
Revan
Di seolah Revan lalu di hampiri oleh seorang cewek cantik dengan tubuh kurus dna rambut lurus.
“Eh, Van semalam kamu boncengan sama siapa..?” Revan langsung kaget dan hampir saja gelas yang berisi air jeruk yang ada di meja jatuh ke bawah.
“Mira, kata siapa kamu kalau aku boncengan cewek semalem..?”
“Ada saja, emang aku tidka punya mata apa..?”
“Kamu lihat sendiri tadi malam, perasaan kamu udha pulang duluan.”
“Eh, Van denger ya, kalau kamu sampai bonceng tuh cewek sekali lagi, akan aku labrak cewek itu dan kita putus!” Mira pergi dari Revan.
“Yah Mira, aku kanbonceng sama..”
“Nah kan sngaku kan, ayo bonceng sama siapa..?”
“Katanya udah tahu.”
“Sama Dini, iya..?”
Kebetulan Dini pas ada dan datang ke situ. “Eh sini kamu..!” Mira menyeret Dini yang tidak tahu apa-apa tentang kejadian itu.
“Ada apaan sih..?” Dini tanya tidak mengerti. Kebetulan sekali waktu itu Dini bawa jaket cokeat milik Revan.
“Eh, kamu yang boncegan sama Revan semalam..?”
“Apa, Revan?”
Revan kasih isyarat untuk tidka mengaku di depan Mira ceweknya itu.
“Enggak, nggak aku nggak boncengan sama Revan, aku pulang sendiri kok.” ucap Dini ketakutan.
“Alah, bohong kamu. Enak saja ya bonceng-bonceng cowok orang..!?” ucap Mira sangar.
“Revan cowoknya kamu, maaf aku tidak tahu. Tapi serius tadi Revan sendiri yang ngajak.”
“Oh, gitu ya..?” Dini langsung ngamuk di depan Reva, Dini lari sambil membawa jaket Reva. Setelah jam istirahat Dini mencari Revan.
“Eh, Revan ke mana..?” Dini tanya pada teman laki-laki Revan yang ada di kelas.
“Nggak tahu tuh, coba cari aja di kantin.” kata laki-laki itu. Dini langsung pergi ke kantin Revanya tidka ada, Dini lalu berjalan ke arah toilet, eh ternyata Revan ada di situ. Dini ingin balikin jaket Revan.
“Reva..?”
“Dini..?”
Mereka berdua akhirnya bertemu di jalan itu. Revan melihat jaketnya masih di pegang Dini.
“Van, ini jaket kamu.”
“Buat kamu aja.”
“Tapi Van, udah ambil kamu aja.”
“Nggak, Van. Terimakasih. Aku punya jaket sendiri kok.”
“Tidak usah itu buat kamu.” Kata Revan. Dini masih bingung mau gimana, di dalam hati dna pikiran Dni, dia tidka mau menerima jaket itu.
__ADS_1
“Kamu tidak mau di kasih jaket sama aku..?” Revan tanya lagi.
“Bukan gitu.”
“Kenapa, kamu merasa tidak enak lagi sama aku? Sudahlah, aku uikhlas kok ngasihnya.” kata Revan pada Dini. Revan pergi menuju kelas.
“Van, tunggu..!” panggil Dini pelan. Revan menoleh.
“Ada apa..?” tanya Revan pagi itu.
“Terimakasih ya.” ucap Dini pada Revan.
“Tapi gimana Mira nantinya..?” lanjut Dini bertanya di dean Revan.
“Kamu tidak udah mikirin Mira lagi, dia udah putus sama aku kok.”
“Apa, kamu beneran putus sama Mira..?”
“Iya.”
“Kamu tidak kasihan sama Mira..?”
“Dia sendiri kok yang pertama kali mutusin aku. Ngapain juga kasihan sama cewek seperti dia.” Jelas Revan di depan Dini.
“Terus..?”
“Terus apa..?”
“Terus sekarang..?”
“Sekarang apa, pacaran..?” lanjut Reva menjawab.
“Sama siapa, sama kamu..?”
“Ya enggaklah Van, aku kan masih mau sekolah, aku tidak mau pacaran dulu, ribet kalau udah pacaran.”
“Pacaran itu enak loh, sambil belajar kita punya pengalaman tersendiri.” Jelas Revan.
“Aku takut tidak fokus belajar Van.”
