
Nuran tidak menyangka hidupnya akan berubah seperti ini, dalam sehari dia jatuh cinta, dalam sehari orang-orang yang disayanginya pergi begitu saja, dalam sehari ia menjadi seorang istri. " dosa apa yang telah aku lakukan di masa lalu"
"kenapa kau melamun, kita harus ke rumah utama hari ini" perintah Gara.
Nuran melangkah dengan malas karena sebenarnya ia tidak ingin pergi, ia tahu di rumah utama ia akan bertemu manusia yang akan merusak alur cerita hidupnya.
"kenapa? kau tidak senang" Gara sedikit merasa aneh, karena untuk pertama kalinya Nuran tidak membalas perkataannya.
"apa aku terlihat seperti itu, kalau begitu kau pergi saja sendiri" Nuran bukannya tidak ingin membalas ucapan Gara, hanya saja badan terasa lemas.
"tidak bisa, kau harus ikut" paksa Gara
"kalau tidak ada yang berubah sebaiknya jangan menggangguku" Nuran menyenderkan kepalanya di kursi mobil, kepalanya benar-benar berat.
"Nuran ....Nuran.."
"kita sudah sampai cepat turun" gara membangunkan Nuran.
"hmm...." Nuran mengumpulkan kesadarannya, kemudian keluar dari mobil.
"apa kau baik-baik saja?" tanya gara yang khawatir akan kondisi Nuran.
"aku tak selemah yang kau bayangkan" bantah Nuran.
Nuran dan Gara memasuki rumah utama, di sana sudah ada mertua dan pacar suaminya.
"aghh" Nuran sengaja membuat dirinya terpeleset tepat di depan ketiga orang itu, kali ini seperti yang ia harapkan Gara dengan sigap menangkap tubuhnya.
semua orang menatap kearah mereka dengan tatapan tidak senang
"terimakasih, aku tidak apa-apa" Nuran memposisikan dirinya seperti biasa lalu menyapa mertua dan kekasih suaminya.
"selamat datang menantu sementara" sapa rose ibunya Gara. rose menatap Nuran dengan jijik.
"mari kita rayakan pernikahan kalian" Gio membawa semua orang ke meja makan.
suasana sangat hening seperti tiada kehidupan.
"Gara, Amira menginap malam ini di sini" pinta Rose.
"baiklah ma, tapi Gara dan Nuran baru saja menikah apa tidak apa-apa mengganggu malam pertama mereka" amira menyunggingkan senyum remeh ke arah Nuran.
"tidak masalah nona Amira, lagi pula malam pertama kami sudah berlalu jauh sebelum kami menikah" Nuran tidak mau kalah dengan sindiran Amira.
"nuran jaga ucapan mu, tidak kah kau lihat mertuamu ada di sini" rose semakin kesal melihat kelakuan Nuran.
"mertua! ha maaf aku melupakan kalian" Nuran menyelesaikan makannya.
__ADS_1
"sayang aku merindukanmu, malam ini kamu harus menemani aku ya" Amira bergelayut manja di tubuh Gara.
Nuran yang melihat drama di depannya memilih untuk pergi untuk istirahat, hari ini memang sangat melelahkan hingga membuatnya tidak mampu untuk melangkah kakinya.
Gara yang melihat Nuran hampir jatuh langsung menangkap tubuh gadis itu.
"sayang biarkan saja, lagi pula itu hanya akting" Amira kesal melihat Gara menggendong Nuran dalam pangkuannya.
" Amira, hubungi dokter Vian!" gara sangat panik ia takut terjadi sesuatu pada bayinya.
Amira segera menghubungi Vian, ia tak pernah melihat Gara sepanik itu. banyak hal yang mengusik hatinya saat ini. tapi ia juga tidak mau meragukan Gara.
Dokter Vian yang baru saja tiba, langsung menuju ke kamar Gara untuk memeriksa Nuran. semua orang terlihat tegang.
"bagaimana keadaannya" tanya Gara.
"tenang bos, dia hanya kecapean, biarkan dia istirahat dulu" Vian memberikan obat untuk Nuran.
"sayang kau sebaiknya juga beristirahat, aku pulang dulu" Amira memeluk Gara.
"baiklah, biar aku antar" Gara mengambil kunci mobilnya.
