
Sudah tiga hari ini, Luna, Yuna dan Dava menginap di Kaliurang bersama keluarga mereka. Mereka senang sekali di sana. Vila sewaan keluarga mereka murah dan nyaman. Letak vila itu agak tinggi di atas. Halaman belakangnya menurun sampai ujung yang berbatasan dengan hutan kecil.
Sore itu, mereka memutuskan untuk piknik di ujung halaman belakang vila. Sesampainya di sana, mereka langsung menggelar tikar, tak lupa snack dan minuman dingin untuk disantap bersama-sama.
Setelah kenyang, Luna mengajak mereka bermain petak umpet. Belum lama mereka bermain, tiba-tiba terdengar suara tajam menegur mereka.
“Hei! Jangan buan sampah di sini, nanti Nyi Gadung Melati marah. Kalian bisa dihantui!” Tegur seorang nenek yang muncul di samping tempat piknik mereka.
Tempat itu memang sudah menjadi kotor. Plastik berceceran di mana-mana, botol bekas minum, bungkus permen, snack dan tisu-tisu, entah apa lagi.
"Ayo pungut tu bungkus-bungkus makanan kalian!" Marah nenek itu lagi.
Yuna yang pertama pulih dari rasa kaget langsung berkata, "Tenang saja, Nek. Nanti ada Mbak Sum, pembantu kami yang membereskannya."
Sebelum nenek itu bisa membantah, Bu Diman, pengurus vila, datang dan langsung menghampiri sang nenek.
"Ibu, ayo masuk, Bu. Tidak apa-apa kok, itu anak-anak penyewa vila," Ucap Bu Diman lembut sambil membujuk nenek itu kembali ke rumah kecil di ujung halaman belakang vila. Rupanya Bu Diman dan ibunya tinggal disitu.
Selang beberapa menit, Bu Diman muncul kembali.
"Maaf ya, adik-adik. Itu Ibu saya. Beliau sudah pikun," Katanya.
"Memang siapa Nyi Gadung Melati?" Tanya Dava.
__ADS_1
"Aduh, itu hanya dongeng kuno. Kata orang-orang zaman dulu, Nyi Gadung Melati itu pemimpin jin perempuan cantik yang memakai baju hijau. Tugasnya menjaga wilayah Gunung Merapi. Kaliurang ini kan bagian dari gunung merapi juga," jelas Bu Diman.
Luna, Yuna dan dava saling lirik. Mereka mulai ketakutan.
"Sudah, main-main saja lagi. Asal jangan lupa, sampah-sampahnya dibuang. Bukan berarti ini gara-gara kalian percaya mitos Nyi Gadung Melati itu. Sangat disayangkan kalau taman vila ini jadi kotor ya, kan?" Ucap Bu Diman sambil berjalan kembali ke vila.
Luna, Yuna dan Dava hanya meringis. Dalam hati mereka sangat malas untuk membersihkannya. Lagi pula, selama ini kan Mbak Sum pembantu mereka yang membereskan bekas-bekas jajanan mereka.
Mereka bertiga kembali meneruskan permainan dengan tenang. Saat sore menjelang, ketiganya mulai lapar dan melangkah kembali ke vila sambil bercanda. Mereka lupa sama sekali dengan tikar dan sampah-sampah mereka di ujung halaman belakang vila.
Anehnya, walaupun mereka sudah jauh sekali berjalan, vila sewaan mereka tak kunjung terlihat. Padahal, seluas-luasnya halaman vila, mereka tadi tak berjalan sejauh itu. Sementara, langit mulai gelap. Tiba-tiba, tercium bau melati!
"Eeehmm..kalian mencium bau melati nggak?" Tanya Dava pelan.
Suasana di sekitar mereka mulai sunyi sekali. Angin membelai tubuh mereka, membuat mereka bertiga merinding.
"Iiih..aku kok, seperti melihat bayangan kebaya hijau di antara pohon-pohon di sana sih!" Bisik Yuna panik, tangannya menggenggam tangan Luna yang langsung dingin mendengar ucapan Yuna.
"Ah, jangan ngaco, deh!" Sahut Dava, tetapi netranya sempat melihat sosok kebaya hijau itu di antara pepohonan yang tertiup angin.
"Wuahhh...kita lari ke vila, yuk!" Ajak Yuna yang tentunya langsung disetujui oleh kedua sepupunya itu. Mereka berlari secepat kilat ke vila...dan...sampai lagi ke tempat piknik mereka!
"Loh, kok, kita di sini lagi? Tadi kan kita lari ke vila!" Pekik Luna histeris.
__ADS_1
"Jangan-jangan..Nyi Gadung Melati itu..." Bisik Dava yang menambah ketakutan.
"Dava! Jangan bikin kita takut, dong!" Tukas Yuna, tangannya semakin erat mencengkeram tangan Luna.
"Habisnya..." Kilah Dava.
Anehnya, di tempat itu tak tercium wangi melati lagi. Suasana juga sudah agak tenang.
"Eh, kita bereskan saja tumpukan sampah ini, yuk!" Ajak Yuna.
"Ah payah, masak kamu beneran percaya sama kata-kata ngawur nenek pikun tadi sih!" Sahut Dava.
:Sudahlah, kan nggak ada salahnya kita kutip ini semua." Yuna langsung berjongkok, mulai memunguti botol air mineral.
Luna dan Dava saling berpandangan, lalu keduanya mengikuti jejak Yuna. Nenek tua, Ibu nya Bu Diman, mengintip ketiga anak itu dari balik semak. Ia tersenyum puas.
Tak disangka, hanya karena cerita Nyi Gadung Melati, semprotan parfum melati dan kebaya hijau yang ia gerakkan di antara pepohonan, memikat ketiga anak itu menjadi patuh memunguti sampah mereka.
Dari kemarin, ia sudah kesal melihat mereka yang seenaknya mengotori halaman vila dan membiarkan pembantu mereka yang membereskannya.
Bu Diman menggelengkan kepalanya melihat ulah ibunya. Hmmm...Cerdik juga ibuku, pikir Bu Diman. Hanya satu yang masih menjadi misteri bagi Bu Diman.
Kalau wangi melati dan kebaya hijau itu ulah Ibunya, lalu, siapa yang bisa membuat ketiga anaknya itu tidak bisa menemukan jalan kembali ke vila dan malah putar balik ke tempat piknik mereka.
__ADS_1