
suasana di pesta cukup ramai ada banyak undangan yang menghadiri acara ultah Arga dan orang-orang itu berasal dari kelas sosial yang gak usah disebutin.
di tengah pesta itu kehadiran Nuran cukup menyita perhatian, banyak para lelaki yang mengagumi kecantikan dirinya malam ini kecuali Gara. itu lah mengapa Nuran tidak suka berdandan dan menghadiri pesta. semua pujian dan tatapan orang membuat dadanya sesak. tapi kali ini ia harus melawan rasa bencinya itu, demi uang dan Gara.
"tidak di sangka kalau Upik abu memakai pakaian mahal bisa secantik ini" Arga menyodorkan segelas minuman pada Nuran.
"apa maksudmu" tanya Nuran.
"tidak, aku hanya memujimu kau sangat cantik sayang" goda Arga.
"kau orang kesekian kali mengucapkan ucapan bodoh itu" Nuran menatap Arga dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"oke, jadi siapkah dengan rencana kita malam ini" Arga memberikan kunci kamar ke pada Nuran.
"apa ini?" Nuran menolak tawaran Arga.
"ayolah, kita hanya akan bermain Nuran" Arga berusaha meyakinkan Nuran.
"kalau seperti ini aku tidak mau Arga" Nuran sangat marah pada Arga.ia melangkah untuk meninggalkan lelaki itu tapi, tangannya di tahan oleh Arga.
"oke, aku minta maaf" arga berusaha terlihat tenang, ia tahu sudah menyingung seekor singa yang baru terbangun dari mimpi indahnya.
Nuran kembali berdiri dihadapan Arga. lelaki itu menawarkan minuman yang dari tadi ia bawa untuk Nuran
"jangan langsung pergi, setidaknya minumlah sedikit, anggap ini perayaan kerja sama kita selama ini, dan untuk uang kau tenang saja nanti ku transfer"
mereka berdua meminum minuman masing-masing sampai ketika Nuran tidak bisa mengendalikan dirinya.
di tempat lain Gara tengah asyik berbincang dengan Faraya yang dikenalkan oleh Arga sebagai kekasihnya. Faraya juga memberikan minuman pada Gara hingga lelaki itu merasa sangat panas.
"hei bro kenapa?" tanya Arga.
gara hanya menggerutu dalam hati, ia tahu seseorang sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.
"Gara ini tidak bagus, lebih kau istirahat di kamarku terlebih dahulu" Arga membawa Gara ke kamarnya.
"tunggulah di sini aku akan menghubungi dokter untukmu" Arga meninggalkan Gara di kamarnya dan pada saat itu Nuran juga berada di kamar tersebut.
__ADS_1
inilah rencana Arga untuk memisahkan Amira dan Gara.
di dalam kamar Gara sudah tidak mampu lagi menahan gerahnya, dosis obat yang diminum oleh dirinya cukup tinggi. ia sudah membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. lelaki yang dibawah pengaruh obat itu butuh wadah untuk menyalurkannya.
ibarat gayung bersambut, Gara yang melihat seorang perempuan di ranjang langsung menghampirinya, ia sudah tidak tahan. ia mulai merangkak dan menindih tubuh Nuran.
Nuran yang setengah sadar mencoba mendorong Gara.
"pak sadarlah pak, ini tidak benar" Nuran bicara dengan sekuat tenaga agar Gara tersadar. ya, Nuran masih bisa mengendalikan pikirannya karena ia tidak meminum minuman itu terlalu banyak.
Gara yang di selimuti gairah tidak peduli akan teriakan dan tangisan Nuran. ia. terus menjelajahi setiap inci dari tubuh gadis itu, sampai di suatu titik surgawi Nuran "tidakk" Nuran berteriak kesakitan, bagaimana tidak , ini adalah yang pertama kali baginya dan keperawanan yang dia jaga selama ini di renggut paksa oleh laki-laki karena pengaruh obat.
entah berapa kali Gara melakukan pelepasan ditubuh Nuran sehingga dua manusia itu tertidur karena kelelahan. momen itu di manfaatkan oleh seseorang untuk keuntungannya.
keesokan paginya Nuran bangun lebih awal, ia merasakan nyeri di pangkal pahanya. ia menatap laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya tadi malam. ia perlahan turun dan mengenakan pakaian ke tubuhnya. ia beranjak keluar untuk meninggalkan tempat itu.
