
Mereka saling memakan jemarinya masing-masing. Wajah mereka semua keriput dan pucat. Tubuh mereka nampak kurus sampai nyaris hanya terlihat tulangnya saja, gerakan mereka gemulai dan Tampak tidak natural, tidak seperti manusia sebelumnya.
Dengan mulut yang berbusa dan gigi kuning kehitaman, mereka berbicara dengan sesamanya dengan bahasa yang sulit dimengerti. Mereka mengerikan.
Pikiran-pikiran aneh berseliweran di benakku, tentang apa yang terjadi dengan mereka? Mengapa mereka semua berubah dan tidak seperti manusia pada umumnya? Apa yang menyebabkan semua ini? Apa mamah dan papah baik-baik saja? Banyak yang terjadi selama tiga bulan tidak keluar rumah. Mah, Pah, cepat pulang!
Tinggal seorang diri di rumah yang mungkin orang lainpun tidak mengetahui keberadaannya, benar-benar membuatku kesepian karena tidak memiliki teman. Kedua orangtuaku adalah peneliti di kementrian riset milik negara.
Tiga bulan yang lalu, orangtuaku pamit bekerja sementara aku berangkat ke sekolah. Sore harinya, orangtuaku belum pulang juga.
“Mungkin malam," pikirku. Dan mereka tak kunjung pulang, esok harinya, tiga hari, aku mulai khawatir. Aku tak berani keluar rumah untuk mencari mereka. Untuk mengisi keheningan, sambil menunggu kembalinya mamah dan papah, ku nyalakan radio. saluran ku ganti-ganti, hingga ku berhenti di siaran langsung kementrian riset.
“ada kerusakan di laboratorium..”,
“semua orang sedang evakuasi..”,
“.. berpotensi menyebarnya hasil uji lab..”
Aku tak mengerti ada apa di sana, tapi yang pasti, aku ingin orangtuaku kembali. Namun sayang, aku belum berani mengambil tindakan.
Tepat tiga bulan siaran radio itu, aku hampir gila dibuatnya, terperangkap di kamar tanpa kepastian. Membuatku jengah dan mulai berfikir skeptis, apa yang harus aku lakukan untuk bertemu orangtuaku dan mendapat pencerahan.
Lama ku terdiam dan melamun memikirkan hal itu, sampai lamunanku terpecah mendengar suara ketukan kecil di pintu kamarku. Tubuhku membeku ngeri, sudah lama aku tidak bertemu orang.
“Siapa?” aku bertanya.
Hening..
“Siapa?” kutanya lagi.
Masih hening..
“Tikus.." pikirku
Aku tak menghiraukannya. Kemudian, ku lanjutkan lamunanku, hingga tak terasa senja sudah jatuh di langit. Ku tengok jendela kamarku yang sengaja ku tutupi gorden dan tak pernah lagi kubuka selama ini.
Perutku berbunyi tanda lapar, ku langkahkan kaki ke meja belajar dengan sisa persediaan makanan seadanya, yang ternyata hanya cukup untuk hari ini. Ku seduh mie instan, dan melahapnya habis. Kekenyangan, aku pun tertidur lelap.
Hangat matahari dari cahayanya menyorot jendela membangunkan ku. Dan entah kenapa, hatiku bergejolak seiring pikiranku berontak agar diriku segera mengambil tindakan, dan tidak diam saja.
Sejenak ku tatap radio di samping kasur, ku nyalakan dan kucari lagi siaran itu, namun yang kudengar hanya gemuruh khas tanda tak ada sinyal, atau mungkin terputus dari sananya. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Aku jadi makin penasaran. Dan yang terpenting, apa orangtuaku baik-baik saja? Semoga.
__ADS_1
Ku teguhkan tekadku untuk bertemu mereka serta memenuhi hasrat penasaranku tentang apa yang sebenarnya telah terjadi selama ini. Aku bergegas mengganti pakaian dan siap-siap.
Setelah kurasa sudah siap, ku langkahkan kaki dan kubuka pintu. Kemudian, alangkah terkejutnya aku saat mendapati lantai rumah berlumuran darah dan banyak bangkai tikus dengan kepala mereka yang terpisah dari badannya.
Pemandangan yang mengerikan. Kuurungkan niatku untuk keluar rumah, namun rasa sayangku pada mamah papah lebih besar dari ketakutan ini.
Setelah melihat keadaan rumah selama tiga bulan tak terurus barusan, keanehan mulai kurasakan. Setelah tiga bulan pula, akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar rumah.
