Novel 1

Novel 1
chapter 5 : kisah ke tiga dr Andini


__ADS_3

Dini menghembuskan napasnya di atas kasur tepat tidurnya, pikirannya kesal sama laki-laki itu.


"Siapa sih dia, enak saja kenalan sama aku. Tapi, kenapa dia menghampiri aku ya?" Dini masih timbul rasa tanya dalam hatinya, mungkin laki-laki tu ingin kenalan sama Dini tadi sebelum dia pulang ke rumahnya.


Dini duduk sendirian lagi di atas Rel kereta api sambil nunggu pelanggan, siapa tahu ada yang mau pada dia, hitung-hitung buat nambah uang sangu ke sekolah. Tapi Dini sempat ingat pesan Mbaknya Yuliana saat Dini memilih keputusan itu.


"Pokoknya kamu tidak boleh ikut-ikut Mbak!" kata Yuliana pada Dini malam itu. Dini masih diam dan mencoba untuk mengerti.


"Ngapain sih kamu ingin jadi seperti Mbak? Din, ingat ya Din, ini pekerjaan haram, Mbak ngelakuin ini karena terpaksa, Mbak tidak punya pekerjaan lain selain ini Din?" Yui mennelaskan di depan Dini.


"Dini ingin bantu Mbak."


"Sudah cukup, Mbak tidak perlu di bantu sama kamu. Penghasilan Mbak sudah cukup untuk membiayai sekolah kamu, apalagi Mbak tidak butuh kamu kok. Kamu cukup belajar dan sekolah itu saja. Dan tolong kamu ngertiin Mbak. Mbak tidak mau kamu jadi seperti Mbak, ngerti kamu!" Yuli sedikit emosi pada adiknya itu.


Angin berhembus dingin di sekitar Andini mengelebatkan rambutnya yang masih pendek. Entah kenapa Dini punya niat seperti itu, niat untuk mejadi PSK di umur yang masih muda seperti itu adalah suatu yang sangat frontal dan menantang karena hal itu butuh keberanian dan mengorbankan kesucian diri. Apalagi agama mengharamkan pekerjaan itu.


Dini masih duduk cemas malam itu sekitar pukul 8.20 pm. Sesekali kdeua tangannya merangkul kedua bahuya karena dingin.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, dela.." Yudi tidak jadi menghitung langkahnya lagi karena melihat perempuan itu lagi di depannya.


"Hey..!" Yudi menyapa Dini dari jauh sambil melambaikan tangannya di atas kepala. Yudi masih lihat Dini uring-uringan malam itu. Yudi turun dari rel kereta dan mempercepat langkahnya. Yudi masih berdiri di depan Andini dan masih ingin memposisikan tempat duduknya di mana yang enak. Yudi lalu memilih duduk di sebelah Andini.


"Hey, kita ketemu lagi. Kenalin, aku Yudi, Yudi Prasetya. Kamu siapa?" Yudi sambil mengulurkan tangan kanannya pada Dini yang sedang duduk.

__ADS_1


Dini masih berpikir bagaimana enaknya dia di hadapan laki-laki itu. Dini berdiri dan langsung ingin pergi jauh dari laki-laki tak dikenalnya itu. Secepat kilat Yudi langsung menggamit tangan Dini dan tidak membolehkannya pergi dari Yudi.


"Eh, mau ke mana, kok mau pergi lagi, tidak suka ya temenan sama aku..?" Yudi bersikeras untuk mempertahankan Dini untuk tetapdi situ.


"Lepaskan tangan aku, aku mau pergi!" Dini setengah berteriak lalu berhasil melepas tangannya dari Yudi.


"Eh, tunggu aku masih belum selesai bicara!" kata Yudi sambil mengejar langkah Dini malam itu lewat jam 9.00 pm.


"Eh, kamu mau ke mana, berhenti, aku masih belum selesai bicara sama kamu!" kata Yudi sambil mengejar langkah Dini. Dini sambil melihat Yudi yang berjalan mundur di tepian rel kereta malam itu yang sedikit gelap.


"Pergi, ngapain kamu ngejar-ngejar aku, pergi sana!" Dini kesal sekali dia berlari mencoba untuk menghindar dari laki-laki tak di kenalnya itu. Yudi diam saja melihat perubahan sikap Dini. Dini terus berlari di tengah rel kereta dengan perasaan emosi.


"Awas kereta..!!" Yudi berteriak sambil berlari mengejar perempuan itu. Perempuan itu berhasil di selamatkan Yudi dengan meraihnya dan membawanya ke pinggir rel kereta dengan cepat.


Dini melihat Yudi yang sekarang ada di depannya dengan napas ngos-ngosan.


"Terimakasih telah menyelamatkan aku."


"Iya aku juga."


"Maksud kamu?" Dini tidak mengerti.


"Sama-sama." Jawab Yudi.

__ADS_1


Dini melihat Yudi jengkel. Dia lalu bangun dan beranjak pergi.


"Eh..!" Yudi menyapa Dini. Dini berhenti melangkah.


"Ada apa..?" Dini menoleh dan berkata.


"Kita temenan kan..?" Yudi meminta pertemanan. Dini masih berpikir dan tidak langsung menjawab.


"Iya, kita temenan." jawab Dini setuju.


Yudi berdiri dan lalu mengulurkan tangan kanannya pada Dini.


"Friends." Yudi berkata sambil tersenyum.


"Friends." Dini berucap terpaksa. Dalam pikirannya dia masih merasa risih atas kehadiran laki-laki itu. Dini melepas tangannya lalu beranjak pergi.


"Eh, boleh aku antar?"


"Tidak usah, dekat kok."


"Ya udah, hati-hati." kata Yudi mengingatkan. Dini berjalan sambil tersenyum.


Vomen.

__ADS_1


__ADS_2