
"Yuk, masuk." ucap Revan menyuruh masuk Dini ke dalam rumahnya. Dini langusng duduk di kursi yang kosong, kursi sebelah dekat tembok yang tersedia meja di situ. Revan menghilang entah ke mana, laki-laki itu lalu muncul dari dalam kamarnya.
"Eh, Din, ke sini!" Revan menyuruh masuk Dini untuk masuk ke dalam kamar dia. Dini menurutinya. Dini merasakan sesuatu perbedaan di dalam kamar Revan. Dia merasakan aura ke laki-lakian Revan dan kreativitas Revan di situ. Ada foto Revan bersama bule, gambar tulisan berukuran besar, lemari, mainan kura-kura ninja dan ronot, dls. Dini suka seklai melihat itu.
"Kamu masih suka ngoleksi kura-kura ninja sama robot, terus mobil-mobilan ini, kamu sendiri yang beli..?" Dini tanya tidak percaya dan ingin tahu.
"Iya, itu sengaja aku beli buat di pajang saja, biar terkesan unik dan ramai." Jawab Revan jujur sambil kesakitan.
"Ya ampun Revan, sini biar aku bantu." Dini jadi lupa kalau Revan terluka.
"Aku minta maaf Van, aku tidak tahu akan seperti ini." Dini berkata sambil mengusap luka Revan dengan tisu. Revan masih dendam dengan laki-laki kurang ajar itu.
"Lain kali aku bertamu dia, akan aku kasih pelajaran dia. Biar tahu rasa dia!" kata Revan sendiri.
"Sudahlah Van, tidak usah cari gara-gara lagi sama dia. Lagian dia kan beda kelas sama kita." Lanjut Dini berkata.
"Kamu kenal dia di mana..?"
"Hah..?" Dini langsung kaget mendengar pertanyaan Revan. "Aku, aku kenal dia, di.. di.. di mana ya aku lupa." Dini menyembunyikan sesuatu dari Revan.
"Terus, kenapa kamu bisa bicara dengan anak itu tadi..?" tanya Revan lanjut.
"Oh,, itu. Aku.." Dini kerepotan jawabnya sekarang. Dini ketakutan di depan Revan. Revan berbalik menatap Dini. Revan curiga Dini menyembunyikan sesuatu dari Revan.
"Kamu ada hubungan sama dia..?" Revan menatap Dini dalam dan sinis.
"Aku, aku, tidak ada hubungan apa-apa sama dia. Aku baru kenal dia tadi kok." jawab Dini ketakutan. Dini tidak mau Revan tahu siapa Yudi.
"Beneran, kamu tidak bohong..?" tanya Revan lagi.
__ADS_1
"Iya, sumpah." Dini menjawab sambil berbohong. Setelah di rasa tidak enak, Dini langsung pengin pulang.
"Van, aku pulang dulu." Pamit Dini.
"Kamu makan dulu di sini sama aku, aku sudha bilang ke Bibi tadi." Ucap Revan sambil menahan sedikit sakitnya.
"Tidak usah Van, terimakasih. Aku tidak lapar."
"Dini, kamu masih belum aku maafkan. Sekarang kamu turuti perintah aku." Kata Revan memerintah Dini. Perempuan itu akhirnya mau di perintah Revan untuk makan bareng dia. Revan menyuruh Dini untuk memanggil Bi Minah.
Bi Minah datang, Revan menyuruh Bi Minah untuk mengambilkan dua pisring nasi buat dia. Sebelaumnya BI mInah kaget melihat Revan yang luka-luka.
"Ya Allah Den, Den Revan kenapa..?" Bi Minah bertanya keget. Dini melihat tidak enak.
"Biar Bibi ambilkan obet merah ya Den..?"
"Cepat BI, ambilkan nasih dua!" perintah Revan cepat.
"Enjeh Den, enjeh." Bi minah langsung pergi ke meja makan untuk ambil segala sesuatunya di situ. Bi minah datang dengan dua piring nasi akhirnya.
"Ini Den, nasinya." Bi minah meletakkan nasi itu di kasur samping Dini. Kasur itu sengaja Revan letakkan di atas lantai.
"Bibi sekarang boleh pergi!" Revan mengusir Bi minah langsung. Perempuan itu langsung keluar dari kamar Revan.
"Itu nasi buat kamu satu, satunya buat aku." ucap Revan. Dini terpaksa mengambil nasi dengan ikan ayam rendang itu.
"Di jamin aman, dan halal. Tidak perlu kuatir ada racunnya." kata Revan lanjut. Dini tersenyum. Dini melihat Revan kerepotan untuk makan, Dini lalu meletakkan ansi dan piringnya.
"Ke sini, biar aku yang supain kamu." kata Dini pada Revan. Dini lalu menyuapi Revan dengan hati-hati. Revan jadi senang di buatnya. Sekarang Revan tahu sedikit tentang Andini. Dia adalah perempuan ikhlas dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Kamu belajar dari mana nyuapin orang..?" tanya Revan sambil tertawa.
"Revan apaan sih..?" Dini menjawab geregetan. Tangannya sambil pegang sendok dna piring. Revan membuka mulutny lagi, Dini menyuapinya ulang. jam sudha menunjukkan pukul 2.10pm. sudah saatnya Dini pulang.
"Aku pamit pulang dulu ya Van, sudha sore. Aku takut Kakak di ruah pulang nanyain aku."
"Yuk, aku anterin." Revan berkata menyusul.
"Tidak usah, aku bisa pulang sediri kok." jawab Dini, Revan berbalik menatap Dini.
"Sejak kapan aku tidak baik sama kamu. Udah di baik-baikin sama kamu kok malah tidak mau balas budi..?" kata Revan lanjut.
"Jadi selama ini kamu anggap itu semua balas budi..?"
"Iya, kenapa, ada yang salah..?" tanya Revan.
"Terimakasih Van." Dini langsung berlari keluar.
"Dini, kamu kenapa, ada apa dengan kamu..?"
"Cukup Van, aku akan balikin jaket kepunyaan kamu. Aku tidak mau nerima itu." ucap Dini sedih.
"Tapi aku salah apa Dini..?"
"Satu yang kamu tidak mengerti. Diri kamu sendiri." Dini langsung pergi menyetop taksi yang kebetulan lewat di depan rumah Revan. Dia jadi bingung kenapa Dini bersikap seperti itu.
Setelah perkelahian itu Dini jadi malas pergi ke rel kereta, dia sakit hati pada Yudi yang telah berani pukul Revan sebegitunya.
Vomen.
__ADS_1