NAWAITU | Niat Awal Menuju Ridho Ilahi

NAWAITU | Niat Awal Menuju Ridho Ilahi
Bab 21


__ADS_3

Persis Fadhil sampai di kelas bel sudah berbunyi, waktunya berkumpul di lapangan.Tapi ada yang aneh, kemana tas Annas? Bukankah dia sudah sampai duluan? Fadhil bingung. Karena para siswa sudah berlari-lari menuju lapangan, maka Fadhil pun ikut ke lapangan. Nasib, karena sedikit telat dia kebagian baris paling belakang. Biasanya mereka berdua berada di barisan paling depan. Tapi Fadhil masih kebingungan mencari saudaranya itu di barisan kelas sebelas IPA satu. Nihil.


Upacara bendera dimulai.


"Pemimpin upacara dipersilahkan memasuki lapangan upacara." ucap pembawa acara


"Eh! Lihatlah! Bukankah itu Annas? Kenapa dia yang jadi pemimpin upacara?" siswi di belakang barisan berbicara


"Benar!Dia terlihat keren emang." ucap siswi lainnya


"Heh! Berisik tahu gak! Inget ya Annas itu punya gue!" ucap Fitri kesal


"Dasar! Siapanya Annas sih dia? Annas aja tidak pernah nanggepin dia." gumam siswi tadi sambil melirik sini ke arah Fitri


"Enak aja! Bilang apa barusan heh?" Fitri melotot


"Ngobrol terus! Kalau mau bicara maju ke depan!" tegur Pak Iwan yang tiba-tiba berada di belakang mereka. Mereka menoleh tersenyum, lalu memperbaiki barisannya. Akhirnya diam.


'Ngapain tuh bocah jadi pemimpin upacara? Bukannya hari ini waktunya kelas sebelas IPA tiga?' Fadhil bertanya-tanya


"Feb! Annas." bisik Ani


"Iya terus?" Febby masih menghadap ke depan


"Dia sepertinya ngeliatin kamu terus deh Feb." bisik Ani lagi


"Jangan ngarang deh An." ucap Febby


"Serius Feb, coba deh li--"


"Annn! Hussstt!" Febby melotot ke Ani


"Hehehe iya iya." Akhirnya Ani berhenti menggoda Febby


Akhirnya upacara selesai. Hari itu panas sekali membuat para siswa merasa lega saat barisan telah resmi dibubarkan oleh pemimpin upacara. Lihatlah, hanya kepanasan sudah ngeluh, belum ikut berjuang melawan penjajah.


"Woi, kok lu yang jadi pemimpin upacara? Bukannya ini waktunya kelas sebelas IPA tiga ya? Terus mana tas lu? Tadi gua nyari di kelas gak ada." Fadhil yang baru saja menghampiri Annas langsung memberinya banyak pertanyaan


Annas menghela napas panjang."Tadi disuruh sama Pak Iwan buat gantiin, soalnya gak ada yang mau jadi pemimpin upacara, terus tas gua titipkan di ruang guru lebih tepatnya di ruangannya pak Iwan." jawab Annas


Fadhil manggut-manggut. "Gimana rasanya jadi pemimpin upacara?" Fadhil mengangkat alisnya


"Biasa aja." jawab Annas dengan wajah datarnya


"Maksud gua gimana rasanya berdiri tepat di lurusnya siswi kelas sebelas IPA dua?" Fadhil mulai menggoda Annas, tapi Annas masih belum paham. Apa maksudnya?Setelah beberapa detik kemudian akhirnya ia paham apa yang dimaksud Fadhil.


"Aduuuh! Sakit Weh." Annas menginjak sepatu Fadhil


"Sorry, disengaja." Annas mulai pergi memasuki ruang guru

__ADS_1


Fadhil mengepal tangannya mengaduh kesakitan.


"Kenapa lu?" ucap Satria yang tiba-tiba muncul di depan Fadhil bersama gengnya


"Bukan urusan lu." ketus Fadhil, ia masih kesakitan


"Mana temen lu itu?" tanya Satria lagi


"Siapa?" Fadhil balik nanya


"Saudara lu yang songong itu." jawab Satria


"Bukannya lu ya yang songong?" timpal Fadhil


"Apa lu bilang! Lu berani sama gua ha?" ucap Satria


"Berani, tapi nanti-nanti aja lah kalau mau ngajak berantem, kaki gua lagi sakit. Bye!" Fadhil melambaikan tangan meninggalkan Satria dan gengnya, tentu saja dengan jalan seperti orang pincang


"Heh mau kemana lu!" teriak Satria


'Syukur deh kalau Satria tidak mengejar gua.Bisa-bisanya gua tadi sok-sokan nantang dia'  Fadhil menepuk jidatnya


"Haduh Sat, jangan keras-keras nanti kedengeran sama guru-guru." ucap Adit. Benar, di depan kantor masih ada beberapa guru yang berdiri di sana entah sedang mengobrol tentang apa.


Satria akhirnya menurut dan mengajak teman-temannya pergi ke halaman belakang.


Sesampainya di kelas Fadhil dikejutkan lagi, tidak ada Annas disana, tasnya juga tidak terlihat.


