
"Bukannya bantuin malah bicara yang enggak-enggak. Dasar." Annas terkekeh pelan mendengar gerundelan Febby.
"Selesai." ucap Febby
"Thanks ya." Annas memperbaiki duduknya
"Iya." Febby membereskan baskom dan hendak mengembalikannya ke Bu kantin, tapi langkahnya terhenti karena melihat tingkah aneh dari sahabatnya, Ani.
"Apa?" Febby melihat Ani Yang senyum-senyum sendiri
"Apanya yang apa Feb?" Ani balik nanya
"Apa kok senyum-senyum gitu?" Febby jelas tidak suka dengan ekspresi Ani
"Enggak kok." Ani masih senyum-senyum
"Apa sih An, gak jelas banget." ketus Febby
"Romantis loh Feb." Ani bicara dengan
Febby menepuk dahinya. Romantis darimananya? Bukannya malah bantuin malah cuma nonton sambil senyum-senyum sendiri, dikira itu tadi drakor? Febby mengabaikan Ani dan pergi ke kantin.
"Bagaimana?Sudah mendingan?" tanya Ani ke Annas
"Sudah. Gua ke kelas dulu ya. Salamin ke Febby." ucap Annas
"Okay. Hati-hati." Ani melambaikan tangan ke Annas, Annas balas dengan menganggukkan kepalanya.
Setelah beberapa menit kemudian geng Satria datang ke lapangan. Untung saja mereka tidak berpapasan dengan Annas, terlebih lagi tidak melihat waktu Annas diobati Febby. Bisa panjang lagi masalah mereka.
"Heh, aku laporin kamu nanti ya ke guru BK biar tahu rasa." ancam Ani ke Satria
"Laporin apa?" Satria berlagak sok enggak tahu apa-apa
"Kamu pasti ngajak berantem Annas kan? Lebih tepatnya kalian semua pasti sudah ngeroyok Annas tadi. Atau jangan-jangan kalian sudah merencanakan ini semua ya? Karena besok pemilihan ketos, kalian ingin Annas tidak masuk hah? Ngaku deh kalian!" desak Ani
"Memangnya kau punya bukti, hm?" Satria tersenyum miring
Ani terdiam, benar juga dia tidak punya bukti apa-apa.
"Sudahlah An, enggak usah ikut campur ini urusan cowok." Satria melambaikan tangan pergi, juga teman-temannya
"Awas aja kalian." Ani mengepalkan tangan, kesal.
***
"Duh Annas mana sih! Ini sudah jam kedua tapi belum kelihatan juga batang hidungnya." Fadhil menoleh-noleh.
__ADS_1
"Untung saja jamkos. Lagian tadi ngapain coba pak Iwan ngadain ulangan? Bukannya nunggu minggu depan aja, orang guru lainnya tidak ngajar, rajin banget malah ngasih ulangan, apalagi di saat-saat hampir pemilihan ketos. Heran---." Fadhil melongo disaat melihat Annas datang ke kelas dengan kondisi jalan seperti orang pincang, dia langsung meloncat dari tempat duduknya membantu Annas berjalan.
"Lu kenapa? Lu habis berantem? Berantem sama siapa?Coba bilang ke gua siapa yang berani bikin Annas kayak gini, gua hadepin." Annas hanya diam melangkah pelan-pelan ke tempat duduknya.
"Beneran lu pingin tahu siapa orangnya?" ucap Annas
"Iya, siapa coba?" Fadhil tidak sabar menunggu jawaban Annas
"Satria." ucap Annas
Fadhil langsung meloncat. "Kenapa lu? Lu mau ke kelasnya? Mau ngadepin dia?" Annas terkekeh pelan
Fadhil duduk lagi, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Iya mungkin maksud Fadhil tidak semuanya harus diselesaikan dengan cara berantem, bisa dibicarakan baik-baik.
"Lu aja sampai babak belur gini apalagi gua." gumam Fadhil
"Lu gak perlu takut-takut banget ke dia." ucap Annas
"Lu emangnya gak takut? Bahkan setelah babak belur gini?" tanya Fadil heran, Annas hanya mengangkat bahunya
"Eh bentar, sebelum gua nanya kejadiannya gimana mending kita ke UKS dulu, kita obatin luka-luka lu itu." ucap Fadhil sambil menarik tangan Annas
"Enggak perlu, gua udah.." tolak Annas
"Udah ke UKS?" Annas keinget kejadian tadi waktu diobati oleh Febby
"Sorry sorry." Fadhil cengengesan, Annas mendengus kesal
"Oh ya nanti ada rapat, melanjutkan yang waktu itu." ucap Fadhil, Annas hanya mengangguk
"Eh tapi gimana dengan luka lu? Pasti pak Iwan nanya kenapa." ucap Fadhil lagi
Benar juga, gimana jika semua kandidat OSIS tahu kondisi Annas? Tapi Fadhil tidak kehabisan ide, ia mengeluarkan sebuah masker dari tasnya
"Lu pakai ini pas rapat nanti." Fadhil menyerahkan masker ke Annas
"Masker?" ucap Annas
"Iya. Tenang aja kali, gantengnya tetep kelihatan kok." ucap Fadhil, Annas merampas masker dari tangannya.
