
tekad Nuran semakin bulat, ia sudah mantap untuk menggugurkan bayi yang ada dalam rahimnya. hari itu juga ia akan menemui dokter yang memeriksa dirinya kemaren. sambil mengantarkan Noan untuk mengobati kakinya Nuran berjalan menuju ruangan dokter Vian.
"siang dok" sapa Nuran.
"silahkan duduk" Vian menyambut Nuran dengan penuh kehangatan.
dokter Vian adalah dokter yang tampan sehingga mencuri perhatian Nuran.
"apa kau mau berdiri saja" tanya Vian yang sudah biasa mendapat tatapan dari pasien perempuan jika berkonsultasi dengannya. bahkan tidak jarang para pasien yang datang bukan untuk berobat melainkan hanya sekedar merayunya. tapi itulah sosok dokter Vian ia memperlakukan setiap orang dengan baik sehingga penolakannya tidak terlalu menyakiti mereka.
"baik" Nuran mengambil posisi tepat di depan Vian.
"sial, kenapa wajah orang ini begitu sangat familiar" gerutu Nuran dalam hati.
"kenapa diam saja?" Vian mulai membuka pembicaraan.
"oh, saya harap dokter masih mengenali saya" Nuran menatap Vian dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.
"hmm, saya tidak semudah itu melupakan, terutama orang-orang bodoh" Vian mengambangkan senyum sindiran di bibirnya.
" apa maksudmu dokter" Nuran mulai terganggu dengan ucapan dokter Vian
" sudah, lupakan! lagi pula kau bukan orang yang bodoh, bukan?"
Nuran hanya diam, baginya saat ini tidak penting mendengarkan pendapat orang lain terhadap dirinya.
"jadi bagaimana keputusan mu?" tanya Vian.
"keputusan ku sudah bulat untuk menggugurkan kandunganku"
Vian terdiam ia tidak habis pikir ada orang seperti ini, selama ia menjadi dokter Nuran adalah satu-satunya pasien yang datang kembali dengan keputusan yang tidak berubah
"kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan, kau akan menjadi seorang pembunuh" Vian berusaha meyakinkan Nuran.
"justru ini adalah saat paling sadar selama hidupku, aku tidak peduli pandangan anda pada saya, jadi apa yang harus dilakukan agar proses ini cepat selesai?"
Nuran menunggu jawaban dari dokter Vian yang masih mencerna kata-kata dari Nuran.
Vian masih bermain dengan pemikirannya, jika ia tidak menyanggupi permintaan gadis itu mungkin saja Nuran akan mendatangi tempat aborsi lainnya, tapi kalau ia mengabulkan permohonannya maka Vian juga sebagai pembunuh, Vian sangat yakin bahwa Nuran tidak ingin melakukannya, dan Vian juga yakin ia mampu mengubah pemikiran gadis itu, lagi pula Nuran masih sangat muda untuk mengambil keputusan ini, bisa saja aborsi ini akan membahayakan nyawa Nuran.
__ADS_1
"dokter" Nuran kembali bertanya pada Vian.
"baiklah kalau itu mau mu, sekarang uruslah berkas-berkas ini besok datanglah kembali" Vian menyodorkan berkas-berkas yang harus ditandatangani Nuran.
" bukankah hanya sebuah tanda tangan mengapa harus besok" tanya Nuran.
"kau pikir yang membutuhkan aku kau saja, lihatlah antrian sudah panjang karena ulahmu, lagi pula hari esok masih ada" Vian memaksa Nuran untuk keluar.
Nuran meninggalkan ruangan Vian, namun sialnya iya kembali berjumpa dengan gara yang sudah berdiri di depan pintu. Nuran hanya melewati gara, ia tidak mau mencari masalah kali ini.
Gara sangat terkejut melihat Nuran sibiang masalah tidak mengusiknya seperti biasa.
Vian yang masih sibuk dengan perasaannya tiba-tiba dikagetkan oleh kedatangan Gara.
"hoi.. bro kenapa melamun di siang bolong begini" Gara menepuk pundak Vian yang dari tadi tidak menyadari kehadirannya.
" eh bos, sejak kapan kau berada di ruangan ku" tanya Vian,
"semenjak seorang gadis keluar dari ruangan mu, apa dia kekasih mu?" gara kembali bertanya.
