
"Kita harus temukan Satria, kalau tidak Pak Iwan pasti akan menghukumnya." kata Ziko sambil berjalan dengan cepat
"Iya benar, Satria dimana coba." Bayu mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Ziko
Beberapa menit kemudian langkah mereka berhenti secara bersamaan.
"Eh ada Febby." Bagas tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Dimana Satria?" tanya Febby
"Nah itu dia! Kami juga sedang mencarinya Feb." ucap Adit
"Maksudnya, Satria tidak bersama dengan kalian?" tanya Febby lagi penuh dengan heran
"Tadi sempat bersama kami, cuma pas toa speaker sekolah bunyi dan menyebut namanya ia memutuskan untuk pergi, tapi bukan ke ruang guru, entah dia pergi kemana." Bayu menjelaskan kejadian tadi dengan pelan-pelan kepada Febby
Bayu melangkahkan kakinya ke Febby, kali ini jarak mereka hanya dua meter, tepat disamping Febby ia berhenti.
"Dia lagi ada masalah dengan keluarganya Feb, sepertinya ia baru saja mendapat pukulan dari ayahnya akhirnya semalam ia menginap di rumah ku. Dan parahnya lagi, ia sekarang ingin mengundurkan diri jadi kandidat ketos. Mangkanya ia pergi, entah kemana dia sekarang." Bayu berbisik kepada Febby
"Astaghfirullah.." gumam Febby
"Iya sudah, aku mau cari Satria dulu ya." ucap Febby
Belum juga Bayu mengatakan sesuatu Febby sudah berlari entah kemana. Bayu dan teman-temannya pun saling tatap kebingungan.
"Disini rupanya." ucap Febby yang ngos-ngosan setelah menaiki tangga
"Febby.." Satria menoleh. Bibirnya hampir saja tersenyum namun ia teringat kejadian tadi malam, sehingga ia menahan untuk tidak tersenyum ramah kepada Febby. Ia kembali membalikkan badannya, tidak memperdulikan Febby yang ada di belakangnya.
"Sat.." Febby mulai mendekati Satria
"Tahu darimana kalau aku disini?!" Satria menyembunyikan wajahnya yang sedih
"Aku mengingat baik saat kamu sedang sedih, lagi banyak masalah, kamu pasti ada di gedung paling atas sambil melihat langit cerah dan menikmati angin yang sepoi-sepoi." ucap Febby yang kini sudah berada di samping Satria dengan jarak dua meter.
"Ternyata kamu memperhatikan ku selama ini." wajah Satria datar tanpa ekspresi apapun.
"Kamu kenapa Sat?" Febby langsung ke inti, ia memang tidak suka basa basi
Satria hanya diam sambil memandang langit.
"Sat.." ucap Febby lagi
Satria masih diam tanpa mengeluarkan kata sepatah pun, Febby melihat Satria yang tidak memperdulikan nya, ia mengambil napas panjang.
"Dulu pas kita masih kelas dua SMP, kamu bisa cerita ke aku dengan nyaman layaknya seorang teman yang butuh telinga untuk didengarkan ceritanya." ucap Febby yang masih belum menyerah
Satria menoleh ke Febby, ia terdiam sejenak seperti teringat sesuatu.
"Kamu kenapa menangis Sat?" tanya Febby
"Tadi pagi aku berusaha untuk menceritakan kejadian yang aku lihat kepada ibuku Feb." jawab Satria yang masih menangis
"Memangnya kejadian apa yang kamu lihat Sat?" tanya Febby lagi
"Aku menjumpai ayahku sedang jalan dengan perempuan , dan itu bukanlah ibuku." jawab Satria lagi sambil menyeka pipinya
__ADS_1
"Lalu apa kata ibu kamu setelah kamu menceritakan tentang kejadian itu?" Febby masih penasaran
"Ibuku tidak percaya, lalu ia memarahiku. Kemudian Ayah mendengar percakapan kami, setelah ibuku pergi ke pasar tadi pagi, Ayah memukulku dan mengancamku. Jika aku masih mengatakan hal itu lagi ke Ibu, maka aku akan dikirim ke rumah nenek." ucap Satria
"Aku ingin sekali menenangkanmu Sat, tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Aku sendiri tidak pernah tinggal dengan orang tuaku, mereka sibuk bekerja dan aku dititipkan kerumah nenek." kata Febby
"Tolong.. jangan menangis lagi, jangan sedih lagi. Aku tidak kuat jika harus melihat orang menangis, apalagi itu adalah temanku sendiri." ucap Febby lagi
Satria yang mendengar itu semua langsung mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.
