
"Mau Fadhil bantuin bu?" Fadhil masih berdiri di sana, sedangkan Azka sudah pergi ke kamarnya sejak tadi, katanya sih dia lagi ada urusan sebentar.
"Tidak usah nak, kamu istirahat sana atau belajar saja. Cuma sedikit kok." Ibunya menolak tawaran Fadhil, Fadhil pun mengagguk nurut. Ia hendak pergi ke kamarnya. Tapi langkahnya terhenti oleh suara dari luar rumah. Seperti ada pengamen, eh? tumben sekali ada pengamen ke rumah kita? Pikir Fadhil
JRENG!
"Astaghfirullah! Gua kira pengamen. Hampir saja gua mau ngeluarin uang receh." Fadhil nyengir ketika melihat Annas sedang duduk bermain gitar. Annas menoleh, ia hampir saja melempar gitar ke arah Fadhil. Begitulah ketika membaca ekspresinya. Tetapi Annas memutuskan untuk kembali memainkan gitar tidak peduli dengan keberadaan Fadhil.
"Lu kenapa sinis banget hari ini? Karena kejadian siang tadi?" Fadhil duduk di samping Annas. Seperti biasa, Annas hanya melirik lalu melanjutkan jemari-jemarinya memetik senar gitar.
"Gua berani bertaruh, mereka tidak pacaran. Meskipun jelas kelihatannya kalau Satria ngejar-ngejar Febby tapi Febby sepertinya tidak peka. Dia sepertinya memang baik ke semua orang, baik ke cewek maupun ke cowok. Lihatlah banyak adik kelas dan kakak kelas yang suka padanya." Fadhil masih terus berbicara meskipun Annas terlihat tidak mempedulikannya
"Lu tahu gak? Tadi gua hampir girang banget. Kirain Ibu mau ngundang Febby lagi ke rumah." Fadhil masih nyerocos terus.
"Lu bisa gak sih sehari saja tidak usah bahas Febby!" Kali ini Annas berbicara, ia membuat Fadhil bungkam ketika ia hendak melanjutkan kalimatnya
"Gak bisa! Karena gua suka Febby." Jawab Fadhil dengan santai setelah itu beberapa menit kemudian lengang di sekitar mereka menyisakan keheningan dan kesiur angin malam.
"Lu?" Annas berbicara dengan ragu, terkejut dengan kalimat yang baru saja Fadhil sampaikan
"Lu suka Febby?" Annas masih memastikan apakah benar yang diucapkan oleh saudaranya itu
Fadhil hanya mengangguk dan mengangkat bahunya, ia menatap Annas yang terlihat tidak percaya dengan ucapannya tadi. Keheningan kembali hadir di antara mereka berdua.
"Hahaha." suara gelak tawa terdengar
Annas bingung kenapa saudaranya tiba-tiba tertawa tanpa sebab. Ia hampir berlari takut saudaranya itu kesurupan.
__ADS_1
"Maksud gua kan wajar, cowok mana coba yang tidak tertarik dengan dia, yeah meskipun dia cuek tapi dia itu baik kok. Mangkanya gua memutuskan untuk suka dia." tambah Fadhil
Annas mengerutkan dahinya, pertanda tidak suka dengan kalimat yang diucapkan oleh Fadhil.
"Kenapa? Lu cemburu? Silahkan saja, gua gak peduli." ucap Fadhil lagi dengan santai
Annas hanya diam, menatap saudaranya lamat-lamat. Tatapannya menunjukkan bahwa ia setengah kesal setengah ragu.
"Lucu sekali lu! Hahahaha!" Fadhil tertawa lagi ia berhasil membuat Annas bingung lagi
"Lihatlah! Mana mungkin gua suka ke Febby. Gua hanya senang berteman dengan dia. Lu tenang aja, mana mungkin gua suka ke cewek yang juga disukai oleh saudara gua, hm?" ucap Fadhil sambil tertawa
BUK! kali ini Annas beneran melempar gitar ke arah Fadhil, beruntung Fadhil menangkapnya. Itu lumayan juga jika terkena kepala ataupun bagian tubuh.Annas kesal bukan karena perkataan Fadhil, melainkan suaranya keras sekali, bisa jadi masalah besar jika orang di dalam rumah mendengarnya juga.
