Nightmare Diary

Nightmare Diary
Photoshoot


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang menyibukkan raga dan menggulingkan jiwa. Setelah liburan semester ganjil beberapa hari, Liza kembali menggiring langkahnya menuju ke sekolah. Dan memulai kegiatan pembelajaran seperti biasa.


Tapi, khusus untuk kelas 12—Liza menjadi bagiannya—terlebih dahulu akan melakukan pengambilan photoshoot untuk buku tahunan yang sudah digemparkan bulan lalu.


Mereka akan berpose selama 4 hari. Setiap satu hari berganti mengukir satu tema. Dan hari ini merupakan hari pertama dengan tema Vintage.


Jam sudah merayap di angka tujuh, satu jam lagi Lisa akan berangkat ke tempat pemotretan. Mereka memilih lokasi di Gedung Putih, Jln. Kendari Purna.


Di sana tempatnya klasik bervisual retro, cocok dengan tema photoshoot mereka sekaligus dekat dengan jarak sekolah.


Lisa mulai bersiap-siap menciptakan style dan outfit selangit yang akan memuaskan mata. Tak lupa bubuhan Make-up tipis. Setelah sejam mengcover diri, Liza pun berangkat bersama teman-temannya dengan bus sekolah menuju Gedung Putih.


Perjalanan diisi dengan nyanyian riang, kehebohan yang berkoar-koar di dalam bus. Sekitar 15 menit mengarungi ruas jalan kota, mereka pun tiba di tujuan.


Disambut oleh pemandangan bangunan tua megah, pepohonan rimbun yang menyusuri setiap jalan setapak dan danau kecil yang bersuaka di tengah-tengahnya, lalu berhenti di


serambi yang terikat dengan tangga di kanan-kirinya menyatu berbentuk huruf V.


Mereka beramai-ramai turun dari bus lantas berpencar. Ada yang langsung mematut diri di kaca—yang kebetulan dinding bangunan dilapisi dengan kaca besar—ingin mengoreksi penampilan, ada berswafoto untuk mengabdikan momen di Gedung Putih dan ada yang duduk-duduk menunggu giliran sesi pemotretan.


Pandangan Liza langsung menyapu seluruh bagian bangunan. Seperti struktur abad belanda, tempatnya tak terurus dan berlumut.


Penuh bercak-bercak cokelat melekat di sudut tembok. Liza tak banyak melakukan apapun hanya mengekor dan mengamati tiap-tiap kesibukan teman-temannya.


Hingga dua abang fotografer datang, mengatur tata letak spot yang bagus dan mulai bergantian melakukan pengambilan gambar secara per kelompok yang terdiri dari lima orang.


Liza mendapat giliran sesi kedua, tak perlu terburu-buru untuk mengemasi diri. Ia pun menghampiri salah satu temannya yang


bernama Atin, berbincang-bincang mengupas kebosanan yang sejak tadi menyelimutinya.


Sesekali melirik teman-teman lainnya yang tengah menjadi pusat perhatian karena sedang di potrait, bergaya bak model kelas atas.


Jepretan kamera terus menyerbu mereka, bergantian satu persatu. Kedua abang fotografer itu tak henti-henti mengambil dan mencari posisi yang bagus.

__ADS_1


Ada satu hal yang dari tadi membuat Liza penasaran dan sangat terusik dengan keberadaannya, yaitu pintu merah yang merupakan pintu masuk ke dalam bangunan tua itu. Pintunya seperti sengaja di kunci menandakan dilarang masuk.


“Tin, kalau kita masuk ke dalam pintu tu kita bakal ketemu apa ya?”


“Nggak usah ngada-ngada deh, Liz. Yang ada seram tahu!”


“Oh gitu ya.” Liza merespon seadanya.


Setelah itu, mereka tak lagi membahas mengenai pintu tersebut, malah berlari ke topik oppa-oppa korea yang sedang nge-hits mengguncang media.


Hingga tak terasa waktu terus terbuang, sesi pemotretan pun selesai bagi kelas Liza. Abang fotografer pun harus beralih ke kelas lain untuk tahap menembakkan kamera selanjutnya.


Kini kelas Liza sudah bebas memotret sana-sini secara random. Bahkan mereka akan membuat tiktok sebagai hiburan. Lisa tak ikut, ia hanya duduk bersandar di penyangga, memperhatikan.


Saat tengah asyik menonton teman-temannya bersenang-senang, Lisa seperti merasa ada suara kasak-kusuk entah dari mana. Suaranya agak kecil, tapi masih bisa ditangkap oleh telinga.


