
Apa kau percaya pada sesuatu yang tak terlihat? Sesuatu yang tak bisa kau pandang tapi tubuhmu bisa merasakan keberadaannya.
Angin, adalah contoh yang tepat. Kau tidak bisa melihatnya, namun kau bisa mengetahui keberadaannya saat ia berinteraksi dengan benda lain yang lebih lemah.
Banyak orang yang menghindari hal-hal yang tidak logis karena merepotkan. Sayangnya, aku terlahir untuk hal itu.
Merepotkan diri, tidak. Lebih tepatnya membahayakan diri untuk hal-hal yang seharusnya dihindari.
Sudah lima tahun aku menjalani keseharian sebagai pemburu hantu. Kami menyebutnya seperti itu walau pekerjaan yang kami lakukan agak menyimpang.
Seduce the devil, adalah organisasi yang kami dirikan sejak lima tahun lalu. Organisasi kecil yang hanya beranggotakan lima orang. Aku, Hansen, Lilieth, Levione, dan Ersen.
Penamaannya sedikit aneh, karena Lilieth dan Levione yang mengusulkannya. Kami para pria hanya mengangguk karena tak mau ambil pusing dengan sebuah nama.
Aku tidak terkejut karena mereka bahkan menjuluki diri dengan ***** of god? Mungkin memang sesuai dengan kepribadian mereka.
Kami memiliki ketertarikan yang berbeda dalam menggeluti bidang ini. Sejak kecil Hansen sangat tertarik dengan kartu tarot dan ramalan-ramalan, kami berempat sering menjadi objek ramalan aneh versi Hansen.
Khususnya aku, entah mengapa aku selalu mendapatkan pertanda kesialan. Memang hanya untuk sekedar bersenang-senang, namun tak jarang ramalannya tepat sasaran, atau memang dia yang membuatnya begitu.
Lilieth sangat terobsesi dengan tumbuhan-tumbuhan karnivora atau beracun. Ia sering membuat ramuan aneh yang kadang mencelakai dirinya sendiri.
Hal itu terbukti karena sekarang satu kakinya lumpuh. Namun itu bukanlah bendera putih, Lilieth semakin terobsesi karena ramuannya 'berhasil'.
Hampir mirip dengan Lilieth, Levione menyukai hewan-hewan kecil berbisa.
Ia paling menyukai sensasi saat binatang kecil itu mulai menyalurkan bisa melalui mulutnya yang kecil kedalam tubuhnya. Tak jarang Hansen berteriak-teriak tengah malam karena binatang-binatang imut itu ikut tidur bersamanya. Binatang kecil itu memang sangat patuh pada tuannya.
Dan Ersen, bisa dibilang ia menyukai boneka. Segala jenis boneka yang katanya dapat menjadi media komunikasi dengan orang mati.
Boneka pemanggil arwah, sebut saja begitu. Mungkin hal ini berawal sejak sang ibu yang sangat menginginkan anak perempuan.
Well, Ersen lahir dan menghancurkan impian ibunya. Karena sedih sangat ibu membelikan Ersen boneka setiap ulang tahunnya.
Walaupun wujud boneka-boneka itu agak berbeda dari boneka pada umumnya. Ersen merasa senang karena boneka-boneka itu mengobati rasa kesepiannya selaku anak tunggal.
Ersen memiliki boneka kesayangannya, itu adalah boneka pertama yang mengajaknya mengobrol. Tentu hal itu membuat boneka lainnya cemburu.
Sedangkan aku, bisa dibilang cukup normal dibanding mereka. Aku menyukai benda-benda mistis, benda milik orang mati atau benda tua yang sudah tidak punya pemilik. Mungkin hal ini bermula karena kakekku pengoleksi benda antik.
Aku yatim piatu dan kakekku butuh orang untuk menjaga barang-barangnya saat ia sudah mati.
__ADS_1
Hampir setiap hari dalam hidupnya dia habiskan dengan menggosok benda-benda antik di kamar belakang, ruangan terluas di rumah kakek.
Aku sangat suka bau ruangan itu, khas seperi pemiliknya. Aku suka suasana yang membuatku merinding saat menginjakkan kaki untuk pertama kali.
Khususnya pada bola mata merah dalam toples yang menjadi pemandangan pertama saat pintunya terbuka. Lalu lukisan seorang wanita muda berpakaian serba merah yang terus melotot ke arah manapun aku melangkah.
Aku selalu tersenyum pada wanita itu, terkadang ia membalasnya.
Kami selalu berkumpul setiap malam jumat di dalam hutan. Kami membangun sebuah rumah pohon dan menjadikannya markas. Tak banyak hal yang dilakukan, lebih seperti menunjukkan hasil penelitian masing-masing.
Malam itu adalah kesekian kalinya kami bertemu. Hasil penelitian yang paling menarik adalah boneka kesayangan milik Ersen.
Sekarang ia sudah tumbuh dan bisa melindungi Ersen. Terbukti saat tangan Levione menepuk kepala Ersen, sekelebat luka sepanjang 20 cm menganga dan darah mengalir cukup deras.
Dengan cepat binatang-binatang imut miliknya berdatangan dan menghisap darah Levione. Sekarang aku tahu mengapa pertumbuhan binatang-binatang kecil itu sangat aneh. Boneka itu tersenyum dan menatap Ersen seolah meminta pujian. Ersen tersenyum lalu mengelus kepalanya.
"Kerja bagus, Franky." Ucapnya.
Tampilan boneka itu sangat sesuai dengan namanya, Frankenstein. Karena luka Levione tidak parah, kami kembali membahas tentang perkembangan penelitian.
