
Yudi
Malam itu sekitar pukul 8.10 pm setelah sholat isyak Yudi berjalan di atas rel kereta malam-malam, sepi suasana cukup sepi dan dari jauh terdengar suara orang-orang tengah bercakap-cakap.
Di warung, atau di pinggiran Rel kereta api tidak jauh dari Yudi. Malam itu Yudi sengaja berjalan di atas Rel kereta api karena dia suka dan ingin berjalan santai di situ.
Andini
Di lain tempat perempuan bernama Andini sedang duduk sendiri menunggu pelanggan yang akan datang nantinya. Andini sengaja ikut Mbaknya Yuliana yang bekerja sebagai PSK. Dini mencoba untuk ikut bekerja karena butuh uang dan ingin cari pengalaman meski sebelumnya Yuliana sempat menegur dia untuk tidak ikut bekerja seperti itu.
"Buat apa kamu ngelakuin itu Dini? Kamu tahu tidak resikonya apa, kamu harus mengorbankan keperawanan kamu hanya dengan satu malam dan seterusnya. Kamu tahu tidak, ****** Mbak ini sakit tahu setiap ada lelaki yang mau tidur Mbak.
Apalagi Mbak harus di sodok-sodok terus-terusan sampai beberapa jam lamanya sampai laki-laki itu puas. Mbak tidak rela kamu jadi korban nafsu mereka Dini, Mbak tidak rela." Yuliana menjelaskan nya pada Dini malam itu di dalam rumah kontrakannya yang masih kosong tidak ada kursi atau meja ruang tamu.
"Tapi Dini mau bantu Kakak." Dini menjawab seakan ingin membela diri.
"Tidak Dini, Mbak tidak setuju kamu ngelakuin itu semua. Mbak hanya ingin kamu sekolah biar jadi anak pintar nantinya dan dapat pekerjaan yang layak buat kamu.
Mbak tidak mau kamu bekerja seperti Mbak yang memalukan ini." Yuliana akhirnya duduk setelah lama berdiri. Dia menghampiri adiknya yang sedari tadi duduk bersimpuh di bawah dengan perasaan sedikit sedih.
"Denger ya Din, kamu harus ikutin nasehat Mbak pokoknya. Oke!" Yuliana memohon pada Dini adiknya itu. Dini diam dan mencoba untuk mengerti.
Setelah berpikir matang akhirnya Dini memutuskan untuk mencoba mencari pelanggan malam itu, siapa tahu niatnya berhasil.
Akhirnya Dini memberanikan diri untuk menunggu seorang pelanggan di rel kereta api belakang rumah siapa tahu ada. Dini sedikit sedih karena sendirian malam itu. Tiba-tiba laki-laki itu datang berjalan di atas rel kereta api sambil menghitung langkah kakinya yang meniti rel kereta pelan. Laki-laki itu cukup berhati-hati dalam melangkah. Di lihatnya dari jauh seorang perempuan tengah duduk sendirian di atas rel kereta api.
"Siapa itu?" Batin Yudi.
Dia terus melangkahkan kakinya ke depan lurus ke tempat perempuan itu duduk. Sambil sesekali Yudi ingin tahu siapa perempuan itu. Dia berbaju putih dengan rambut pendek.
"Hai, sendirian di sini?" kata Yudi menyapa perempuan itu. Perempuan itu menoleh ke arah Yudi yang berdiri di sampingnya.
"Perkenalkan, namaku Yudi Yudi Prasetya.
Besoknya Dini sekolah dan bertemu teman-temannya diantaranya adalah Sisilia dan Reni.
"Eh, tumben muka kamu murung gitu?" Sisilia tanya pada Andini yang baru datang ke sekolah pagi-pagi itu. Dini wajahnya memang kelihatan murung pagi itu. "Ada apa Din?" Sisilia tanya.
"Biasa saja." Dini menjawab sambil berjalan. Setelah itu sekolah berjalan seperti biasa. Di jam istirahat Dini makan sambil duduk di atas teras sekolah sendiri tanpa di temani oleh siapa pun. Seorang laki-laki datang menghampiri Andini.
