Nightmare Diary

Nightmare Diary
Boneka Lulu


__ADS_3

Mariana Carrys. Kerap di sapa Maria oleh masyarakat setempat. Gadis yang memiliki sifat lembut, pemalu dan patuh. Sang tokoh utama yang menjalani hidup dikelilingi dengan kebahagiaan. 


Maria merupakan anak tunggal dari keluarga konglomerat. Kedua orangtuanya menyandang jabatan tertinggi di suatu negara tanah air. Tapi itu tak membuat Maria bersikap arogan di kalangan bawah. Ia malah dihormati dan disayangi oleh orang-orang di sekitarnya.


Setiap sore Maria selalu diajak bermain ke taman oleh orang tuanya agar terbiasa berbaur dengan teman sebayanya. Dikarenakan juga taman tersebut penuh dengan permainan anak-anak jadi mereka bisa mudah menempatkan Maria bersosialisasi dengan mereka.


Maria yang kelihatan mencolok karena wajahnya yang putih dan rambut nya yang pirang mengundang perhatian anak-anak lainnya. Mereka mengerubungi Maria yang malah membuat Maria ketakutan. Maria berpikir bahwa mereka akan mengejeknya.


Tapi Maria salah sangka, mereka tak bermaksud demikian. Mereka ingin berkenalan dengannya. Salah satu dari mereka mengulurkan tangannya ke Maria, mengajak Maria bermain bersama. Mereka melempar senyum ramah. Maria senang. Ini pertama kalinya ia menjalani pertemanan.


Hingga semua berubah ketika Maria bertemu dengan sebuah boneka cantik. Boneka yang dia adopsi dengan nama Lulu.


Sore hari, seperti biasa Maria tengah bermain bersama teman-temannya. Karena kegiatan itu sudah menjadi kebiasaannya setiap sore. Permainan yang mereka lakukan hari ini adalah bermain petak umpet.


Teman yang bernama Bobby itu sedang berhitung, tangannya ditempelkan di batang pohon Sedangkan yang lainnya harus segera mencari tempat persembunyian termasuk Maria. Ia memilih menyuruk di dalam lubang bola besar. Itu sangat aman dan tak ribet.


Hitungan telah selesai saatnya mencari mangsa. Bobby aktif memeriksa setiap sudut arena permainan bahkan dibalik semak-semak pun dia korek.


Maria masih menunggu dengan geregetan. Tubuhnya mulai gelisah karena takut Bobby akan menemukannya. Saat berbalik arah ke samping, matanya menangkap sebuah boneka. Rambut pirang menyerupai dirinya dan bola mata besar warna emerald. 


Tapi boneka ini tampak lusuh. Siapa ya yang menaruhnya di sini. Kenapa Maria tak sadar. Maria mengintip keluar tak ada siapa-siapa di sana hanya penampakan Bobby yang berlalu-lalang. Sepertinya boneka ini dibuang. 


Maria mengangkat boneka tersebut dan menatapnya. Cantik, itu yang terlintas di pikirannya.


"Aku harus membawa pulang boneka ini."


"Membawa pulang apa, Maria?"


Sontak Maria hampir melompat mendengar suara Bobby yang sudah berjongkok di pintu lubang. Bobby berhasil menemukannya. Maria menggerutu, untungnya ia sadar sedang berada di mana. Kalau tidak kepalanya sudah kejedot semen bola. Bobby malah memasang wajah tanpa dosa.


Maria pun keluar tak lupa menggendong boneka yang ditemukannya itu. Bobby yang tak sengaja melihat benda di tangan Maria bertanya.


"Itu boneka siapa Maria?"


"Oh, aku juga tak tahu. Tiba-tiba, ada di situ. Mungkin pemiliknya sudah membuang boneka ini karena tak mungkin boneka secantik ini bisa sembarang ditaruh jadi aku ingin merawatnya."


"Kenapa tidak kau cari saja siapa pemiliknya? Nanti dia malah merasa kehilangan boneka itu kalau kau membawanya."


