Obsesi Cinta

Obsesi Cinta
tidak bisa melupakan


__ADS_3

hari pertama bekerja membuat Nuran sangat lelah, tidak hanya fisiknya tapi telinganya yang tidak hentinya mendengar Omelan Alan, ingin rasanya ia menjahit mulut laki-laki itu.


"Alan aku pulang dulu" Nuran melangkahkan kakinya menuju halte bus, dalam perjalanan ia tak sengaja bertubrukan dengan seseorang


"aduhh" Nuran mengusap-usap kepala yang terbentur pada bidang dada orang di depannya


"kalau jalan itu pakai mata" gara sangat kesal ketika ada seseorang yang mengusik aktifitasnya.


" eh pak gara, maaf pak, apa bapak terluka?" Nuran meraba-raba dada gara.


"hentikan, sekali lagi kau menyentuh ku maka akan ku pastikan kau kehilangan pekerjaan dan juga tanganmu itu" bentak gara.


"ya elah pak, jangan marah pak, saya kan tidak sengaja, lagi pula bapak juga salah jalan menggunakan kaki pak, lagian bapak baik-baik saja" Nuran sedikit kesal dengan sikap Gara.


"apa kau bilang, asal kau tahu gadis seperti.


.. " belum sempat gara melanjutkan ucapannya Amira datang menghampiri mereka.


"sayang ada apa?" Amira memperhatikan raut wajah Gara yang tidak seperti biasanya.


"wanita ini sayang" keluh Gara pada Amira.


"Apa yang kau lakukan, cepat pergi dari sini" Amira membentak Nuran.


"dasar orang kaya" hati Nuran menggerutu dengan kesal. ia juga tidak suka berlama-lama melihat kemesraan dua makhluk itu.


***


hari semakin larut, Nuran memilih bersantai disebuah taman, pikirannya sedikit kacau ia tidak bisa melupakan wajah Gara, meskipun lelaki itu sangat kasar padanya.


"andaikan aku Amira" gumamnya dalam hati.


"hoi wanita halu...." faraya membuyarkan lamunan sahabatnya itu.


"Fara ! mengagetkan aku saja, kalau aku jantungan gimana, lalu mati, dan tidak bisa lagi ketemu si tampan Gara" protes Nuran.

__ADS_1


" maaf cantik, kesayangannya malaikat maut" goda Fara.


"apa lo bilang, lo doain aku cepat mati, kalau malaikat mautnya ganteng kayak di Drakor..." teriak Nuran.


"dan lo mau mati?" sanggah faraya.


" tergantung, kalau dia ajakin ke surga sih ga masalah, tapi kalau ke neraka sih ogah"


" hmmm...oh ya tadi lo nyebut Gara, dia siapa ya,? suara seorang lelaki yang tak kalah tampan dari Gara, menghentikan perdebatan mereka.


"oh ya Nuran, kenalin dia Arga pacar baru aku" faraya menggandeng Arga di depan Nuran, gadis itu terlihat sangat bahagia, senyuman bak bunga musim semi.


Nuran yang masih mencerna kata pacar dari mulut Faraya jadi bingung " pada akhir hanya diriku yang masih menjomblo" gumamnya dalam hati.


" oi. Nuran...Nuran" Faraya menggoncang tubuh sahabatnya itu


"eh iya..aku Nuran sahabatnya Gara eh maksudnya Faraya" Nuran jadi kikuk, sekilas lelaki itu ada sedikit kemiripan dengan Gara.


" jadi nona Nuran, apakah anda kekasihnya Gara?" Arga kembali bertanya perihal Gara pada Nuran.


"benarkah kamu bekerja di perusahaan x, kau tau aku juga bekerja di sana dan Gara adalah sepupu ku" Arga sedikit kaget mendengar penjelasan Nuran.


"iya, hari ini adalah hari pertama aku bekerja"


Nuran merasa senang akhirnya ada orang penting yang kenal dirinya di perusahaan.


"Nuran, sepupuku itu sebentar lagi bertunangan, aku senang melihatnya bahagia bersama Amira, tapi aku juga kasihan padanya" wajah Arga menjadi murung ada rasa yang sangat membuat hatinya sedih.


