Nightmare Diary

Nightmare Diary
Ilusi


__ADS_3

Bis pariwisata sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Sebelum kami naik ke sana, Bu Jae, sebagai penanggung jawab menyuruh kami berkumpul terlebih dahulu membentuk tiga baris memanjang. Supaya beliau bisa mengabsen dan memberikan instruksi.


Kami akan pergi liburan ke Desa Tradisional Seongeup yang berada di bawah kaki Gunung Halla.


Guna dibuatnya perjalanan ini untuk melepas penat setelah berakhirnya ujian semester Minggu lalu. Liburan ini diadakan khusus untuk murid kelas 12, selama tiga hari.


Tak perlu berlama-lama, Kami langsung dipersilahkan naik ke bis dan memilih tempat duduk masing-masing. Aku duduk bersama temanku sebut saja namanya Ye-Jun. Kami sekelas dan duduk sebangku oleh karena itu kami terlihat sangat dekat. Dia orangnya friendly dan agak cerewet.


Perjalanan menuju desa tersebut tak terlalu jauh dari kotaku. Sekitar dua atau tiga jam sudah tiba di sana. Ye-Jun banyak berceloteh random di samping ku membuat perjalanan tak terasa bosan. Kadang dia bernyanyi ria dan tak segan mengajak teman-teman lainnya untuk ikut juga.


Bis terus melaju membelah keramaian kota. Dikarenakan hari liburan jadi perjalanan sedikit dikekang macet. Tapi kami tak mempermasalahkannya yang penting dinikmati semua aman.


Tak terasa waktu berlalu dan kami sudah memasuki area kaki gunung. Pepohonan besar serta jalan berkelok-kelok mengisi pemandangan mata. Hingga sampai juga kami ke desa tersebut. Mata kami langsung disuguhi oleh deretan desa khas bercorak tradisional yang konon katanya sangat melestarikan suasana bermartabat dari zaman dulu.


Masih mempertahankan nilai-nilai tradisional seperti rumah dengan dinding batu dan atap jerami dengan alat-alat rumah tangga yang juga serba tradisional. Beberapa pohon zelkova dan jelatang yang berusia ratusan tahun berdiri di tengah-tengah desa tersebut.


Bis kami berhenti di depan sebuah rumah, disambut oleh beberapa pria salah satu diantara mereka yang paling mencolok, tubuh besar dengan jenggot yang tebal, sepertinya dia merupakan kepala desa. Bu Jae menertibkan kami untuk turun diselingi dengan pesan agar bersikap sopan selama berada di tempat tinggal orang.


Aku terpukau melihat pemandangan yang begitu asri dan klasik, bagaikan di negeri dongeng.


Pak kepala desa mulai memperkenalkan dirinya serta rekan-rekannya. Kami akan dibimbing oleh mereka selama berada di tempat ini.


"Tolong baris sesuai dengan kelas kalian masing-masing. Setelah itu, bagi ketua kelas harap melakukan pembagian untuk anggota kelas mereka menjadi tiga kelompok. Masing-masing terdiri dari lima orang. Kalau bisa buat nomor acak agar adil." Bu Jae kembali bersuara.


"Baik, Bu!" Serentak kami menjawab.


Aku langsung menempati kelasku sendiri yaitu 12 MIPA 3. Si Ketua kelas, Baek Ho mulai membuat pembagian dengan hitungan dari tempat duduk. Aku mendapat nomor urut 3, teman-teman ku lainnya yang sama nomor dengan ku mendekat.


"Hai Kang Dae, kita sekelompok ya! Mohon kerja samanya."  Itu adalah Boram, perempuan berkacamata yang jenius sang tahta juara umum berturut-turut.


Aku tersenyum dan membalas sapaannya. "Hai juga Boram!"


Tiba-tiba, datang sebuah tangan merangkul bahuku kencang hampir aja aku kehilangan keseimbangan. Aku menoleh siapa yang sok dekat itu. Ah, rupanya si Bong Goo sang atletis. Aku memasang wajah kesal karena kelakuannya sedangkan dia hanya menampilkan wajah cengar-cengir.


