
"Arina! Bangun, Nak. Hari ini, hari pertama kamu masuk sekolah kan, jangan sampai kamu telat nanti." Ibu berteriak dari bawah tangga sambil berkacak pinggang, baru selesai menyiapkan sarapan pagi.
Mendengar teriakan Ibu, Arina langsung melompat dan meluncur ke kamar mandi. Sebenarnya ia sudah terbangun dari tadi, cuman kebiasaannya yang melakukan ritual semedi terlebih dahulu membuatnya agak sedikit terlambat.
Setelah selesai berkemas sana-sini, dengan balutan seragam putih abu-abu, polesan make up tipis, Arina sudah siap memulai pengembaraan ke sekolah barunya. Ia pun tergopoh-gopoh turun ke bawah menemui Ibu yang juga sudah terlihat kedua adik di sana.
Sarapan pagi kali ini sangat spesial. Nasi goreng dengan plus bumbu buatan Ibu yang rasanya selangit, bikin lidah bergetar. Kata Ibu, itu merupakan hadiah penyemangat bagi Arina yang akan mengawali kehidupan baru.
Tak ingin memakan waktu, Arina langsung melahap nasi goreng tersebut. Sekitar 15 menit yang penuh nikmat, piring akhirnya bersih tanpa sisa, barulah ia merogoh tas ransel nya dan berpamitan pada Ibu, meminta restu agar dimudahkan urusannya di hari pertama sekolah.
Letak sekolah Arina tak terlalu jauh, hanya beberapa jarak terpisahkan. Arina memilih mengendarai sepeda saja, untuk menghemat ongkos juga. Sepanjang perjalanan, Arina bersenandung kecil, pikirannya tak henti-henti membayangi sekolah barunya.
Arina sudah tiba di depan gerbang besar yang sengaja dibuka lebar-lebar seakan menyambut kedatangan murid baru. Pak satpam dari balik pos penjagaannya melambai tangan seraya tersenyum ramah. Aku hanya mengangguk kecil dan langsung mengayuh sepeda untuk masuk.
Pohon-pohon berjenis Kiara Payung bersebaran dimana-mana, mengelilingi pekarangan sekolah. Arina langsung menuju tempat parkir dan memarkirkan sepedanya di sana. Bangunan sekolah nampak kuno maklumlah sekolah ini berdiri sejak zaman Belanda.
Arina bergerak menyusuri koridor untuk mencari mading sekolah, informasi mengenai siswa baru biasanya terekspos di sana. Dan benar saja, lautan manusia sudah memenuhi area tersebut, berebutan ingin tahu ke kelas mana mereka akan diletakkan.
Arina menyelip masuk ke kerumunan itu, matanya mencari keberadaan nama dan kelasnya pada sebuah kertas putih yang sudah berderet terdata.
Arina Mahera Putri - 10 MIPA 2
Yoshh, Arina pun bergegas ke tempat yang telah ditentukan itu. Ia kembali menapaki koridor yang ternyata sudah agak sesak oleh siswa-siswi lain yang juga sedang mencari hal yang sama sepertinya.
selepas berjalan beberapa meter, akhirnya Arina berhasil menemukan kelasnya. Tak perlu menunggu lama, ia langsung masuk ke dalam ruangan. Masing-masing orang yang akan menjadi teman sekelasnya tahun ini sudah menyembulkan diri. Mereka ada sudah memilih tempat duduk, ada yang sudah bercengkrama satu sama lain dan ada yang langsung menyibukkan diri dengan buku.
Fokus Arina sekarang adalah mencari tempat duduk yang paling nyaman dan kemungkinan besar tak terlalu jadi pusat perhatian. Mata Arina mulai menyapu sekitar hingga ia tertarik pada sebuah kursi paling belakang di sudut dekat jendela.
Pas sekali di sana juga belum ada penghuninya. Agak sedikit kotor tapi tak apalah. Arina langsung meletakkan tasnya di kursi tersebut, duduk manis sembari melirik-lirik pemandangan di luar layar jendela. Awan tengah berenang di kolam langit, bergeser ke sana kemari. Sesekali angin sepoi-sepoi masuk melalui celah jendela meraba rambut Arina.
"Sebaiknya kau tidak duduk di situ."
Sebuah suara berat mengagetkan Arina yang asyik bermain dengan lamunannya. Ia pun menoleh dan mendapati seorang laki-laki tengah berdiri di hadapannya. Sekali lagi dia mengucapkan pernyataan yang sama. Alis Arina bertaut, terjebak dalam situasi yang membingungkan. Kenapa dia menyuruh Arina untuk pindah? Ini kan sudah menjadi tempat duduknya.
"Kenapa memangnya? Ini kan tempat ku apa urusannya dengan mu."
