Novel 1

Novel 1
chapter 7 : kisah ke lima


__ADS_3

Andini


Dini seperti biasa duduk di atas rel kereta api sambil menungu pelanggan Kakaknya Yuliana yang biasa menunggu pelanggan di atas gerbong kereta sambil mengobrol dengan beberapa laki-laki yang ada di situ. Atau satu orang perempuan yang menemaninya malam itu juga.


Dini masih merasa cemas karena sudah tiga malam berturut-turut tidak ada pelanggan yang mau menghampiri dia. Tiba-tiba langkah seorang perempuan membuat Dini heran, dia melangkah menghampiri Dini.


"Mbak Yul, ada pa kemari?"


"Ada yang mau ketemu kamu tuh!" pekik Yuliana sama Adiknya itu.


"Siapa..?" Dini tanya.


"Tidak tahu, katanya teman kamu."


"Teman, cowok-cewek..?" tanya lagi Dini.


"Cowok!" Yuli menekan kalimatnya.


"Hah, cowok?" Dini terperangah. Perasaan, Dini tidak pernah punya teman cowok di sekolah selain Sisilia dan Reni. Dini lalu bangun dan melangkah mengikuti langkah kaki Kakaknya itu.


"Di mana dia..?" Dini tanya ingin tahu.


"Tuh, di gerbong." Kata Yuliana sambil terus melangkah.


Setelah beberapa langkah berjalan menuju gerbong Dini melihat laki-laki yang tengah menunggunya, dia bersembunyi di balik gerbong kereta.


"Hello, siapa ya?" Dini bertanya malam itu pada laki-laki yang berdiri di dekat gerbong sambil ngerokok. Laki-laki itu berbalik dan melihat Dini yang berdiri di samping pintu gerbong kereta. Dalam pikiran Dini mungkin laki-laki yang kemarin yang sempat nemuin Dini di rel kereta.


"Hai." Laki-laki itu menyapa Dini setelah berbalik memperlihatkan wajahnya.


"Revan, ngapain kamu ke sini..?" Dini tidak percaya kalau itu adalah Revan temanny di sekolah.


"Maaf, aku telah berani menemui kamu di sini." kata Revan memulai percakapannya bersama Dini.


"Tidak masalah, dari siapa kamu tahu tempat ini..?" tanya Dini pada Revan yang baru datang.


"Semua orang sudah tahu tempat ini Din, bahkan bapak-bapak sekali pun banyak yang tahu kalau tempat ini adalah tempat.. eh, sorry bukan aku sengaja menghina kamu tapi.." Revan tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Sudahlah Van, aku mengerti maksud kamu. Kamu ke sini untuk menemui aku kan..? Sekarang kamu ikut aku ke dalam!" perintah Andini pada Revan.


"Ke dalam, ngapain..?" kata Revan bertanya tidak mengerti maksudnya apa.


"Ya ngambil tempat duduklah Van, di sini tidak enak. Masak aku harus nungguin kamu berjam-jam di sini sambil berdiri, nggak mungkin kan..?" kata Dini pada Revan yang berpakaian rapih dan kerena malam itu.


"Tapi, kita tidak.." Revan sedikit curiga pada tingkah Andini.


"Revan.. kamu ngomong apaa sih? Kita itu teman kan..?" kata Dini menyahut.


"Iya, tapi tidak menuup kemungkinan kita bisa.." Revan berhenti berterus terang.


"Revan, sadar nggak sih kamu. Aku ngajak kamu ke dalam cuma cari tempat duduk tidak ada yang lain, kecuali kamu punya niat lain ke sini." Dini menjelaskan sambil berjalan masuk ke kotak gerbong dan memilih tempat duduk yang nyaman.


Revan masih melihat-lihat sekitar tempat itu karena malam itu adalah pengalaman pertama kali buat dia.

__ADS_1


"Sini, duduk." Dini mempersilahkan Revan untuk duduk di kursi atau tempat duduk yang telah ada.