"tidak usah sayang, aku ingin kau istirahat sekarang" Amira mengentikan Gara.
akhirnya Gara membiarkan Amira pulang, ia juga sangat lelah hari ini.
"bicara apa pi, bisakah besok saja" pinta Gara.
"apa Nuran hamil?" tanya Gio.
Gara hanya diam, ia tidak menyangka akan secepat ini di ketahui oleh keluarganya.
"sudah papi duga, apa Amira sudah kau beri tahu?" Gio memandang putranya yang tengah terdiam.
"belum pap, sebenar nya Nuran juga tidak tahu kalau aku sudah mengetahui dirinya hamil, Nuran menyembunyikannya dariku pap, ia juga berencana menggugurkan kandungannya" Gara menghela nafas panjang.
"jadi itu sebabnya kau buru-buru menikahinya, jagalah anakmu sampai lahir, setelah itu ku serahkan semua padamu" Gio meninggalkan Gara yang tengah mencerna semua kata-kata ayahnya.
***
pagi menyambut Setiap manusia dengan kecerahannya. namun, tidak untuk Nuran ketika ia membuka mata, perutnya bergejolak seakan tidak menerima kehadiran hari ini.
Nuran berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya. perutnya terasa sakit dan kepalanya sangat pusing, namun tiba-tiba sebuah tangan memijat tengkuknya, Nuran merasa sangat nyaman.
"kau tidak apa-apa?"
"apa perlu kita ke rumah sakit" Gara terus menatap Nuran dengan khawatir.
__ADS_1
"tidak perlu, aku hanya masuk angin" Nuran berbalik dan keluar dari kamar mandi.
"apa setiap pagi kau selalu seperti ini" tanya Gara .
"aku sudah bilang aku hanya masuk angin".
"kau yakin, sepertinya ada sesuatu didalam sini" Gara menyentuh perut Nuran yang masih datar.
"apa yang kau lakukan" Nuran menepis tangan Gara, ia sangat gugup, Nuran takut jika Gara tahu tentang kehamilannya. tapi sentuhan tangan ketika Gara menyentuh perutnya sangat nyaman gejolak di perutnya seakan reda begitu saja.
"kalau kau sudah baikan, ayo kita kita kembali ke apartemen"
Gara dan Nuran memilih untuk tinggal di apartemen, untuk saat ini, ia tak mau ibu dan kekasihnya mengetahui kehamilan Nuran. Gara berpamitan pada orangtuanya. ia menatap Nuran yang masih terlihat pucat.
"istirahatlah" perintah Gara.
"aku tidak bisa, aku harus menemui seseorang" Nuran teringat janjinya dengan Vian untuk menyingkirkan janin dalam kandungannya.
"batalkan janjimu itu" gara mulai kesal dengan tingkah Nuran yang sangat keras kepala.
"itu tidak bisa" jawab Nuran.
"apa sepenting itu?" gara menarik Nuran dengan kasar.
"lepasin, ada apa denganmu bukankah dalam perjanjian kita tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing" Nuran meronta dan berusaha menarik tangannya dari genggaman Gara.
"aku akan selalu ikut campur kalau itu menyangkut kehidupan anakku!.." teriak Gara.
Nuran terdiam ia mencoba mencerna kata-kata Gara.
"semenjak kapan kau mengetahuinya?" tanya Nuran.
"kau tidak perlu mengetahui kapan aku menyadarinya" gara menjawab dengan nada sedingin es.
"aku tidak akan melahirkan bayi ini, tidak seorangpun dari kita menginginkan dirinya"
"apa kau manusia?, dia tidak bersalah Nuran" gara mencoba membujuk Nuran
"aku tidak peduli" Nuran tidak mengacuhkan ketulusan Gara.
"aku akan membayar mu, untuk melahirkan anak itu" Gara mengeluarkan cek kosong yang sudah ia tanda tangani.
"wah, apa tidak takut semua harta habis, seingat saya ini kedua kalinya kau memberikan cek kosong pada saya" Nuran mengambil cek itu.
Gara memperhatikan sikap Nuran terhadap uang. di matanya gadis itu sama seperti gadis liar yang haus akan uang.
bagaimana....
__ADS_1