Kecuali aku, karena beberapa minggu ini aku tidak meneliti apapun jadi aku hanya memberikan saran.
Aku menoleh ke arah belakang, di sana di sudut ruangan. Boneka kesayangan Ersen tersenyum kepadaku. Aku mengabaikannya, karena senyuman di lukisan di rumah kakekku lebih manis dari senyumannya.
Karena sudah hampir pagi kami memutuskan untuk mengakhirinya, pertemuan jumat malam yang sangat menyenangkan.
Aku turun paling terakhir karena membantu Lilieth yang satu kakinya tidak berfungsi. Kami berjalan menyusuri jalan setapak di hutan. Aku terjatuh karena kaki ku tersandung sesuatu.
"Ivan, are you okey?" Tanya Lilieth. Ku lihat mereka semua yang memandangiku dengan raut khawatir.
"Yeah" Aku bangkit sambil memungut batu yang membuatku terjatuh. Saat ku perhatikan baik-baik ternyata itu bukan batu tapi sebuah kamera usang.
"Hey, Ivan." Mereka kembali memperhatikan ku. Aku menggeleng lalu bergabung berjalan bersama mereka.
Sesampainya di rumah aku menaruh kamera itu di atas meja lalu pergi membersihkan diri. Setelah berpakaian dan sarapan aku memutuskan untuk tidur dan baru bangun saat matahari mulai tenggelam. Aku mencuci muka dan mengambil sekaleng bir lalu menonton televisi.
Aku baru teringat dengan kamera yang ku pungut di hutan. Aku mengambilnya dan mulai mengotak atik. Bentuk kamera ini sangat unik jika dibandingkan dengan kamera sekarang. Karena ia juga memiliki SD card yang mirip dengan yang biasa dipakai.
Aku sangat penasaran dengan isinya, lalu aku mengambil laptopku dan memasukkan SD card kamera. SD card nya penuh dengan banyak file. Aku membuka file pertama dan hanya ada sebuah vidio berdurasi lima menit.
Vidio abstrak ini menampilkan hal-hal aneh, banyak penampakan orang-orang bertudung hitam dan anak-anak yang dipaksa untuk menulis sesuatu tapi mata mereka ditutup kain putih yang penuh dengan bercak entah apa. Vidio itu terus berputar hingga lima menit.
__ADS_1
Aku membuka folder lain dan semua isinya sama.
Tiba tiba aku merasa pusing, aku pergi ke dapur untuk minum segelas air. Kepalaku terasa sakit, aku terjatuh lalu semuanya menjadi gelap. Sebelum kegelapan menelan, aku sempat melihat sepasang sepatu hitam mengkilap tepat didepan wajahku.
Aku tidak tahu sudah berapa lama, tubuhku terasa nyeri. Saat aku membuka mata, semuanya terlihat gelap seperti saat aku pingsan. Aku baru sadar jika aku tertidur di atas tanah yang lembap, gelap tak ada cahaya sedikit pun seperti di dalam gua.
Aku terjatuh saat berusaha berdiri, ternyata kakiku dirantai. Aku berusaha mencerna keadaan, yang bisa aku asumsikan adalah aku diculik.
Aku sangat penasaran apa motifnya, apakah ada hal dariku yang bisa dirampas? Kurasa tidak, jadi hanya satu kemungkinan. Tubuhku, apa organ ku akan dijual?
Selang beberapa menit muncul api dari arah timur. Sontak pandanganku mengarah kesana dan ternyata ada hal yang membuatku terkejut.
Semua teman-temanku tertidur dengan kaki dirantai sama sepertiku. Tiba-tiba seseorang yang tinggi bertudung hitam muncul entah dari mana. Ia berjalan ke arahku, aku tak bisa melihat wajahnya yang tertutupi tudung.
"Tumbal sudah sadar." Ucapannya seketika membuatku meremang.
Hansen, Lilieth, Levione dan Ersen dibangunkan dengan disiram air panas. Aku bisa melihat asap yang mengepul dan mendengar teriakan nyaring mereka.
"Tung.. Tunggu." Cicitku, orang bertudung itu menoleh. Lalu ia melepaskan rantai di kakiku dan menyuruhku bangun. Ia menyeret ku keluar, tebakanku benar karena ini memang sebuah gua.
Ternyata kami di taruh cukup dalam, diluar gua tampak banyak sekali orang bertudung hitam. Mereka menyalakan api yang sangat besar di tempat yang berbeda.
H.. E.. L.. L..
Aku mengejanya perlahan, ternyata benar tulisannya memang HELL.
Seseorang bertudung yang lain datang ke arahku, aku bisa melihat senyuman puas dibawah tudung hitamnya itu.
Tiba-tiba Hansen di dorong ke depan api yang membentuk huruf H. Lilieth dan Levione juga di dorong ke depan api yang membentuk huruf L. Ersen juga mendapatkan perlakuan yang sama. Sedangkan aku, hanya melihat saat mereka dilemparkan kedalam api satu-persatu.
Mereka berempat serentak meneriakkan namaku. Aku tersentak lalu kepalaku kembali sakit serasa ingin meledak.
"Ivan! Wake up bro!" Aku membuka mata saat suara familiar memanggil namaku.
Sekarang aku berada di dalam rumah pohon, markas kami. Mereka semua menatapku penasaran, Hansen, Ersen, Lilieth dan Levione yang tangannya masih berdarah.
Aku menarik napas panjang, mencoba mencerna apa yang terjadi. Aku melirik ke arah samping, pada sesuatu yang mengalihkan pandanganku. Di sana, boneka kesayangan Ersen menatapku polos sambil tersenyum.
By: _Savanna
Syifa. A
__ADS_1