Obsesi Cinta

Obsesi Cinta
bab I


__ADS_3

" Nuran...Nuran cepatlah bangun, dasar gadis pemalas sudah sebesar ini masih menjadi beban keluarga" seseorang menggedor-gedor pintu atau lebih tepatnya berusaha merobohkan nya


"iya, Bu, aku keluar" Nuran berusaha mengumpulkan kesadarannya dan berdiri. dalam hatinya setiap hari selalu berkata


"rasanya pagi terlalu cepat datang, mengapa hidupku seperti ini" Nuran memandangi pantulan dirinya di cermin, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara yang hidup ditengah keluarga yang sangat sederhana, berumur 20 tahun tamatan sekolah menengah, pecinta novel romen, pengguran yang pastinya adalah beban keluarga.


"pagi ayah" Nuran mengambil posisi duduk disebelah kakak laki-lakinya Nero, kakaknya ini yang ikut membantu perekonomian keluarga, ia bekerja sebagai satpam disebuah perusahaan ternama dikota kami.


"Nuran cobalah cari pekerjaan, kau lihatkan keuangan keluarga kita semakin sulit, di tambah biaya kuliah adikmu Noan cukup besar, dan tolong berhentilah membaca hal yang tidak bermanfaat" Zara selalu mengawali pagi dengan ocehan spesial untuk Nuran. ia dengan gigih memberikan dorongan pada Nuran untuk keluar dari dunia fantasi yang tidak menghasilkan apapun itu.


"ibu berhentilah mengataiku, aku satu-satunya putrimu, aku juga tidak sarjana, apa ibu pikir mudah mencari pekerjaan, bukankah ibu juga tau kalau aku sudah berusaha" Nuran merasa dirinya tak berharga di mata ibunya, tak seperti kakak dan adiknya yang selalu diberlakukan baik.


"berusaha kau bilang, hari-hari kau mengurung diri dikamar membaca komik, novel, apapun itu masih berani kau bilang sudah berusaha, lihat kakak dan adik laki-laki mu bersusah payah untuk keluarga ini" Zara meninggikan suaranya.


"cukup ibu, aku bukan putramu itu, lain kali kalau tidak suka melihat ku jangan bangunkan aku untuk bersama kalian" Nuran kembali ke kamarnya.


"bisakah kau tidak membahas hal ini di meja makan, Nero antarkan sarapan untuk adikmu!" Nando yang sedari tadi diam membuka suara, ini bukan kejadian pertama yang terjadi.


semenjak Nando bangkrut 5 tahun yang lalu, kehidupan mereka seperti bumi terbalik, kemewahan yang memeluk mereka hilang begitu saja. semenjak itu juga istrinya sering marah. tapi Nando tidak bisa menyalahkan Zara perempuan ini yang menemaninya saat susah dan terjatuh. untuk Nuran ia juga tidak bisa membela gadis itu, Noan bersyukur Zara mau menerimanya di keluarga mereka.


***


sementara dikamar, Nuran menghapus air matanya ia kembali membaca novel kesayangan, andai hidup seindah di komik ini, meskipun diawali dengan penderitaan tapi bisa hidup bahagia di akhir. bagi Nuran membaca adalah pelariannya terutama kisah roman.


"Ran..Nuran... mengapa melamun?" Nero menyodorkan roti ke mulut Nuran.


"kak andaikan aku tokoh utama di novel ini, aku tidak akan mau ditindas" jawabnya antusias

__ADS_1


Nuran memang selalu menjadikan Nero sebagai pendengar ceritanya. baginya di rumah kecil ini seperti neraka ini Nero adalah malaikat tak bersayap yang melindunginya.


"lain yang ditanya lain jawabannya, ya sudah kalau begitu coba kau buktikan" nero mengusap kepala Nuran dengan lembut, baginya Nuran masih seperti anak kecil yang butuh pendengar untuk keluh kesahnya. Nero juga merasa bersalah tidak bisa mewujudkan cita-cita adiknya. Nuran pernah merengek ingin masuk perguruan tinggi mengambil jurusan kedokteran, tapi kondisi keuangan keluarga tidak mencukupi.


"maksud kakak?" Nuran berpikir bahwasanya Nero menyuruh melakukan seperti yang ada di dalam novel yang dibacanya.