"Hey, boleh kenalan tidak?" laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya. Dia adalah Revan anak baru beda kelas dengan Andini. Revan di kelas 10C Andini di kelas 10A. Dini melihat laki-laki itu sebentar lalu di ulurkannya tangannya itu sambil memperkenalkan diri.
"Dini." Dini berucap.
"Boleh duduk di sini?" Revan tanya pada Dini yang masih pegang makanan kecil.
"Eh, boleh." Dini menerima Revan dengan senang hati. Beberapa pasang mata melihat mereka berdua sedang duduk di teras khususnya Sisilia dan Reni.
"Huh, ngapain sih Dini mau duduk sama tuh cowok!?" Sisilia geram sendiri karena tidak mau temannya di ganggu oleh laki-laki itu.
Revan masih berpikir apa dan bagaimana dia memuai percakapan dengan Andini.
"Eh, kamu suka ngemil ya?" Revan mulai tanya.
"Iya, kenapa, mau?" Dini jawab sambil menawarkan sebungkus cemilannya pada Revan..
__ADS_1
"Tidak, terimakasih. Di makan saja." kata Revan lanjut.
"Kamu puasa?" Dini mencoba bertanya.
"Tidak, kaku tidak puasa." Revan jawab sederhana.
"Ada perlu apa sama aku?" Dini bertanya ingin tahu keperluan Revan.
"Tidak, anya ingin kenalan saja sama kamu. Kamu rumahnya di mana sih?" Revan tanya sama Dini sambil melihat halaman sekolah. Tiba-tiba suara perempuan memanggil nama Dini tidak jauh dari tempat duduk Dini.
"Din, ke sini..!" panggil perempuan itu yang tak lain adalah Sisilia.
"Apaan, sih?" Dini kesal pada Sisilia yang tiba-tiba memanggil dia.
"Bentar ya, aku ke teman aku dulu." kata Dini pada Revan yang sedikit merasa kecewa.
Dini mulai berjalan menghampiri Sisilia dan Reni. "Ada apaan sih?" kata Dini pada kedua temannya itu.
"Nggak ada apa-apa, sini duduk." kata Sisilia mempersilahkan temannya itu untuk duduk.
"Aduh, kalian ini suka ganggu orang yang lagi duduk sama cowok!?" kata Dini menggerutu.
"Huh, ini kebiasaan amat. Cowok seperti itu saja di sukain, nanti pas ada Jefri Nichol keburu minta tanda tangan deh kamunya." kata Reni pada Dini yang duduk di sebelahnya.
"Eh, katanya si Jefri itu di tahan?" Dini memberikan kabar pada dua temannya itu yang sama-sama duduk di kantin.
"Iya, kasihan juga sih. Di saat ratingnya naik, dia malah harus di penjara, kasihan si Jefri." kata Sisilia.
"Siapa juga mau jadi bandar narkoba!?" kata Dini pada Sisilia.
"Astaghfirullahal 'Adzim." Dini beristighfar di depan teman-temannya.
Setelah mengobrol sebentar akhirnya mereka kembali masuk ke kelas dan kembali belajar di kelas masing-masing. Setelah jam pulang mereka akhirnya pulang dengan membawa tas dan buku pelajaran yang di simpannya di dalam seperti biasa.
Andini masih menunggu ojek di depan sekolah yang akan mengantarkannya pulang. Sebelumnay Dini di sapa oleh Revan.
"Ikut aku?" sapa Revan pada Andini yang sedang berdiri.
"Ke mana?" Dini tanya ingin tahu.
"Ke rumah kamu." jawab Revan.
"Tidak usahm terimakasih. Lagi pula kamu belum tahu juga rumah aku di mana."
"Ya sudah, aku pulang duluan ya?" kata Revan pada Andini.
"Iya." Jawab Andini yang masih tetap berdiri di depan pintu gerbang.
Sepeda motor ojek datang setelah Revan pergi, Dini langsung memanggil ojek itu dan naik ke atas sepeda motor.
"Jalan Mawar Pak." Kata Dini pada tukang ojek itu. Perjalanan di tempuhnya beberapa menit, Dini masih asik duduk di atas sepeda motor dan turun setelah sampai di gang mawar.
"Nih, Pak ongkosnya." '
"Terimakasih Neng." kata Pak Ojek itu.
