
Aku baru saja sampai di Jakarta. Karena kemarin aku mendadak mendapat panggilan dari Pak Derry, sang sutradara film sinetron yang kebetulan memilihku untuk memainkan peran dan akan melakukan syuting tepatnya di daerah Cibubur hari ini. Aku langsung bergerak menuju ke lokasi persyutingan.
Jadwalnya sangat padat, terlebih lagi aku harus melakoni dua sinetron sekaligus dalam dua hari. Otomatis waktu istirahat sangat lah sempit. Setelah melakukan syuting pertama yang menghabiskan waktu seharian penuh, tubuh benar-benar sudah kehilangan energi begitu banyak.
Aku pun berniat pulang sebentar ke apartemen--yang juga sudah menjadi tempat pribadi ku di kota ini, di daerah Kebun Apel--untuk beristirahat sebentar. Tak terasa sekarang jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan pemanggilan untuk syuting sinetron kedua akan dimulai jam 7 pagi.
Agar tak membuang waktu untuk tidur aku pun mengebut, menerobos malam yang begitu pekat. Butuh sekitar setengah jam untuk sampai ke daerah Kebun Apel.
Akhirnya mobil pun telah sampai di depan apartemen yang dituju. Aku pun membuka gerbang terlebih dahulu lalu masuk ke halaman dan mendekati garasi untuk menyimpan mobil.
Setelah mematikan mesin mobil, melepas sabuk pengaman, sebelum turun, aku pun memeriksa sebagian barang-barang di tas besar yang sengaja ku bawa supaya lebih mudah dipersiapkan awal-awal.
Hingga terlihat ada yang kurang, aku sekali lagi mengacak-acak tas besar ku lantas tersadar bahwa memang ada satu barang lagi yang tertinggal. Yaitu sepatu yang aku taruh di wadrobe. Itu juga benda penting yang akan aku gunakan syuting besok.
"Arggg!! Kenapa harus lupa disaat mepet begini!!"
Aku begitu frustasi karena terpaksa harus balik lagi ke kota Cibubur untuk mengambil sepatu tersebut dan pastinya waktu tidur ku menjadi semakin sedikit. Dengan perasaan kesal yang menggebu-gebu, ku hidupkan kembali mesin mobil dan langsung tancap gas ke tempat syuting lagi.
Namun entah kenapa ketika lewat pintu tol Cibubur bertepatan di dekat plong 500 M mata ku tak sengaja melihat sesuatu yang tergeletak atau seperti ada seseorang terbaring di tol di jalur paling kanan. Dari jarak beberapa meter, aku berpikir itu orang atau bukan ya atau ada korban kecelakaan?
Karena tak ingin menganggu, aku pun mencoba menengah, pelan-pelan dalam membawa mobil. Saat itu seperti aku merasa ban mobil sedang menginjak sesuatu karena bunyi 'krek' yang agak keras.
Mungkin saja itu batu, aku pun tak terlalu memperdulikannya dan tetap fokus pada tujuan pertama. Ketika keluar dari pintu tol, rasa haus seketika menyergap tenggorokan ku. Dari tadi, aku juga tak sempat mengganjal apa-apa di dalam perut. Kebetulan ada warung rokok di samping pom bensin tak jauh dari tempat ku berada.
Aku pun ke sana, menepi. Membeli minum dan Snack lalu duduk di bangku depan warung. Pandanganku mengarah ke ban mobil dan menemukan bercak cairan merah menempel di sana.
Seperti darah dan baunya juga anyir. Lalu aku teringat dengan kejadian di jalan tol tadi, tak ingin berpikir macam-macam aku langsung menepis pikiran aneh tersebut.
__ADS_1
Karena sangat mengusik, aku bangkit dan berjalan ke arah ban. Ku bersihkan bekas merah itu dengan air yang masih tersisa di tanganku. Tiba-tiba, dari belakang ada yang menepuk pundakku sembari berkata, "Habis nabrak ya, Mas?"
Aku terkejut, hampir saja menyemburkan air ke muka si lawan bicara kalau tidak ditahan, lalu menoleh. "Oh nggak! Ini remnya bunyi, makanya lagi dibersihkan karena kotor kali."
