
"Apa yang dikatakan kakakmu itu benar nak. Seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. beliau pernah bersabda bahwa malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lain pun akan terangkat.Nah, dari situ Rosul memberi contoh kepada kita semua bahwa malu itu adalah identitas akhlak Islam. Bahkan rasa malu tak bisa lepas dari iman begitupun sebaliknya."
Annas, Fadhil, dan Azka memperhatikan ibunya bicara.Sesekali manggut-manggut paham, sesekali kedua anak bungsunya itu melipat dahinya. Mereka jelas mendapat ilmu baru.
"Nah khusus bagi muslimah rasa malu merupakan mahkota kemuliaan bagi dirinya. Pernah ada yang bilang bahwa wanita yang sejatinya cantik itu adalah wanita yang memiliki rasa malu pada dirinya sehingga membuat dirinya terhormat dan dimuliakan.Jadi temen kalian melakukan itu senantiasa demi kebaikan bersama. Dia bisa menjaga dirinya dengan baik, juga bisa membuat lawan bicaranya menundukkan pandangan. Karena wanita yang Sholehah itu adalah wanita yang tidak dipandang dan tidak memandang."
Ketiga anaknya itu masih mendengarkan penjelasan dari ibunya dengan seksama.
"Nah untuk kalian berdua, kalian sudah beranjak dewasa tinggal menunggu hitungan bulan. Kalian memang seharusnya belajar tentang Islam. Contohlah Abang kalian Azka. Dia sesibuk apapun kegiatannya ia tetap meluangkan waktu untuk mengkaji Islam" Annas dan Fadhil menatap Azka. kapan? Kenapa tidak cerita ke kami?Bahkan kami tidak pernah mendengar bang Azka ngaji di rumah. Begitulah ketika membaca ekspresi mereka.
"Kalian harus mengkaji ilmu Islam. Hidup itu tidak cukup menimba ilmu dunia saja, harus dibarengi ilmu akhirat anak-anak, supaya kita bisa selamat, supaya kita semua bisa tahu mana jalan yang benar mana jalan yang dimurkai Allah SWT. Karena kita hidup di dunia ini karena siapa? Karena Allah SWT. Kita hidup di bumi milik siapa? Milik Allah SWT. Karena itulah kita harus mematuhi segala aturan yang telah disampaikan melalui kekasihnya, Rosulullah SAW. lewat ajaran-ajaran beliau, memahami isi dari Al-Qur'an, hadist, dari situlah kita paham bagaimana aturan-aturan hidup di dunia."
Mirna berhenti sejenak, meja makan menjadi lengang.Ketiga anaknya masih menunggu kalimat-kalimatnya.
"Kita hidup di dunia ini hanya sebentar nak, tidak ada gunanya kita mengejar dunia mati-matian. Kelak kita semua akan pulang ke kampung kita sebenarnya, kampung akhirat. Fadhil bertemu dengan ayahnya, sedangkan Azka dan Annas akan bertemu dengan ayah ibu kalian." Mirna lagi-lagi menghela napas panjang, ketiga anaknya itu tertunduk, terlebih lagi Annas ia sudah menyeka pipinya. Hei? Annas menangis?
"Dari kejadian masa lalu yang kita alami, harusnya itu semua membuat kita sadar bahwa dunia ini hanya sementara, tidak abadi.Maka dari itu jadilah anak-anak yang baik, yang bermanfaat bagi orang lain. Dan yang paling penting jangan terus-terusan sedih karena pernah kehilangan orang yang paling kita sayang, karena sejatinya hanya soal waktu kita akan menyusulnya.Semoga saja kelak kita akan berkumpul lagi di kampung akhirat sana." Mirna tersenyum menatap putranya satu-satu
"Aamiiin." ketiga putranya berkata pelan dengan wajah yang masih nunduk.
"Baiklah, sekarang lanjutkan makanan kalian dan segera berangkat. Ini sudah hampir jam 7." ucap Mirna
__ADS_1
Eh? Fadhil meloncat dari kursinya, kaget. Sepertinya dia sudah melupakan kalimat-kalimat haru dari ibunya yang barusan.Annas yang terlihat menangis langsung menatap jam dinding. Benar. Mereka akan terlambat, sesegera mungkin mereka menyelesaikan makanannya lalu berpamitan untuk berangkat sekolah tak lupa mereka mengucapkan salam. Juga Azka.