"Jangan lah marah Kang Dae. Apa kau tak mau merasakan otot kekar ini?" Dia malah memamerkan otot gagahnya itu.


Aku memutar mata. "Tidak perlu." Lalu pandangan ku beralih ke dua orang anggota lainnya. Mereka adalah Areum, si cantik model majalah dan... Ye-Jun.


Dia melambai ke arahku. Beruntungnya aku bisa dapat sekelompok dengan orang-orang bermutu seperti mereka.


Setelah pembagian kelompok selesai, kami langsung diarahkan ke rumah penduduk. Rumah tersebut akan menjadi tempat penginapan kami sementara. Orang-orang di sini ramah dan bersahabat, mereka bahkan tak sungkan menawarkan rumah untuk ditempati.


"Untuk kelompok Kang Dae, kalian di sini ya. Pemilik rumah ini namanya Pak Wong. Terapkan sopan santun kalian selama berada di rumah beliau." Bu Jae kembali memberi nasihat.


Kami hanya mengangguk. Setelah itu, kami dipersilahkan masuk ke rumah Pak Wong dan melepas penat di sana. Kegiatan akan dimulai malam nanti jadi kami harus mengisi energi terlebih dahulu.


...***...

__ADS_1


Suasana gelap merayap di seluruh bumi, menandakan malam telah datang. Bintang-bintang bertebaran dimana-mana, menghiasi langit. Kami sudah berkumpul kembali, kali ini di tengah hutan yang dekat dengan wilayah desa.


Kami membuat api unggun, membentangkan tikar. Bersedia untuk makan. Kami duduk melingkar. Aku mengeluarkan nasi bungkus yang aku beli tadi di kantin sekolah, tak lupa rantang yang berisi lauk pauk lainnya.


"Kang Dae, sepertinya ini lezat." Ye-Jun di samping ku membeo ketika melihat ayam bakar bumbu kecap.


"Kau mau?" Aku menawarkan kepadanya yang langsung disambut anggukan. Ku bagikan kepada yang lainnya juga, makanan ku masih banyak jadi tak masalah.


Kami menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, bermain game dan bercerita. Hingga menjelang tengah malam kami berhenti, membereskan sampah dan kembali ke penginapan masing-masing.


Saat perjalanan menuju rumah Pak Wong, aku sempat melihat seorang kakek dengan tongkatnya berdiri di samping pohon besar yang agak menjorok masuk ke hutan .


Tak terlalu jelas tapi aku merasa dia sedang memperhatikan kami. Entah apa maksudnya, aku pun tak tahu. Bisa jadi kakek itu sedang memantau keadaan agar aman karena suruhan dari kepala desa.


Tapi saat mataku tak sengaja bertemu dengan Ye-Jun, dia juga melihat ke arah kakek tersebut. Aku sangat lelah dan mengantuk jadi aku tak terlalu memperdulikannya dan lewat begitu saja.


Tidur ku terusik gara-gara Bong Goo yang lasak, tangannya mengenai wajahku. Aku bangun dan terduduk dengan muka kesal. Kami berlima memang tidur berbarengan di karpet besar.


Pandanganku menyapu sekitar. Sepertinya ada yang kurang, oh ya Ye-Jun tak ada di tempat.


"Kemana ya dia?"  Aku pun bangkit dan mulai mencari Ye-Jun, firasatku mengatakan dia sedang mencari udara segar di luar.


Saat ku buka pintu, aku langsung disongsong oleh kumpulan lampu gantung yang bersebaran di tiap-tiap halaman pondok, indah sekali. Aku pun melangkah menyusuri jalan setapak seraya menikmati panorama malam ditambah lagi dengan suasana sunyi yang membuat tenang.


"Ye-Jun! Kau dimana?!" Aku memanggil Ye-Jun, sudah sekitar 15 menit aku berkeliling tapi batang hidungnya belum juga tampak. Aku mulai gelisah tak menentu, pikiranku juga sudah rancau kemana-mana. Apalagi malam semakin larut, suara-suara hewan malam mulai bernyanyi riang menghidupkan atmosfer aneh.


