Night Fate

Night Fate
Rain is a silent witness when we meet..


__ADS_3

Haikal mengayuh sepedanya menuju sekolahanya yang tak jauh dari apartemen tempatnya tinggal.


Saat di gerbang beberapa anak yang terkenal 'berandalan ' menghentikanya, dan menjadi sok akrab padahal hanya ingin memalak.


"wih.. baru berangkat? eh.. iya.. bayar dulu klo mau masuk.. " ujar salah satu dari mereka yang langsung merangkul kan tanganya di bahu Haikal sok akrab.


Haikal pasrah, dia tidak bisa melawan, dia hanya siswa beasiswa yang sering menjadi bahan bully-an.


Haikal menerogoh sakunya dan hendak mengambil uangnya sebelum suara teriakan mirip mak Lampir terdengar, "Woi.. Lycoris suruh kita ngumpul.. katanya mau traktir kita di bar nanti.. oi.. "


sontak siswa-siswa itu menoleh, tak jauh dari sana dua orang gadis berdiri, mereka terlihat heboh sendiri.


Haikal diam-diam ikut menoleh, namun.. dia tidak mendapati Lycoris, hanya ada Ruka ( dulunya Author panggil Hana) dan Yuka.


"Ho.. bentar ngapa.. " Alex berteriak pada Yuka dan Ruka.


"Udah Woi.. cepetan.. Uang lu juga banyak kali.. udah biarin lain kali aja.. ini itu langka kali.. " Yuka berteriak, Seandainya Haikal tidak berada diantaraa mereka dia pasti sudah menutup kedua telinganya rapat-rapat. tapi itu akan di'cap' menghina.


Sekumpulan itu saling tatap sebelum akhirnya saling mengangguk, "Lo Slamet kali ini.. " Aris menepuk pundak Haikal sambil menyusul teman-teman nya yang sudah pergi duluan.


sepeninggalan mereka Haikal menghembuskan nafas lega, Uang jajan ya tidak berkurang, lagi..


Dia sempat berfikir apakah Lycoris memang menolongnya? atau itu hanya kebetulan? tapi.. dia tadi tak melihat Lycoris.. hanya Ruka dan Yuka.


hmm.. baiklah.. begitupun dia harus bersyurkur karena uang jajannya tidak berkurang.


Haikal kembali mengayuh sepedanya masuk ke sekolahanya ke arah parkiran dimana sepeda-sepeda di parkirkan.


bisa dibilang cukup banyak juga anak yang menggunakan sepeda dan kebanyakkan atau memang sering adalah anak-anak beasiswa, dan sisianya pastilah Motor atau mobil yang tentu saja itu dari kalangan anak-anak orang kaya.


mereka yang kaya masuk karena Uang dan kedudukan, sedangkan yang Menengah kebawah harus berjuang meraih prestasi.


ʕ´•ᴥ•`ʔ


Haikal masuk ke kelasnya tanpa hambatan anak-anak berandal lagi.


dia segera duduk di bangku nya dengan tenang sebelum salah satu temanya(teman seenak beasiswa) datang dan mengajaknya mengobrol hal soal pelajaran.


Namanya Reza,dia salah satu teman terdekat yang Haikal miliki di sekolahan ini, mereka selalu Berdiskusi soal pelajaran atau Bekerjasama saat Mengerjakan PR/tugas yang dikerjakan berkelompok jga.


"oh ya.. PR kemaren itu Rumus Pythagoras nya lumayan panjang juga.. sampe pusing gwe.. " Reza lebih gaul dari Haikal yang lebih sering menggunakan aku-kamu.


"yah.. emang gitu kan rumusnya.. harus di kali trus di bagi dan di tambah.. " balas Haikal.


"eh ya.. lo tadi kena palak? " tanya Reza agak penasaran sebab dia juga sering jadi 'target'.


"nggak.. aku nggak kena palak.. " jawab Haikal tenang.


"wih... beruntung jarang banget bisa lolos dari palakanya temen-temennya Alex.. " ujar Reza berbinar.