"ah, dia bukan kekasih ku tapi dia sumber permasalahan ku saat ini" Vian mengacak rambutnya.
"apa yang sudah dilakukan perempuan itu padamu"
Vian berfikir sejenak, saat ini dia butuh seseorang untuk mendengarkan keluhannya.
"dia hamil dan.." ucapannya terhenti oleh keterkejutan Gara.
"apa...dia bukan kekasih mu dan kau sudah menghamilinya, aku tidak menyangka, orang yang tidak terlalu tertarik dengan perempuan ternyata" Gara menggantung perkataannya sambil menatap Vian dari ujung kaki ke ujung kepala.
" bisa tidak mendengarkan aku dulu, aku tidak menghamilinya, kemaren dia dibawa keruangan ku karena pingsan tapi setelah ku periksa ternyata dia tengah hamil muda, dan saat itu juga dia ingin menggugurkan kandungannya, tapi aku menyuruhnya untuk berpikir terlebih dahulu, dan barusan menemui aku untuk melakukan aborsi, dan kau tahu bos dia wanita pertama yang tidak terbujuk oleh kata-kataku" Vian menarik napas dalam-dalam.
"tunggu kau bilang dia hamil?" seketika ekspresi wajah gara berubah. dalam hatinya ia yakin anak yang dikandung Nuran adalah hasil dari percintaan mereka malam itu.
"ia, dia hamil" jawab Vian.
Vian sedikit terkejut dengan perubahan suasana hati bosnya itu, iya langsung tahu ini pasti ada sesuatu diantara Nuran dan bosnya.
"apa jangan-jangan" gumam Vian dalam hati.
__ADS_1
"pastikan kandungan gadis itu baik-baik saja, berikan vitamin untuk dirinya jika dia masih ngotot untuk aborsi, dan selanjutnya ku serahkan padamu"
Vian menganggukkan kepalanya, seolah mengerti semua yang di ucapkan maupun tidak diucapkan oleh Gara.
setelah bertemu dengan Vian, Gara mendapatkan hal yang sangat penting, ia segera menghubungi Nuran.
Nuran yang mendapat perintah dari Gara pun langsung menemuinya.
mereka berdua bertemu di apartemen Gara.
" ternyata kau sangat gesit ya" sindir Gara.
"apa yang ingin kau katakan? tapi sebelum itu izinkan aku untuk bicara terlebih dahulu" Nuran tidak peduli dengan sikap Gara terhadapnya.
"silahkan" gara menatap tajam dara yang terlihat menarik nafas dalam-dalam.
"pertama aku akan membersihkan namamu, dan menjelaskan pada media. kedua aku akan membatalkan perjanjian nikah kita"
mendengar penuturan nuran, gara menyunggingkan senyum jahatnya
"kau pikir dapat mengubah semuanya seenak jidatmu"
Gara mengeluarkan berkas-berkas perjanjian dan memaksa Nuran untuk menanda tanganinya.
"aku tidak mau" Nuran menolak perintah gara.
"jangan main-main denganku nuran jika tidak kau tanggung sendiri akibatnya" Gara mengancam dengan sebuah foto Noan yang tengah menjalani perawatan.
"apa kau mengancam ku"
Nuran tidak bisa melawan Gara lagi, dia tidak mau Gara melukai Noan.
"hmmm, apa nona Nuran merasa seperti itu?" Noan sangat senang melihat ekspresi Nuran saat ini.
"oh ya, setelah kita melakukannya malam itu, apa di sini sudah tumbuh" Gara menyentuh perut Nuran yang masih datar.
"hentikan, itu tidak mungkin, apa kau pikir kau seperkasa itu" Nuran menepis tangan Gara. ia mengambil pulpen dan langsung menyetujui semua persyaratan yang terdapat dalam dokumen perjanjian.
akhirnya Nuran terjebak oleh permainannya sendiri, mau tidak mau ia akan menjalani hidup selama satu tahun bersama Gara. tapi di sisi lain nuran merasa tenang karena besok ia akan menyingkirkan bayi dalam kandungannya, sehingga ia tak perlu susah jika perjanjian konyol itu berakhir.
__ADS_1
permainan sesungguhnya baru saja di mulai, tidak ada seorangpun yang bisa keluar begitu saja.