Saat ditengah kepanikan, mataku kembali berpapasan dengan seorang kakek di samping pepohonan yang tak jauh dari tempatku berada. Dia berdiri membelakangiku dengan tongkat khasnya.


Aku pun mengikutinya. Kami tiba di sebuah danau yang airnya sangat jernih, luasnya sejauh mata memandang, riaknya memantulkan bayangan bulan. Bunga-bunga tulip tumbuh mekar di sekitaran danau tersebut.


Ku melihat Ye-Jun duduk menyendiri di tepi danau, kakinya dicelupkan ke dalam air. Aku bernapas lega dan hendak mengucapkan terima kasih kepada kakek tersebut tapi saat aku menengok ke kanan dia sudah menghilang bagai ditelan angin.


Ya sudahlah, barangkali kakek itu sedang terburu-buru dan lekas melebur dari pandangan. Kalau ada kesempatan bertemu lagi baru nanti aku ucapkan. Ku seret langkah ku mendekati Ye-Jun, tanpa menyapa aku langsung duduk disampingnya.


"Ye-Jun, kenapa kau malam-malam keluar? Ini kan berbahaya kita berada di kampung orang kalau terjadi apa-apa bagaimana?"


"Aku tak bisa tidur akibat dengkuran Bong Goo yang seperti mesin rusak, merecoki ketenanganku. Dan kau kenapa kemari? Apa kau mencariku?"


Aku merasa saat itu akalku sudah gila, entah mataku yang kelainan atau aku hanya meresap lelah yang menimbulkan halusinasi, tiba-tiba aku melihat Ye-Jun ada dua. Ya, dua, layaknya anak kembar yang berdempetan. Aku tak menjawab, melongo memperhatikannya.


"Ye-Jun kenapa kau ada dua?"


Alis Ye-Jun bertaut, heran dengan pertanyaanku. "Apa maksudmu?"


Aku kembali mengulangi pertanyaan tadi. Kami malah dirundung kebingungan satu sama lain. Ye-Jun menempelkan tangannya di dahiku, mengira aku sakit.


Aku menampiknya kasar, semakin mataku menyorot visual tubuhnya yang ada dua itu malah semakin membuat efek mengerikan.

__ADS_1


Ku kucek mataku bisa jadi aku salah lihat tapi apa yang terjadi, tubuh palsu Ye-Jun itu malah semakin terlihat jelas dan bertambah menjadi tiga dengan wajah yang terkelupas sedikit, berlumuran darah dan menunjukkan kesedihan.


Aku menjauhkan diri dari Ye-Jun, bergetar, jantung tak karuan dan keringat dingin mulai bercucuran. Ye-Jun yang masih bingung dengan reaksiku mencoba menagih penjelasan dariku, memegang bahuku.


Refleks, aku terjengkang ke belakang karena sangking takutnya berhadapan dengan Ye-Jun. Aku mengusirnya agar jangan mendekat namun Ye-jun bersikeras menghamburkan diri.


Ditengah kekalutan kami yang semakin menggila, tiba-tiba sosok hitam legam muncul dari dalam danau, bukan satu tapi bergerombolan naik ke permukaan berangsur-angsur.


"Arghh!!" Kepalaku mendadak berdengung. Pandanganku berbayang. Objek yang kulihat menjadi bertumpuk-tumpuk, berlapis-lapis membuatku kesulitan menetapkan diri.


Ye-Jun masih berteriak-teriak memanggil namaku, semuanya begitu berisik dan itu sangat menganggu. Aku menutup telinga, berlutut. Aku ingin kembali ke rumah penginapan, aku ingin merebahkan diri di karpet lalu tidur.


Tepat setelah  mataku kembali normal, keadaan menjadi tenang. Tersadar, tempat yang aku pijak menjadi kosong. Tak ada lagi sosok hitam dan astaga..Ye-Jun juga menghilang.