Liza mengedarkan pandangannya untuk mencari asal suara. Ketika pupil matanya menelusup ke dalam bangunan yang tembus oleh kaca itu, Liza berprasangka bahwa suaranya berasal dari dalam yang mungkin masih ada orang yang bekerja.


“Na, apa masih ada orang yang kerja di dalam bangunan tu? ”


Teman yang bernama Nina itu menoleh heran, “Kau gila ya, mana ada lagi orang yang kerja di sana.”


Liza diliputi kebingungan, jelas-jelas suara tersebut berada tak jauh dari tempat mereka berada. Apa mungkin perasaannya saja ya, Liza pun berusaha menghalau pikiran aneh di kepalanya.


Teman-teman dari kelas lain semakin ramai berdatangan, memenuhi area serambi bangunan. Sebagiannya juga ada yang duduk di pinggir danau, berkeliling menyusuri rute Gedung Putih dan bagi yang sudah perutnya keroncongan bergegas membeli makanan di kedai seberang jalan.


Liza masih setia dengan posisinya. Tapi kali ini ia duduk seorang diri, Nina sudah pergi bergabung bersama yang lain. Tiba-tiba, Liza merasa sangat mengantuk. Berkali-kali ia menguap lebar.


Tubuhnya juga lemas dan pusing seperti ada yang menyedot seluruh energinya. Kelopak matanya mulai berat bahkan sayup-sayup ia seperti bisa mendengar suara yang memaksanya untuk segera tidur.


Tak tahan dengan rasa kantuk yang terus menyerang, Liza akhirnya tergolek di penyangga tersebut.


Tak tahu apa yang terjadi Liza terbangun dan mendadak sudah berada di sebuah ruangan yang asing, gelap dan dipenuhi oleh sarang laba-laba.

__ADS_1


Rasa bingung kembali merasuki dirinya, padahal tadi Liza sedang bersama teman-temannya tapi sekarang kenapa tidak ada seorang pun yang nampak. Liza pun


berjalan pelan melacak setiap lantai ruangan barangkali ia menemukan petunjuk.


Wushhh… sesuatu melintas secepat angin menggelitik tubuh Liza yang membuatnya  tertegun. Liza mulai merinding, perasaannya was-was, “Siapa di sana?”


Tidak ada respon apa-apa, berarti ia masih berteman kan kosong,  matanya jadi awas menatap sekitar. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya mulai muncul bayangan-bayangan aneh.


Liza berusaha mempercepat langkahnya, ia berharap bisa keluar segera dari sini dengan selamat. Sampai ia dihadapkan oleh sebuah kursi yang terletak di tengah-tengah ruangan, kursi putih dengan sedikit noda.


Liza mendekati kursi tersebut. “Apa ini kursi milik ruangan ini? Tapi kenapa ditaruhnya di tengah-tengah, ini kan bisa menghadang orang jalan.”


Ketika Liza berniat memindahkan kursi tersebut ke tepi, tiba-tiba tangannya seperti ditarik oleh sesuatu tak terlihat. “Apa-apaan ini!”


Liza pun berusaha melepaskan tangannya sekuat mungkin dari tarikan itu tapi malah menciptakan bercak merah di pergelangan tangannya, perih.


Tiba-tiba, dari arah belakangnya terdengar suara-suara keras, berkata “duduklah!” Ia menoleh dan mendapati kumpulan sosok mengerikan sedang mengepungnya, berwajah hancur persis seperti zombie.


Liza ketakutan setengah mati kemudian ia meronta-ronta dan berteriak kencang lantas secara ajaib…


“Hahhh!” Liza kembali terbangun, nafasnya tersengal, tersadar bahwa kali ini ia tidak berada di ruangan itu lagi melainkan berada di serambi yang memperlihatkan beberapa teman-temannya masih berselfie ria, bercengkerama dengan


sesama.


Liza pun bangkit dengan tenaga yang terkuras habis, tubuhnya terasa panas. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


Tak ingin keadaannya ketahuan oleh teman-temannya, Liza langsung mengusap kasar air matanya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Ia pergi dari tempat itu menuju ke pinggir danau berbaur dengan yang lebih banyak orang.


Sebelum melangkah untuk pindah, Liza tak sengaja berpapasan dengan salah satu abang fotografer, berambut pirang.


Sambil menenteng kamera di pundak, abang itu berjalan melewatinya lalu hilang di balik taman yang terhubung dengan bangunan kuno ini. Liza tak begitu memperdulikannya karena masih dihantui oleh mimpi buruk tersebut, pikirannya tak sanggup berpikir jernih.


Ketika sampai di lokasi yang diinginkan, Liza menangkap abang fotografer berambut pirang itu tengah memberi arahan pose yang estetik serta tatanan properti yang pas bagi kelas lain.

__ADS_1


__ADS_2