"Tidak apa-apa, lagipula dia juga sudah lusuh siapa juga yang mau mengambilnya lagi. Aku yakin pemiliknya sudah tak membutuhkan boneka ini lagi."


"Terserah kau sajalah Maria. Aku hanya memperingatkan untuk berhati-hati dengan barang yang tak tahu dari mana asalnya."


"Terima kasih Bobby. Aku akan mengingatnya."


Bobby membalasnya dengan tersenyum lalu izin melanjutkan pencariannya. Maria yang sudah ketahuan hanya bisa duduk di pojok taman sambil terus memandangi boneka temuannya itu.


Sejak hari itu, Maria mulai menaruh perhatian kepada boneka tersebut. Kemanapun Maria pergi selalu dibawanya. Ia bahkan sudah mencetuskan nama pada boneka itu yaitu Lulu. Hal yang membuat Maria makin terpikat dengan benda itu adalah dia bisa berbicara layaknya manusia dengan menekan tombol dibalik bajunya.


Orang tua Maria juga sudah tahu dan tak mengkritik apa-apa. Mereka membiarkan Maria menjaga boneka itu selama bisa membuat Maria bahagia itu sudah cukup.


"Maria! Sini bentar, Nak!" Mama Maria memanggil dari dapur.


"Mama nggak liat apa aku kan sedang main sama Lulu." Maria menjawab acuh tak acuh.

__ADS_1


"Mama minta tolong loh sama kamu. Masak kamu lebih peduli sama boneka itu." Mama Maria yang agak terkejut dengan respon Maria mendatanginya ke kamar.


"Ah, Mama kan bisa kerjakan sendiri. Itu ada Bi Rumi kenapa nggak minta tolong sama dia aja."


"Bi Rumi sedang belanja di pasar. Mama cuman minta tolong buat jagain bolu di oven aja. Sekitar 20 menit dia bakalan matang. Mama mau mandi karena bentar lagi Mama mau kerja."


"Aku kan sudah bilang tidak bisa Ma! Mama kok paksa aku! Mama bisa matikan dulu itu oven dan mandi. Itu saja dibuat sulit."


Mama Maria sangat syok ketika mengetahui sikap anaknya berubah seperti ini. Perkataan bernada bentak itu bukan tabiat Maria yang sebenarnya. Dengan hati yang tercabik, Mama Maria pun pergi dari hadapan Maria.


Maria mulai sering berkata kasar dan membentak siapa saja ketika ada orang yang mengusik dirinya sedang bercengkerama dengan boneka kesayangannya itu. Tak peduli jika itu teman-temannya, orang di sekitarnya bahkan kedua orang tuanya.


Gadis itu sudah menutup diri dari publik. Tak lagi bermain setiap sore di taman, tak ingin menyapa tetangga dan tak ingin bersosialisasi dengan orang lain. Semua itu demi boneka cantik itu, hidupnya hanya bergantung pada boneka itu.


Menyadari hal itu, menimbulkan kekhawatiran bagi kedua orang tua Maria. Maria sangat berbeda seperti ada yang mengendalikan pikirannya. Hingga terpercik bayangan mengenai boneka asing tersebut. Boneka yang merubah kepribadian Maria, boneka yang membalikkan kehidupan Maria.


Kedua orang tua Maria tak bisa tinggal diam. Mereka harus mengubah keadaan ini semula. Orang tua Maria tak sanggup menerima semua ini. Mereka berencana ingin membuang boneka itu diam-diam tanpa sepengetahuan Maria.


Malam yang kelam dan sunyi. Tanpa bulan dan bintang yang menemani di singgasananya. Mendorong makhluk bumi untuk tertidur nyenyak. Kecuali kedua orang tua Maria yang sudah siap-siap menjalankan misi. Maria sudah lelap dengan mimpinya.


Mereka pun masuk ke kamar Maria. Dilihatnya boneka itu telentang di samping Maria, dipeluk Maria. Pelan-pelan, mereka menarik boneka itu. Tapi tiba-tiba, boneka itu berbicara.