"Aku hanya memperingatkan saja. Kalau kau tak mau pindah pun tidak apa-apa. Karena sebelumnya kursi ini sudah ditempati oleh seseorang."
Aku diam tak merespon kembali ucapannya. Setelah itu, dia berpindah posisi ke tempat duduknya sendiri yang selang beberapa kursi di sampingku.
Bel berbunyi nyaring, membangunkan seantero sekolah. Hari pertama pun berjalan dengan lancar, tak ada kesan-kesan negatif. Tapi, entah kenapa ada satu hal yang mengganjal hati Arina.
__ADS_1
Selama pembelajaran berlangsung, laki-laki yang tadi menegurnya--kalau tak salah namanya Arvin--sering mencuri pandang ke arahnya. Arina merasa tak nyaman dan sekarang ia berniat untuk menghampirinya.
"Hey, tunggu!!" Seakan tahu bahwa dia sudah tertangkap basah, laki-laki itu mempercepat langkahnya menghindari Arina. Arina berusaha mengejarnya tapi apalah daya energi laki-laki tersebut seperti kilat yang menyambar, cepat tak ada jeda.
Dalam sekejap mata, Arvin sudah menghilang dari pandangannya. Arina hanya bisa mengumpat. Baiklah besok saja ia tunggu di tempat duduknya. Hari ini, Arina terlalu lelah untuk mencari tahu lebih lanjut, bisa-bisanya waktu istirahatnya akan terbuang sia-sia. Arina pun berjalan pelan keluar dari gerbang sekolah.
...***...
"Aduh, kemana handphone aku?!"
Setelah membersihkan diri tadi, dan juga tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Arina. Rasa bosan menghampirinya, Arina pun hendak meluangkan waktunya dengan berselancar di media sosial. Tapi, kejadian tak terduga telah menimpanya. Sifat cerobohnya kambuh.
Handphone kesayangannya kini hilang, ia sudah membongkar isi tas tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan benda pipih tersebut. Arina merasa frustasi. Lantas, Ia pun turun dengan tergopoh-gopoh menemui Ibu.
"Ibu ada liat handphone aku, nggak?!"
Ibu yang sedang menonton acara show TV yang sudah berakhir dan hendak mengambil remote untuk mengganti channel baru dia urungkan dan segera menoleh ke arah Arina.
"Kan kamu sendiri yang pegang handphone itu. Lagian juga Ibu tak pernah mengambil handphone tanpa seizin kamu."
"Iya juga ya, Aduhh, jadi kemana perginya?!"
"Coba kamu ingat-ingat lagi terakhir kali kamu taruh dimana. Tadi disekolah ada nggak handphonenya?"
"Astaga!! Bu, aku meninggalkannya di sekolah!"
"Kan kamu ceroboh lagi. Yaudah, cepat ambil tu handphonenya keburu di copet sama orang."
"Baiklah, Bu. Aku akan pergi ke sana."
Arina pun beranjak ke tempat tujuan. Segera mengambil sepedanya dan mengebut, membelah jalanan kota. Hingga sekitar 15 menit, Arina sudah berada di halaman sekolah. Memarkir kendaraannya sembarangan dan berlari tergesa-gesa di koridor sekolah.
Tiba di ambang pintu, Arina berhenti. Ia memandang sekitar kelas yang terlihat sepi dan agak menyeramkan. Sedikit bersinar oleh cahaya jingga yang menelusup masuk dari celah-celah jendela. Di kursi ujung tempatnya duduk, tergeletak sebuah handphone. Arina langsung masuk dan menuju ke sana.
Arina mengecek kondisi benda tersebut dengan menghidupkannya. Nampak seperti biasa tak ada yang mencurigakan. Ia merasa bersyukur karena handphonenya tak dicuri orang dan tidak ada yang mengotak-atik nya sampai rusak.
Disaat tengah merasakan euforia yang tinggi, tiba-tiba Arina dikejutkan oleh jatuhnya sebuah benda. Gadis itu menoleh ke arah sumber suara dan melihat penghapus papan tulis terkapar di lantai.
"Kok bisa jatuh?" Gumam Arina bingung. Ia pun berniat untuk mengembalikan benda tersebut ke tempatnya namun, sebuah notifikasi dari handphonenya berbunyi, menghentikan gerakannya.
Pandangan Arina langsung mengarah ke benda pipih tersebut. Seketika, energi Arina seperti disedot, tubuhnya lemas, jantungnya berdetak kencang.
__ADS_1
Arina tak mampu berkata apa-apa ketika layar handphonenya menampilkan sebuah foto wajah setengah seseorang, mata lebar melotot terdapat kantong mata yang cukup pekat. Kulit sawo matang, agak keriput. Yang Arina tak habis pikir, latar belakang dari foto itu adalah dia sedang duduk di kursi dan berada di kelas yang sama dengan dirinya tapaki.
