
Yudi
Yudi sengaja pergi ke stasiun, dia ingat kalau dia pernah ketemu cewek yang sempat kenalan sama dia, kalau tidak salah namanya Dini, begitu yang ada di dalam ingatan Yudi. Yudi cukup lama menunggu perempuan itu datang, sepi malam itu. Yudi hendak pulang dan perempuan itu pun datang sendirian.
"Eh, itu dia ceweknya." ucap Yudi dalam hati. Dia berlari menghampiri Dini yang baru keluar dari gang kecil menuju rumahnya. Dini melihat laki-laki itu menghampiri dia. Dini kaget kenapa laki-laki itu datang pada dia malam itu.
"Kamu..? Ngapain kamu ke sini..?" Dini tanya duluan ke Yudi.
"Dari tadi aku nungguin kamu ternyata kamunya keluarnya sekarang, lama banget aku nunggunya."
"Salahnya kamu nungguin aku." ucap Dini ngeledek.
"Salahnya kamu juga keluarnya telat." Ucap Yudi balik.
"Apa..?" Dini bertanya tida mengerti. Yudi senyum sendiri.
"Eh, kita ke situ yuk!" ajak Yudi pada Dini ke rel.
"Nggak ah, kamu pergi sana, aku pengin sendiri." Dini mengusir Yudi.
"Eh, enak saja ngusir aku. Aku ke sini buat nemuin kamu." Jelas Yudi pada Dini.
"Ngapain ketemu aku, bukan siapa-siapa aku juga." Dini berlagak sombong.
"Oh gitu. Baik, aku pergi sekarang. Silahkan sendiri di sini bersama malam kamu yang indah ini." kata Yudi sakit hati. Dia pergi sekarang dari perempuan itu.
Yudi tidak balik ataupun menoleh ke belakang. Dini merasa bersalah tapi di biarkannya saja. Tiba-tiba Dini melihat kereta api mau lewat. Dini segera berteriak.
"Awas kereta...!" sayup-sayup Yudi mendengar teriakan itu. Yudi menoleh dan beneran ada kereta, Yudi langsung minggir. Yudi menoleh ke Andini lali pergi lagi. Yudi telah menghilang beberapa langkah dari Dini, Dini sempat kepikiran.
__ADS_1
"Kemana perginya tuh anak..?" kata Dini kemudian. Dini lalu duduk sendirian di atas tepian rel kereta. Siapa suruh dia usir laki-laki itu. Dini sekarang kesepian. Dini lalu menulis surat di dalam bukunya.
Ya Tuhan, aku telah bersalah pada laki-laki yang aku usir tadi, aku harus minta maaf ke dia kalau dia datang lagi nanti. 15 April 2019.
Besoknya Dini lalu keluar di pagi hari, dia ingin mencari alamat lakii-laki itu tapi di mana, Dini tidka tahu. Dia bisanya Cuma menunggu beberapa malam lagi kalau laki-laki itu mau ke situ. Suatu hari Dini kebetulan ikut cerdas cermat dan dia di kirim ke kelas Taman Madya di situlah Dini bertemu Yudi. Dini melihat laki-laki itu lewat.
"Eh, kamu..!" Dini memanggil laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh.
"Kamu..?" Yudi tidak percaya.
"Iya aku, kamu laki-laki yang di rel malam itu kan..?"
"Iya." jawab Yudi bingung.
"Aku minta maaf ya, kemarin malam itu. Aku tidak sengaja ngusir kamu. Aku beneran minta maaf." ucap Dini sungguh-sungguh. Dari jauh Revan melihat Dini sedang mengobrol bareng laki-laki yang tidak dia kenal. Revan berjalan menghampiri Dini,
"Revan, ngapain kamu ke sini..?"
"Pengin kenalan, hai Revan." Revan beralasan. Siapa juga yang mau kenalan sama laki-laki. Apalagi Revan tidak kenal siapa laki-laki itu, itu sengaja Revan lakukan untuk ngejaga Dini biar tidak di ambil orang. Alias cemburu. Revan mengulurkan tangannya, tangan itu di sambut oleh Yudi.
