
Laki-laki itu berjalan di atas rel kereta pagi itu di mana sesekali dia sambil menyeimbangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di atas rel kereta api dan menghitung berapa kali langkah yang telah di perolehnya. Dari jauh terdengar suara teriakan seorang petani yang habis bekerja dari tengah sawah.
"Awas kereta lewat.." Petani itu berteriak nyaring, tetapi Yudi tetap saja tidak memperhatikan.
"Awas, kereta api..!!" Petani itu mengulang ucapannya dengan maksud ingin memberitahukan pada laki-laki yang tengah berjalan itu yang di saksikan oleh kedua matanya sendiri. Teeet.. Suara bel kereta api terdengar dari jarak seratus meter dengan lampu terang. Yudi mendengar suara itu dan lalu secepat mungkin menghindar dari rel kereta api.
"Hah..?" laki-laki itu kaget dan segera menyingkir ke pinggiran kereta sambil menjatuhkan dirinya ke tanah. Roda besi kereta api berhasil lewat di depan Yudi dengan cepat. Laki-laki itu terperangah melihat kereta api yang lewat di depannya.
Dari jauh seorang petani merasa lega karena anak itu berhasil selamat dari laju kereta api yang ingin lewat tepat pukul sembilan pagi. Sambil berjalan petani itu geleng-geleng kepala.
"Aneh-aneh saja anak zaman sekarang." kata Pak Tani itu sambil berjalan.
Sambil duduk Laki-laki itu lalu melihat Handfon-nya yang di simpan di dalam sakunya. Dia melihat jam menunjukkan pukul 9.04 am.
Yudi menghembuskan napas sambil terasa terik matahari pagi itu cukup panas dengan debu yang di bawa terbang oleh udara pagi itu. Laki-laki itu berdiri dari duduknya dan mengibaskan tangan membersihkan celana levisnya dari debu yang telah di dudukinya barusan, menutup wajahnya dari sengatan matahari pagi itu di samping rel kereta dekat sawah pinggir jalan.
"Aku harus segera pulang sekarang." keluhnya sambil niat ingin pulang karena merasa telah cukup bermain-main di rel kereta api sedari tadi pagi. Sudah kurang lebih seribu langkah yang telah Yudi lakukan dari mulai pukul delapan pagi.
__ADS_1
Laki-laki itu melangkah pergi ke tempat sepedanya di letakkan, di lapangan dekat sawah yang rencananya akan di bangun sebuah pabrik nantinya. Dia melangkah pelan menuju sepeda motornya dan menghidupkan sepeda motornya dengan niat ingin pulang.
Mesin sepeda motor pun telah berhasil di hidupkan, Laki-laki itu siap-siap melaju menyusuri jalan yang ramai oleh pengendara sepeda motor dan mobil. Kadang tersirat dalam hati seorang Yudi akan keinginannya punya mobil bagus atau sepeda motor bagus seperti yang biasa di lihatnya di tengah jalan atau niatnya untuk belajar menyetir mobil. Tapi laki-laki itu seperti tidak punya jalan untuk itu, dia seperti putus asa dan tidak punya peluang untuk belajar menyetir mobil mseki keluarganya ada yang punya mobil.
"Mungkin nanti kalau sudah tepat waktunya." kata Yudi sendiri. Berhubung saat ini laki-laki itu masih belum siap untuk belajar menyetir mobil karena malu untuk meminjam mobil pada saudaranya itu. Laki-laki itu berniat dalam hati siapa tahu nanti dia bisa belajar di Natuna.
Laki-laki itu lalu berjalan dengan sepeda motornya dengan gesit menembus jalanan. Menyetir sepeda motor Vixion miliknya yang baru di belinya itu.
Andini
Di lain tempat seorang perempuan tengah ingin berangkat sekolah dengan sambil memasang sepatu. Di lihatnya di dalam kamar terdapat seorang perempuan lebih tua darinya tengah tertidur bersama laki-laki yang biasa mengantar dia pergi malam-malam.
Di lihatnya saku di dalam seragamnya tidak terdapat uang. Gimana dia harus minta uang pada perempuan itu yang tak lain adalah Kakaknya.
Perempuan itu lalu balik ke dalam kamar dengan niat minta uang saku pada Kakaknya itu.
"Mbak. Mbak Yul, minta uangnya!" kata perempuan itu pada Kakaknya yang sedang tidur. Kakanya itu masih tidak sadarkan diri. Perempuan itu masih menunggu Kakaknya itu bangun.
__ADS_1
"Mbak Yul, bangun ih..!" pekiknya membangunkan laki-laki yang tertidur tidak jauh dari Kakaknya itu. Laki-laki itu melihat perempuan berseragam putih abu-abu itu berdiri di samping kasur tempat tidur.
"Heh, heh bangun, adiknya tuh mau berangkat sekolah." Laki-laki tampan itu membangunkan perempuan yang tidur di sebelahnya. Perempuan itu akhirnya tersadar dan bangun dari tidurnya.
"Dini, ada apa..?" perempuan itu berkata.
"Minta uang jajan." Jawab perempuan itu yang bernama Andini.
"Bentar." kata kakaknya itu sambil mengambil uang di dalam tas yang terletak di atas meja dandan sebelah tempat tidur.
"Nih." perempuan itu memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada Adiknya itu. Perempuan SMA itu lalu bersalaman pada Kakaknya sambil pamit berangkat.
"Aku berangkat dulu ya Kak." Dini pamit.
"Iya, hati-hati." kata perempuan itu sambil melihatnya keluar dari kamar. Perempuan itu lalu merebahkan lagi tubuhnya untuk menenangkan diri sebentar. Dalam pikirannya dia ingin mandi tapi niat itu urung karena melihat laki-laki yang tertidur di sebelahnya.
"Eh, kamu nggak mau mandi..?" tanya perempuan itu pada pacarnya.
__ADS_1
"Kamu duluan aja." jawabnya pada perempuan yang ada di sebelahnya. Perempuan itu lalu menghembuskan napas lesu. Dia lalu berangkat mandi dan keluar dari tempat tidur. Laki-laki itu di biarkan nya di dalam kamar sendirian.
Slm.