"maksudku pergilah kekantor teman kakak bekerja, perusahaannya sedang membuka lowongan pekerjaan cobalah lamar di sana siapa tahu Upik abu sepertimu dapat keberuntungan di sana" Nero memberikan alamat perusahaan ke pada Nuran, ia berharap adiknya tidak diomeli lagi setiap hari oleh ibu mereka.


" baik kak, tapi bekerja sebagai apa?" tanya Nuran dengan harapan yang menyala di matanya.


"entahlah, nanti akan aku hubungi temanku di sana, jadi jangan khawatir aku tidak akan menjual mu, lagi pula siapa yang mau membeli beban keluarga sepertimu"


Nero selalu menjahili Nuran, dan itu juga membuat Nuran sangat nyaman jika berada di sisinya. ketika bicara dengan Nero suasana di sekitar berubah jadi santai seperti di pantai. Nero juga alasan untuk Nuran tetap bertahan sampai saat ini.


"jadi kakak akan menjual aku?" Nuran mulai terpancing oleh gurauan Nero.


"kakak...!!" Nuran semakin kesal, tanpa basa basi ia menjewer telinga Nero sampai memerah.


"aduh ... sakit Nuran, lepasin Nuran, Kakak hanya becanda mana mungkin kakak menjual orang yang berharga di hidup kakak" Nero memohon, rasanya telinganya akan putus jika membiarkan Nuran menariknya lebih banyak lagi.


"kakak harus janji jangan bilang Nuran sebagai beban keluarga lagi" Nuran melepaskan Nero.


"sudahlah jangan dimasukkan ke empedumu nanti makin pahit, satu lagi jangan lupa datang ke alamat ini, kakak berangkat dulu" Nero beranjak dari keluar dari kamar Nuran


"baik kak aku akan menjadi milyader" Nuran mulai berhalu ria.


"oke, aku pergi ya beban keluarga" Nero menghilangkan dibalik pintu kamar menuju tempat kerjanya.

__ADS_1


"kakak...."


Nuran menatap pintu yang sudah tertutup, ia bersyukur ada Nero dihidupnya, kalau tidak ada mungkin ia akan menjadi orang kesepian sampai akhir. selama ini hanya Nero yang selalu ada untuknya baik suka ataupun duka bahkan Nero pernah menyamar sebagai seorang wanita ketika acara hari ibu di sekolah, karena ibu melahirkan Noan jadi tidak bisa datang, meskipun sebelum maupun sesudah melahirkan ibu tidak pernah datang di setiap acara penting sekolah.


Ting..Ting


faraya:"Nuran aku ada novel baru ceritanya bagus" pesan dari faraya sahabat Nuran.


Nuran:"benarkah, kau harus meminjamkannya padaku"


faraya: ok, nanti sore kita ketemuan di tempat biasa, jangan lupa bawa novel yang pernah kau pinjam sebelumnya.


Nuran: baiklah ratuku, aku akan melakukan apa yang dirimu perintahkan


saat asik berbalas pesan dunia berubah jadi gelap ketika Nuran mendengar teriakan sang ibu "Nuran tolong antarkan jualan ibu ke warung Marni"


"baik Bu" Nuran meletakkan handphone nya. tempat yang dituju meja makan, di sana Zara sudah menyiapkan barang dagangannya. Nuran mengambil semua barang yang ada di meja, melihat semua itu Nuran mengambil nafas panjang.


"kenapa, apa kau terpaksa" Zara menatap gerak-gerik Nuran.


"tidak Bu" Nuran bukannya tidak mau mengantar barang itu, tetapi ia tidak ingin keluar bertemu para tetangga julit yang suka bergosip, dan yang jadi objek gubahan itu adalah dirinya sendiri.


"ya sudah cepat pergi" Zara meninggal Nuran yang sedang mengemas barang-barang yang akan diantarkan. Zara sebenarnya ingin membantu Nuran tapi ia sudah terlambat untuk bekerja. Zara bekerja sebagai kasir di toko temannya, seharusnya Zara dapat bekerja ditempat yang lebih bagus, tapi kejadian yang menimpa keluarganya membuat ia tak diterima oleh perusahaan manapun.


" seandainya, hari itu Nuran tidak datang mungkin ceritanya akan berbeda" lirih Zara dalam hati


gays mohon dukungannya

__ADS_1


__ADS_2