"Yudi." ucap Yudi sambil kenalan. Yudi tidak tahu maksud Revan tapi dalam pengertian Yudi, Revan mungkin adalah pacar Dini, siapa tahu begitu.
"Van, mending kamu pergi dulu, aku masih ada perlu sama laki-laki ini." Kata Dini lanjut.
"Oh, begitu.oke, aku tinggal pergi dulu." Revan langsung sakit hati dan pergi dengan rencana di dalam hatinya. Setelah pulang Yudi menemukan ban sepedanya kempes, Yudi tidak tahu siapa yang telah berlaku tidak adil pada dia. Revan terpaksa membawa speda motornya dengan berjalan di halaman sekolah Taman Madya. Dini kebetulan melihat itu saat dia akan naik ke atas jok sepeda motor Revan.
"Sebentar." Dini turun dari sepeda mmotor Revan. Revan merengut. Ngapain juga Dini perhatian sama laki-laki itu. Revan terpaksa menunggu Dini.
"Sepedanya kenapa Yud..?" saat Dini tanya, Yudi langsung nyangka kalau itu adalah perbuatan Revan. Yudi langsung meletakkan sepedanya dan langsung pergi menghajar Reva.
__ADS_1
"Yudi, berhenti, Yudi..!" Dini berteriak di susul beberapapasang mata yang melihat dia dan dua orang siswa yang tenagh berkelahi.
"Tolong.. tolong.." Dini minta tolong, Rizfan dan Reval keluar dan segera melerai perkelahian itu. Mereka berhasil melerai Yudi dan Revan. Keduanya di pisah.
"Cuih..!" Revan meludah di depan Yudi. Yudi ingin mengamuk lagi tapi urung.
"Sekali lagi kamu mukul aku, aku laporin ke polisi kamu!" ucap Revan sangar.
"Eh, nggak usah pkek main polisi ya, kalau emang kamu laki, ke sini hadapin aku langsung!" tantang Yudi pada Revan.
"Yuk, kita pulang.." ajak Dini ke Revan. Dini kasihan melhat Revan yang luka0luka di sekitar mulutnya dan pipinya waktu itu.
Dini memeluk Revan dari belakang. Kasihan juga Revan, tidak tahu apa-apa langsung di pukulin orang. Dini tidak berani ngomong di depan Reva, Dini sadar kalau ini semua adalah gara-gara Dini yang pergi menghampiri Yudi tadi. Kalau Dini tidak turun dari sepeda motor Revan, mungkin hal itu tidka akan terjadi. Setelah sampai di sekolah Dini langsung minta maaf ke Revan.
"Van, aku minta maaf, aku banyak salah ke kamu." Revan melihat Dini sambil bernapas.
"Van, kita ke rumah sakit saja. Luka kamu biar sembuh."
"Nggak aku nggak mau. Sebegai permintaan maaf, kamu haru mau ngerawat aku sampai aku sembuh, gimana mau..?"
"Iya deh, aku mau. Tapi aku bukan dokter, aku tidak bisa apa-apa." jawab Dini jujur.
"Aku tidak butuh dokter, aku hanya butuh kamu." Kata Revan lanjut.
"Oke." Dini setuju, dia lalu di bawa ke rumah Revan siang itu.
***
Dini dan Revan akhirnya sampaidi rumah Revan sekitar pukul 12.20pm Revan langsung masuk ke rumahnya. Dini lupa tasnya tertinggal di kelas. Tapi biarlah dulu, besok dia juga ambil. Dini datang ke rumah Revan, ini kedua kalinya Dini masuk ke rumah Revan tetapi beda waktu. pertama Dini masuk di malam hari, kedua di siang hari. Dini tidak tahu ini isyarat apa atau pertanda apa.
__ADS_1