
hari ini Nuran akan mulai rencana awal yang sudah tertulis di dalam file. ia bergegas menuju kantor.
" pagi semua, hari yang cerah buat kalian yang masih hina" Nuran menyapa semua OB dengan penuh semangat. tak hentinya senyuman manis bercampur racun terpancar di wajahnya yang cantik.
"jaga mulut kotor mu itu nona, kau bahkan tak lebih baik dari kami" salah seorang OB memperlihatkan rasa tidak suka terhadap Nuran.
Nuran tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya, ia melewati para OB yang menatapnya sinis menuju ruangan presedir.
"Nuran lakukan dengan benar, jangan buat masalah seperti kemaren, jika tidak kau akan dipecat" Alan memperingatkan Nuran yang melenggang masuk keruangan sakral perusahaan itu.
"pagi pak bos" sapa Nuran dengan ramah.
"lain kali bersihkan ruangan ini sebelum saya menginjakkan kaki di kantor ini" Gara memerintah Nuran tanpa melihat gadis yang sudah berdandan di depannya.
"tunggu apa lagi, cepat bersihkan" Gara geram melihat Nuran yang sangat lemot dan memiliki daya tangkap dibawah rata-rata.
" baik pak bos" Nuran mulai melakukan aktifitasnya, di sela pekerjaannya Nuran teringat rencana dalam file yang sudah di baca dan dipelajarinya semalam.
" ah.." Nuran merebahkan dirinya ke arah Gara, ia berharap lelaki itu akan menangkap tubuhnya. namun gara memiliki jurus seribu bayangan untuk menghindar.
"sial" umpat gara dalam hati
" laki-laki ini memang tidak punya perasaan, bagaimana bisa dia membiarkan seorang perempuan jatuh ke lantai. aduh kepalaku" Nuran masih memejamkan kepalanya ia masih berharap Gara akan mengangkat tubuhnya dari lantai.
benar saja, Gara mendekati Nuran, tapi tidak untuk mengangkat tubuhnya, ia malah berteriak memanggil Alan ke ruangannya.
Alan yang selalu berada di depan pintu bos nya itu langsung menerobos masuk.
"ada apa bos, apa ada maling" Alan muncul dengan dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.
" maling kepala lo, lihat gadis penyakitan yang kau bawa itu" Gara menunjuk ke arah Nuran yang tergeletak di lantai.
" dia kenapa, apa bos berbuat sesuatu padanya" tanya Alan dengan selemari kepolosannya.
"pakai nanya lagi, dia pingsan, dan juga aku tidak berbuat apapun padanya, menyentuhnya saja aku alergi, cepat kau angkat dia".
__ADS_1
Akhirnya Nuran berakhir dalam pangkuan Alan
"sial kenapa Alan pakai datang segara sih, gagal deh rencana gue"
" diletakkan di mana bos, apa langsung di makamkan saja"
"letakkan dia di sofa, aku akan menelpon Bara untuk memeriksanya" gara menghubungi dokter pribadi keluarganya. selain dokter Bara juga sahabat baik Gara semenjak mereka kecil.
Nuran mendengar Gara akan menelepon dokter langsung membuka matanya pelan-pelan layaknya seseorang yang baru sadar dari koma bertahun-tahun.
"aku di mana" Nuran masih dengan gaya polos seorang gadis yang baru sadar.
"kau sudah sadar?" tanya Alan, sambil membawakan segelas air.
"apa kau hilang ingatan, kau baru saja hampir mengotori pakaian ku, dan Sekang kau lupa kau berada di mana, hello apa kau juga lupa siapa namamu" Gara sangat kesal pada Nuran, dari awal mereka berjumpa gadis ini hanya menjadi sumber masalah di kenyamanan hidupnya.
"maaf pak bos, saya bersalah, saya janji tidak akan mengulanginya lagi" Nuran memohon pada Gara, ia tidak mau jika hari ini menjadi hari terakhir dirinya bekerja, jika itu terjadi uang dalam perjanjian tidak akan pernah menjadi miliknya.