"Jam berapa rapatnya?"
"Jam sebelas siang." jawab Fadhil
"Hai Annas!!" ucap Fitri, Annas kaget ia langsung mengenakan masker pemberian dari Fadhil
"Kamu sakit? Kok pakai masker gitu?" tanya Fitri
__ADS_1
Annas hanya mengangguk pelan.
"Duh kasian banget, sudah minum obat belum? Aku belikan ya? Kamu butuh apa? Aku selalu siap kok 24 jam buat kamu." ucap Fitri lagi dengan gaya kecentilannya. Annas hanya menepuk dahinya, bisa-bisanya dia sekelas sama siswi model seperti dia.
"Mesin ATM kali 24 jam." Fadhil melengos
"Kamu bilang apa Dil!" sergah Fitri
"Enggak." Fadhil menggelengkan kepalanya
"Sssst!" Annas memanggil Fadhil.Fadhil membalas mengangkat alisnya. Apa?Annas mengarahkan matanya ke Fitri. Ayo kabur maksudnya.Di tengah-tengah Fitri yang terus berbicara tanpa henti, Annas dan Fadhil memilih untuk bicara dengan bahasa isyarat yang hanya mereka berdua yang tahu. Bagaimana caranya? Fadhil bertanya dengan gerakan matanya. Entah, Annas mengangkat bahunya.
"Eh Fit, sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dengan Annas. Dia lagi terkena virus, bisa bahaya ke kamu." ucap Fadhil, jelas Annas kaget dengan ucapan saudaranya itu, tidak bisakah dia berkata yang baik-baik, ucapan kan do'a.
"Eh iyakah?" Fitri akhirnya berhenti, terkejut melihat Annas.
"Kamu ngarang ya? Tapi kok kenapa kamu tidak menjauhi Annas juga?" Fitri menyelidik
"Virusnya khusus menyerang cewek, cowok mah aman " ucap Fadhil santai. Heh dasar Fadhil, bisa-bisanya dia mengarang cerita, aneh pula.
"Kamu serius Dil?" Fitri terkejut lagi sambil melangkah mundur dari bangku Annas
"Iya, mangkanya hus hus jauh-jauh sana." Fadhil mengusir Fitri layaknya mengusir ayam, keterlaluan memang Fadhil.
"Duh Annas semoga cepat sembuh ya, tapi aku tidak bisa jauh dari kamu." Fitri memasang wajah kasiannya
Fadhil menepuk dahinya. Cewek itu memang lebay parah. Annas hanya terkekeh pelan.
Rapat pemilihan ketos.Semua kandidat saat itu kumpul, duduk melingkar. Ani, Febby, Fitri, Agnes, Annas, Fadhil, Satria dan juga beberapa kakak kelas OSIS.
"Annas kamu kenapa pakai masker? Lagi sakit?" Tanya pak Iwan sambil membuka beberapa berkas di mejanya.Semua mata mengarah kepadanya termasuk Satria yang lagi tersenyum miring, suka dengan kondisi Annas saat itu. Annas menatap tajam ke arah Satria, mengangguk menjawab pertanyaan dari pak Iwan. Beruntung Annas ganti seragam olahraga sebelum kumpul, jadi tidak ada yang curiga dengan keadaannya karena seragam putih abu-abu nya kotor,juga jas almamater nya.
Setelah rapat selesai semua kandidat kembali ke kelasnya masing-masing. Disaat ruangan OSIS itu hanya ada Satria, Annas, Fadhil, Ani dan Febby serta beberapa kakak kelas OSIS.
"Dek, kamu dicari Andi anak kelas duabelas IPA satu." ucap salah satu kakak OSIS ke Febby
"Eh? Saya kak?" ucap Febby tidak percaya
"Iya dek, dia minta nomor handphone kamu." kakak kelas itu dan teman-temannya kemudian keluar dari ruang OSIS
Satria kesal mendengar itu semua, ia langsung membanting kursi dan keluar dari ruangan itu. Sikapnya membuat isi ruangan terkejut terlebih lagi Febby. Ia baru pertama kali melihat Satria seperti itu.
"Kak Andi Feb.." bisik Ani ke Febby
"Andi siapa?" gumam Annas
"Lu kepo ya? Sama gua juga." bisik Fadhil ke Annas
__ADS_1
...BERSAMBUNG...