
"Eh sudah jam dua belas, gak mau pulang?" tanya Ziko pada teman-temannya yang dari tadi asik mengobrol
"Iya sih, besok masih sekolah kan." Bagas menambahkan
"Kalian pulang duluan aja." ucap Satria
"Lu gak mau pulang Sat?" tanya Bayu
"Gua mau disini dulu." Satria membenarkan posisi tempat duduknya
"Serius lu Sat?" tanya Adit yang dari tadi sibuk mendengarkan lagu kemudian ia melepaskan headsetnya setelah tahu Satria tidak mau pulang bareng
"Iya." jawab Satria singkat
Teman-temannya saling melirik, tidak tahu kenapa Satria tidak mau pulang. Baru pertama kali Satria bersikap seperti ini, biasanya Satria yang mengajak pulang duluan. Kali ini beda. Teman-temannya mencoba untuk memahami keadaan Satria, mereka menyangka pasti Satria lagi ada masalah. Ia malam ini sedikit bicara, terlalu banyak diam dan melamun.
"Iya sudah lu nginep di rumah gua aja, gimana?" ucap Bayu
Hanya Bayu yang paham dengan keadaan Satria, ia tahu persis kenapa Satria tidak mau pulang karena dulu Satria pernah cerita tentang masalah keluarganya.
"Menginap?emang gak dicari sama orang tuanya?" tanya Adit
"Diem lu!" desak Bayu
"Lah, gua kan nany---."
"Sudah, lu pada pulang aja sana!" ucap Satria
"Kami gak akan pulang kalau lu gak pulang Sat!" kata Bayu
Satria mengambil napas dalam-dalam. Ia tidak menyangka teman-temannya sangat peduli padanya
"Lu nginep di rumah gua aja ya? Gua punya seragam dua, bisa lu pake buat besok." ucap Bayu lagi
"Iya sudah, ayo." Satria mengambil jaket yang dari tadi ia lepaskan
"Nah gitu dong." Bayu menepuk bahu Satria
Mereka pun pulang.
"Lu kenapa Sat?" Setelah beberapa menit sampai di rumah Bayu, mereka berdua duduk di ruang tamu.
"Biasa." jawab Satria dengan singkat
"Hm.. Lu kalau butuh apa-apa tinggal bilang aja ke gua. Rumah gua selalu terbuka buat lu. Beberapa hari lagi sudah pemilihan ketos, lu gak boleh banyak pikiran Sat.Jangan sampai yang terpilih itu siswa kelas se---"
"Gua gak selera jadi ketos. Gua mau ngundurin diri aja." potong Satria
"Lu jangan gitu Sat, ini kesempatan kita unt--"
"Sudah sudah, mana kamarnya? Gua ngantuk mau tidur." Satria beranjak dari sofa
"Di atas, ayo gua anter." Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Gak usah, gua bisa sendiri." Satria langsung menuju kamar yang dimaksud Bayu
'Satria kenapa sih, kemaren dia semangat sekali mau ngalahin siswa sebelah. Lah sekarang dia mau ngundurin diri.' Bayu penasaran
***
"Kemana itu anak jam segini kok belum pulang juga." ucap ibu Satria
"Kamu salah mendidik dia, lihat sudah tengah malam begini dia tidak pulang. Entah dimana dia sekarang." Ayah Satria mengomel
"Loh kok jadi aku yang disalahkan? Kamu juga kemana aja waktu Satria masih kecil ha? Ini semua juga gara-gara kelakuan kamu dulu!" ucap Ibu Satria kesal
"Aku kan sudah bilang jangan mengungkit masa lalu!" Ayah Satria tambah kesal
***
__ADS_1
'Enggak deh, nanti malah tambah diomelin sama papa.'
"Sahabat-sahabat Fitri pa, Naya dan Nisa." ucap Fitri
"Iya.. setiap pertemuan pasti ada perpisahan nak. Itu sudah hukum alam, kamu harus belajar menerima itu. Papa dan mama melakukan ini semua demi kebaikan kamu.Kamu mau ya menuruti kemauan papa dan mama?" kata Papanya
"Iya, tapi nunggu Fitri kelas tiga dulu baru Fitri mau pindah sekolah. Boleh ya pa?" Fitri menawar dengan wajah yang melas
"Hm..Iya sudah nanti papa pertimbangkan dulu, papa akan bicara lagi sama mama kamu."
"Terimakasih ya pa." Fitri memeluk papanya
***
"Eh, pipi lu kenapa Sat?" Bayu baru sadar
"Tidak apa-apa." Satria memegang pipinya, ia meringis sedikit kesakitan.
"Lu semalem berantem sama ayah lu?" Bayu sedikit ketakutan menanyakan hal itu, karena selama ini Satria sangat sensitif jika ada yang membahas soal keluarganya terutama tentang ayahnya.
"Gua berangkat duluan." Satria berdiri mengambil tasnya yang berada di kursi ruang makan lalu ia langsung pergi
"Eh! sarapan dulu sat!" Bayu memanggil Satria yang tidak meresponnya
'Hm.. Sat.. Sat..' Bayu menggelengkan kepalanya
***
Hari ini kebetulan para guru rapat untuk pemilihan ketua OSIS. Anak-anak diberi jamkos, mereka senangnya bukan main.