__ADS_1
Dini masuk ke dalam rumah sambil kesal karena capai seharian. Setelah itu dia beristirahat di dalam kamar.
***
Malamnya Dini duduk sendiri di atas Rel kereta api dengan suasana hati galau dan Dini sengaja mencari angin segar karena di rumahnya dia merasa sumpek dan seakan ingin keluar rumah.
Dari jauh di lihatnya Kakaknya Yuliana yang sedang mengobrol dengan temannya di atas gerbong kereta. Seorang laki-laki berjalan dari arah samping dengan menghitung langkahnya beberapa kali tak lain adalah Yudi. Sambil menikmati hembusan angin dari sawahan malam itu yang cukup kencang.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam.." mulut Yudi bersuara menghitung langkah demi langkah kakinya di atas rel kereta. "Au.." Yudi berteriak, langkahnya oleng dan hampir jatuh.
Dengan hitungan detik dan cukup lamban, Yudi melihat seorang perempuan tengah duduk sendiriaan di depannya. Perempuan itu berambut pendek dan duduk menghadap ke arah barat.
"Siapa itu?" Yudi bertanya sendiri di dalam hati. Yudi lalu mencoba ingin mendekatinya, perlahan dia berjalan dan menghampiri perempuan itu. Yudi duduk di sebelah perempuan itu yang berambut pendek dengan hambusan angin malam itu.
"Hai." sapa Yudi pada perempuan yang tak dikenalnya itu. Dini menoleh dan masih ingin tahu siapa yang duduk di sebelahnya.
"Siapa kamu?" tanya Dini pada laki-laki yang baru datang dan sedikit mengusik ketenangannya itu. Malam itu masih pukul delapan malam.
"Kenalin namaku Yudi, Yudi Prasetya." Yudi memperkenalkan diri dan mengukurkan tangan kanannya sambil menunggu uluran tangan Dini.
"Andini." jawab Dini ketus.
"Sendirian di sini?" tanya Yudi lagi.
Dini tidak langsung menjawab, dia masih kerepotan untuk menjawab pertanyaan itu dengan kata "Iya." Tapi dia akhirnya menjawab juga, "Iya."
"Ngapain di sini?" Yudi tanya lagi.
Dini masih berpikir untuk bisa menjawab pertanyaan itu. "Kenapa orang ini tanya terus, ya?" kata Dini dalam hati.
"Maaf, aku harus pergi dulu." kata Dini permisi.
"Eh, mau ke mana?" Yudi melihat Dini pergi. Dini melengos ke belakang dan melihat Yudi sebentar.
"Kita ketemu lagi kapan-kapan ya?" Yudi berkata sambil garuk-garuk kepala. Kedua matanya melihat langkah Dini yang semakin jauh darinya. Setelah itu Yudi pulang dengan sepedamotornya. Setelah sampai di rumah Yudi langsung rebahan di dalam kamarnya.
"Dari mana saja Yud..?" Ibunya melangkah setelah melihat Yudi datang dari arah ruang tamu. Yudi tidak mengindahkan suara Ibunya. Ibunya lalu pergi mendekat.
"Dari mana saja sayang..?" tanya Ibunya sambil mendekati anaknya itu yang sedang tiduran di kasur.
"Biasa, keluar."
"Kalau kamu keluar hati-hati, Ibu takutnya kamu kenapa-kenapa di jalan." Kata Ibunya berkata.
"Iya." Yudi menjawab sambil pegang handphone,
"Kamu sudah makan?" tanya Ibunya.
"Belum." Jawab Yudi.
"Ya sudah, kalau begitu kamu pergi ke dapur sana, makan." kata Ibunya menasehati.
"Iya sebentar.: jawab Yudi yang sedang asik pencet handphone. Setelah itu Yudi beranjak untuk makan di dapur. Di situ sudah tersedia tempe goreng, tahu goreng, dan sambal trasi. Yudi bilang,
"Kenapa tidak ada telurnya sih?" kilahnya. Yudi kesal lalu pergi mencari sisa telur ayam autrali untuk di gorengnya tapi tidak ada telur di situ yang ada cuma mie goreng instan. Akhirnya Yudi memilh untuk membuat mie rebus malam itu lalu di makannya bersama nasi putih.
__ADS_1