NAWAITU | Niat Awal Menuju Ridho Ilahi

NAWAITU | Niat Awal Menuju Ridho Ilahi
Bab 23


__ADS_3

"Hei Feb! Jangan melamun terus." Ani mengagetkan Febby yang dari tadi hanya diam tidak menyentuh mangkuk bakso sedikitpun, tapi di tangannya sudah memegang sendok dan garpu.


Setelah rapat selesai Ani mengajak Febby makan siang di kantin. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.07 WIB, anak-anak berlalu lalang keluar masuk kantin, ada beberapa yang menetap di sana hanya untuk mengobrol, membahas topik penting 'tentang siapa yang akan mereka pilih nanti' saat pemiketos.Bu kantin tidak akan keberatan jika warung miliknya dijadikan tempat 'bergosip' meskipun mereka hanya membeli segelas air mineral atau teh gelas. Itu adalah hal yang lumrah, sejak puluhan tahun sudah bekerja di sekolah sini Bu kantin sampai hafal dengan kebiasaan siswa SMA Pahlawan, mungkin itu sudah menjadi sifat turunannya. Selain di kelas, taman dekat lapangan, taman di halaman belakang sekolah, warung menjadi tempat yang paling ternyaman untuk 'bergosip' eh maksudnya mengobrol dengan teman.Beberapa siswa juga makan disana sambil mengobrol asik dengan teman sebangkunya. Sedangkan Ani dari tadi hanya bicara sendiri sambil makan, Febby? Entah kenapa dia melamun terus setelah kejadian tadi di ruang OSIS.


"Eh An,aku tidak melamun cuma lagi memikirkan sesuatu saja." jawab Febby yang akhirnya menyendok bakso dan langsung melahapnya


"Mirikin apa Feb?" Ani melirik sambil masih fokus menghabiskan bakso di mangkuknya.


"Banyak An, tapi ada dua hal yang aku pikirkan sekarang. Pertama kenapa kak Andi minta nomer HP ku? Dan yang kedua kenapa Satria seperti orang marah setelah mendengar itu semua" Febby bicara sambil makan baksonya


"Untuk pertanyaan kedua itu sudah jelas Feb, karena Satria suka ke kamu sejak SMP. Dia sendiri yang terang-terangan, bahkan ke semua siswa kelas sebelas.", Ani masih asik menyendok kuah baksonya


Eh? Iyakah? Febby jelas baru tahu tentang hal itu. Selama ini Febby hanya menganggapnya sebagai teman, tidak kurang tidak lebih.


"Itu benar Feb, aku tidak membuat-buat omongan. Itu fakta, dan semua siswa kelas sebelas tahu itu." Ani masih meyakinkan Febby, Febby hanya menatapnya lamat-lamat masih tidak percaya. Jelas sekali tidak percaya, dia orangnya susah mau percaya apalagi tidak mendengar langsung dari orangnya.


"Tapi An.. jika memang itu benar, kenapa dia tidak langsung---"


"Memangnya kamu sudah siap mengambil keputusan itu?" Ani langsung memotong

__ADS_1


Benar juga, Febby jelas tidak akan siap. Selama ini Febby hanya menganggap Satria teman, itu saja. Jelas dia tidak mau Satria sakit hati karena mendapat penolakan darinya. Febby menghela napas panjang.


"Tapi ada hal menarik dari sisi Satria Feb." ucap Ani lagi, kini ia sudah menghabiskan satu mangkuk bakso


Febby menoleh ke Ani. Apa?


"Dia mau berusaha untuk memahami kamu. Itu saja. Sederhana, tapi menurutku itu luar biasa sekali. Yeah, meskipun dia tetep Satria yang nyebelin, nakal, suka membuat onar tapi dia tidak egois Feb." Ani berbicara serius, Febby hanya menatapnya tidak percaya. Bukan karena Satrianya melainkan pemikiran dari sahabatnya itu. Febby tidak menyangka bahwa sahabatnya itu memiliki pemikiran yang 'dewasa' menurut seusia mereka.


"An!" Febby memegangi dahi memeriksanya takut jika sahabatnya kenapa-kenapa. Eh? Ada apa? Ani justru baik-baik saja pada waktu itu.


"Kenapa sih Feb?" tanya Ani kebingungan


"Bakso? Nasi goreng? Tadi pagi kita kan yang buat?" jawab Ani polos


"Maksudku kamu seperti orang yang berpengalaman saja ketika menjelaskan soal itu tadi." ucap Febby masih tidak percaya


Ani mengangkat bahunya, "Itu mudah Feb, soal cinta serahkan ke aku. Aku sudah punya pengalaman 3 tahun pacaran---."


Hei! Apa yang Ani katakan barusan? Ani segera menutup mulutnya.Rahasia dia resmi terbuka.

