
"Feb?" Ani menatap Febby lamat-lamat, menyentuh bahunya dengan lembut. Febby terdiam, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Jelas sekali ia sangat mengingat kejadian empat tahun lalu sebelum Febby dipaksa untuk pindah ke kota. Sebelum ia meninggalkan kakek neneknya, kakek San dan Nenek Sin di desa. Malamnya mereka masih sempat berkumpul di ruang tengah, semacam ruang tamu. Tidak luas hanya berukuran 4x6 meter. Di dalamnya hanya ada lampu teplok juga tikar yang diduduki mereka bertiga. Di dinding yang terbuat dari anyaman bambu itu ada beberapa foto para ulama besar di kotanya, juga kalender, disamping jam dinding sisi kanannya ada foto kakek San dan Nenek Sin sedang duduk berdua tersenyum bahagia. Di sisi kirinya ada foto Febby saat masih kecil yang duduk di pangkuan neneknya. Di foto itu nenek Sin terlihat sangat bahagia, dan Febby terlihat lucu sekali. Kisaran usia dua-tiga tahun, rambutnya sepinggang terurai berwarna hitam kecoklatan, gaun yang dipakainya berwarna merah muda membuat kulitnya semakin cerah. Febby terlihat tertawa di foto itu memperlihatnya dua giginya yang ompong.
"Kek? Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Febby memecahkan lengang sejenak, sebelumnya mereka bertiga telah selesai melakukan rutinitas mengaji bersama di ruang itu. Kakek dan neneknya dengan senang hati mendengar lantunan suara merdu Febby saat ia sudah mulai lancar membaca Al-Qur'an. Kakek neneknya selalu menyimak, setiap ada bacaan yang salah mereka siap menegur dengan nada yang lembut, tidak pernah membentak, terkadang di tengah-tengah suasana mereka saling tersenyum dan tertawa. Manis sekali memang keluarga kecil mereka di malam itu, tidak ada yang menyangka bahwa pagi-pagi sekali orang tua Febby menelpon kakek San ia tiba-tiba menyuruh Febby tinggal di rumah mereka. Awalnya kakek San dengan senang hati jika orang tua Febby sudah berubah pikiran
"Tentu saja boleh nak, apa yang hendak kamu tanyakan hm? Kakeknya akan selalu punya jawaban yang tepat untukmu, semoga jawabannya bisa membantumu dari jalan kebingungan." neneknya menjawab dulu, kakeknya tersenyum kepada Febby, ia siap mendengarkan kebingungan yang dialami oleh cucu tunggalnya itu.
"Persis tadi subuh kakek mengajariku tentang hukum pacaran di dalam agama kita, dan seperti kebetulan sekali tadi di sekolah aku melihat temanku sendiri berpacaran. Jelas aku tidak tinggal diam, aku menasihati temanku itu, dia mulai memahami dan berusaha untuk mengerti. Awalnya aku merasa lega, mengira bahwa dia akan memutuskan hubungannya tapi ternyata itu kebalikannya. Teman Febby tidak mau putus, karena ia terhasut oleh pacarnya, bilang jika aku hanya membual, tukang bohong, dan tidak bisa dipercaya. Tapi aku tidak menyerah, sekali dua kali gagal, aku terus berusaha untuk mengingatkannya." Febby menghela napas sebentar, terdiam..
"Waktu pulang sekolah kami seperti biasa berdua. Namun saat itu dia mengajakku berbicara serius soal tadi siang. Ia sudah memutuskannya, temanku lebih memilih mempertahankan pacarnya dibandingkan mau berteman denganku lagi." Febby menunduk, matanya berkaca-kaca
Kakek San menatapnya sambil tersenyum, menyentuh pundak Febby. "Dengarkan ini baik-baik nak, di dunia ini kita tidak punya kuasa apapun. Jodoh, rezeki, maut semua sudah diatur oleh Allah SWT. Manusia hanya bisa memilih, mana jalan yang menurut dia benar dan mana jalan yang menurut dia harus ditinggalkan. Usaha kamu itu sudah baik sekali nak, dengan mengingatkan teman kamu agar tidak berbuat dosa. Tapi ada lagi yang kita tidak punya kuasa terhadap sesuatu, membuka hati manusia." Febby mengangkat kepalanya, menatap kakek San
Kakek San tersenyum juga nenek Sin. "Kita memang tidak bisa membuka hati manusia sayang, kita tidak bisa terus memaksa mereka, selama kita sudah mencoba Allah sudah senang dengan itu. Dunia ini berputar dengan kehendak Allah SWT, pun juga manusia. Manusia diciptakan oleh siapa? Allah SWT. begitupun juga hati manusia. Manusia tidak bisa membuka hati manusia lain, yang berkuasa atas itu adalah yang menciptakan hati manusia. Siapa? Allah SWT. " kali ini Febby menatap nenek Sin, kali ini neneknya yang menjawab
"Kata nenekmu itu benar nak, masalah ia tidak mau berteman dengan kamu biarkan sudah. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan itu sudah hukum alam nak. Allah SWT pasti akan memberikan teman-teman yang lebih baik dari sebelumnya, apalagi kepada orang yang baik." Kakek San mengusap kepala Febby dengan lembut.