" Ya sudah, kau selalu membuat hidupku sial, sekarang keluarlah dan menjauh dari ruangan ku" Gara mengusir dua orang yang dianggapnya tidak berguna itu.
tok..tok...
"bos, tuan Arga ingin menemui anda" sekretaris ana meminta izin sebelum mempersilahkan Arga masuk, sebenarnya ia selalu melapor ke pada Gara sebelum mempersilahkan setiap tamu yang ingin berjumpa dengan Gara.
"biar dia masuk" Titah Gara
"pagi, sepupuku yang tampan" sapa Arga.
"mau apa kau datang kemari" sapa Gara dengan ketus.
Arga adalah salah seorang terdekat Gara, dulunya mereka sangat akrab bahkan mereka berdua saking lengketnya kemana-mana selalu berdua, tapi satu kejadian mengubah segalanya. orang yang pada mulanya sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri, sekarang menjadi orang sangat dibencinya separoh mati.
"kenapa sikap mu sangat dingin, aku kemari hanya karena aku sangat merindukanmu" jawab Arga.
"kau sudah bertemu dengan aku, jadi jika tidak ada keperluan lain silahkan tinggal ruangan ku, kau tahu pintu keluarnya bukan" gara bicara tanpa menoleh kearah Arga. ia sibuk dengan tumpukan berkas yang harus diperiksa dan ditandatangani oleh dirinya.
__ADS_1
"ini cara mu menyambut sahabat kecilmu setelah sekian lama berpisah" Arga menutup berkas yang diperiksa oleh Gara. ia tidak suka diabaikan oleh lelaki itu.
"apa mau mu?" gara mendongakkan kepalanya sehingga matanya langsung bertatapan dengan mata Arga.
"ayolah Gara, bisakah nanti siang kita makan bersama?" ajak Arga.
"aku tidak mau, aku sibuk" jawab Gara dengan singkat.
"kalau kamu tidak mau, maka aku tidak akan beranjak dari ruangan ini" Arga duduk dan melipat kedua tangannya di meja kerja Gara.
"baiklah, aku makan bersamamu, tapi sekarang enyahlah dari hadapan ku" Gara menahan emosinya, karena percuma jika dia marah Arga tidak akan merubah keinginannya.
"kalau begitu baiklah, sampai jumpa nanti siang" Arga meninggalkan ruangan Gara. di luar ia melihat Nuran sedang sibuk membersihkan jendela kantor.
"Nuran..." Arga menghampiri gadis itu.
"eh pak Arga" Nuran menoleh ke sumber suara yang memanggilnya
"gak usah panggil pak, santai saja, oh ya gimana rencana pertama, berhasil?" wajah Arga mulai penasaran dengan rencana tersebut.
"boro-boro berhasil Ga, aku hampir saja geger otak" Nuran kembali kesal mengingat kejadian yang terjadi tadi pagi.
"gak apa-apa Ran, masih ada banyak cara yang bisa kita lakukan. pasti salah satunya akan berhasil jika tidak maka.." Arga menghentikan ucapannya ia berfikir tentang rencana ekstra jika diperlukan.
" Maka apa Arga?" Nuran juga penasaran dengan kelanjutan dari kata setelah maka.
"maka kita mencari cara lain" Arga mengacak rambut Nuran dengan gemes.
"apaan sih Arga" Nuran menepis kasar tangan Arga, ia tidak pernah membiarkan orang asing menyentuh bagian dari tubuhnya.
"sorry, oh ya nanti malam Gara sepertinya lembur, kau tau kan apa yang harus kau lakukan" Arga menatap Nuran dengan intens, sampai akhirnya Arga harus kembali bekerja.
waktu berlalu begitu cepat, benar saja saat ini Gara Hutama sedang lembur di ruangannya. kesempatan itu di manfaatkan oleh Nuran untuk mencuri perhatian Gara. Nuran menyediakan kopi. memberikan cemilan yang dibutuhkan Gara. terkadang dengan nakalnya ia memijit pundak Gara. tentu saja ditolak keras oleh Gara dan berakhir dengan drama pengusiran.
"ku menangis" seperti itulah sakitnya penolakan
__ADS_1