"Lu bisa diem gak sih!" ucap Annas
Annas menghela napas panjang "Gua gak tahu." jawabnya singkat
"Kalau lu tidak suka ketika Febby deket dengan cowok lain itu artinya lu suka ke dia." Fadhil menjelaskan ke Annas ciri-ciri orang suka ke lawan jenis, seolah Fadhil adalah pakar di bidang tersebut.
"Lu gak bisa bohongin gua, gua memperhatikan lu di sekolah. Tingkah lu berubah banget semenjak bertemu dengan Febby." ucap Fadhil lagi, Annas hanya diam mendengarkan
"Apalagi kejadian tadi siang, kelihatan banget lu cemburu ketika Febby lagi bareng Satria. Lu langsung pergi saja, dan semua orang disana heran dengan tingkah lu. Entah apa yang akan dipikirkan Febby tentang lu. Mungkin dia akan tau kalau lu itu---."
"Ekhem! Kalian mau tidur di luar?" tanya kakaknya yang tiba-tiba saja berada di depan pintu, mereka menoleh terkejut. Berharap kakaknya tidak mendengar apa yang mereka obrolin.
"Kalian beneran mau tidur di luar? Oke." Azka langsung masuk ke dalam hendak menutup pintu
__ADS_1
"Eh! Bang, tunggu! Iya kita masuk!" Fadhil refleks berdiri, tadi ia terpaku ketika kakaknya tiba-tiba berada di depan pintu
"Ini sudah jam berapa heh? Gak lihat jam? Percuma kalian pakai jam tangan kalau tidak disiplin." omel Azka
Annas dan Fadhil ber-hmm dengan kompak. Mereka selalu merasa di setiap harinya tidak bisa lolos dari omelan Azka, kakak tertua mereka. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah.
"Iya bang, maaf." gumam Fadhil sambil melangkah ke dalam rumah, sedangkan Annas hanya diam tidak berkata apapun. Dia sudah terbiasa terkena omelan Azka
'Kalian memang perlu dikasih pelajaran.' Azka menatap kedua adiknya satu-persatu.
Pagi itu sangat cerah, matahari menyinari tumbuhan dan pepohonan. Terlihat beberapa burung berkicau merdu sepertinya itu merupakan rutinitas mereka setiap pagi. Rumah Annas meskipun terletak di kota tapi nuansanya seperti desa. Di sana terdapat lahan yang luas, isinya beberapa pohon-pohon rindang dan bunga-bunga indah. Kupu-kupu sangat senang hidup di sana. Tamannya sangat luas, dulu ketika kecil Azka selalu mengajak adik-adiknya bermain di taman. Kejar-kejaran, petak umpet, bermain sepak bola seperti permainan pada umumnya yang juga dilakukan oleh anak-anak seusia mereka, dulu.
Itu dulu sekali, keceriaan sangat terlihat di wajah mereka. Tapi ketika mereka beranjak dewasa, semuanya berubah. Eh? Maksudnya mereka tetap akur, tapi lebih sering berantem. Meskipun demikian berantem mereka itu hanya candaan, mereka memang suka bercanda, terlebih Fadhil yang suka bicara terus, ia sangat suka menggoda Annas, membuatnya marah dan kesal. Baginya itu adalah kebahagiaan tersendiri yang bisa membuat dirinya merasa menjadi orang terbahagia di seluruh jagat raya.
"Bu?Annas boleh tanya sesuatu?" Kali ini mereka sedang sarapan, seperti biasa mereka selalu mengobrol sambil makan.
"Sangat boleh, mau tanya apa nak?" Ibunya menjawab dengan ramah
"Teman cewek Annas ketika dekat dengan teman cowok termasuk Annas, dia seperti menghindar. Seperti harus ada jarak dulu di antara kita. Dia kenapa ya Bu? Apa dia phobia terhadap cowok?" Annas menatap wajah ibunya sangat menunggu jawaban darinya
"Sep---" Fadhil yang mau berkata bahwa ia tahu siapa cewek yang dimaksud Annas tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena kaki Annas lebih dulu mendarat menginjak kaki Fadhil. Fadhil mengaduh kesakitan
Sedangkan Azka tertawa membuat Annas dan Fadhil bingung.
"Itu bukan phobia, itu artinya dia ingin menjaga dirinya. Jarang sekali ada cewek seperti dia di jaman yang gila seperti ini." Azka sudah berbicara duluan sebelum Mirna
Annas dan Fadhil saling tatap.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...