Novel 1

Novel 1
chapter 9 : kisah ke tujuh


__ADS_3

Andini


Dini turun dari ojek sepeda motor yang alamatnya sudah dia tulis di secarik kertas. Alamat rumah Revan yang megah dan mewah.


"Masya Allah, Revan rumahnya bagus banget. Kalau saja aku punya rumah segede ini mungkin aku akan senang berada di dalamnya." Kata Dini sendiri berharap dia punya rumah seperti rumah milik Revan yang megah dan mewah.


"Aku masuk dulu ya..?" ucapnya sendiri. Malam itu Dini memakai baju setelan hitam manik-manik dengan panjang di bawah lutut. Dia membawa tas hitam juga dengan rambut di ikat. Dini lupa tidak membawa kado malam itu.


"Ya Allah, kenapa aku lupa tidak bawa kado buat Revan ya? Aduh, gimana caranya nih bisa dapetin kado di sini, atau aku bilang aja ke Revan kalau aku lupa bawa kado." kata Dini sok ngebiarin semuanya apa adanya.


Dini masuk rumah Revan dengan hati-hati, sambil membaca bismillahirrohmanirrohim. Dini lihat sekeliling rumah beberapa Ibu-Ibu sudah pada hadir dan sedikit sekali teman Revan yang hadir.


"Eh Din." Revan memanggil Dini malam itu.


"Revan." Dini masih melihat Revan yang menghampiri dia malam itu.


"Selamat ulang tahun ya Revan."


"Iya sama-sama." kata Revan ke Dini.


"Teman-teman kamu mana, mereka tidak ikut?" kata Revan ke Dini.


"Hah, temen-temen aku? Emang kamu ngundang temen-temen aku?"


"Iya, kamu tidka baca di undangan itu tertulis undangan untuk Dini de-ka-ka. Dan kawan-kawan maksudnya." Kata Revan lanjut bericara.


"Ya Allah Revan aku tidak tahu, aku tidak teliti bacanya." kata Dini jujur.


"Ya udah kalau bgeitu kamu makan dulu oke."


"Iya, tapi aku tidak bawa kado nih, gimana?"


"Nggak apa-apa nanti kadonya bisa nyusul di sekolah. Oke?"


"Insya Allah." Ucap Dini pasrah.


Revan mengantar Dini untuk makan bareng teman-eman Revan yang hadir waktu itu meski Dini sedikit risih karena tidak kenal mereka Dini beruasaha untu tetap yakin dan percaya diri.


Selesai makan Dini duduk di taman belakang rumah Revan, di taman itu Dini bertemu seorang laki-laki yang tidak dia kenal.


Laki-laki itu berdiri di sebelah Dini saat Dini kebeulan sedang duduk di kursi besi di atas lantai belakang rumah Revan. Dini melihat laki-laki itu dan ingin rasanya Dini menyapa laki-laki itu malam itu juga.


Dan dengan sekuat hati Dini menyapa laki-laki itu akhirnya karena Dini memang tidak kuat kalau melihat ada laki-laki markir di depan dia.


"Hai.." Dini menyapa laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh, dia mirip Jerome di film Senior. Dini masih menahan rasa gerogi atas tatapan laki-laki itu pada dia.


"Sendirian.?" lanjut Dini.

__ADS_1


"Iya, kamu..?" laki-laki itu lanjut tanya.


"Ehm, aku.. aku tidak sendirian kan ada kamu di sini." kata Dini sedikit bercanda. Laki-laki itu terseyum.


"Kenalin namaku Haris, aku sepupunya Revan." Laki-laki itu mengulurkan tangannya sama Dini. Dini lalu berdiri dan menjabat tangan laki-laki itu.


"Dini." kata Dini simple.


Haris adalah laki-laki yang berwajah tampan dan rapih kalau Revan sedikit berbeda dengan Haris, Haris lebih ua dari Revan dia sudah bekeja di kantoran. Dalam hati Dini dia menyoal, apakah dia suka laki-laki yang seperti Haris atau Revan?


"Sebenernya siapa sih yang harus aku sukai, laki-laki seperti Haris atau Revan? Untuk sementara ini aku pilih Revan dulu." kata Dini berucap sendiri.


Setelah itu Revan datang dari arah belakang.


"Tara.." ucapnya setengah berteriak. Dia telah berhasil melihat Dini dan Haris di belakang taman itu.