"Yes! Hari ini kita jamkos." ucap salah satu siswa dengan girang
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya gak jadi ulangan." ucap siswa lainnya
Kebetulan kelas mereka hari ini diberi jadwal ulangan matematika.
"Mungkin minggu ini kita jamkos terus, kan bakal ada pemilihan ketos dan waketos."
Para siswa merasa di setiap harinya jadwal mereka full dengan pelajaran dan ulangan. Akhirnya mereka kurang healing. Wajar jika bilang begitu.
"Lu tahu gak siapa siswa kelas sebelah yang nyalonkan jadi ketos?" Fadhil duduk di samping Annas, ia baru saja dari kantin membawa dua botol air mineral
"Enggak. Siapa emang?" Annas mengambil air mineral dan meminumnya
"Satria." ucap Fadhil
Annas tersedak air ketika Fadhil menyebutkan nama lelaki itu.
"Satria?" Annas masih tidak percaya
"Iya Satria." Fadhil meyakinkan
"Tapi tenang ada, dibalik kabar buruk itu ada kabar baiknya." tambah Fadhil
"Kabar baik? Apa emang?" Annas kepo
"Febby juga nyalonkan diri." bisik Fadhil
Annas mengambil napas panjang.
"Gimana? Seneng gak?" Fadhil mulai menggoda Annas
"Apaan! Biasa aja." ketus Annas
"Mana ada maling ngaku." ucap Fadhil
Annas tidak merespon kata-kata Fadhil.
"Panggilan kepada siswa yang disebutkan namanya dimohon segera ke kantor guru. Muhammad Annas Fadhilah kelas sebelas IPA satu. Fitri Balqis Dilara kelas sebelas IPA satu. Aditya Fadhil Ramadhan kelas sebelas IPA satu. Satria Aditya Bagaskara kelas sebelas IPA dua. Febby Putri Giani kelas sebelas IPA dua. Ani Viantika Pramesti kelas sebelas IPA dua. Agnes Stevani kelas sebelas IPA tiga." suara toa speaker sekolah.
__ADS_1
Sedangkan di halaman belakang Satria dan teman-temannya sedang duduk. Di sanalah tempat nongkrong mereka di sekolah.
"Sat.." ucap Bayu
"Biarin aja, gua gak bakal ke ruang guru." Satria paham apa yang akan dikatakan Bayu
"Lu gak boleh gitu Sat, lu ha--."
"Gua duluan." Satria beranjak dari tempat duduknya
"Lu mau kemana Sat?" tanya Bayu
Satria tidak menjawab, ia terus melangkahkan kakinya pergi menjauh dari teman-temannya.
"Ada apa dengan dia?" tanya Ziko ke Bayu
"Iya, tidak seperti biasanya." tambah Bagas
"Entahlah, mungkin lagi banyak masalah dia." jawab Bayu
"Tapi kenapa dia gak cerita ke kita?" tanya Adit
"Dia pasti cerita kok, tapi tidak sekarang." ucap Bayu
"Tapi dia mau kemana?Ke ruang guru?" tanya Bagas
"Tadi dia bilang gak mau ke ruang guru." Bayu teringat sesuatu
"Ada apa?" Adit melihat ekspresi Bayu
"Gua khawatir sama Satria, tadi waktu di rumah gua dia gak jadi sarapan gara-gara gua tanya soal ayahnya." ucap Bayu
"Ayahnya? Satria ada masalah sama ayahnya?" tanya Ziko kepo
"Mungkin." ucap Bayu
"Lu sih, ngapain harus nanya gitu." Bagas nyalahkan Bayu
"Gua gak tahu. Gua nanya gitu karena wajahnya memar seperti ada bekas pukulan." kata Bayu
"Gua juga ngelihat sih tadi, tapi takut mau bertanya." ucap Adit
"Mending kita nunggu setelah situasinya sedikit aman baru setelah itu kita tanya langsung ke dia bareng-bareng." kata Ziko
"Iya bener gua setuju sama Ziko." ucap Bagas
"Tapi masalahnya si Satria mau kemana, tumben sekali kan dia tidak bilang ke kita. Gua khawatir terjadi sesuatu ke dia." ucap Bayu
"Iya sudah kita susul dia." Adit berdiri dan mengajak teman-temannya untuk menyusul Satria
***
"Ini kurang satu siswanya, Satria mana?Apa dia hari ini tidak masuk Feb?" pertanyaan Pak Iwan membuat semua siswa yang di dalam kantor menoleh ke Febby
Pak Iwan, selain menjabat sebagai guru matematika beliau juga menjadi pembina OSIS.
"Masuk pak, tadi pagi saya kelihatan." ucap Febby
"Tapi kenapa dia tidak kemari?" ucap Pak Iwan
"Bu Mila! Ini kandidatnya kurang Satria anak kelas sebelas IPA dua. Bisa minta tolong panggil dia sekali lagi." Pak Iwan memberi perintah
"Kalau boleh, ijinkan saya yang mencari Satria pak." ucap Febby
"Iya sudah, tapi jangan lama-lama." kata Pak Iwan
"Siap pak." Febby berdiri dan meninggalkan kantor guru
"Dia perhatian sekali ke cowok itu." bisik Fadhil ke Annas
__ADS_1
Annas hanya diam, ia memerhatikan Febby yang sudah pergi dari ruangan itu.
...BERSAMBUNG...