"Mau apa kalian!"


"Shttt.. Diam lah boneka sialan. Kau tak berhak tinggal bersama Maria. Kau telah mengubah kehidupannya, berterima kasihlah kepada kami karena kami ingin membawamu pulang ke asalmu." Papa Maria berusaha memindahkan tangan Maria.


"Apa?! Jangan berani memisahkan ku dengan Maria, orang tua! Aku menyayangi Maria dan Maria juga menyayangi ku. Tak seperti kalian yang membiarkan dia disekap sepi setiap hari. Kalian benar-benar bodoh karena tak mengerti dengan keadaan Maria. Aku takkan pergi, aku yang akan menjaga Maria."


"Dasar boneka tak tahu diri! Kau yang membuat Maria mengurung diri seperti ini dan sekarang kau menyalahkan kami. Kami sebagai orang tuanya lebih tahu dari kau!"


"Bangsat!" Boneka itu memaki.


"Ada apa ini?" Karena mendengar keributan Maria jadi terbangun. Di Koceknya mata, menetralkan penglihatan dan tampaklah kedua orang tuanya  berdiri di samping tempat tidurnya. Lalu beralih ke boneka itu yang tergeletak di lantai dengan posisi terbalik.


"Mama, papa kenapa kalian ada di sini? Dan kenapa dengan boneka Lulu?" Maria bangkit dan menghampiri boneka tersebut. "Apa yang Mama, Papa lakukan? Aku kan sudah bilang jangan pernah menganggu urusan ku. Apa Jangan-jangan Mama dan Papa mau membuang boneka Lulu?"


"Tidak, sayang. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Mama dan Papa hanya ingin mengajak boneka Lulu untuk menonton televisi bersama. Itu saja."


Maria merasa ragu kemudian ia beralih ke boneka tersebut untuk meminta pengakuannya.


"Mereka berbohong Maria. Mereka ingin membuang ku."


Kini Maria menatap tajam kedua orangtuanya. Maria tak menyangka bahwa mereka berbohong dan lebih parahnya lagi ingin mengambil haknya Maria. Kepercayaannya kepada kedua orang tuanya pupus seketika.


"Aku benci Mama dan Papa." Maria mendekap boneka tersebut dan berlalu dari hadapan kedua orangtuanya.


"Ap..Tunggu Maria! Tolong dengerin Mama dulu! Maria!!"


"Sudah, Ma. Tenang lah, kita bisa bicarakan lagi baik-baik dengan Maria. Biarkan dia sendiri dulu."


"Tapi Pa, kita harus melakukan sesuatu kepada boneka itu. Mama tak sanggup lagi menghadapi ini. Maria tidak seperti yang kita kenal dulu, anakku bukan seperti itu." Mama Maria mulai terisak. Dengan lembut Papa Maria membawanya ke pelukan, membiarkan emosi Mama Maria meredup.


...***...

__ADS_1


"Maria yang baik hati. Kalau kau terus melepaskan kedua orang tuamu mereka bakalan melunjak. Kita harus memberi pelajaran kepada kedua orang tua mu itu. Kalau tidak, mereka akan membuang ku diam-diam seperti tadi, kau mau? Nanti siapa yang menemani mu lagi setiap saat, siapa yang yang mau bermain bersama mu sepanjang waktu. Kau ingin bahagia bukan? Jadi, ikuti saja keinginan ku."


"Aku tak punya keberanian, Lulu. Aku tak bisa melakukannya."


"Tenang saja, aku ada di sini. Aku akan membantu mu."


Mata Maria berpapasan dengan mata boneka itu, mata yang hijau bak berlian mampu membuat Maria luluh. Maria tak bisa berpikir jernih, gadis itu sudah tak peduli apa yang akan terjadi nanti semua Ia serahkan kepada boneka tersebut.


Seperti ada sihir yang merasuki jiwanya, mengambil alih tubuhnya, membungkam sisi baiknya. Besok malam, Maria akan menggapai kebahagiaan itu bersama bonekanya.


