“ Maunya apa sih. Kemarin ngancam ancam, dan sekarang menanyakan aku ,kenapa aku ngantor?” Gumam Shafa di dalam hatinya
“ Bukankah Tuan, Menyuruh saya untuk bekerja”
“Kapan??” Tanyanya . Dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Shafa
“Kemarin Tuan”
“Bukan nya kau sakit. "
“Saya sudah sehat, Tuan”
“Lalu??”
“Huffg Sabar Shafa. Ini cobaan” Gumam Shafa di dalam hati..
“Jika tuan tidak mengizinkan saya bekerja hari ini. Maka lebih baik saya pulang” kata Shafa dengan tegas
“Ya sudah silahkan pulang. Jika kau berani”.
“ Oh Tuan menantang saya. Oke baiklah, siapa takut!!” kata Shafa dan berputar balik kan badannya dan membuka pintu ruangan tersebut.
“Sialan...Dia tidak takut.” Kata Bryan mengejar Shafa. Tentu saja Bryan sampai terlebih dahulu. Sebab ia menggunakan lift khusus untuk dirinya saja.
“Kena kau” kata Bryan dan memegang tangan nya.
“Apaan sih, Tuan. Lepasin gak!!”
“kalok enggak kenapa???mau mengancam!!! Iya??”
“Tuan disini banyak karyawan. Bagaimana mereka berfikir tidak tidak soal diriku” bisik Shafa.
__ADS_1
“Biarkan saja.” Kata Bryan dan menarik tangan Shafa menuju lift nya.
Di dalam lift.
Shafa mengoceh yang tidak-tidak sampai di ruangan pun ia masih mengoceh.
Bryan yang mendengar nya sangat kesal. Ia pun menghampiri Shafa dan membungkam mulut nya dengan ciumannya.
Shafa pun melotot kan matanya kepada Bryan.
“Sudah puas mengocehnya, kalau masih kurang gw akan tambahin”
“ gw mau ke toilet.” Kata Shafa. Dan hendak keluar dari ruangan namun di hentikan.
“ Di sini saja. Jangan keluar!!”
Shafa pun langsung pergi ke kamar yang ada di ruangan nya. Namun kamar itu terkunci.
Ia pun langsung meminta nya pada Bryan.
“ kunci!!” kata Shafa dengan ketus
“Bisa sopan sedikit gak sama bos”
“Kurang sopan. Muka mu datar tidak baik”.
“Tuan , boleh saya minta kunci kamar??” kata Shafa tersenyum dengan terpaksa an.
“ Masih kurang”
“Tuan Bryan, Bolehkah saya meminta kunci kamar” Shafa pun dengan lembut dan tersenyum.
“Kau ingin menggoda ku” kata Bryan
“Siapa yg menggoda mu . Tuan”
“Kenapa kau keluarkan lesung pipitmu.”
“Mana saya tau Tuan”
“Jika tuan memang tidak ingin memberikan ku kunci maka aku akan pergi ke toilet bawah saja”
“kau mengancam ku”
“Tuan. Saya –
__ADS_1
“Nih kuncinya. Dan jangan lama lama di kamar . Kau kan ku beri tugas.”
Tanpa menjawab perkataan Bryan. Shafa pun masuk ke dalam kamar. Dan menuju ke kamar mandi.
Ia disana mengusap usah bibir dan wajahnya. Atas apa yang dilakukan oleh Bryan.
Tak lama kemudian Shafa pun keluar dari kamar mandi. Ia melihat ada kasur yang nganggur. Ia pun mendudukinya dan menidurkan badan nya.
Sedang di meja kerja Bryan memerhatikan pintu kamar nya . Bryan pun berinisiatif untuk menghampiri nya .
Saat membuka pintu kamar ternyata terkunci. Bryan pun membuka pintu dengan kunci cadangan nya untuk saja perempuan itu tidak meletakkan kuncinya di pintu
Bryan pun melihat Shafa tertidur dengan pulas di kasurnya. Ia pun menghampiri nya dan hendak ingin membangun kan nya. Namun ia tahan sebab kemarin ia jatuh sakit.
Jam pun menunjukkan waktu makan siang namun Shafa masih belum juga terbangun dari tidurnya.
Bryan masih fokus dengan pekerjaannya dan tak merasakan ia melewati waktu makan siangnya selama dua jam.
Ia pun membuka pintu kamar dan membangun kan Shafa.
Shafa pun terbangun dari mimpi mimpinya yang indah. Dan saat keluar dari ruangan tersebut kepala Shafa terasa sangat pusing. Dan ia hendak terjatuh namun Bryan pun menangkap nya.
“Mangkanya kalok tidur jangan kayak kebo saja”
Bryan pun membantu Shafa untuk berjalan. Kepala Shafa bersender dengan bahu Bryan. Namun saat di lift Bryan mengubahnya. Shafa pun bersandar di dada Bryan. Bryan pun memeluk tubuh wanita tersebut.
Lift pun terbuka Shafa berjalan dengan bantuan Bryan. Sesampai di kantin Shafa hanya termenung dan tak ingin berbicara apa pun.
Dan makanan pun datang. Sungguh Shafa saat ini malas untuk makan. Bryan melihat Shafa dengan sinis.
“Kenapa tidak di makan!?
“gak mood”
“Makanlah. Tubuhmu sangat kering kasihanilah tubuh mu”.
“Kau menghina ku”
“Tidak tapi ini realita”
“Sama saja kau menghina ku”
“Sudahlah , makan kalau kau akan–
“ Baiklah ,”
__ADS_1