Ku berjalan perlahan-lahan dengan tujuan ke kementrian riset, tempat orangtuaku bekerja dan hanya itu tempat mereka seharusnya berada. Seiring langkahku berjalan, makin kusadari juga bahwa hanya aku seorang diri di sini, tidak ada makhluk hidup lain, aku benar-benar sendiri. Bahkan tak nampak seekor kucing pun.
“Keadaan makin aneh," ucapku dalam hati, bingung.
Jarak dari rumahku ke kantor kementrian riset cukup jauh, biasanya aku kesana menggunakan taksi ataupun ojek, tapi keadaannya sepi seperti ini, aku terpaksa harus berjalan kaki.
Lama ku berjalan sambil ku edarkan pandanganku ke sekitar, tak kutemui siapapun. Matahari sudah sampai di atas kepala membuat siang itu panas sekali. Kulihat ada sebuah warung yang buka, ku hampiri untuk membeli minum dan semoga saja ada orang di sana.
Sesampainya di warung tersebut, ku mencari orang yang berjualan namun tak ada yang muncul. Lalu ku putuskan untuk sejenak istirahat, sambil ku minum teh botol dingin yang seharusnya ku bayar itu.
Tiba-tiba kudengar ada bunyi srek, srek, srek di dalam warung tersebut. Aku menengok ke dalam, hanya gelapnya ruangan ada di sana, namun saat kuperhatikan dengan seksama, nampak ada seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi. Tanpa pikir panjang, ku hampiri orang itu. Perlahan ku melangkah ke dalam ruangan gelap warung itu.
“Permisi..” ucapku Orang itu tidak menjawab, namun hanya berdeham kecil dan sesekali batuk.
“Orang ini mungkin sedang sakit," pikirku. Orang itu duduk membelakangiku, aku memberanikan diri untuk menghadapnya. Aku terkejut saat melihat orang itu.
Ku perhatikan jengkal demi jengkal tubuh orang ini, sampai perhatianku tertuju pada pergelangan tangannya, aku melihat ada sebuah tanda mirip sebuah barcode. Untuk apa ada barcode di lengan orang ini?
Saat perhatianku masih tertuju pada lengannya, tiba-tiba orang itu terbangun dan berteriak sejadi-jadinya, menimbulkan gema di ruangan tersebut yang sungguh membuatku kaget setengah mati. Orang itu menangis, menjerit seperti kesakitan dengan darah mulai mengalir dari telinganya.
Sempat melirik ke arahku dan mencoba menarikku, menunjukkan gesture seperti minta tolong, namun aku sudah kepalang takut dan menjauh dari orang itu. Sesaat kemudian, orang itu terdiam dan jatuh ke lantai, dia mati. Aku makin bingung, apa yang terjadi disini. “Persetan!” gumamku ketus.
Dirasa keadaan sudah tidak aman, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan warung tersebut, dan kembali melanjutkan perjalanan ke kantor kementrian riset negara, mencari tahu apa yang sebenernya terjadi dan mencari keberadaan mamah dan papah.
Singkat cerita, sampailah aku di kementrian, selama di perjalanan masih tak kutemui orang lain selain si orang aneh di warung tadi. Langit sudah mulai gelap saat itu. Keadaan di jalanan dekat kementrian sangat kacau, gedung kantor hancur dengan pecahan kaca dimana-mana, tembok sudah keropos dan membuat gedung seakan ingin roboh.
Namun, tetap saja tak ada satupun orang di sana. Aku berharap ada yang bisa ditanyakan tentang keadaan disini dan tentang kabar orangtuaku. Tanpa lama-lama berfikir ku putuskan untuk masuk ke dalam gedung, untuk mencari keberadaan orangtuaku.
Suasana berubah seketika saat aku memasuki gedung. Dingin, lembab dan bau busuk menghampiri hidungku. Gelap sekali di sini, ditambah waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore dan matahari hampir tenggelam. Kubuka ranselku, lalu kuambil senter untuk menerangi jalan.
Dan betapa kagetnya aku saat menyadari, bahwa senterku ini sedang menyorot kumpulan manusia yang tubuhnya tergantung di langit-langit ruangan kantor. Sedikit demi sedikit ku melangkah mundur, sambil pandanganku tak bisa lepas apa yang kulihat.
Orang-orang itu seperti belatung di tong sampah, berkerumun dengan warna yang sama, pucat. Mereka tidak mati, mungkin setengah mati, jelas menyeramkan.