"Permisi." Revan berkata sopan pada Dini sebelumnya. Revan masih menunduk masih berpikir mau ngomong apa.


"Van..?" Dini tanya.


"Apa..?" Revan tanya balik.


"Kamu bawa uang nggak..?" lanjut Dini tanya.


"Uang, buat..?"


"Beli minum, aku haus." kata Dini manja padahal dia baru kenal sama Revan. Baru kemarin dia kenal Revan tapi Dini sudah mau minta-minta sama Revan. Revan melihat perubahan tingkah laku Andini malam itu, sepertinya Dini lebih terbuka dan lebih bersahabat malam itu pada Revan, berbeda sama dia ketika di sekolah. Kalau di sekolah Dini lebih tertutup orangnya.


"Iya, tenang, nanti aku beli. Tapi di mana tempat orang jual minuman di sini..?" Revan tanya bingung.


"Sini, biar aku kasih ke Mbak aku. Biar dia nyuruh temennya yang beli." Kata Dini spontan.


"Boleh." Revan setuju. Dia lalu memberikan secarik uang sepuluh ribuan sama Andini.


"Nih." Kata Revan sambil memberikan uang itu.


Dini menerima uang itu lalu pamit sama Revan. "Bentar ya, aku pergi ke Mbak aku dulu." kata Dini pada Revan pamit sambil melangkah keluar meninggalkan Revan.


Revan kini di tinggalnya sendirian di gerbong kereta.


Dini melangkah berjalan menuju Mbaknya. Yuliana masih mengobrol sama temannya di luar.


"Permisi." Dini permisi sama dua orang yang berdiri di depannya.


"Mbak. Belikan aku minuman dong." Kata Dini setengah manja.


"Beli aja sendiri, enak aja nyuruh-nyuruh orang." kata Yuli pada Adiknya itu.


"Ih, Kakak resek ah, cuma mau minta di belikan minuman aja tidak mau.." kata Dini setenagh memaksa.


"Aku ada tamu Kak, masak aku harus ninggalin tamu aku sendirian di dalam..?" Dini jadi sedih sendiri melihat Kakaknya yang begitu.


"Ya udah deh, sini aku yang beli." Kata teman Mbaknya itu, namanya Marlena.


"Makasih Mbak Marlena, Mbak Marlena baik deh." kata Dini pada Marlena temannya Yuliana.


Dini kembali masuk dan menemui Revan dan akhirnya mereka mengobrol lagi sebentar sambil menunggu minuman datang, tak berapa lama minuman pun datang. Marlena yang ngenterin minuman itu.


"Terimakasih Mbak Marlena." Andini berucap pada Marlena.


"Iya sayang." Kata Marlena menjawab sambil pergi meninggalkan Dini dan Revan.


"Sebenernya tujuan kamu datang ke sini apaan sih?" Dini tanya lanjut pada Revan yang sedang minum.


"Aku ke sini pertama cuma main saja tapi setelah bertanya pada bapak-bapak yang ada di situ katanya di sini ada perempuan cantik bernama Andini. Anaknya baru katanya. Aku langsung pergi menemui Mbak tadi dan langsung tanya nama kamu."


"Kamu kok tahu kalau itu aku..?" Dini tanya ingin tahu.

__ADS_1


"Ya siapa lagi kalau bukan kamu, rumah kamu kan sekitar sini, iya kan?" jawab Revan menjelaskan.


"Iya." kata Dini sambil nyengir.


Setelah itu percakapan pun kembali serius.


"Din, apa benar kamu.." Revan tanya sedikit ketakutan.


"Kamu apa..?" Dini ingin tahu terusannya.


"Kamu di sini bekerja sebagai.. sebagai.. PSK." Revan berhati-hati saat melontarkan kata PSK.


"Sebenernya iya sih Van, pertamanya aku niatnya gitu tapi sampai sekarang aku belum dapat pelanggan yang mau bertamu sama aku, malah laki-laki itu kamu teman aku sendiri." Dini berucap jujur di depan Revan.