Tinggal seratus meter lagi hampir sampai di sekolah tapi mereka mengendarai motornya dengan pelan.Bukan karena santai melainkan macet. Hari ini adalah hari Senin, kesibukan orang-orang sangat terlihat. Fadhil menepuk jidatnya. Sudah jelas akan macet jika berangkat jam setengah tujuh lebih, apalagi di hari-hari sibuk. Senin. Ini buruk sekali, ini akan menjadi hari pertama mereka telat pergi ke sekolah. Hei? Bagaimana mungkin calon ketua OSIS telat?Apa yang akan dikatakan guru-guru?Terlebih lagi fans-fans mereka yang sudah tidak sabaran ingin menyoblos wajah mereka.
"Woi! Gimana nih?Macet." teriak Fadhil yang berada di samping Annas, motor mereka bersebelahan
"Anak kecil juga tau kalau ini macet." jawab Annas
"Maksudnya ini sudah jam 07.40 WIB." teriak Fadhil lagi
"Iya gua tau, gua juga punya jam." Annas menunjukkan jam tangannya
"Astaghfirullah!" Fadhil melotot ke Annas. Jika situasinya tidak lagi di tengah jalan raya, Fadhil pasti sudah menjitak kepala Annas. Bisa-bisanya dia masih bisa bercanda di situasi genting kayak gini.
"Iya gua tahu kalau nunggu gini lama." jawab Annas lagi yang kepalanya masih fokus melihat-lihat ke depan siapa tahu ada celah untuk menyalip kendaraan di depan mereka
"Heh! Lu bilang iya gua ta---"
"Kita jalan." Annas memotong duluan
Eh? Jalan? Gimana dengan sepeda motor yang mereka kendarai?
__ADS_1
"Kita titipkan ke mamang bakso aja. Kita lari, buruan atau enggak kita akan telat." ucap Annas yang sudah mematikan mesin motornya melangkah ke mamang bakso di pinggir jalan.
Fadhil masih kaget dengan keputusan yang diambil Annas.
"Buruan Weh!" Annas membuat Fadhil kaget. Fadhil segera turun memarkirkan sepedanya di rumah mamang bakso. Kebetulan disana ada tukang bakso yang akrab dengan mereka karena sering beli disana. Annas dan Fadhil sering membawa oleh-oleh bakso untuk ibunya, itu memang makanan kesukaannya.
"Mang titip motor bentar ya, nanti pulang sekolah kita ambil." ucap Annas sambil melambaikan tangannya
"Eh iya cah. Taruh saja, tapi kalau hilang mamang gak bertanggung jawab ya." tukang bakso itu berteriak sambil melayani pembeli
"Enak saja! Ini motor mahal bang lagi trend di jaman ini." ucap Fadhil kesal, Annas menepuk jidatnya. Bisa-bisanya Fadhil masih nyerocos terus, padahal waktu mereka untuk lari sudah kurang lima menit lagi, bel akan berbunyi, siswa akan disuruh berkumpul di lapangan untuk pelaksanaan upacara bendera.
"Heh! Buruan! Jangan percaya sama apa yang diucapkan mang bakso! Dia emang suka bercanda." teriak Annas yang sudah berlari duluan
"Eh?" Fadhil bingung menatap mamang bakso. Tukang bakso itu menyeringai. Dasar. Fadhil kembali fokus ke Annas yang sudah lari duluan, jauh sekali jaraknya. Ia segera mengejarnya.
"Jangan ditutup pak!!!" teriak Fadhil ke pak satpam yang hampir saja menutup gerbang sekolah
"Heh! Siswa teladan yang sering di puji guru-guru, tumben telat? Mana motor yang keren itu? Kamu jalan kaki?Berlari?" Satpam mempersilahkan Fadhil sambil melontarkan banyak pertanyaan
"Aduh nanti-nanti sajalah aku jawab pak,duluan ya. Bye!" jawab Fadhil yang ngos-ngosan sambil melambaikan tangannya. Annas? Dia sudah berhasil sampai duluan dibandingkan Fadhil, larinya memang cepat sekali.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...