Nightmare Diary

Nightmare Diary
Paket


__ADS_3

Sudah dua hari aku lembur. Pagi sampai malam tak henti berkutik dengan dokumen-dokumen yang begitu menguras tenaga dan pikiran.


Ditambah lagi desakan Pak Bos yang menyuruhku untuk mengejar deadline proyek rancangan perusahaan agar bisa di presentasi secepatnya.


Sebagai perwakilan karyawan yang ditunjuk langsung oleh petinggi membuat aku tak bisa melakukan apapun selain menyelesaikan tugas yang diberikan.


"Masih belum kelar juga kerjaannya, Wan?"


"Iya nih. Masih banyak yang harus disiapkan."


Ardi yang merupakan rekan kerja ku itu mengangguk mengerti. Di antara banyak karyawan lainnya hanya Ardi yang dekat dengan ku. Dia tahu bahwa beban yang aku tanggung sangat besar oleh karena itu dia kadang membantu ku walaupun tak seberapa tapi itu cukup meringankan.


"Nih buat Lo." Ardi menyodorkan sekotak kopi sembari menepuk pelan bahuku. "Jangan terlalu malam pulangnya, Lo juga perlu istirahat. Gue balik duluan."


Ini yang aku suka dari Ardi. Punya rasa peduli dan integritas yang tinggi sesama teman sejawat, selalu menyebarkan aura semangat ketika aku dilanda kesusahan. Sikap positifnya patut diberi apresiasi.


Aku mengacungkan jempol, tanda mengiyakan. Setelah itu, Ardi melangkah keluar dan menghilang dari balik pintu.


Kini tinggal aku sendiri di ruangan. Masih bercengkrama dengan komputer dan beberapa arsip lagi.


Aku harus menuntaskan tugasnya malam ini juga agar bisa mengirim filenya segera ke Pak Bos. Tak sanggup aku menunda-nunda terus karena masih banyak tugas lain yang harus dikejar.


Di luar sana langit semakin pekat. Bulan sudah membentuk bulat sempurna berdinas sendiri tanpa ditemani siapapun. Nasib yang kebetulan sama terjadi dengan ku.


Sepi yang amat menusuk membuat ku jadi merasa tak nyaman. Hanya terdengar detak jarum jam yang menunggu di sudut sana. Hawa dingin mulai menggelitik tubuhku, kopi juga sudah habis.


Entah aku yang salah dengar atau apa, dari arah jendela seperti ada orang yang mengetuk. Dan aku sadar bahwa tidak mungkin ada orang yang iseng naik ke ruangan ini yang berada di lantai 3. Perasaanku tak enak tak seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin karena kecapekan. Aku mencoba kembali fokus.


Tahan sebentar lagi diriku, sedikit aja lagi. Aku berusaha mengusir rasa takut dengan menyemangati diri.


Tapi ketukan tersebut bukannya berhenti malah semakin terdengar jelas. Tubuhku mendadak kaku. Keringat dingin mulai timbul di area dahi juga jantung yang berpacu cepat. Ku abaikan suara tersebut semampuku.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolong lindungi aku dari siapapun itu. Biarkan aku menyelesaikan dokumennya terlebih dahulu."


Bagai kekuatan sihir dari doa yang aku ucapkan, suara tersebut lenyap seketika. Aku mengucap syukur dalam hati dan berharap tidak ada lagi suara aneh itu.


"Paket!"


Aku terlonjak kaget sampai-sampai sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari. Aku pikir siapa rupanya hanya kurir paket. Ku elus dadaku untuk menetralkan jantung yang hampir copot ini.


Tapi tunggu dulu. Aku mendongak ke arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.35 malam. Apa jam segini masih ada orang yang mau mengantarkan paket, bukannya ini waktu istirahat ya? Dan siapa juga yang memesan paket malam-malam begini?


Ah, jangan berpikir yang macam-macam Erwan, mungkin saja itu paket Pak Bos yang dipesannya untuk keperluan perusahaan makanya mesti diantarkan secepatnya.


Aku pun bergegas bangkit untuk membuka pintu. Tidak ada siapa-siapa, hanya tampak sebuah kotak besar tergeletak di bawah kakiku. Di atas kotak tersebut ada secarik kertas bertuliskan 'paket untuk Erwan'.


Mataku melongok ke kanan-kiri untuk memastikan kurir mana yang mengirim paket ini. Untuk memastikan mungkin saja dia salah kirim karena aku tidak memesan barang akhir-akhir ini. Nihil, koridor kosong melompong.