__ADS_1
Kuperhatikan dan kuingat-ingat, keadaan orang-orang di hadapanku ini mirip dengan keadaan si penjaga warung tadi, atau mungkin sama persis.
Aku kemudian mengira-ngira, “apa yang membuat orang-orang ini menderita gejala yang sama?” dan satu hal lagi, mereka semua memiliki tanda barcode yang sama di lengannya.
Di antara kerumunan orang-orang aneh tersebut, aku mengenali beberapa wajah yang familiar. Aku melihat Pak Joni, tetangga tiga rumah sebelah kiriku yang memang bekerja disini sebagai satpam.
Lalu ada Ibu Susan, tetangga dua rumah sebelah kananku adalah seorang teknisi disini. Dan mereka nampak aneh sekaligus mengerikan. Apa yang terjadi pada mereka? Selain itu, ada pertanyaan yang benar-benar mengganjal otakku,
“DIMANA ORANGTUAKU?!!”
Kulanjutkan pencarianku masuk lebih dalam lagi kedalam gedung, yang sebenarnya aku takutkan bakal roboh sewaktu-waktu. Tapi, demi bertemu mamah papah aku tak peduli itu.
Aku memasuki sebuah lorong dengan lift di ujungnya. Sambil menengok ke sekitar, ku dapati ada petunjuk arah ke masing-masing sektor dan ruangan.
"Lab ke bawah ya, lantai B1,"gumamku. Namun, kulihat liftnya sudah rusak meskipun lampu indikator berkedip-kedip. Akhirnya ku putuskan untuk mencari tangga untuk turun ke bawah, menuju lab, tempat bekerja kedua orangtuaku.
Sesampainya di laboratorium, ku dapati lantainya berlumuran darah bercampur cairan kimia dan menghasilkan bau yang tidak karuan.
Kutelusuri setiap jengkal ruangan itu, dan masih banyak orang-orang aneh setengah mati dengan barcode di lengan masing-masing yang makin menguatkan pikiran negatif ku bahwa orangtuaku mengalami hal yang sama. Tapi aku mencoba untuk terus optimis bahwa mereka baik-baik saja.
Di ruangan laboratorium tersebut, banyak berkas-berkas dan peralatan untuk menguji coba cairan kimia. Tanpa kusadari, banyak pula plang bertuliskan “VIRUS” dimana-mana.
Aku tersentak sejenak karena kaget, aku kemudian berfikir, mungkin mereka sedang menguji coba sebuah virus dan mungkin juga uji coba tersebut gagal sehingga tersebar lah virus tersebut.
“TIDAK MUNGKIN!” Aku berteriak. Masih coba ku baca berkas-berkas di sana dan coba ku pahami tentang penelitian ini. Ku dapati daftar para ahli yang ikut serta dalam penelitian ini. Nama Bobi Satria dan Sulistiawaty ada di sana. Mengetahui mamah dan papah ada dalam penelitian itu membuat harapanku nyaris pupus.
Pikiran-pikiran negatif kembali muncul dan makin menguat seiring bukti-bukti yang kutemukan disini. Namun aku tetap percaya walau sedikit, bahwa mamah dan papah masih ada dan selamat.
Lamunanku tentang mamah papah tiba-tiba teralihkan oleh suara retakan kaca di belakangku yang sedari tadi ku perhatikan berisi air dengan manusia didalamnya.
“Sungguh biadab,” pikirku. Bunyi retakan kaca itu makin besar dan akhirnya dua akuarium sekaligus pecah dan manusia didalamnya keluar, dengan kulitnya yang sama pucatnya dengan orang-orang itu namun bedanya pada leher belakangnya mereka diberi barcode yang hingga saat ini aku pun tak tahu oleh siapa.
Dua manusia dari akuarium itu keluar dari akuarium dan berdiri membelakangi ku. Mereka laki-laki dan perempuan. Sampai pada akhirnya mereka berbalik ke arahku. Dan dugaanku benar, mereka adalah orangtuaku.
...—...
Aku terbangun dari mimpi buruk ku itu. Rasa takut menyelimuti diriku lebih dari selimut itu sendiri.
“Tidak mungkin," ku ucapkan berulang kali. Tiba-tiba ketukan kecil di pintu kamarku membuyarkan semua.
“Siapa???” sahutku
__ADS_1
Tak ada yang menjawab.
By: Andian Yuliawan Putra