"Tapi, kalau misalnya aku mau ML-an sama kamu, mau mau nggak..?" Revan bertanya lagi dengan hati-hati.


"Yah, tergantung sawerannya berapa, emang kamu berai berapa..?" Dini lanjut tanya.


"Kamu serius mau..?" Revan tanya serius.


"Iya, mau. Kamu maunya berapa..?" Dini bertanya dengan berani. Revan masih tidak percaya apa yang di ucapkan oleh Dini malam itu sekitar pukul 9.10 PM.


"Seratus ribu..?"


"Apa, seratus ribu, buat aoa uang segitu. Aku ini masih perawan Van, kamu tahu sendiri kan..? Jadi kalau transaksi ini jadi, kamulah laki-laki pertama yang berhasil mengambil kesucian aku malam ini. Tapi kalau tidak, mungkin nanti laki-laki lain." kata Dini penuh kejujuran.


"Tapi, kenapa kamu mau sih melakukan ini semua Din..?" Revan bertanya lagi ingin tahu sebenarnya dan ingin meyakinkan dirinya malam itu.


"Van, semua orang itu punya keputusan dalam hidupnya, kalau aku pilih jalan ini berarti ini sudah jadi jalan hidup aku sebenarnya dan kalau kamu tidak mau aku ada di jalan ini maka kamu salah, karena aku sudah yakin kalau ini adalah jalan aku sendiri tanpa harus menoleh lagi ke belakang." kata Dini penuh keyakinan.


"Jadi kamu rela kesucian kamu di ambil oleh orang..?" Revan masih tetap ragu akan kepiutusan Dini malam itu.


"Revan, dengerin ya. Aku bukan anak kecil lagi Van, aku berani ambil resiko ini karena aku mau. Justru kamu harus senang dan lega karena malam ini aku mau menerima kamu di sini meski sepertinya uang kamu pas-pasan ya..?" Hahah. Dini tertawa sendiri melihat Revan yang seperti orang bodoh malam itu.


"Oke, sekarang aku tambah lagi dua ratus ribu jadi tiga ratus ribu, kamu mau..?" Revan bertanya lagi pada Dini dengan penuh percaya diri.


"Sudahlah Van, kamu simpan saja uang ini. Aku tidak butuh duit kamu, aku cuma ngetes kamu kok." Hahaha. Dini tertawa lagi. Mau-maunya Revan di jahilin sama Andini. Revan memukul mesra Andini malam itu dengan kedua tangannya.


"Dasarperempuan gatel..!" kata Revan keceplosan. "Eh, sorry, aku tidak bermaksud ngatain kamu begitu. Maaf ya.." Revan meminta mmaaf pada Dini malam itu.


"Iya aku maafin, tapi kamu niat bener tah mau tidur sama aku malam ini..?" Dini balik nanya buat Revan bingung.


"Kalau kamunya serius mungkin akunya mau, tapi kamunya malah main-main sama aku jadinya aku pasrah." Kata Revan jujur.


"Revan, Revan, mau-maunya kamu di kerjain sama aku." kata Dini berkelakar.


"Sudahlah yang penting sekarang kamu sudha tahu tempat aku di mana, kamu sekarang boleh pergi kalau kamu mau." kata Dini yang tanpa sengaja telah megusir Revan.


"Tapi, kenapa kamu ada di sini sih..?"


"Biasa, cari uadara segar." kata Dini mencari perhatian.


"Yaudah kalau begitu aku pergi dulu. Dah Dini." Revan pamit.

__ADS_1


"Dah Revan." Dini membalas pamitan Revan. Dini masih menggeleng pelan atas kelakukan Revan malam itu tapi itu semua terjadi karena ulah Dini sendiri yang mau duduk di dekat rel tempat biasa Mbaknya bekerja.


Vomen.


__ADS_2