
"Annas kemana Dhil?" tanya ibunya sambil meletakkan beberapa mangkuk berisi sayur di atas meja
"Di kamar Bu lagi baca buku, dia tidak mau diajak makan malam." Fadhil yang baru saja turun dari tangga ikut bergabung makan malam dengan Ibu dan kakaknya Azka
"Loh kenapa gitu?Tumben sekali anak itu." Ibunya duduk mengambil dua piring untuk anak-anaknya
"Masih kenyang katanya Bu." Fadhil menampani piring dari ibunya
Azka yang dari tadi sibuk dengan handphone nya kini menoleh ke Fadhil.
"Ada masalah di sekolah tadi?" tanya Azka tegas
"Lancar-lancar saja kok bang." Fadhil menjawab santai sambil menyendok nasi dan mengambil beberapa ayam goreng kesukaannya
"Tidak ada apa-apa bang, mungkin dia lagi ingin membaca buku atau apalah enggak paham juga." Suara Fadhil sedikit kurang jelas. Ia makan sambil bicara, di mulutnya penuh dengan nasi dan ayam goreng
"Telan dulu tuh makanan baru bicara!" ucap Azka yang masih penasaran kenapa dengan sikap Annas adiknya itu
Fadhil mengangguk sambil mempercepat kunyahan-nya, lalu mengangkat tangan pertanda minta maaf ke Azka.
"Sudah baca do'a nak?" tanya ibunya dengan ramah
Fadhil tersedak, ibunya langsung memberikan segelas air putih.
"Hehehe belum, maaf maaf efek terlalu lapar." Fadhil cengengesan
Ibunya menggelengkan kepala melihat anaknya sudah usia 17 tahun tapi masih seperti anak kecil saja. Di sisi lain Azka hendak pergi ke kamar Annas memastikan semuanya baik-baik saja, tapi ibunya menahannya.
"Biar nanti ibu saja yang kesana." Mirna memegang tangan Azka menyuruhnya duduk kembali, Azka pun menurut.
"Tadi di sekolah beneran lancar kan nak? Gimana soal pemilihan OSIS nya?" tanya Mirna pelan-pelan
"Lancar Bu, untuk pemilihan OSIS nya masih besok lusa Bu." jawab Fadhil
__ADS_1
"Syukurlah.Lalu gimana kabar dua teman kamu itu? Ani sama Febby?" tanya ibunya lagi
"Mereka baik-baik saja Bu. Kenapa? Mau mengundang mereka lagi ke rumah kita? Wah boleh juga, nanti Fadhil yang sampaikan ya!" ucap Fadhil bersemangat
"Antusias banget lu." ketus Annas yang turun dari tangga menuju ruang makan. Semua orang menoleh kepadanya.
"Eh Nak, kemari biar ibu ambilkan makan." Mirna langsung berdiri mengambil piring untuk Annas
"Terimakasih Bu." Annas tersenyum sambil bergabung duduk
"Lah! Katanya lu sudah kenyang." Fadhil menatap sinis Annas
"Bau masakan ibu selalu berhasil menggoda gua. Jadinya laper lagi." Annas mengangkat bahu sambil nyengir , ia langsung melahap makanan yang sudah disiapkan oleh ibunya
"Baca do'a dulu." ketus Azka
"Sudah bang." Annas terus melanjutkan makannya
"Kapan?" Azka mengerutkan keningnya
"Lihat Bu, apa-apaan mereka. Membaca do'a makan saja di buat main-main." Azka menatap kedua adiknya dengan tatapan tajam. Annas dan Fadhil menunduk merasa berdosa.
"Tidak boleh dibiarin, nanti malah kebiasaan." tambah Azka dengan tegas
"Sudah-sudah Azka, yang penting mereka sudah berdo'a. Nah, buat kalian lain kali jangan diulangi ya. Baca do'a yang baik, jangan dibuat bahan candaan." Mirna menasihati kedua anaknya dengan penuh sayang
Fadhil dan Annas mengangguk janji. Lihatlah, kedua remaja ini sudah umur 17 tahun tapi Dimata Abang dan ibunya mereka tetaplah seperti anak kecil yang harus dinasehati.
"Oh iya Bu, kami lupa memberitahu soal siapa yang memenangkan lomba cerdas cermat waktu itu." Fadhil asal mengambil topik pembicaraan setelah hening beberapa menit yang lalu
"Oh iya nak, memangnya siapa? Ibu juga penasaran." tanya Ibunya
"Febby dan Ani." Fadhil menjawab penuh antusias
__ADS_1
"Mereka? Kenapa gak cerita pas mereka berkunjung ke sini?" Azka bicara dulu sebelum Ibunya yang ingin mengatakan bangga
"Iya." Fadhil mengangguk, Annas hanya diam memperhatikan pembicaraan di meja makan. "Mereka keren, mangkanya Fadhil dan Annas ingin belajar kelompok dengan mereka suatu saat nanti." tambah Fadhil yang kini lagi-lagi mulutnya dipenuhi dengan makanan. Annas hanya menoleh lalu melanjutkan makannya.
"Ide bagus itu nak, Ibu juga suka sama mereka berdua. Mereka sopan, baik, dan manis. Terlebih lagi yang memakai kacamata." Mirna menuangkan air putih ke gelas, ia selesai duluan makannya.
Annas refleks menoleh ketika ibunya menyebut gadis berkacamata itu.Ia menatap lamat-lamat ibunya.
"Febby? Memang banyak yang kagum padanya." Fadhil melirik Annas sebentar.
"Apa?" Ketus Annas
"Bahkan kakak kelas pun iya, tapi sepertinya dia tidak tertarik. Entah cowok seperti apa yang berhasil menarik hatinya kelak." Fadhil mengangkat bahunya melanjutkan kalimatnya
"Itu artinya dia ingin fokus belajar dulu, enggak tertarik dengan yang namanya 'pacaran' atau apalah itu. Jelas sekali dia tidak mau terganggu konsentrasinya saat di sekolah." Azka menjelaskan, kini suaranya sedikit ramah
Fadhil mengangguk-angguk, sedikit setuju dengan apa yang dijelaskan Azka. Mungkin bisa jadi iya. Tapi Annas hanya menatap Azka kemudian meneguk air putih.Ia berdiri terlebih dahulu, seperti tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh abangny itu.
"Mau kemana lu?" Fadhil mendongak ke Annas
"Suka-suka gua lah mau kemana." ketus Annas
Fadhil melotot, ibunya menggelengkan kepala.
"Annas enggak boleh gitu." Ibunya menasihati
'Syukurin lu.' Fadhil gemas sendiri
Annas menghela napas. "Mau ke teras."
"Ngapain?" Fadhil memang terlalu banyak bicara, banyak bertanya pula. Padahal dia sudah tahu persis kalau sifat saudara yang satunya itu sangat galak dan cuek. Tidak peduli siapapun dia bahkan ke saudaranya sendiri. Kecuali ke Mirna, ibunya. Ia sangat menghormati beliau. Azka? Kadang hormat kadang sikapnya seperti ke temannya, tetap cuek.
Annas tidak menjawab, ia langsung pergi ke teras depan. Sebelum itu ia pergi ke kamarnya mengambil sesuatu. Ibunya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Azka hanya memperhatikan tingkah kedua adiknya itu. Setelah makan malam selesai, semua meninggalkan ruang makan kecuali Mirna, ia masih sibuk membereskan piring dan mangkuk di atas meja.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...