Obsesi Cinta

Obsesi Cinta
rencana jitu


__ADS_3

sudah dua Minggu semua percobaan yang dilakukan oleh Nuran untuk mendapatkan perhatian Gara Gagal. gadis itu mulai khawatir karena seminggu lagi Gara akan bertunangan, jika semuanya tetap tidak berhasil maka uang dari perjanjiannya dengan Arga akan hilang lenyap dan terhempas.


"Woi ngelamun aja, apa yang kau pikirkan?" Arga mengambil posisi duduk di depan Nuran.


"semua nya gagal" jawab Nuran dengan nada lemas.


"ya mau gimana lagi, sesuai perjanjian jika gagal maka kesepakatan kita juga berakhir" ujar Arga dengan nada santai.


"jadi aku benar-benar tidak dapat apa-apa?" Nuran menundukkan wajahnya, saat ini tidak hanya uangnya yang hilang, tapi juga harga diri selama dua Minggu ini.


"sebenarnya ada satu cara yang belum kau lakukan" Arga menawarkan rencana baru, ia tahu Nuran sangat membutuhkan uang saat ini.


"cara apa?" Nuran menatap penuh semangat seakan ada sebuah energi yang masuk ke tubuhnya.


"besok malam datanglah ke pesta ulang tahunku" Arga menyodorkan undangan dan sebuah kotak.


"wahh, selamat menua Arga" Nuran mengambil undangan dan kotak yang diberikan oleh Arga.


"hmmm tunggu sebentar, bukannya yang ulang tahun adalah dirimu tapi mengapa aku yang menerima kado?" tanya Nuran.


"emang kau mampu beli kado untuk aku" jawab Arga singkat.


Nuran terdiam, yang dikatakan Arga benar. untuk sekelas dirinya mana bisa dibandingkan dengan Arga.


"jangan dipikirkan aku cuma becanda, kotak itu isinya gaun, pakailah!," Arga menyadari perkataannya barusan sudah membuat Nuran tersinggung.


"tidak, terimakasih" Nuran berdiri hendak meninggalkan Arga.


"hei, apa kau marah, aku hanya berpikir kau tidak memiliki gaun untuk di pakai nanti malam, aku juga tidak mau kau mempermalukan dirimu sendiri"


Arga mencoba mencairkan suasana, ia takut Nuran berubah pikiran dan membatalkan rencana yang sudah ia siapkan.


"Anda benar, aku akan memakainya" Nuran melangkah menjauhi Arga.


***


setelah menemui Arga Nuran kembali ke rumah. ia tidak masuk kerja hari ini. hati dan pikirannya sangat kacau.

__ADS_1


"rumah memang tempat ternyaman untuk kembali" Nuran bicara pada dirinya sendiri.


Nuran merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, ia menatap semua sudut yang dapat ditangkap oleh matanya. entah apa yang membuatnya tidak bersemangat untuk pesta nanti malam.


"Ran, kamu gak kerja?" Zara melihat Nuran seperti seorang gadis pemalas yang sukanya nangkring di tempat yang empuk.


"gak ma, Nuran capek" Nuran menjawab sekenanya .


"capek kamu bilang?" Zara mulai mengejek Nuran. namun gadis itu tak bergeming, ia sangat lelah dan tidak ingin ribut dengan Zara .


"begitulah semua orang mencari uang, tidak ada di dunia ini yang mudah, kecuali kau punya uang dan tabungan yang melimpah" Zara semakin memprovokasi Nuran yang tidak merespon perkataannya dari tadi .


" uang..uang... dan uang, kenapa ibu hanya memikirkan uang sepanjang hari, tidakkah ibu pernah memikirkan aku diluar sana, apa yang aku kerjakan dan seperti apa orang-orang memperlakukan aku" Nuran melimpah semuanya dengan penuh penekanan.


mendengar ucapan itu Zara hanya terdiam, dalam hati dan pikirannya berkecamuk. di satu sisi ia ingin mencurahkan rasa sayangnya pada gadis itu tapi saat bersamaan rasa bencinya lebih besar ketika mengingat masa lalu yang pernah ia lalui.