Aku terjebak dalam kesendirian, dalam remang-remang bulan yang masih setia membagi cahayanya. Sekarang, apa yang terjadi lagi? Kemana semua orang? Kenapa kejadian aneh ini terus menimpaku?


Dalam berjibun tanya yang tak kunjung menemukan jawaban, aku menangkap seorang kakek berdiri di balik pepohonan di ujung danau. Merasa dejavu, ku perhatikan lebih teliti itukan kakek yang kutemui sebelumnya dengan posisi yang sama. Aku segera menghampiri kakek tersebut.


"Kek!" Tanganku hendak meraih punggung kakek tersebut hingga dia berbalik dengan sendirinya yang otomatis membuatku tegang.


Kakek itu berubah seperti monster, dengan mata yang diliputi warna putih seutuhnya, lidah yang menjulur sampai ke leher dan dada yang menganga lebar menampakkan isi dalamnya.


Aku mundur beberapa langkah, tenggorokanku tercekat. Aku berbalik dengan cepat, ingin pergi dari hadapannya. Tapi, tangannya dengan mudah memasung tubuhku, kepalaku diangkat dibawanya ke tengah-tengah danau. Danau yang juga tiba-tiba berubah, dipenuhi oleh lintah dan ular-ular kecil.


Aku mengerang kesakitan, tangannya begitu kuat menekan pucuk kepalaku. Air mataku mulai mengalir, nafasku tercekik. Apa aku akan mati secepat ini? Ye-Jun kau kemana, aku membutuhkanmu, aku mohon keluarlah dan selamatkan aku.


"Lepaskan Kang Dae, Monster sialan!!"


Suara teriakan yang tak asing lagi, oh Tuhan, itu pasti Ye-Jun. Syukurlah kau datang tepat waktu. Tidak, Ye-Jun tak datang sendiri, tapi bersama Pak Wong.


Aku tak sempat berpikir lagi bagaimana bisa mereka bertemu dan menjumpai ku di sini karena kepalaku sudah berdarah akibat tekanan monster itu. Penglihatanku mulai kabur, lama-kelamaan mataku menutup dan tak tahu apa yang terjadi setelahnya.


***


"Kang Dae, sadarlah!" Seseorang menepuk-nepuk pipiku, refleks aku terbangun. Teman-temanku, Bu Jae dan Pak woo sedang berkumpul mengerubungi ku, sekarang aku sudah berada di pondok.


Aku langsung tersentak dan pertama yang kucari adalah Ye-Jun. Seolah tahu maksudku, Ye-Jun datang dan memelukku. Dia berbisik, mengatakan syukurlah aku baik-baik saja.


Pikiranku kembali berputar mengenai kejadian yang terjadi beberapa menit lalu. Ku pegang kepalaku, tak ada darah. Aku meraba-raba rambutku, tak ada yang sakit.


Tak mungkin, cengkeraman tangan kakek itu sangat kuat bagaimana bisa sembuh dalam sekejap. Aku menanyakan kepada Ye-Jun perihal peristiwa-peristiwa aneh yang kami alami.


Tapi, jawaban yang kudapat sangat di luar nalar. Ye-Jun tak pernah melihat danau ataupun sosok mengerikan yang aku sebutkan. Aku menoleh ke arah Pak Wong, menanti paparan darinya. Tapi, Pak Wong malah melemparkan tatapan bingung.


Kata mereka aku terpeleset di hutan, terantuk batu.  Lalu ada salah satu penduduk menemukanku terbaring di tanah lantas menggiringku menuju pondok ini. Tak ada yang terluka parah hanya lecet di lengan saja.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apa itu semua ilusi belaka?

__ADS_1


"Kau sebaiknya istirahat terlebih dahulu, Kang Dae." Bu Jae menyuruhku. Baiklah, untuk sekarang aku harus memulihkan keadaan tubuhku dahulu, menetralkan pikiran. Kalau aku melanjutkan pembicaraan mereka akan mengira aku aneh dan gila.


Aku tak habis pikir, desa ini benar-benar misterius.


__ADS_2