"Terimakasih Feb sudah membuatku berhenti menangis." ucap Satria
"Aku berhasil?" tanya Febby tidak percaya
Satria mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah!" Febby senang melihat Satria tidak menangis lagi
"Iya sudah yuk! Kita ke bawah, takut bel sekolah tidak kedengaran kalau di atas gedung seperti ini." Febby mengajak Satria turun
"Iya ayo!" Satria menyetujui
"Maaf Feb." ucap Satria yang kemudian ia menundukkan kepalanya
"Kenapa minta maaf?" Febby bingung
"Seharusnya kamu yang lebih sedih, bukan aku." ucap Satria
"Tidak masalah, itu adalah manusiawi Sat. Wajar jika kamu sedih hingga menangis." Febby sambil tersenyum
"Tapi bukankah cowok itu dilarang menangis?" Satria kembali memandang langit
"Dulu setelah kejadian tiga tahun yang lalu, ayah selalu marah ketika melihat aku menangis. Aku selalu dimaki-maki, dikatain cowok lemah. Ia sangat melarang ku untuk menangis." Satria menunduk lagi
"Itu salah sekali, Tuhan bukan hanya menciptakan air mata untuk wanita saja tapi juga untuk laki-laki. Dan laki-laki juga punya perasaan." ucap Febby
Satria mengangguk setuju dengan apa yang Febby ucapkan.
"Apakah sekarang aku juga berhasil membuat seorang Satria berhenti untuk bersedih?" tanya Febby
Satria mengangguk sambil tersenyum lebar kepada Febby.
"Alhamdulillah." Febby bernapas lega
"Iya sudah, aku obatin ya luka kamu." ucap Febby lagi
"Ini hanya luka kecil Feb, aku tidak apa-apa." Satria memegang pipinya yang merah
"Sekecil apapun itu luka, tetap harus diobati. Ayo!" ajak Febby
Satria masih menolak, ia masih kokoh berdiri di tempatnya yang tadi. Tapi ia tidak melepaskan pandangannya sedikitpun ke Febby.
"Ayolah Sat, jangan sampai aku memaksamu." ucap Febby dengan wajah cemberutnya
"Memangnya kamu mau memaksa aku dengan cara apa, ha?" Satria tertawa melihat ekspresi Febby
"Menarikku?Mau megang tanganku? Emang berani?" ucap Satria lagi
__ADS_1
Wajah Febby semakin cemberut, sedangkan Satria semakin tertawa lebar. Satria sangat paham betul tentang Febby, semenjak satu sekolah Febby adalah wanita yang tidak mau memegang tangan laki-laki dan satu lagi ia selalu menjaga jarak dengan lelaki, minimal dua meter.
"Eh!" Bayu menghentikan langkahnya dan teman-temanya
"Perasaan belum setengah jam, udah jadi keluarga yang bahagia aja." ucap Bagas sambil tertawa melihat Satria menertawakan Febby
Teman-teman Satria berhasil menemukan Satria setelah mencari-cari informasi kepada siswa lain tentang kemana perginya Febby.
"Sssstt! Biarin aja jangan ganggu mereka! lebih baik kita kembali." Bayu berkata pelan kepada teman-temannya
"Bener tuh, sebelum ketahuan Satria mending kita turun dari gedung ini." ucap Ziko
Merekapun kembali turun meninggalkan Satria dan Febby di atas gedung. Setelah sampai di kelas mereka berpapasan dengan Annas dan Fadhil juga Ani.
"Eh? Rapatnya sudah selesai?" tanya Ziko ke Ani
"Rapatnya diundur karena kandidat belum lengkap." jawab Annas
"Gua bukan nanya ke lu, tapi ke Ani." ucap Ziko
"Apa salahnya bantu jawab kan?" kata Fadhil
"Dimana Satria?" tanya Annas
Ziko dan kawan-kawan saling menatap setelah mendengar pertanyaan Annas. Mereka sepakat untuk tidak menjawab dan langsung pergi dari hadapan Annas.
"Kalian belum jawab pertanyaan gua." Annas menghadang mereka pergi
"Lu nyari Satria atau Febby?" tanya Bagas ke Annas
Annas memundurkan langkahnya, Ani dan Fadhil hanya diam.
"Lu nyari Febby kan? Gua kasih tahu ya, Febby lagi bersama Satria." ucap Bagas
"Dan satu lagi.." Bagas menghentikan langkahnya yang hendak pergi dari hadapan Annas
"Jangan ganggu mereka, gak usah jadi benalu di antara mereka. Paham lu?!" ucap Bagas lagi ke Annas
"Heh! Maksud lu apaan?" Fadhil tidak terima. Mereka hampir saja berkelahi, tapi dua remaja yang turun dari tangga yang sambil tertawa berhasil menghentikan mereka.
Semua menatap ke belakang tidak berkedip, terlebih lagi Annas.
"Febby.." gumam Ani
Iya, dua remaja itu adalah Febby dan Satria.
"An!" Febby melambaikan tangannya ke Ani
Annas langsung pergi meninggalkan mereka semua. Fadhil kebingungan, Ani juga.
"Ada apa ini? Rapatnya sudah selesai?" tanya Febby yang baru saja sampai di samping Ani
"Rapatnya diundur Feb, gara-gara kamu terlalu lama mencaru Satria." Ani sambil menatap Satria dengan tatapan malas
"Iyakah?" tanya Febby tidak percaya
"Serius Feb. Tuh lihat, Annas juga ikutan kesal kan. Kami nunggu kamu lama sekali dari tadi, eh ternyata kamu malah asik tertawa dengan Satria." Ani yang tadinya biasa aja jadi ikut kesal
__ADS_1
'Annas marah ke aku?'. batin Febby
...BERSAMBUNG...