"selama hidup anda, pernahkah meanggap gadis bodoh ini ada atau pernahkah anda sedikit saja memikirkan saya" Nuran bangkit dari sofa.


Nuran merasa semakin aneh, tak biasanya dia marah-marah seperti ini. ia meninggal Zara yang masih terdiam. ia pergi menuju kamar dan melihat isi kotak yang diberikan Arga.


"Nuran gaun siapa itu?" tiba-tiba Nero sudah berada di depan pintu kamar Nuran. ia melihat adiknya memakai sebuah gaun yang sangat mahal bagi standar keuangan Nuran yang baru bekerja.


"kak Nero, sejak kapan berdiri di situ" Nuran terkejut mendengar suara kakaknya yang datang tak di undang.


"sedari kau berhalu ria di depan cermin, gaun siapa yang kau pakai?" tanya Nero.


"ini dipinjamkan teman kak, nanti malam dia mengadakan pesta ulang tahun, aku di ajak dan sekaligus dipinjamkan gaun" Nuran terpaksa berbohong pada kakaknya, ia takut jika Nero tahu gaun itu dari Arga, bisa-bisa dirinya bahkan Arga mati ditangan seorang Nero.


"oh ya, tumben kakak pulang cepat" Nuran mengalihkan pembicaraan yang akan menuntun dirinya ke neraka.


Nero masih menatap Nuran dari ujung kaki sampai kepala menjawab dengan malas " ia, pekerjaan kakak sudah selesai untuk hari ini, oh ya Minggu depan Noan pulang, ayah, ibu dan aku akan pergi menjemputnya, apa mau ikut?"


"sepertinya tidak, aku harus bekerja karena hari ini aku sudah izin, gak enak juga sama yang"


Dalam hatinya yang paling dalam, Nuran sangat ingin ikut tapi mengingat pertengkarannya dengan Zara di ruang tamu membuat Nuran enggan bertemu terlalu lama dengan ibunya itu.


"ya sudah, mau dibawakan sesuatu gak?" tawar Nero.

__ADS_1


"kakakku tersayang, aku bukan anak kecil lagi, jadi tidak perlu menawarkan apapun" Nuran memayunkan bibirnya.


"siapa tahu mau dibeliin boneka Barbie, lengkap dengan perlengkapan masaknya" goda Nero yang tak tahan melihat ekspresi kesal dari adiknya itu.


" kakak...."


pergelutan kata-kata antara kakak beradik itu terhenti ketika seseorang menelepon Nuran.


ya, yang menghubungi dirinya adalah Faraya.


" Ran, aku udah otw jemput kamu"


"oke, aku siap-siap dulu" jawab Nuran.


percakapan mereka tidak begitu lama, karena Nuran harus berdandan secantik mungkin untuk melakukan rencana yang sudah disiapkan Arga, yang sebenarnya Nuran sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh dirinya kali ini.


Nuran menatap dirinya di depan cermin, ia melihat pantulan dirinya, sesaat ia teringat hari terakhir dirinya memakai gaun dan barang-barang mewah lima tahun yang lalu.


"Nuran, ini faraya sudah menunggu, apa kau sudah selesai?" Nero setengah berteriak memanggil Nuran yang saat itu masih bersampan ke masa lalu.


sesaat orang yang dipanggil keluar. dua orang yang tengah mengobrol didepan pintu tertegun melihat sosok yang sudah berdiri di antara mereka berdua.


"kau siapa?" tanya dua orang itu pada Nuran.


"pandangan biasa saja" balas Nuran.


"ya. ampun Ran, ini beneran lo?" tanya faraya untuk memastikan.


"iya ini gue, siap lagi coba" Nuran terheran melihat sahabatnya itu.


"lo cantik banget," puji faraya, ia baru melihat sisi lain dari sahabatnya, ini adalah kali pertama melihat Nuran memakai pakaian yang feminim.


"baru sadar, cih"


"oke kalau begitu, kami berangkat dulu ya kak".


seandainya kamu tahu Nuran...

__ADS_1


__ADS_2