Barang kali ini dari Ibu. Aku pun mengambil paket tersebut dan membawanya ke meja. Ketika di rumah nanti aku akan membukanya sebelum itu aku harus membereskan pekerjaan ini terlebih dahulu.


Tiba-tiba, perhatian ku tertuju ke paket tersebut. Aku penasaran apa isinya. Jarang-jarang aku mendapat kiriman biasanya aku yang menghadiahkan sesuatu kepada Ibu.


Perlahan aku menarik kotak itu ke pangkuanku. Menerka-nerka benda apa yang bersemayam di dalamnya.


Bruk....


"Astaga!" Aku menoleh ke sumber suara. Kardus berisi tumpukan berkas jatuh berserakan di lantai. Apa lagi ini? Angin kah? Tak mungkin, jendela tertutup rapat.


Bulu kudukku mulai merinding. Perasaan tak enak ini kembali hadir. Lebih baik aku segera pergi dari sini, berkasnya juga harus aku kumpulkan lagi kalau ketahuan Pak Bos bakal ribet urusannya nanti.


Ketika kakiku hendak melangkah, mataku sepertinya menangkap sesuatu di sudut jendela. Aku menyipitkan mata agar tak salah lihat. Tidak! Apa aku berhalusinasi atau bagaimana?!


Tangan. Itu tangan seseorang. Ya Tuhan. Kini Ketakutan menjalar ke seluruh tubuh ku, membuat kaki ku lemas tak berdaya. Aku mundur beberapa langkah hingga tak sanggup menahan keseimbangan, aku terjatuh. Bersamaan dengan tangan yang lambat laun mulai naik menampakkan sebuah wujud yang...sangat mengerikan.

__ADS_1


Tangan yang menjuntai panjang penuh luka, mata besar yang hitam legam menatap.tajam ke arah ku. Bagai laba-laba, dia terus merayap di kaca jendela hingga tampak tubuhnya yang terpotong mengeluarkan usus. Cairan merah menetes mengotori beningnya kaca.


Dia berusaha memecahkan kaca tersebut dengan kepalanya agar bisa masuk.


"Tuhan, tolong aku. Lindungi hambamu ini."


Aku hanya ingin pulang. Kenapa kejadian begini malah yang datang. Mataku mulai berair. Apa aku akan mati secepat ini?


"Paket!"


Ini lelucon atau apa. Kenapa dia malah menirukan kalimat khas kurir paket. Tunggu dulu, paket? Apa sosok itu yang memberikan ku paket ini. Lantas kenapa dia mau mengambil nya lagi.


Sepertinya aku harus memeriksa isi paket ini. Aku pun meraih benda itu di meja. Mengoyak lakban putih dan membukanya.


Aku terkejut setengah mati ketika melihat isinya. Potongan tubuh dan kaki terbungkus rapi menjadi objek pertama yang aku lihat. Tanpa aba-aba, ku lempar sembarangan kotak itu.


"Paket!"


Makhluk itu tampak marah. Dia semakin menggila berusaha menghancurkan kaca jendela yang terbuat dari bahan tebal. Aku tak peduli, aku harus cepat pergi dari sini. Ku gerakkan kakiku sekuat mungkin.


Aku berlari sekencang-kencangnya, melewati koridor yang penerangannya samar-samar. Meninggalkan ruangan dalam keadaan berantakan. Masa bodoh dengan itu yang penting sekarang aku harus pulang.


Tiba di parkiran, aku langsung membuka pintu mobil, menyalakan mesin dan tancap gas.


Kejadian tersebut membuat ku trauma ketika harus mengerjakan tugas sampai tengah malam. Aku tak ingin lagi mengalami hal yang sama.


Keesokan harinya, ku putuskan untuk mengundurkan diri dari tugas dan meminta ganti orang lain saja untuk mengurusi kelanjutan proyek tersebut. Pertama-tama Pak Bos tak mengizinkan ku untuk keluar dari tanggungjawab tapi setelah mengatakan alasan dan memohon-mohon sambil menangis akhirnya Pak Bos mengabulkannya.


Aku pun terlepas dari beban yang melelahkan itu. Kejadian tersebut tak ku ceritakan kepada siapapun termasuk Pak Bos. Aku hanya mengarang alasan dengan mengatakan bahwa Ibu ku sakit dan aku harus pulang pada malam hari untuk menjenguk Ibu.


Untungnya Pak Bos menerima alasan ku. Biarlah kejadian itu aku simpan sendiri saja. Takutnya nanti akan berefek negatif bagi karyawan lainnya kalau aku mengumbar berita tersebut.

__ADS_1


__ADS_2