"Kalian sedang ngapain di sini? Pasti kalian sedang mesum, iya?" Revan mengada-ada.


"Apaan sih Revan, ah!" Dini mengelak. Haris melihat Revan kesal.


"Oh iya, kamu ikut aku sekarang."


"Ke mana?" Dini tany.


"Ke ruang depan, ayok." Revan mengajak Dini untuk bertemu bersama para tamu yang sedari tadi berdiri. Dini melihat sekeliling ruang tamu yang telah di padati para tamu. Dini sedikit tegang dan shock.


"Baiklah para undangan, malam ini aku akan umumkan sesuatu pada kalian semua kalau aku akan mengenalkan pacarku malam ini.


"Dia adalah.. Andini!" Revan menunjuk perempuan yang tengah berdiri dengan gaun putih dengan rambut di ikat ke belakang. Dini kaget mendengarnya. Dalam hati Dini bertanya-tanya apa maksud Revan berkata seperti itu di depan orang-orang. Semua orang bertepuk tangan riuh rendah.


"Revan apaan sih?" Dini masih bingung menanggapi maksud Revan malam itu. Revan lalu menghampiri Dini dan menggamit tangannya.


"Ayok." Ajak Revan.


"Lepasin tangan aku, apa maksud kamu ngomong seperti itu di depan orang-orang Van?"


"Din, aku serius sama kamu." Revan memohon.


"Enggak, aku mau pergi saja."


"Ke mana?"


"Pulang." Dini langsung berjalan cepat ke luar.


"Dini, tunggu!" Revan coba untuk menghentikan langkah Dini.


"Revan, ngapain kamu ngikutin aku..?"

__ADS_1


"Aku kamu antar yuk..?" Dini merasa tersanjung, di perhatikan, dan merasa cinta itu ada. Dini mesti merasa begitu kalau ada cowok yang perhatian sama dia, apalagi cowok itu sganteng dna secakep Revan.


"Tapi, aku maunya pulang sendiri, nungguin ojek." kata Dini beralasan.


"Sudahlah, biar aku antar sekarang."


"Tapi," Dini tercekat sebentar, dia tidka enak sama Reva yang sedang perhatian sama Dini. Dini juga tidak tahu kenapa juga Revan pas mau sama Dini waktu itu. Di rumah Evan padahal masih rame-ramenya.


"Yuk, jalan." Revan sudha siap naik motor bareng Dini. Dini naik dengan hati-hati di atas sepeda motor Revan. Dini sedikit nervous dan tidak dan mencoba di kuat-kuatn hatinya boncengan bareng Revan, karena dia itu adalah pengalaman pertama kali Dini boncengan bareng cowok.


Dini masih memperbaiki hatinya karena tidka enak banget boncengan bareng cowok dna itu adalah Revan. Meski Revan adalah teman Dini di sekolah.


"Gimana, enak boncengan sama aku..?" Revan tanya sambil menyetir.


"Apaan sih!" Dini mengelak.


"Kamu pernah di bonceng sama cowok seperti aku..?" tanya Revan lagi.


"Belum pernah, baru kali ini aku boncengan sama kamu."


"Kenapa kamu mau boncengan sama aku..?"


"Kamu tidak ikhlas boncengan sama aku..?"


"Nggak, aku Cuma tanya, kenapa kamu mau di bonceng sama aku..?"


"Ya mau aja, kamu kan teman aku!" Dini menjawab jujur dari dalam hatinya.


"Berhenti di sini, kamu tahu kan rumah aku..?"


"Iya." Ucap Revan.


Sepuluh menit nyampek juga ke rumah Andini, cepet banget padahal rumahnya agak jauh, mungkin Revanya kali yang cepat nyetirnya, tapi perasaan nyetirnya Revan santai.


"Din, kamu kedinginan nggak..?" Yudi tanya.


"Iya sih sedikit." jawab Dini jujur.


Revan langsung kasih jaket cokelat mudanya yang dia taruh di sepeda motornya.


"Nih kamu pakai dulu, nanti kamu kembalikan di sekolah."


"Tapi, aku.." Dini menggentung.


"Sudah, pakai saja. Dah Dini.." Revan langsung pergi setelah berpamitan, baru kali ini Revan kasih perhatian sama cewek bernama Dini. Tean Revan yang Revan suka mungkin karena itu hanya Revan yang tahu.


Vomen.

__ADS_1


__ADS_2