Malam masih sama seperti hari-hari sebelumnya, gelap dan kelam. Menyimpan banyak sekali misteri di setiap waktunya. Tempat peristirahatan yang baik bagi makhluk bumi.


Maria masuk ke kamar kedua orangtuanya. Berdiri di samping kasur, memandang wajah lelap mereka. Tatapannya kosong hingga sebuah senyum lebar terukir di bibirnya. Ini akan menjadi malam menyenangkan.


Mama Maria yang mendengar suara desas-desus entah dari mana merasa terganggu. Dia pun terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya Mama Maria ketika matanya menemukan kejadian yang tak terduga.


Mama Maria gemetar. Ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya. Hal itu membuat napasnya sesak.


"Ma...ria?"


Maria langsung menghentikan aktivitasnya ketika menangkap suara yang tak asing. Matanya kini bertemu dengan Mamanya.


"Oh Mama. Mama sudah bangun? kebetulan sekali." Maria tersenyum manis.


"A...pa yang ka..mu lakukan?"


"Ehmm...aku? Ini aku sedang bermain potong-potongan puzzle. Sangat menyenangkan Mama mau coba? Aku baru saja memotong kepala, tangan, ini aku mau memotong kaki."


"Cukup Maria!! Dasar anak kurang ajar! Anak anjing! Iblis!" Mama Maria kehilangan emosi, mendorong anaknya kasar hingga terbentur dinding.


"Papa!!" Mama Maria menangis keras sambil berteriak-teriak. Mengerikan, tubuh papa Maria sudah berserakan di atas kasur. Mama Maria menatap Papa frustasi bagaikan orang gila.


Maria yang terduduk di lantai mendadak tertawa keras, membahana ke seisi ruangan. Merasa puas dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Dasar Mama bodoh! Hahaha...Papa sudah mati, Ma. Jangan bertingkah seperti orang gila! Benar-benar sebuah komedi. Hahaha!!!"


"Kau!!" Mama Maria mengambil pisau yang digunakan oleh Maria tadi untungnya terdampar di lantai.


"Mama mau bunuh aku? Memangnya Mama berani. Ini anak Mama loh, masak Mama tega membunuh anaknya sendiri."


Dengan tangan gemetar, Mama Maria berusaha berjalan mendekat ke arah Maria. Tidak itu bukan Maria, itu iblis yang mengambil pikiran anaknya. Boneka iblis itu dia sudah merebut kehidupan rumah tangganya. Mama Maria terus mengacungkan pisau itu dan...


Crattt...


Darah mengalir deras dari dada Maria. Mama Maria berhasil menusuknya. Dengan brutal dia lanjut menusuk bagian lainnya hingga tubuhnya terpotong-potong. Tapi hal aneh terjadi, tubuh itu kembali utuh. Maria semakin tertawa terbahak-bahak melihat ini semua.


Sebaliknya pisau itu direbut dengan mudah oleh Maria dan menusuk balik perut Mama Maria. Sontak, Mama Maria membeku. Tubuhnya merasa sakit yang luar biasa hingga dia kehilangan keseimbangan. Cairan merah keluar dari mulutnya.


"Tidak! Tidak ini tak mungkin!"


"Apanya yang tak mungkin, Mama?" Maria datang mendekati Mamanya, menuding kan pisau di lehernya. Mata itu, mata hijau jelas sekali kalau itu bukan Maria.


"Kau bukan Maria! Kemana Maria anakku?!"

__ADS_1


"Oh, kau menyadarinya ya orang tua. Aku akan memberitahu sebuah fakta kepadamu. Anakmu Maria tidak ada lagi, dia sudah mati. Tubuh ini sangat menarik jadi aku mengambil nya. Benar-benar keluarga yang bodoh. Mudah sekali membuat kalian percaya. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Tidak baik berlama-lama di sini. Selamat tinggal, Mama."


"Das..ar Iblis!" Mama Maria pun menutup matanya, meninggalkan dendam yang tak berujung.


__ADS_2