"Mau kemana? Ini sudah bel heh." Fadhil berpapasan sama pak Iwan


"Eh Pak Iwan, sa-ya mau ijin ke kamar mandi pak." jawab Fadhil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Buruan! Bentar lagi ada ulangan." ucap Pak Iwan dengan tegas


"Ba-ik pak." Fadhil berlari


'Duh Annas mana sih, gak denger apa sudah bel gini. Sudah tau jam pertama diisi pak Iwan.' omel Fadhil dalam hati sambil berlari, menoleh kesana kemari mencari Annas.


"Fadhil mau kemana?" tanya sosok perempuan tinggi yang baru saja keluar dari kantor guru


"Eh Bu Mila, saya mau cari Annas Bu. Apakah ada disini dia Bu?" jawab Fadhil sambil tersenyum


"Annas? Bukankah sudah di kelas? Setelah upacara dia sudah mengambil tasnya dari ruangan pak Iwan. Saya melihatnya tadi." ucap Bu Mila dengan nada yang sangat ramah


'Ini aneh sekali, kemana dia?'


"Baik Bu, terimakasih banyak." ucap Fadhil sambil kembali lagi ke kelasnya, sebelum itu ia menoleh ke lapangan terlihat Satria dan teman-temannya sedang tertawa. Ah, mungkin mereka sedang bahagia biarkan saja. Fadhil terus menuju ke kelasnya, hasilnya ia tetap tidak bisa menemukan Annas.


Ketika Pak Iwan memanggil nama siswa satu-persatu, Fadhil memutuskan untuk memberitahu kepada Pak Iwan bahwa Annas ijin karena sakit, jadi ia tidak akan mendapat marah karena tidak ikut ulangan.

__ADS_1


***


"Hai Feb!" Satria melambaikan tangannya, Febby hanya balas mengangguk.


"Eh Sat! Tangan kamu kenapa ada darahnya?" Satria baru menyadarinya, ia segera menghilangkan darah itu supaya Febby tidak tahu apa yang baru saja terjadi


"Kamu gak berulah lagi kan Sat!" Ani melotot, teman-teman Satria diam, tapi Satria hanya melambaikan tangan ke Ani, mengabaikannya. Dia pergi meninggalkan Ani dan Febby.


"Dia pasti berulah lagi." bisik Ani ke Febby


"Sudah An jangan suudzon dulu, kita gak tau apa yang terjadi kan." ucap Febby


"Tapi Feb.. kamu gak tahu dia itu se---"


"Lihat! Itu bukannya Annas ya? Dia habis berantem dengan siapa? Wajahnya babak belur gitu." ucap salah satu siswi. Benar itu dia Annas, dia muncul dari gedung halaman belakang sekolah. Kondisinya buruk, jalannya pincang, tangannya memegang pipinya yang berdarah.


"Tuh kan!" Ani langsung berlari ke arah Annas, tak lupa tangannya menarik Febby


"Annas? Kamu habis berantem sama Satria ya?" tanya Ani, Annas hanya mengangguk meringis kesakitan sesekali melihat ke arah Febby yang memerhatikannya dari tadi.


"Duh kondisinya buruk sekali Feb. Eh? Feb! Kamu kan anggota PMR, buruan obati Annas." ucap Ani lagi dengan nada khawatir


"Harus aku An?" bisik Febby ke Ani


"Iya Feb siapa lagi? Kita gak ada waktu untuk mencari anggota PMR cowok. Cepet Feb, kasian dia!" Ani mendesak Febby, akhirnya Febby menurut.


"Ayo ke UKS." Febby mengajak Annas


"Enggak usah." jawab Annas masih meringis kesakitan


Ani menepuk jidatnya. "Annas kamu harus diobati biar luka-luka kamu cepet sembuh." ucap Ani


Annas sekali lagi menggeleng, "Gua baik-baik saja." Annas menolak.


"Eh Feb! Mau kemana?" teriak Ani


"Ke kantin." jawab Febby sambil berlari


Ani bingung, ngapain dia ke kantin. Sedangkan Annas memutuskan untuk duduk di bangku dekat mereka. Ia meluruskan kakinya. Kondisinya memang buruk, seragam sekolahnya kotor seperti habis bergulat.


Beberapa menit lagi Febby kembali, di tangannya ada baskom.Tanpa bicara apa-apa Febby langsung duduk di sebelah Annas.


"Nah bener, di kompres." ucap Ani


"Enggak usah Feb." Annas masih menolak, ia hendak berdiri.Tapi Febby menarik lengan Annas.Eh? Enggak, tenang aja, Annas masih memakai jas almamater.


"Duduk." perintah Febby, akhirnya Annas menurut.Dengan kondisi seperti itu ia tidak mungkin bisa lari. Febby segera mengompres lebam-lebam di wajah Annas.Ani hanya diam menonton mereka berdua.


"Itu romantis sekali." ucap salah satu siswi yang juga menyaksikan mereka berdua. Jelas sekali mereka bukan hanya bertiga di lapangan, tapi ada beberapa siswi yang masih ada di sana. Jam olahraga belum dimulai, entah kemana gurunya. Annas memerhatikan mereka yang membicarakannya, tapi Febby tidak peduli, ia terus fokus mengobati luka Annas.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2