Nightmare Diary

Nightmare Diary
Pohon Pisang yang Angker


__ADS_3

"Din, kamu harus hati-hati ya kalau misalnya mau lewat jalan kecil menuju rumah Pak Camat. Soalnya di situ ada pohon pisang yang katanya angker. Orang-orang yang lewat situ sering melihat penampakan kuntilanak."


"Nggak usah ngada-ngada deh kamu. Nih ya aku kasih tahu, hantu itu nggak ada di dimensi kita yang ada tu jin. Itu cuman akal-akalan manusia aja buat nakut-nakutin. Walaupun itu jin pasti dia berubah wujud palingan kalau kita baca doa udah lenyap tu makhluk."


"Ish, nggak percaya dibilangin. Aku serius Dinda. Itu betulan hantu, rambutnya panjang sampai ke punggung, baju putih penuh lumpur dan nggak ada kaki."


"Emang nya kamu tahu bentuknya kek gitu? Pernah liat?"


"Sebenarnya aku nggak pernah tengok juga sih, tapi ada seseorang yang kirim videonya ke aku. Kamu mau coba liat?"


"Nggak usah, buang-buang waktu aja aku liat hal yang nggak masuk akal kek gitu."


"Hmm, jangan bilang kamu takut sampai nggak berani nengok videonya."


"Enak aja! Bukan nggak berani tapi males."


"Terserah kamu aja deh. Aku cuman memperingatkan."


Aku hanya mengedikkan bahu, tak peduli. Yang barusan berbicara itu adalah temanku namanya Ryu. Dia orang nya sedikit aneh, suka langsung percaya kepada hal-hal yang berbau mistis. Bisa dibilang juga dia maniak horor selalu update dan follow berita-berita penampakan.


Aku sih bodo amat. Yang penting dia bahagia. Sebagai teman yang baik aku memaklumi dan tidak terlalu mempermasalahkannya. Lain halnya dengan aku yang pantang sekali percaya mengenai hantu, makhluk yang katanya menyeramkan.


Mungkin karena aku belum pernah bertemu, entahlah. Walaupun aku sudah sering liat video penampakan di televisi atau YouTube, aku berpersepsi itu hanya editan. Tapi kadang aku juga berharap untuk jangan muncul itu makhluk kasar mata di hadapanku. Jadi merinding sendiri membayangkannya.


Pelajaran hari ini telah usai. Karena guru rapat kami dipersilahkan untuk pulang cepat. Aku langsung mengambil alih perhatian teman-teman ku dengan berdiri di depan karena ada hal yang ingin aku umumkan.


"Teman-teman ku sekalian, aku ingin mengundang kalian untuk datang ke rumahku besok karena ada kenduri kecil-kecilan. Jangan lupa datang ya!"


"Yeyyy, makan-makan gratis. Aman tu Din, kami semua bakalan datang kok, ya nggak friend?" ketua kelas yang paling ricuh mewakilkan, semua langsung bersorak "iya".


Aku hanya tersenyum. Sepertinya besok akan menjadi hari tersibuk bagiku. Tak apalah jarang-jarang juga Ibuku mengadakan acara seperti itu. Selain ingin meminta agar segala hajat di kabulkan juga sebagai momen merekatkan kerukunan dan persaudaraan warga satu kampung.


"Din, cepetan!" Ryu melambai tangan di depan pintu. Teman-teman sekelas ku yang lain sudah pada bubar. Aku pun menenteng tas dan pulang bersama Ryu.


...***...


"Dinda, tolong kamu taruh ini di meja ruang tamu. Ibu mau beli santan di toko sebentar, kalau ada tamu suruh masuk saja." Ibu menyodorkan ku mangkok besar berisi rendang. Aku pun bergegas menuju ruang tamu. Di sana sudah tertata rapi semua, mulai dari karpet, berbagai hidangan di meja, minuman sirup susu serta jejeran tisu.

__ADS_1


Sekitar lima menit berselang, tamu mulai berdatangan memenuhi halaman rumahku. Aku membuka pintu lebar-lebar lalu mempersilahkan mereka masuk. Acara ini full sampai malam hari. Nanti malam akan dilanjutkan dengan pengajian bersama.


Aku tak menyangka akan seramai ini bahkan teman-teman yang sebelumnya aku ajak cuman sekelas malah datang setengah sekolah, padahal hanya acara kecil-kecilan saja. Aku sampai tak bisa istirahat dengan tenang gara-gara sibuk menjamu tamu.


Hingga malam pun tiba. Para petinggi kampung sudah berkumpul mengelilingi karpet juga beberapa warga yang sempat hadir juga ikut duduk. Berlangsung dengan pembacaan doa-doa yang ingin dipanjatkan.


Pekerjaan ku sudah selesai. Jadi, aku hanya berdiam diri di kamar sambil memainkan ponsel.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Akhirnya acara kenduri pun berjalan dengan lancar. Ruang tamu sudah sepi dan makanan juga telah ludes semua.


Sekarang aku harus membereskan barang-barang yang masih tersisa di ruang tersebut. Tiba-tiba, mataku menangkap sebuah dompet tergeletak di sudut karpet. Aku meraih dompet tersebut, di dalamnya terdapat foto, kartu penting dan uang.


"Ibu, lihat ini ada dompet yang tertinggal." Aku mendatangi Ibu yang sedang menonton, menunjukkan dompet tersebut.


"Astaghfirullah, ini dompetnya Pak Camat. Sebaiknya kamu segera mengembalikan ini ke pemiliknya Dinda."


"Sekarang, Bu? Ini kan sudah malam, kenapa tidak besok saja."


"Kemungkinan besar Pak Camat akan mencari-cari dompet Ini. Lebih cepat kamu kembalikan lebih baik kan. Lagipula rumahnya tak terlalu jauh kamu bisa jalan kaki."