Tak berapa lama Arina membisu, tiba-tiba telinganya mendengar suara gesekan kursi dari belakang. Sekuat tenaga Arina menelan salivanya yang seakan tercekat. Gedoran jantung semakin kencang. Arina tahu bahwa sekarang ia tak sendiri. Ya, tuhan, tolong lindungi aku.
"Siapa di sana?" Tak ada jawaban, hanya ketukan meja dari tangan seseorang yang menciptakan nada.
Arina perlahan menurunkan handphonenya dan bersikap baik-baik saja. Dengan sedikit keberanian, Arina berbalik. Satu, dua, tiga...
Ekhh.. Arina seperti kehilangan nyawa. Ia ingin pergi dari situ tapi kakinya tak bisa digerakkan. Dari cahaya yang mulai pudar, Arina melihat sosok mengerikan yang ada di foto tadi. Persis, tapi kali ini lebih mengerikan. Dua mata yang melotot ke arahnya, rambut berantakan dan sedikit cairan merah mengalir dari telinganya.
Tanpa sadar, mata Arina basah dan pandangannya mulai buram. Kesadarannya seakan direbut. Arina berusaha mempertahankan dirinya dan sosok itu masih duduk di sana, tunggu... mulutnya bergerak mengatakan sesuatu.
"Jangan duduk di sini lagi!"
Dan Arina jatuh tak sadarkan diri.
"Arina!! Bangun!" Seseorang menepuk-nepuk pipi Arina agak kencang, otomatis membuat ia langsung membuka mata dengan perasaan gelisah. Dihadapannya kini ada laki-laki misterius yang bernama Arvin dan mereka berada di belakang taman sekolah.
"Arvin, aku tidak mati kan?! Ini bukan arwah aku yang sedang gentayangan kan?!"
"Tenang lah, Arina. Kau sekarang sudah baik-baik saja. Tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan."
Arina mengikuti ucapan Arvin. Setelah itu, ia merasa sedikit lega.
"Apa yang terjadi denganku Arvin? Kenapa aku melihat sosok mengerikan itu? Dan kau, kenapa kau ada di sini?"
"Kau baru sadar sudah menyerbuku dengan beragam pertanyaan. Baiklah, aku akan memberi tahumu tentang kejadian yang menimpamu tadi. Sebelum itu, kau harus pulang, Arina. Ibumu pasti mencari mu. Aku akan menceritakannya lewat telepon nanti."
Apa yang dikatakan Arvin benar. Hari sudah gelap dan Ibu pasti mengkhawatirkan Arina kalau ia tidak pulang secepatnya. Arina pun mengangguk. Dibantu oleh Arvin, mereka berjalan bersama meninggalkan sekolah dengan perasaan ingin tahu yang tergantung.
Seperti yang dijanjikan oleh Arvin, Arina langsung mendapat panggilan ketika malam hari. Laki-laki itu menceritakan semua kejadian dari awal sampai akhir. Hal yang mengejutkan bagi Arina adalah mengenai penghuni kursi yang ia duduki serta fakta tentang Arvin.
Sebenarnya Arvin lebih tua satu tahun dengan Arina karena ia pernah tinggal kelas dan mengulang kembali di kelas 10. Pengalaman dan pengetahuannya mengenai asal-usul sekolah itu sudah ulung. Termasuk kejadian kursi yang diduduki Arina pertama kali masuk.
Kata Arvin, kursi itu pernah diduduki oleh seorang gadis cantik dan populer bernama Roya. Dia adalah gebetan Arvin. Arvin sempat menyatakan cinta kepada gadis tersebut tapi ditolak. Meskipun begitu, cinta terlalu kuat membutakan hatinya membuat Arvin tak menyerah. Hingga suatu hari, Roya ditemukan tewas di tempat duduknya dengan telinga yang putus dan mulut yang berbusa.
Peristiwa itu menjadi berita menggemparkan kawasan sekolah. Merasa terpukul, Arvin pun berusaha menyelidiki terbunuhnya gadis itu. Tapi, si pelaku bagai bersembunyi di dalam gelap, tak dapat ditemukan sama sekali sampai kasus tersebut ditutup. Polisi membuat dalih bahwa si gadis bunuh diri.
Arvin tak bisa berbuat apa-apa. Setiap hari, dia menunggu petunjuk dari Roya barangkali ia akan muncul. Dengan sebab itu juga, Arvin sampai rela tinggal kelas.
"Oh ya, Roya ada bilang sesuatu sama aku, Vin. Katanya jangan duduk di sini, maksudnya tu jangan duduk lagi di kursi yang aku duduk itu. Menurut kau bagaimana?"
__ADS_1
"Arina, kau harus tetap duduk di situ. Bagaimana caranya, jangan pernah pindah."
"Apa!!"