"Eumm, Soalnya di situ ada orang baru ketabrak tapi belum diangkat."
Tanpa mendengar respon dari aku, orang tersebut langsung pergi begitu aja. Aku juga tak perlu membahasnya lagi karena harus terburu-buru mengejar waktu bergegas kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah sampai di lokasi syuting, aku menceritakan kejadian yang aku alami kepada teman-teman di sana yang masih berjaga, mereka menginap di tempat tersebut karena tak ada tempat tinggal di kota Cibubur.
Sepatu sudah aku ambil, kemudian menengok ke jam dinding, masih ada dua jam lagi untuk beristirahat, lumayan. Aku pun segera balik lagi ke apartemen, tak apa tanggung yang penting bisa melepas penat sejenak di kasur.
Ketika sampai di jalan tol, aku memelankan laju mobil karena sudah agak ramai tak seperti sebelumnya. Terdapat mobil ambulance berdiri di jalan. Rupanya memang betul ada kecelakaan sebab ada proses seseorang dengan kain penutup dimasukkan ke dalam ambulance.
"Kasian ya." Aku pun melalui kawasan itu dengan cepat, tak sabar menanti kasur empuk yang sudah terbayang-bayang.
2 hari kemudian....
"Indra, Mama udah sampai nih! Cepat kamu jemput terus kemari."
"Iya, Ma."
Hari ini, Mama akan datang dari malang ke Cibubur untuk mengunjungi ku. Jadinya aku harus menjemputnya di bandara. Kata Mama sesekali menjenguk anaknya yang sedang sibuk meladeni pekerjaan yang sangat melelahkan. Mama juga membuat rencana agar aku dapat berlibur jalan-jalan dengan adanya alasan dari kedatangannya. Mama memang wanita terbaik lah!
Sesampainya di bandara, aku langsung bisa melihat Mama dan melambai tangan. Beliau langsung datang menghampiri ku.
"Kamu dah makan, Nak?"
__ADS_1
"Belum, Ma. Aku nggak sempat makan karena Mama sampainya kepagian."
Mama tertawa. "Yaudah, nanti Mama masakin makanan kesukaan kamu, mau kan?"
Aku mengangguk dengan penuh gembira seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru. Mama pun masuk ke dalam mobil, entah kenapa ekspresi Mama berubah drastis, terdiam dan menatap tajam ke arah ku tak seperti tadi yang ceria dan tersenyum.
Aku pun bingung, tiba-tiba Mama menegur aku dengan mengatakan, "Kamu habis nabrak orang ya?"
Aku langsung mengerti sikap Mama yang sepertinya menyadari ada yang aneh. Karena Mama ku ini bisa melihat dan merasakan sosok makhluk yang tak bisa dilihat oleh manusia biasa. Sebutannya indigo di zaman sekarang.
Aku pun menceritakan semua kejadian dua hari yang lalu kepada Mama tanpa memotong bagian apapun. Dimulai dari pertama syuting, bolak-balik karena ketinggalan sepatu, ada korban kecelakaan sampai ketemu orang misterius di warung rokok.
"Yang negur kamu itu ciri-cirinya gimana?" Mama menatap ku begitu serius. Membuat ku mulai merinding.
"Pake jaket hitam, celana pendek hitam."
"Diresleting jaketnya apa nggak?"
"Iya."
"Semuanya?"
"Iya."
"Ini orangnya ada di dalam mobil."
Seperti di sambar petir di siang bolong, aku hampir pingsan mendengarnya. Seketika tubuh ku terasa lemes. Jadi, orang yang kemarin aku temui itu si korban yang ingin memberitahu bahwa mayatnya belum diangkat. Karena tak aku hiraukan akhirnya dia mengikuti ku. Itu adalah kesimpulan yang aku dapatkan dari jawaban Mama. Kata Mama lagi wajahnya hancur. Astaga bikin merinding!!
__ADS_1
Malamnya Mama mengajak ku untuk pergi ke jalan tol itu untuk mengirimkan beberapa doa agar arwah si korban tak bergentayangan lagi di mobil ku