
Doll’s Key, adalah sebuah toko boneka antik yang ada di sebuah kota terpencil. Tidak ada yang tahu sejak kapan toko tersebut berdiri, warga sekitar mengatakan bahwa toko tersebut dijalankan secara turun temurun oleh sebuah keluarga yang memang sudah ada sejak kota itu didirikan, keluarga Crombell.
Sekilas toko boneka antik itu tampak seperti toko yang sudah bangkrut lantaran dinding bangunan yang sudah mengelupas dan dililiti
tanaman liar. Toko tersebut tampak tercekik dengan semak belukar yang menguasai setiap sisi dinding kecuali bagian depan. Namun hal itulah yang menjadi daya tarik dari toko ini, banyak pecinta barang antik sampai anak-anak muda yang ingin melakukan uji nyali menargetkan toko kecil ini.
Hal yang pertama menjadi alasanku berada tepat di depan Doll’s Key sekarang. Aku adalah penggila barang antik, terutama jika barang antik itu bersinggungan dengan hal mistis. Dari jarak lima meter sudah terasa aura khas dari toko ini.
Dengan semangat aku melangkahkan kakiku memasuki toko Doll’s Key, baru selangkah aku langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Lantai kayu yang berderit saat dipijak, bunyi lonceng yang terpasang dibelakang pintu, pencahayaan yang temaram dan aroma kayu mahoni yang begitu kuat.
“Perfect.” Pandanganku meluncur liar ke segala arah, ini adalah toko impian.
CLINGG…
Pandanganku langsung menembak ke arah suara, sepertinya suara tadi berasal dari meja kasir. Selang dua detik muncul sebuah kepala dari bawah meja.
“Hai anak manis, siap berpetualang?” Ternyata itu adalah kepala seorang wanita tua, mungkin ia adalah pemiliknya.
Aku mengangguk antusias, wanita tua itu memberikan secarik kertas lusuh kepadaku dan menunjuk ke sebuah pintu kayu. Seluruh tubuhku seolah terpanggil oleh pintu itu, seperti ada magnet kuat yang akan membuatku menyesal jika tidak memasukinya.
Tiba-tiba tanganku di tahan, ternyata wanita itu yang menahan tanganku. Mungkin karena terlalu kagum aku sampai tak sadar kapan ia bangkit dari meja kasir dan berada tepat di belakangku.
“Hindari sentuhan kaca.” Ucapnya lalu melepaskan tanganku, nada yang terdengar tidak ramah. Peringatan, sangat menjengkelkan.
Aku berusaha menetralkan ekspresiku dan berjalan ke arah pintu, sangat tidak sabar dengan ‘kesenangan’ yang menanti dibaliknya. Pintu itu berderit kencang saat aku mendorongnya ke dalam, terdengar seperti
__ADS_1
sudah lama tak ada yang membukanya.
Mataku berbinar cerah di bawah pencahayaan yang minim dalam ruangan itu, puluhan mungkin ratusan barang antik tersusun begitu apik. Susunan berantakan yang menambahkan kesan mistis dan kelam. Sebuah ranjang merah muda bergaya Eropa klasik ditutupi kelambu putih usang berada tepat disudut ruangan.
Semua rak yang bersisi barang-barang antik memenuhi dinding. Banyak barang yang berserakan yang mengelilingi ranjang, aku tak dapat melihat dengan jelas arah ranjang karena pencahayaannya hanya tidak menjangkau ke arah situ. Hanya di terangi dengan sebatang lilin di atas nakas yang ada di sisi ranjang. Ruangan luas ini mirip seperti kamar seorang gadis muda jika tertata lebih rapi.
Perhatianku tertuju pada sebuah lukisan yang
tergantung tepat di atas nakas yang berada disisi ranjang.
Cahaya lilin yang menyala-nyala menerpa wajahnya, memberikan kesan tiupan angin yang kencang. Lukisan seorang wanita yang memakai kimono merah dan pandangan yang menyapu ke segala arah. Aku menyebutnya seperti itu karena ia selalu melirik kemanapun aku melangkah seolah mengawasi, ilusi optik yang sangat menarik.
Lalu aku mengalihkan pandanganku ke ‘benda’ yang ada di balik kelambu yang nyaris transparan. Aku sedikit menyingkap kelambu dan mengintip sesuatu dibalik kain tipis penuh debu.
“Rest In Peace, My Little Lady.” Aku membacanya dengan teliti, berusaha menemukan sesuatu yang lain. tanpa sengaja wajahku berada tepat di depan wajah seseorang.
Aku tersenyum, bagaimana bisa bonekanya begitu mirip dengan seorang gadis yang sedang tertidur. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas lantaran cahaya lilin yang bergoyang seolah ada angin kencang yang baru bertiup. Aku melirik ke belakang tepat ke arah lilin yang berada dibawah
lukisan wanita yang memakai kimono merah.
Lalu pandanganku naik dan menatap
lukisan wanita itu, sekarang ia menampilkan raut wajah cemberut?
Aku kembali memperhatikan peti kaca sambil sesekali mendekatkan wajahku untuk melihat detail di dalamnya. Boneka ini memiliki tato di punggung tangannya yang terbaring anggun di samping tubuhnya. ‘Be carefull with the glass touch.’ Tulisannya
__ADS_1
begitu unik dan indah, tulisan melingkar dengan pola-pola rumit yang menghiasinya.
Aku begitu terpaku dengan pola di tangan boneka itu sampai hampir tak menyadari sebuah benda yang bergerak di belakangku.
Tiba-tiba sebuah lilin jatuh ke lantai, aku terkejut dan tanpa sengaja memegang peti kaca itu. Wajahku berada tepat di atas wajah
boneka itu, samar aku melihat ia tersenyum.
Mungkin memang sejak awal boneka ini dibuat dengan senyum di wajahnya, tapi ia baru saja tersenyum dengan mata yang masih terpejam saat aku melihatnya dengan jarak sedekat ini.
Kejadian aneh berlanjut karena tiba-tiba angin kencang menyingkap seluruh sisi kelambu dan senyum boneka ini semakin mengembang, manis sekali. Bulu kudukku meremang saat menyadari tidak ada jendela di ruangan ini, hanya sebuah pintu jalan keluarnya.
Sedetik kemudian aku mendengar suara jeritan, suaranya berasal dari lukisan wanita yang memakai kimono merah. Suara yang begitu melengking hingga membuat telinga sakit lalu terdengar suara lonceng yang berdentang keras.
Aku menutup telingaku kuat-kuat dan berlari ke arah pintu, tapi entah mengapa pintunya terasa sangat jauh. Padahal aku sudah berlari dengan sekuat tenaga, lalu aku merasa sangat kelelahan dan perlahan mataku tertutup.
Entah sudah berapa lama aku menutup mata, saat tersadar aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Hal pertama yang kulihat adalah
pintu masuk ke ruangan yang sekarang perlahan terbuka dari luar.
Aku ingin berteriak meminta tolong namun aku bahkan tak punya tenaga untuk itu. Aku hanya bisa melihat seseorang masuk sambil membawa lentera, dia adalah wanita tua yang kutemui di meja kasir.
Ia masuk dan melihatku dengan tatapan kasihan, ia menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Wanita tua mendekatiku lalu dengan mudahnya mengangkat ku ke atas, aku tidak bisa mengerakkan tubuhku sedikitpun. Ini aneh, wanita tua itu seolah sedang menggantung ku di dinding.
Ia tersenyum remeh, “Can’t you see the warning signs?”
__ADS_1