"syukur aja.. "


"selamat pagi anak-anak.. " Reza dan Haikal segera memperbaiki posisi duduk mereka menghadap kedepan lurus ketika seorang guru wanita masuk dengan konde yang lumayan waw.


setelahnya pelajaran dimulai.


Haikal dan Reza menyimak dengan cermat segalanya yang di terangkan guru itu.

__ADS_1


(๑ↀᆺↀ๑)


keadaan kelas Haikal sepi hanya dia dan Reza dan dua siswi yang tengah membersihkan kelas karena ini piket mereka, sebenarnya ada beberapa siswa-siswi lagi tapi mereka tidak ikut dan meminta ke empat nya yang melakukanya.


langit menggelap dan setetes demi setetes air turun dari langit membuat deru hujan terdengar.


"Yah... ujan.. huh.. pasti ntar depan kelas kotor deh.. " keluh Nina, siswi yang memiliki dandanan polos dan terkesan menawan itu mendengkus.


"iya.. besok harus ngepel deh gantinya.. males banget.. tapi ntar klo Sara sama temen-temen nya tau kita bisa kena masalah.. " saut siswi satunya yang berkacamata bundar dengan dua kepangan, terkesan cupu.Wina


"udahlah.. mau gimana lagi.. bisa apa coba? " Reza menyaut.Nina dan Wina menatapnya lalu saling tatap dan mendenggus bersamaan.


Haikal hanya mendengarkan dalam diam.


sesekali dia memandang ke arah luar lewat jendela kelasnya yang basah dan berembun.


entah kenapa dia suka hujan, karena suara hujan membuatnya tenang.. dan dinginya suhu saat hujan malah membuatnya serasa.. hangat.


Aneh memang..!?


Wina dan Nina memilih pulang lebih dulu setelah selesai tinggal Reza dan Haikal yang memilih mencoba menunggu sampai hujan reda.


mereka duduk di bangku entah milik siapa sembari membahas PR yang di berikan guru tadi, lebih tepatnya mengerjakan juga.. mereka bukan hanya mengerjakan milik mereka tapi beberapa teman menitipkan ke mereka untuk di kerjakan PR nya.


Haikal dan Reza mengerjakan semuanya dengan teliti dan tepat, sesekali mereka berdiskusi untuk jawaban yang mungkin sama atau berbeda.


Reza beberapa kali kadang menggerutu karena yang meminta mengerjakan padanya cukup banyak, tapi apalah daya sebagai anak beasiswa.


hampir satu jam mereka di sekolah dan akhirnya semuanya selesai, Hujan mulai mereda meski tidak benar-benar berhenti.


Reza dan Haikal akhirnya memilih pulang, dan di gerbang berpisah karena berbeda arah, Haikal memutuskan menuntun sepedanya sembari menikmati Hujan yang tidak terlalu deras, sekarang dia tidak peduli meski bajunya mulai basah.


Haikal memutuskan berhenti ke sebuah Warkop yang agak sepi, dia memarkirkan sepedanya di samping warkop itu dan masuk lalu memesan teh hangat.


"Neduh juga? " Haikal terkejut bukan main saat mendengar suara itu, dia menoleh kesampingnya dan manik mata hitamnya bertatapan langsung dengan manik mata coklat indah itu.


Haikal berfikir sejak kapan Lycoris ada disini? ataukah dia yang memang tidak memperhatikan saat masuk dan duduk tadi?. entahlah.. tapi yang pasti Haikal tertunduk setelah mengangguk.


"Buk.. cepetan ngapa Teh angetnya.. Kopi saya juga mana.. " Lycoris berucap seperti memang sudah akrab dengan pemilik warkop itu.


"Iya.. iya neng.. tunggu ngapa.. ini aernya juga belum mateng.. " ibu-ibu pemilik warkop itu menjawab lantang.


"Udah nggak usah kaku-kaku amat.. santai aja" ujar Lycoris pada Haikal datar.


sembari menyulut sebatang rokok di tanganya dengan korek api di meja,.