__ADS_1


"An... kamu?" Febby menyelidik, tambah tidak percaya


Ani menghela napas panjang, "Iya Feb benar, itu semua benar. Tiga tahun sudah aku menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang usianya berjarak dua-tiga tahun denganku. Dia dulu kakak kelasku di SMP, aku kelas satu dia kelas tiga, kita bertemu berkenalan kemudian saling suka. Dan kami pada akhirnya... pacaran. Sudah 3 tahun hubungan itu terjalin hingga sekarang, dan masih sampai sekarang." Ani menceritakan dengan detail sebelum Febby bertanya banyak hal padanya


Febby tidak jadi menghabiskan kuah baksonya yang tinggal separuh, ia meletakkan garpu dan sendok ya di mangkuk.


"Aku tahu Feb jika pacaran itu memang dilarang oleh agama kita. Tapi aku tidak bisa, tidak bisa melepaskan perasaan itu dengan mudah. Semenjak aku kenal kamu aku mendapatkan hal-hal baru, terutama ilmu. Semenjak kamu menerangkan tentang pacaran kepadaku, sebenarnya aku hendak cerita dan aku waktu itu sangat merasa 'siap' untuk melepaskan perasaan ini. Tapi setelah aku coba ternyata itu sangat susah sekali, terlebih lagi jarang ada konflik di hubungan kami berdua." Febby masih mendengarkan kalimat-kalimat Ani dengan seksama


Sejatinya Febby juga belum terlalu paham tentang agama. Dia cukup beruntung bisa tinggal di lingkungan yang amat baik. Meskipun sebenarnya ia sejak kecil tidak pernah tinggal dengan orang tuanya, ia dibesarkan di rumah neneknya. Disanalah, meskipun rumah neneknya tidak semegah milik kedua orang tuanya namun di rumah itulah Febby bisa tumbuh sebagai seorang gadis yang bisa dibilang cukup baik di usianya sekarang.


Kakek neneknya menumbuhkan nilai-nilai kebaikan dalam diri Febby. Kakeknya adalah seorang guru ngaji di daerah rumahnya. Sedangkan neneknya, meskipun tidak memiliki gelar atau pangkat, beliau terkenal dengan sikap baiknya ke semua orang, sangat sabar, dan bukan pendendam. Di dunia, orang baik pun punya musuh termasuk dengan kakek nenek Febby. Tapi apa yang dikatakan nenek Febby?


"Sudah biarkan saja, jangan dibalas."


Selalu saja begitu jawabannya nenek Febby setiap ada yang mengganggu keharmonisan keluarga kecil mereka. Sabarnya bukan main memang. Dan kakeknya, beliau selalu mengajari Febby mengaji, selain itu Febby juga menempuh pendidikan layaknya anak santri di Taman Pendidikan Qur'an. Selain diajarkan bagaimana cara membaca Al-Qur'an dengan fasih, Febby juga diajarkan membaca kitab kuning, mempelajari ilmu shorof, nahwu, safinah, dan fathul qhorib, dan sejenisnya. Meskipun tempatnya hanya musholla, namun di dalamnya terdapat guru-guru ngaji yang ulung, karena mereka semua lulusan terbaik dari pondok pesantren ternama di kotanya.Sorenya belajar ilmu kitab, malamnya membaca Al-Qur'an. Dan sesekali ada kajian-kajian ilmu, seminggu sekali diajari hadroh, sholawatan. Manis sekali kehidupan Febby di desa saat itu, tapi keadaan itu berubah semenjak orang tuanya lebih tepatnya ayahnya menghubungi kakeknya untuk tinggal di rumah mereka di kota. Febby menolak tapi kakek nenek Febby yang membujuknya, setiap liburan sekolah Febby diperbolehkan untuk pulang ke kampung menemui mereka. Akhirnya Febby setuju. Awalnya Febby mengira jika hidup di kota akan membuat dirinya dekat dengan orang tuanya tapi justru sebaliknya, orang tua Febby malah jarang pulang bahkan hampir tidak pernah. Di rumahnya hanya disisakan pembantu, yang selama ini merawat Febby.


Begitulah sedikit cerita kehidupan Febby, jika kalian mengira Febby adalah orang alim itu salah. Karena lebih tepatnya Febby masih anak-anak yang bertahap untuk belajar ilmu agama. Bahkan dia hanya tahu jika istilah pacaran dilarang oleh agama, padahal banyak aktivitas-aktivitas yang bisa jadi layaknya orang pacaran bahkan lebih dari itu. Banyak sekali istilah lain dari pacaran, tapi Febby belum tahu itu. Dia masih terlalu polos untuk mengetahui hal-hal seperti itu.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2