“Dini, pacaran itu relatif Din. Kita bisa serius atau anggap itu biasa saja.” Kata Revan.
“Jadi menurut kamu pacaran itu Cuma hal biasa dna pengalaman saja, setelah itu hilang begitu saja..?”
“Yah, itulah pengalaman, kita bisa belajar dari itu.” Revan mengucapkannya lepas bebas.
“Menurut aku tida Van, pacaran itu adalah ikatan hati dua orang yang tanpa sengaja telah mengukir takdir mereka berdua di jalan itu.
Sebaik mungkin kita harus jalani komitmen itu. Selama kita pacaran, secara tidka langsung hidup kita berubah, ada orang lain yang masuk di dalam kehidupan kita. Dan itu kita yang mau dna kita yang nanggung resikonya, iya kan..?”
“Nggak segitunya Din. Pacaran itu kita buant gampang saja. Kita tidka usah terlalu fokus pacaran sampai kita lupa pelajaran.
"Just going gitu aja. Kalau misal ada waktu, kita jalan berdua, nonton bareng, makan bareng atau lainnya yang penting kita bisa jaga jarak, tidak kelewat batas. Kamu ngerti kan maksud aku..?”
“Iya sedikit, tapi mungkin aku akan belajar lagi dari kamu.”
“Oke, aku masuk dulu ke kelas. Dah Dini.”
“Dah Revan.” Dini memeluk jaket Reva, baru kali ini dia bertemu laki-laki baik dan pintar seperti Revan.
__ADS_1
Di tempat lain laki-laki muda sedang memperbaiki speeda motornya di bengkel milik pamannya, dia Yudi Prasetya. Yudi sengaja tidak masuk sekolah waktu itu, bannya kempes di jalan.
“Kenapa Yud..?” kata Rahmat paman Yudi.
“Ban kempes Man.”
“Kempes di mana..?”
“Di jalan tadi.”
Yudi melihat perempuan bersekolah tengah lewat. Man, aku pinjam motornya bentar boleh..?”
“Mau ke mana..?”
“Ke teman aku bentar.” Yudi cepat-cepat menghidupkan mesin sepeda motor milik Rahmat dan segera mengejar perempuan bermotor dengan seragam putih abu-abu itu. Setelah bersisian dengan perempuan itu Yudi menyapa dia.
“Eh, mau ke mana..?” tanya Yudi. Perempuan itu tidak menjawab, dia terus mengencangkan laju sepedanya.
“Bangsat tuh cewek.” Ucap Yudi. Dia lalu niat pergi ke sekolah pakai sepeda motor pamannya itu.
Yudi
Di sekolah Taman Madya Yudi datang, anak-anak sekolah masih masuk dan sekolah masih kelihatan sepi, cuma satu dua suara yang terdengar. Yudi masuk ke kelasnya di situ sudah ada Ibu Yuli.
“Assalamualaikum..?”
“Yudi, kok telat datangnya..?”
“Iya Buk, ban sepeda motor aku kempes.”
“Oh ya sudah, kamu boleh duduk.” kata Bu Yuli yang sedang mengajar. Setelah bel istirahat Revan ingat kalau dia harus segera balik ke bengkel untuk balikin sepeda motor pamannya Rahmat.
Setelah di balikin sepeda itu Yudi langsung pulang, capai bolak-balik ke sekolah. Ibunya Yudi Ratna sempat tanya.
“Yudi udah pulang sekolahnya..?”
“Udah Bu.”
“Kok cepat pulangnya..?”
“Iya, Yudi bolos.”
“Kenapa..?”
“Capai.”
“Capai, sekolah itu memang capai Yud, kamu yang rajin sekolahnya.” Ratna menasehati. Yudi masih tiduran di dalam kamarnya. Setelah itu Yudi main game di kamarnya sendiri. Yudi tidak mikirin temannya yang pusing nyariin Yudi.
“Yudi kemana, kok langsung ngilang gitu aja tuh anak..?” Rizfan tanya ke Refal.
“Pulang paling dia.”
“Pulang..?” Rizfan tidak percaya kalau Yudi pulang cepat. Senakal-nakalnya teman Yudi tidak ada yang berani pulang cepat seperti Yudi.
“Ke rumah Yudi yuk..?” ucap Rizfan ke Refal.
“Ngapain, kita kan ada jam pelajaran setelah ini?” jawab Refal.
“Nanti setelah jam pulang.” ucap Rizfan balik.
__ADS_1
Vomen.