Haikal tersentak dan refleks menoleh ke arah Lycoris yang merokok dengan santainya.


seorang gadis merokok? dipikir-pikir lagi.. itu cukup.. entahlah bagaimana.. tapi Haikal terkejut karena Lycoris merokok dengan santainya.


Saat kecil dulu jangankan Rokok Hal seperti bolos saja Haikal hindari alias memang tidak paham dan tidak tertarik.


Haikal segera memalingkan wajahnya saat Lycoris melirik nya balik, dia menatap hujan dengan tenang.


"lo suka Hujan? " ucapan Lycoris membuat Haikal mengangguk tanpa menoleh.


"tapi gwe benci.. ", entah refleks atau kenapa.. Haikal langsung menatap mata coklat itu heran.

__ADS_1


sedetik kemudian Haikal tersadar dan menunduk itu tidak sopan..


" Nih neng.. Dek.. teh anget sama kopinya.. "Ibu-ibu pemilik warkop itu meletakkan kopi dan teh hangat di depan Haikal dan Lycoris.


Haikal buru-buru meminumnya tapi tetap hati-hati karena Tehnya agak panas.


entah ada apa dan kenapa.. salah satu ujung bibir Lycoris tertarik tapi hanya dia dan Tuhan yang sadar akan hal itu.


" Gwe benci hujan karena ngungetin gwe sama orang yang gwe sayang pas kehilangan orang yang dia sayang.. "tapi gwe nggak inget siapa itu.. lanjut Lycoris dalam hati.


Haikal hampir tersedak, tapi dia hanya diam dan mengangguk.


Lycoris menyeruput pelan kopi miliknya sembari merokok jga.


Haikal baru sadar jika Lycoris tidak mengenakan seragam sekolah tapi hanya celana hitam pendek dan kaos hitam polos serta topi hitam yang dia lepas dan taruh di meja.


itu artinya.. Apa Lycoris tadi tidak sekolah? tapi Ruka dan Yuka tadi.. ah sudahlah.. kenapa Haikal memikirkan hal itu.. pastinya mereka mungkin pulang duluan. alias bolos..


beberapa saat berlalu sampai hujan benar-benar reda dan suara burung berkicauan, tidak ada pembicaraan antara Haikal dan Lycoris selama itu mereka saling menikmati dunia pikiran mereka sendiri.


Lycoris berdiri dan menaruh uang di meja, "Bu sama dia juga.. kembalian nya ambil aja.. " ujar Lycoris menatap Haikal.


"E-eh.. ng-nggak perlu.. aku.. b-bisa bayar sendiri.. " ujar Haikal berdiri gugup+terkejut.


"udahlah... nggak masalah.. bye" Lycoris menepuk pundak Haikal dan berjalan melewatinya keluar Warkop, Haikal mematung.


"Balik bu... " ujar Lycoris pada ibu pemilik warkop itu, "ya neng.. ati-ati.. makasih yah.. " balas ibu-ibu itu.


'Brummm.. '


suara sepeda motor terdengar menjauh, dan Haikal akhirnya tersadar.


"eh.. udah terang.. makasih bu.. saya balik.. " ujar Haikal dan keluar dari Warkop itu lalu mengayuh sepedanya.


Di sepanjang dia mengayuh sepedanya disitu juga Haikal berfikir, Lycoris tidak membahas adiknya dengan Adik sepupunya, yang Haikal rasa Lycoris tidak keberatan dengan hubungan mereka.


sejujurnya jika dipikirkan kembali.. Lycoris itu cantik, hah.. bodoh kau Haikal baru menyadari itu saat benar-benar bisa dekat denganya walau sejenak, dan memandangnya.


Manik mata coklat yang indah dengan rambut lurus sesiku, wajah seperti pahatan boneka barbie, bibir yang kelihatan manis saat di kecup meski sering merokok, dan nada suara datar tapi terkesan tenang.


"apasih.. yang ku pikirkan.. " Haikal tertawa kecil mengingat apa yang dia pikirkan tadi.


dia harus segera pulang, tidak menjemput Hana karena Hana pastinya sudah di jemput Mama sebab Hana pulang agak pagi hari ini.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...Tbc....


__ADS_2