Aku telah memasuki jalan kecil yang sedikit lagi tiba di tujuan. Suasana gelap pun membungkus sekitar tak ada lampu hanya cahaya bulan yang sedikit menerangi.


Di samping jalan, terdapat kebun yang terbatas penuh dengan pohon kecil maupun besar yang menjulang tinggi. Mendadak aku teringat dengan penampakan pada pohon pisang yang dikatakan Ryu kemarin.


Aku celingak-celinguk mencari keberadaan pohon tersebut. Kebetulan sekali tak jauh dari tempat ku berada sudah terpampang jelas batangnya yang lebar dengan posturnya yang mencolok itu membuatku mudah untuk menemukannya.


Ku tatap lama pohon pisang itu. Hingga tiba-tiba, sesuatu yang dingin menggelitik tubuhku. Ku rasakan bulu kuduk ku merinding. Hawa disekitar mulai aneh, tenggorokan ku seakan tercekat. Jantungku juga tak karuan.


Aku mencoba berpikir positif, lupakan apa yang dikatakan oleh Ryu tadi. Hantu itu tidak ada itu semua hanya omong kosong. Ku percepat langkah ku agar segera tiba di rumah Pak Camat.


Hi..hi..hi


Seperti ada yang mencegah, aku terhenti. Sepertinya tadi aku mendengar suara orang tertawa. Tidak! itu mungkin hanya halusinasi ku saja. Ayolah, Dinda jalan aja terus jangan berpikir yang aneh-aneh. Jangan liat ke mana-mana tetap fokus ke depan. Aku tetap bersikukuh berpikir positif walaupun tubuh sudah panas-dingin.


Hi...hi..hi


Aku kembali berjalan cepat. Kenapa dari tadi tak sampai-sampai juga di rumahnya Pak Camat. Apa ini pengaruh makhluk halus tersebut. Ya Allah, tolong lindungi aku.

__ADS_1


Mendadak sesuatu yang putih seperti angin melintas cepat tepat di depanku membuat ku otomatis oleng dan terjatuh. Darah merembes keluar dari lututku membentuk luka kecil. Sakit. Aku ingin pulang, tak tahan lagi aku mulai menangis.


Suara tertawa tersebut semakin jelas terdengar di telinga ku. Hingga ku rasakan seperti ada seseorang berdiri di sampingku. Ya tepat di sampingku. Karena penasaran siapa yang datang, perlahan ku angkat kepalaku agar bisa melihatnya.


Degh...


Tubuhku mati rasa. Baru kali ini aku melihatnya, sosok yang disebut-sebut sebagai hantu oleh orang banyak tengah berdiri di sampingku, sangat dekat. Persis seperti yang dikatakan oleh Ryu, rambut panjang sampai punggung, pakaian putih bercak lumpur dan..tidak ada kaki.


Aku ingin berteriak tapi suaraku tak bisa keluar. Air mata ini semakin deras mengalir. Aku berusaha mengalihkan pandangan ku darinya dengan menunduk. Siapapun tolong selamatkan aku!


"Nak Dinda?!"


Aku menoleh ke sumber suara. Aku mengatur penglihatan, Itu kan Pak Camat. Beliau menghampiri ku yang terheran-heran karena duduk di tanah.


"Pak!"


"Kamu kenapa ada di sini? dan kenapa malah duduk di tanah begini? Kamu nggak papa?"


Pak Camat mengulurkan tangannya untuk membantu ku berdiri. Aku tak menjawab pertanyaannya Pak Camat dan malah menangis tersedu-sedu. Seakan mengerti Pak Camat langsung membawa ku ke rumahnya.


Setelah keadaan kembali stabil, aku pun menceritakan kejadian mengerikan tadi serta maksud tujuanku datang kemari. Pak Camat mengangguk-angguk mendengar ceritaku. Istrinya yang sedang menghidangkan teh panas ikut bergabung.


"Sebelumnya terimakasih banyak buat Nak Dinda karena udah mengembalikan dompet Bapak. Rencana Bapak tadi juga ingin pergi ke rumah kamu untuk mencari dompet nya. Tak sengaja Bapak liat kamu duduk sendiri di jalan itu, Bapak pikir kamu kenapa-napa makanya Bapak samperin."


"Untuk masalah makhluk halus itu, dia memang ada. Sering menampakkan diri di atas jam sembilan malam. Kamu tahu kan pohon pisang besar di samping jalan? Itu adalah tempat tinggalnya. Bapak udah berusaha tebang pohon itu tapi tak bisa."


"Jadi, Bapak nggak berniat tebang lagi? Dia udah ganggu banyak orang loh Pak." Aku merasa frustasi mengingat kejadian tadi.


"Tidak bisa Nak. Nanti akan beresiko besar. Bapak udah pikir ini matang-matang, lebih baik kita dibiarkan saja dulu sampai makhluk tersebut pindah."


"Tapi Pak gimana nanti kalau terjadi penampakan lagi?"


"Bapak ingin membuat tembok pembatas di sisi jalan sampai menutupi area kebun tersebut. Kamu jangan khawatir, Bapak akan tanggung jawab atas kejadian ini. Dan untuk tambahan Bapak akan panggilkan Ulama terpandang untuk mencoba mengusir makhluk tersebut."


Aku menjadi lega setelah mendengar penuturan Pak Camat. Aku berharap tidak ada lagi korban yang mengalami hal tersebut. Sangat menakutkan.


Oh ya, mulai sekarang aku sudah percaya akan keberadaan hantu atau hal-hal gaib lainnya. Nanti aku akan menceritakan kembali kepada Ryu dan kalau bisa aku akan meminta tips bagaimana cara menangkal makhluk halus itu.

__ADS_1


__ADS_2