"sayang kamu kenapa?" faraya yang melihat perubahan ekspresi kekasihnya itu menjadi sangat penasaran.


"sebenarnya Amira tidak pernah mencintai Gara, ia hanya menginginkan harta keluarga Gara saja" Arga menceritakan apa yang ia ketahui mengenai Amira pada Faraya dan Nuran.


"Nuran maukah kamu membantuku menyelamatkan Gara dan keluarga kami, aku mohon hanya kamu yang bisa membantuku" Arga berlutut di hadapan Nuran, saat ini Nuran adalah harapan terbesarnya untuk mengacaukan pertunangan Gara dan Amira.


" tapi... aku" Nuran sangat ragu untuk membantu Arga, walaupun Nuran sangat menyukai Gara namun ia tidak mau merusak hubungan orang lain, tapi kalau ia tidak membantu Gara akan celaka.

__ADS_1


"Nuran, ayolah bantu Arga" Faraya juga ikut bersimpuh di hadapannya.


"baiklah, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya" Nuran menatap dua orang yang bersimpuh dan memohon padanya.


"terimakasih Nuran, kamu tidak perlu khawatir, aku akan memberikan instruksi dan langkah-langkah yang akan kau lakukan" wajah Arga seketika sangat bahagia, ia sudah menyusun rencana-rencana yang harus dilakukan Nuran, bahkan saking niatnya Arga sudah menyediakan filenya.


"wah ini rapi dan cukup banyak, jika aku melakukan semua ini apa yang akan aku dapatkan?" Nuran tidak mau melakukannya dengan percuma, apalagi ini menyangkut kehidupan dan masa depan dirinya. Nuran tidak mau membusuk di penjara.


"tenang Nuran, aku sudah menyiapkan kompensasi untukmu, silahkan baca dan tanda tangan di sini" Arga mengeluarkan beberapa lembar kertas yang baru diambil dari mobilnya. kertas itu berisi perjanjian kontrak dan kompensasi yang akan diterima oleh Nuran.


" apa ini jumlahnya benar?" nuran melotot melihat besaran jumlah uang yang akan di terimanya, sehingga tidak tunggu lama ia meraih pulpen yang ada di dalam tasnya.


" benar, kamu pantas mendapatkannya, senang bekerja sama anda nona" Arga mengambil satu lembaran surat perjanjian tersebut, satunya lagi diberikan pada nuran.


"sayang, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama, kalian berdua nikmatilah waktu kalian berdua" Arga meminta izin untuk meninggalkan Nuran dan Faraya.


Nuran menatap kepergian Arga, saat ini perasaannya masih dipenuhi dengan kebimbangan. di saat yang bersamaan ia juga tidak bisa membiarkan Amira menghancurkan Gara, ditambah uang yang didapatkan juga sangat besar. dengan uang itu ia bisa membantu keuangan keluarganya.


"sudah, jangan terlalu dipikirkan" faraya memberikan dukungan pada nuran, ia tau saat ini Nuran sedang bergelut dengan perasaannya


" Nuran, faraya ini akan selalu ada untukmu, anggap saja kau saat ini dalam sebuah novel, dan juga tanamkan di dalam otakmu itu bahwa Nuran Azahra adalah pemeran utamanya"


"kau benar, aku akan melakukan yang terbaik" seketika semangat Nuran kembali muncul. ia juga ingat dengan kata kakaknya untuk mewujudkan kisah dari dunia novel yang selalu dibacanya ke kehidupan sesungguhnya. ia berpikir ini adalah kesempatan Berlian untuk mengubah nasib keluarganya.


" gitu dong, ini yang ku janjikan kemaren" faraya memberikan sebuah novel pada sahabatnya itu.


"oh thanks my love" nuran mengambil novel itu dan memeluk susunan kertas itu seperti kekasih hatinya.


"ya udah, cepat balikin ya"


" siap bos, aku bawa dulu ya, aku sudah tak sabar berkencan dan mengarungi pulau tinta dan kertas bersama mereka" nuran beranjak meninggalkan Faraya.


dari kejauhan, seseorang menertawakan kebodohan orang yang ada di depan matanya


bersambung

__ADS_1


__ADS_2