Febby mengangguk, menyeka ujung matanya lalu tersenyum. "Terima kasih kakek, nenek. Terima kasih banyak." Febby menatap kakek neneknya satu persatu.
Kejadian itu, kejadian itu membuat Febby takut. Ia takut kehilangan sahabatnya lagi. Febby mengambil nafas dalam-dalam. Ia masih tidak mau bicara.
__ADS_1
"Feb? Kamu kenapa sih?" Ani masih bertanya
Febby hanya membalasnya dengan gelengan kepala. Tidak apa-apa.
"Feb, maaf.." Ani menunduk menatap mangkuk baksonya yang telah habis
Febby menoleh, kenapa Ani minta maaf?Sebelum Ani melanjutkan kalimatnya tiba-tiba tiga siswi datang dan berhenti tepat di meja mereka.
"Heh! Kamu kan yang namanya Febby?" cewek itu menggertak Febby sambil memukul meja kantin. Febby dan Ani kaget dan bingung, mereka saling tatap. Apa tujuan dia marah-marah?
"Iyakan? Kamu yang namanya Febby? Oke langsung saja, aku minta kamu jauhi Annas!" cewek itu berkata serius
"Iyalah siapa lagi!" cewek itu masih berkata dengan nada tinggi, Febby menghela napas pelan juga Ani.
"Kamu bukannya Fitri ya? Yang kandidat ketos juga?" Febby mencoba mengingat-ingat lagi soal gadis itu
"Yeah." Fitri melengos
"Kalian mending duduk dulu, kita bicara baik-baik. Atau kalian juga mau pesen bakso? Aku bantu bilangkan ke Bu kantin ya?" kali ini Ani menawarkan mereka duduk
__ADS_1
"Heh enak saja! Aku kesini bukan untuk makan bakso apalagi semeja dengan kalian.Aku kesini mau ngasih peringatan ke temen kamu ini." Fitri menunjuk Febby, "Jauhin Annas atau kamu akan berurusan dengan aku, paham?" Fitri sekali lagi mengancam Febby
Febby menghela napas, "Memangnya aku sama Annas kenapa? Kita cuma temenan biasa." Febby menjawab datar
"Nah lebih baik kalian tidak usah berteman, lagian ngapain sih kamu deketin Annas heh? Jangan-jangan kamu juga nyalonkan jadi ketos supaya bisa tambah dekat sama Annas? Ngaku gak!" Febby menepuk dahinya pelan, tidak peduli jika baru saja ia dibentak oleh Fitri
"Nah kan diem, berarti benar selama ini dugaan kita Fit! Dia suka ke Annas." ucap Nisa membuat Fitri semakin kesal. Ani hendak mengajak Febby pergi tapi Febby menolak, membiarkan Fitri dan teman-temannya mengeluarkan semua unek-unek di kepalanya.
"Ada apa ini?" tiba-tiba saja siswa datang di tengah-tengah mereka. Tingginya kurang lebih 178 cm, tubuhnya kekar, kulitnya lumayan putih, matanya hitam mengkilat, tatapannya tajam. Seketika membuat Fitri memundurkan langkahnya dari meja yang ditempatin Ani dan Febby, melongo melihat siswa itu. Siapa dia? Nisa dan Naya saling bergumam, tampan sekali.
"Eh?" Febby refleks berdiri melihat kehadiran siswa itu, Ani juga ikut berdiri, "Mas Andi.." gumam Ani
"Ada apa ini? Kalian tadi sepertinya marah-marah ke Febby? Benar? Aku melihatnya dari jauh." Andi menatap Fitri dan kedua temannya
"Eh, tidak juga.Kakak pasti salah lihat. Tadi kami cuma belajar akting, praktek bahasa Indonesia." Nisa menjawab dulu sambil tersenyum-senyum kepada Andi, kagum. Dia jelas lagi membual. Fitri melotot kepadanya, kenapa dia harus berbohong?
"Oh begitu, baiklah. Jika tidak keberatan aku ingin meminjam Febby sebentar, aku ingin bicara dua mata dengannya. Boleh?" Andi menatap satu persatu siswi yang ada di hadapannya
Febby hampir memaki dalam hati, 'meminjam?enak saja, dikira apaan?', batal. Karena matanya telah menangkap seseorang yang berdiri di seberang kantin sana.Tangannya mengepal, wajahnya terlihat sangat marah.Satria.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...