"pagi Nuran" sapa Arga.
"kau bajingan" sorot mata Nuran penuh kebencian, ia benar-benar sangat membenci laki-laki yang tersenyum cerah di hari kelam Nuran.
"kenapa?" tanya Nuran dengan lirih, ia tak lagi menanggapi perkataan Arga, ia memilih pergi untuk menenangkan pikirannya.
Nuran sudah kehilangan kesuciannya hanya bisa mengutuk kebodohan dirinya sendiri. sedangkan lelaki yang telah merenggutnya masih nyaman dibawah selimut.
"pagi bro" Arga membangun Gara yang masih enggan membuka matanya.
"biarkan lima menit lagi" pinta Gara.
"apa semalam kau terlalu bersemangat?" Arga mencoba mengingatkan Gara tentang apa yang terjadi.
mendengar ucapan Arga, Gara langsung terbangun dan memeriksa dirinya yang masih telanjang, dan ada noda darah yang sudah mengering di sprei.
"Arga" geram Gara.
"tenang bro aku sudah membayar wanita itu" jawab Arga dengan santai.
"siapa perempuan itu?" tanya gara dengan nada yang sangat dingin.
__ADS_1
"Nuran, OB di kantor kita" Arga memperlihatkan foto Nuran yang keluar kamar tadi pagi.
"sialan" umpat Gara.
***
kondisi Nuran sangat kacau, namun ia tetap masuk bekerja. sungguh malang nasibnya, baru saja muncul di kantor ia di suguhkan pemandangan keromantisan dua manusia yang sebentar lagi akan bertunangan.
"Nuran nanti siang temui saya di ruangan" perintah gara.
sebenarnya ia tidak mau bertemu dengan gara saat ini, tapi titah Gara seperti panah yang langsung menghujam jantung.
Nuran menghela nafasnya sedalam mungkin dan memasuki ruangan Gara.
"berapa bayaran yang telah kau terima untuk meniduriku?" tanya gara dengan nada kebencian.
"maksud pak Gara apa" Nuran terheran, karena dia tidak pernah menjual dirinya.
"jangan sok polos, aku tahu kau akan mengancam ku dengan kejadian tadi malam" gara mendekati Nuran dengan tatapan mematikan.
"ini tidak seperti yang anda pikirkan, biar saya jelaskan" Nuran merasakan takut yang teramat dalam dirinya
"sebutkan, berapa uang yang kau inginkan, dan pergilah sejauh mungkin" gara menyodorkan cek kosong yang sudah ia tanda tangani pada Nuran.
"ternyata seperti itu" Nuran menyunggingkan senyum yang sangat dingin, ia hanya berharap mendengar kata maaf dari Gara, tapi lelaki itu terlalu sombong.
Nuran mengambil cek tersebut dan berlalu pergi " kau pikir aku akan menolaknya, jangan mimpi Gara aku bukan wanita yang lembut, akan aku pastikan hidupmu hancur" pikir Nuran dalam hati dan menutup pintu ruang kerja Gara.
"ternyata benar-benar perempuan murahan" gumam Gara. melihat tatapan terakhir Nuran membuat Gara sedikit khawatir terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya, ia merasa Nuran bukan tipe perempuan yang akan menyerah.
ditengah sakit hatinya Nuran berhenti bekerja ia memilih untuk tinggal di apartemen yang baru disewanya dengan uang pemberian Arga. ia merebahkan tubuhnya di kasur.
"aku sangat lelah" disela kepiluannya tak terasa butiran bening dari sudut matanya jatuh begitu saja.
Nuran menyentuhnya, ia teringat ini hari pertama ia menangis setelah kehilangan semuanya semenjak lima tahun lalu.
aku bukan gadis lemah, kita lihat saja siapa yang akan menangis lebih keras setelah ini
__ADS_1